
Langit samar-samar menampakkan senyum nya dan perlahan mengikis gelapnya malam menjadi terang. Dapat di katakan bila pagi telah menunjukkan dirinya, Ruby masih terbaring di atas tempat tidur pasien sesaat setelah penanganan di semua bagian tubuh yang penuh luka.
Edward tidak bergeming dari tempat nya, duduk di samping Ruby dengan menggenggam tangannya sesekali mengecup lembut. Belum ada keluarga yang dia hubungi, untuk itu mereka belum ada yang berkunjung ke sana.
KLEEKKKK
Terlihat seorang dokter muda yang cantik di balut dengan seragam dokter nya memasuki ruang rawat Ruby di ikuti oleh Kenzi dan juga Lucky di belakangnya sembari mereka membawa paper bag.
Ya, dia Sasya kepala divisi kesehatan yang berdiri dalam kemafiaan Red Phoenix. Dia sudah stay di Jerman beberapa hari yang lalu karena di tugaskan oleh Ruby merawat Agatha.
" Bagaimana keadaan nya ?!". Seru Edward menoleh pada Sasya setelah men check kondisinya.
" tidak ada yang perlu di khawatirkan, darah mu sangat cocok sekali dengan Lady menjadikan dia pulih lebih cepat dari kebanyakan orang ". Jelas Sasya masih sibuk dengan data kesehatan di tangan nya. " makanlah dulu, semuanya baik-baik saja !". Sasya berjalan mendekati Kenzi dan juga Lucky yang sudah duduk di sofa, Sasya menyiapkan sarapan untuk semuanya dan sekarang sedang menata nya.
" thanks ". Ucap Kenzi dan juga Lucky bersamaan di balas dengan senyuman ramah dari Sasya.
" Tak perlu sungkan, bersikaplah seperti biasanya !". Ujar Sasya menanggalkan jas dokter nya dan duduk bersama mereka. Dalam kegiatan makan nya, sasya tak henti-henti nya melemparkan candaan. Ya, itulah Sasya yang sebenarnya, dia begitu periang dan cerewet seperti layak nya seorang perempuan di luar sana. Wajahnya yang cantik dan awet muda tak memperlihatkan bahwa dirinya sudah berada di usia yang matang untuk menikah.
" Bisakah kalian diam, jika ingin ribut lebih baik di luar !". Kesal Edward dengan suara tegasnya tanpa menoleh kan kepalanya ke belakang lebih tepatnya pada mereka bertiga yang sedang sarapan di sertai canda tawa di dalam ruangan sampai telinga Edward sakit mendengar suara mereka.
" maaf ". Ucap mereka bertiga bersamaan dan segera membereskan makanan nya dan langsung berlalu pergi.
Jari-jari tangan Ruby perlahan bergerak diikuti matanya bergerak sampai suara lemah mengejutkan telinga Edward.
" Honey ". Panggilnya pelan, Edward menengadahkan kepala, matanya bergantian menatap lekat mata sayu milik Ruby.
" Baby, are you okey ? apa masih ada yang sakit hmm ? coba katakan padaku !". Tutur Edward lembut, Ruby melukiskan senyum nya kala pertama kali matanya terbuka terlihat kekasih hatinya di sana.
" okey, aku okey, dont worry !". Jawab nya pelan.
" syukurlah !". Lega nya mengecup kening Ruby sedikit lebih lama. " maaf, maafkan aku yang tidak berguna !". Lirih nya, hatinya sakit menyaksikan gadisnya seperti ini dan inipun karena Edward merasa tidak bisa melindungi nya menambah sesal di dalam hatinya, setetes air mata perlahan keluar dari mata Edward hingga membasahi tangan Ruby yang masih di genggamnya.
Keadaan Ruby masih lemah sehingga dirinya hanya bisa diam melihat Edward terus menyalahkan dirinya.
Sasya, Kenzi dan juga Lucky berjalan menuju taman menikmati dingin nya pagi, obrolan terlihat masih di lakukan oleh mereka bertiga.
" Apa keluarga nya sudah tahu jika Lady berada di rumah sakit ?". Ucap Sasya di sela langkah nya.
" sepertinya belum sya, haruskah kita menghubungi mereka ?". Ujar Kenzi merogoh handphone nya seolah akan menghubungi seseorang.
" memangnya kau tahu kontak mereka ?". Delik Lucky menaik kan satu alis nya bertanya. Kenzi nyengir bodoh di hadapan mereka.
" tidak ".
Mereka bertiga langsung duduk di sana sesekali mata mereka mengedar, Lucky melihat seseorang yang samar di kenal nya.
" Ken lihatlah !". Ucap Lucky menepuk bahu kenzi dan menunjuk seseorang yang tengah duduk di kursi roda. Kenzi dan Sasya mengikuti arah pandang Lucky.
" itu ?". Tanya Sasya menunjuk, Lucky menganggukkan kepalanya.
" Dia Agatha !". Jawabnya membuat mereka berdua terkejut, siapa yang tidak tahu dengan Agatha saudara angkat dari Lady yang mereka hormati dan penyebab Lady nya di usir oleh keluarganya. Amarah mereka kembali memuncak, rasa benci padanya semakin membuncah kala mereka melihat langsung orang nya.
" Agatha kaka tiri dari Lady kah ?". Ucap Kenzi
Sasya diam, matanya menatap mereka bergantian sesekali melirik Agatha yang tengah di temani oleh Alex.
" ckckck, kalian ini kenapa hah !? aku aja yang merawatnya biasa !". Sela nya di saat mereka masih mengepalkan tangan.
" merawat ? apa maksud kau Sasya ?". Seru Kenzi berdiri.
" Menurut loe, untuk apa gue dateng jauh-jauh kesini dua hari lalu hah !". Kesal Sasya, Kenzi duduk kembali seraya berpikir.
" Apa gadis manis gue sudah memaafkan nya ?". Gumam nya tapi masih terdengar oleh mereka berdua.
" Entahlah ". Acuh mereka.
Di Rumah sakit yang berbeda, Andrew dan juga Lexi sudah mendapat perawatan yang intensif begitupun dengan Reina dan juga Meili tapi tidak dengan Leo yang menolak untuk di rawat hanya menjahit lukanya saja itu sudah cukup.
" Saya sudah menghubungi keluarga kalian, tunggulah ". Ucap Key yang masih menduduki jabatan nya sebagai seorang kepala sekolah menjadikan dia memiliki kontak masing-masing wali mereka walaupun sekarang Lexi, Andrew dan juga Leo tidak bersekolah di sana.
" Terimakasih pak !". Seru meili, mereka semua di rawat dalam satu ruangan.
" tidak usah sungkan ". Leo, Lexi dan juga Andrew menatap penuh tanya kepada Key. Untuk kedua kalinya mereka melihat kepala sekolah yang biasanya terlihat pecicilan berubah menjadi seorang lelaki yang dingin dan serius, itupun selalu terjadi pada saat Ruby dalam masalah. Siapa sebenarnya mereka semua ?. Batin mereka bertanya.
" Key ". Suara panggilan terdengar dari pintu masuk yang tidak lain adalah Maxim yang masih stay di rumah sakit.
Maxim berjalan sembari menjinjing buah-buahan dan juga makanan yang lain laku menyimpan nya di atas nakas yang lumayan panjang di sana.
" Key, kita harus segera pulang, ketiga kaka Ruby ada di markas ". Bisik Maxim membuat Key menegang dan juga terkejut.
" Bagaimana ini ? apa yang harus kita lakukan ?!". Gumamnya sehingga hanya Maxim saja yang mendengar nya. Maxim menaikkan kedua bahunya tidak tahu.
" Kalian istirahatlah, mungkin sebentar lagi orang tua kalian akan sampai ! saya permisi terlebih dulu ". Pamit Key terburu-buru.