
Di rumah sakit yang sama dengan Ruby, Agatha kembali lagi ke ruangan nya, dia terlihat sudah sehat hanya saja wajahnya masih pucat.
" Selamat pagi nona !". Ucap Sasya sopan, Sasya langsung memeriksa keadaan Agatha.
" Kau sudah sangat sehat nona, apa masih ada keluhan ?". Ujar Sasya tersenyum hangat pada Agatha walaupun semua itu untuk menyembunyikan kemarahan nya tapi Sasya tetap lah seorang dokter yang harus profesional.
" tidak ada dok, terimakasih ". Ucap lembut Agatha.
" Kalau begitu saya permisi ". Pamit Sasya tapi langkah nya terhenti saat Kenzi dan juga Lucky menerobos masuk ke dalam dengan kerasnya sampai-sampai yang berada di dalam terkejut di buatnya.
" yaaakk apa yang kalian lakukan hah !". Kesal Sasya membuatnya jantungan dan lagi jika pintu itu menabrak tubuhnya tidak akan ada maaf untuk mereka. Kenzi dan juga Lucky tak mengindahkan umpatan dari Sasya, mereka langsung mendekati Agatha yang masih dengan reaksi terkejutnya sesekali menepuk dadanya. Alex tak bergeming mengamati kedua wajah yang baru di lihatnya tapi seperti tidak asing untuk nya.
" Yo, apa ini nona Agatha itu ?". Delik Kenzi menekan kedua tangan nya di ujung berangkar dan kepala nya condong ke depan menatap geram pada Agatha sehingga Agatha sedikit menjauhkan kepalanya dengan mata nya menatap Kenzi dan juga Lucky bergantian.
" cehhhhh, cantik tapi sayang berhati buruk ". Umpat Lucky yang membuat Agatha semakin bingung, guratan tipis di kening Agatha semakin timbul.
" Yaaakk, kalian menjauhlah ". Geram Sasya menarik mereka dari sana tapi Kenzi tetaplah kenzi seorang pria yang memili tenaga lebih dari perempuan.
" Kau yang membuat adik manis ku menjauh dari keluarganya dan kau juga yang membuat adik manis ku berubah menjadi iblis ! ckckck tapi untung saja dia masih baik hati membiarkan mu hidup kalau tidak sekarangpun aku tidak segan memutilasi mu ". Geram Kenzi masih dengan emosi yang meledak-ledak.
" Yaak, kenapa jadi kau yang marah ? lihatlah dia masih sakit jangan kau tambah sakit, jika ada apa apa dengan nya gue ngga tanggung jawab ya ". Teriak Sasya lebih keras, tekanan dari Kenzi takut mengakibatkan Agatha drop kembali. Jika itu terjadi bagaimana dengan nasibnya, hela nafas Sasya begitu kasar sehingga Lucky menarik tubuh Kenzi menjauh.
" Loe hampir saja membuat gue kehilangan pekerjaan ken, memangnya Ruby akan terima jika kaka nya di bentak seperti itu, apalagi jika di sakiti ken, yang ada malah loe yang jadi sasaran ". Sasya terus menyentak menyebut Lady nya langsung dengan namanya, Sasya mengatakan ini karena dia melihat dari tatapan sendu Ruby saat dirinya menanyakan kabar tentang kondisi Agatha waktu lalu.
" Ruby ". Lirih Agatha menunduk. " maaf ". Ucap nya. Kenzi dan juga yang lain nya menatap Agatha, suara tangis samar terdengar. Agatha menangis sendu sesekali tangan menyusut wajah nya yang mulai membasah.
Sasya melotot tajam ke arah Kenzi dan juga Lucky seolah ingin mencakar mereka berdua yang tak melihat kondisi sebelum menyentak seseorang.
" Apa Lady sudah di temukan ?". Ucap Alex dalam sela keheningan, Alex yakin jika mereka adalah salah satu petinggi dari markas pusat karena dia tahu dari Zen saat dirinya kembali ke Jerman bersama David.
" Sudah dan dia sedang di rawat juga di sini !". Seru Lucky, Agatha samar mendengar jika yang sedang mereka bicarakan adalah Ruby tapi yang sebenarnya adalah Lady, mungkin efek telinga dan juga kepala yang sedang tidak sinkron karena kepalanya di penuhi oleh nama Ruby.
" Ruby ? apa dia sedang sakit ?". Tanya Agatha pada semua orang yang ada di sana.
" ya ! dan itu gara-gara kau !". Sarkas Lucky seakan tidak punya hati membuat Sasya gemas dengan tingkah mereka yang benar-benar menyebalkan.
" Luck ". Geram Sasya. Agatha segera turun dari ranjang nya.
" Antar aku ke sana, aku mohon ". Tangan Agatha memegang erat tangan Kenzi yang sedang ter silang di depan perutnya dengan mata sendu dengan masih tersisa air mata di sana membuat Kenzi ingin mendorong nya tapi hatinya tak bisa. " Aku mohon mmm, tolong antar aku ke sana !". Pintanya.
" bisa, tapi tolong jauhkan tangan mu dari ku ". Agatha dengan segera melepaskan nya.
" Kau pulang saja, biar kami yang menjaganya ". Ucap Lucky lada Alex yang tahu jika dirinya kelelahan terpancar dari matanya yang kurang tidur. Alex menunduk hormat dan ikut keluar bersama mereka.
" Gue ngga ikut, kalian aja yang mengantarnya ". Lengos Sasya pergi ke arah yang berbeda.
" King ". Ucap mereka bersamaan, Kenzi dan juga Lucky melihat makanan yang masih saja utuh tidak tersentuh sedikitpun di atas meja. Masih dengan posisi yang sama, Edward duduk di samping Ruby dan menggenggam tangan nya, matanya terpejam seolah sedang tidur tanpa mengindahkan salam dari Kenzi dan juga Lucky.
" Bunuh mereka semua, pastikan jangan ada yang tersisa ". Ujarnya, Ruby membuka matanya diikuti oleh Edward. Ruby melihat seorang wanita yang berdiri berdampingan dengan Kenzi dan juga Lucky sampai pandangan nya di perjelas. Genggaman Ruby mengerat kala menangkap dengan jelas jika Agatha berdiri di hadapan nya, Edward yang merasakan eratnya genggaman itu langsung menatap Ruby dan langsung mengikuti arah pandang nya.
" Untuk apa dia di sini ? siapa yang membawa nya ke sini hah ?!". Marah Edward, Kenzi dan Lucky yang merasakan aura king nya langsung berlutut meminta maaf.
" Maaf king, dia memaksa untuk menemui Lady dan,,,, !". Bela Kenzi dari amukan Edward.
" Dan apa hah ?". Sentak Edward, matanya memerah dengan rahang yang tegas mulai merekat. Agatha bergetar ketakutan dengan sentakan Edward dan juga Kenzi ataupun Lucky masih berlutut di sana.
" Honey ". Suara lemah Ruby memecahkan kemarahan Edward, Ruby berusaha bangun berniat untuk mendudukkan tubuhnya agar lebih leluasa melihat Agatha.
" kenapa baby, apa ada yang sakit hmm ?". Ruby tidak menjawab nya dan Edward memilih membantu Ruby untuk duduk.
" Baby ". Ucap nya.
" aku baik, kau terlalu berlebihan Honey !". Seru Ruby tersenyum, wajah nya masih pucat dan tubuhnya masih tak bertenaga mungkin karena banyak nya darah yang keluar dari tubuh Ruby malam tadi seakan dirinya berpikir jika malam itu adalah malam terakhir dirinya berada di dunia ini.
" kalian keluarlah dulu, tapi ingat yang di katakan King kalian, segera bersihkan mereka yang bersangkutan dengan mante kalau bisa segera ". Perintah Ruby dingin dan juga datar memperlihatkan aura kepemimpinan nya yang begitu kejam pada mereka yang bermain api dengan nya. Jika mereka dibiarkan akan tidak segan membalas kematian salah satu pemimpin nya.
" Dan kau arahkan mereka ". Lirik nya lada Edward. " Dan sekarang tinggalkan aku dengan nya ". Ucap Ruby membenarkan posisi duduk nya.
Edward tanpa menolak langsung berlalu pergi dari sana diikuti oleh Kenzi dan juga Lucky, setelah pintu kembali tertutup rapat suasana hening kembali tanpa ada yang mengawali percakapan di antara mereka.
" maaf ". Lirih Agatha masih berdiri
" kemarilah ". Seru Ruby menatap Agatha yang masih saja menunduk. " kemarilah ". ucap Ruby kedua kalinya. Agatha langsung mengangkat kepalanya memastikan jika Ruby sedang bicara kepadanya.
Agatha mendekati Ruby dan berhenti di samping nya. Seolah seperti orang yang sedang ketakutan dan juga tercampur dengan rasa bersalah nya membuat Agatha susah untuk mengolah kata.
" Maaf ". Hanya satu kata itu yang terus keluar dari mulut Agatha tanpa ingin menatap nya.
" Apa lantai itu lebih berhak mendapatkan ucapan maaf di bandingkan aku ?". Ucap Ruby yang masih tidak suka dengan mereka yang bicara tanpa melihat nya. " Tatap mata aku saat kau bicara ". Intonasi Ruby semakin menggeram dan sedikit meninggi dengan suara yang terdengar masih tak bertenaga.
" Maafkan aku Al ". Agatha mengulang ucapan nya tapi dengan menatap mata Ruby. Ruby melihat ada rasa sesal dari pancaran matanya dan tidak lupa, Ruby melihat kedua tangan Agatha meremas celana nya dengan erat.