
Hari demi hari telah terlewati tapi Ruby masih enggan untuk berbicara dengan orang tuanya, tapi Luis dan juga Nameera tidak pantang menyerah untuk mendapatkan maaf dari Ruby.
" Kemana Ronald, kenapa dia tidak terlihat dari tadi ". Seru Revan menyapu bersih ruangan mencari keberadaan Ronald di sana entah lupa atau tidak tahu jika Ronald sedang menjemput Kakek Han ke bandara.
" Entahlah aku tidak tahu ". Jawab Acuh Revin setia membaca majalah terkini di tangan nya.
Revan menoleh ke arah Ruby dan juga Edward, mereka berdua menaikkan kedua pundak nya tidak tahu.
" Mom, apa kau juga tidak melihat nya ? dad kau juga ?". Tanya Revan kepda orangtuanya dan gelengan kepala sebagai jawaban mereka.
" Ada apa van ?". Tanya Luis.
" Tidak dad, hanya saja ada yang harus kita kerjakan dan tidak biasanya handphone nya tidak aktif ". Ucap Revan duduk di samping Luis yang masih kosong.
" biarlah nanti juga dia pulang, apa itu sangat penting ?" Luis dan revan terus bercakap sampai akhirnya mereka semua di kejutkan dengan suara bariton yang begitu mereka kenal.
" RUBY--- ". Teriak Kakek Han yang masih dengan ketampanan nya, Kakek Han terlihat begitu bahagia dia berjalan cepat mendekati Ruby.
" Sayang nya kakek ". Kakek Han memeluk erat tubuh Ruby yang begitu dia rindukan matanya berkaca-kaca.
" Kemana saja kamu, kakek begitu merindukan mu ! Apa kau tidak merindukan kakek hmm ?". Ucap isak Kakek Han mengelus rambut lembut milik Ruby sesekali mengecup puncak kepala milik Ruby.
" Kek, aku tidak bisa bernafas ". Keluh Ruby mengaduh nafasnya sesak karena eratnya pelukan dari Kakek Han.
" Maaf maaf, apa kakek menyakitimu ? ". Ucap kake Han khawatir.
" Tidak Kek, tenanglah ". Lembutnya suara Ruby menenangkan kepala Kakek Han yang selama ini penuh dengan penyesalan dan juga kekhawatiran, Ruby menuntun kakek Han untuk duduk sesekali mengelus punggung telapak tangan nya.
Kakek Han begitu bahagia dipertemukan kembali dengan cucu perempuan kesayangan nya itu, mereka bercakap ria di sana mengacuhkan Luis dan juga Nameera.
" Kenapa kalian berada di sini hah ? ". Sentak kakek Han yang begitu masih terlihat marah dan penuh kecewa kepada anak dan juga menantunya itu.
" dad, maafkan aku maaf ". Ucap Nameera penuh penyesalan, air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya.
" Aku tidak akan memaafkan kalian jika Cucuku tidak memaafkan kalian ". Ujar Kake Han enteng, Kake Han Melirik bahagia kepada Ruby dan di balas dengan senyum nya yang begitu sakit.
" Maaf ". Lirih Luis berdiri, mereka mengira luis akan pergi dari sana tapi itu tidak benar, mereka semua terkejut dengan apa yang daddy nya lakukan.
" Maaf kan daddy ". Lirih Luis bersujud di hadapan mereka, tidak ada yang mengeluarkan suara, mereka benar-benar terkejut. Ruby segera berlari mendekati Luis, dia tidak akan membiarkan Luis melakukan semua itu apalagi mommy nya, Ruby tidak akan menerima jika siapapun bersujud di hadapan nya kecuali dia musuh dari Ruby, apalagi sekarang yang sedang bersujud adalah Daddy yang begitu dia sayangi melebihi apapun.
" Tidak, jangan seperti ini ku mohon ". Ucap Ruby membantu Luis berdiri tapi Luis menolaknya sebelum Ruby memaafkan nya.
" maaf, maaf, maaf, maaf kan Daddy sayang ! kau boleh menghukum ku, apapun yang akan kau lakukan daddy terima asal kau memaafkan daddy dan juga mommy mu, maaf ". Lirih luis begitu pilu, dia tidak mau berdiri dari sujudnya membuat Ruby begitu bersalah.
" Tidak tidak, berdirilah ini sangat tidak pantas untuk mu ". Ucap Ruby mengandung kata-kata penekanan kepada Luis.
hiks,,,hikss,,hikss Nameera menangis menyembunyikan wajahnya di balik bantal sofa kecil di sana.
" maaf, maaf,maafkan semua kesalahan daddy sayang ". Akhirnya air mata yang sedari tadi di tahan nya kini bercucuran keluar tanpa bisa di tahan lagi, wajahnya menunduk tidak berani menatap siapapun di sana terutama Revin yang dari awal mengingatkan dirinya agar tidak menyesal di kemudian hari tapi dirinya malah semakin marah kala itu, akhirnya hari ini dirinya begitu malu berhadapan dengan anak-anak nya.
" Apa sudah terasa tuan Luis ?". Ucap sarkas Revin tanpa perasaan ingin puas dengan kekalahan daddy nya itu, ego yang begitu kuat kini hancur berkeping-keping.
" Diam ". Timpal Ronald pelan sembari mencengkram kuat paha Revin mengingatkan bahwa dirinya jangan ikut campur, sorot mata tajam membuat Revin menciut dan merubah wajahnya cemberut.
Ruby menyetarakan tinggi tubuhnya dengan daddy nya itu seraya memajukan kepalanya ke samping kepala Luis dan mulutnya mendekat ke daun telinga Luis seolah membisikan sesuatu di sana.
Ada Rona bahagia terpancar dari mata Luis setelah mendengar bisikan dari Ruby tapi semuanya telah kembali ke semula agar tidak ada yang menyadarinya.
" Bangunlah, kau tidak pantas melakukan hal seperti ini ". Ucap Ruby acuh menjauh dari hadapan Luis tanpa berkata lebih lanjut.
" Istirahatlah, kau pasti sangat lelah dengan perjalanan mu ke sini ". Ucap Ruby menggandeng tangan Kakek Han begitu antusias, dia meninggalkan mereka yang masih terbengong. Edward segera mendekati Luis dan membantunya berdiri dan tidak lupa berkata dengan pelan.
" Aku tidak pernah salah ". Senyum Edward di sambut oleh Luis, dia ingat jika Edward pernah mengatakan jika Ruby tidak membenci mereka tapi mungkin ada hal yang masih dia simpan sendiri tanpa ingin memberitahu siapapun.
" thanks you ". Seru nya.
" Dad ". Ucap Nameera, mata sembab menghiasi wajah cantik nya masih dengan sesenggukan karena kenyataan pahit ini. Luis langsung memeluknya erat menenangkan istri tercintanya.
" Kalau begitu aku pamit keluar dulu, ada yang harus aku urus ". Pamit Edward kepada semuanya.
" Apa Ruby sudah tahu ?". Ucap Revin mengingatkan karena dia ingat bagaimana mereka saling over protektif satu sama lain.
"Belum kak, kalau begitu aku ke atas dulu ". Ucap Edward menyisakan mereka berlima di sana.
" Ayo pulang, biar Ronald yang antar ke rumah ! mommy harus istirahat, jangan terlalu lelah ". Tutur Ronald meraih kunci mobil miliknya di atas nakas.
Luis dan juga Nameera pulang di antar Ronald, dia sudah tidak canggung lagi kepada mereka.
" Bagaimana ? apa ada pergerakan mencurigakan dari mafia Dragon itu ? ". Ucap Edward sedang duduk di kursi kebesaran nya di sana.
" Tidak ada King ". Ucap salah satu pasukan bayangan khusus yang di dirikan oleh Edward guna menjaga ketat berkaitan dengan Ruby.
" Baiklah, kau boleh pergi ". Seru Edward mengetuk-ngetuk telunjuknya ke atas meja
Dia terus memantau setiap apapun yang berada di dekat nya termasuk Ruby dan keluarganya, dia sangat waspada terhadap apapun itu walaupun itu seujung kuku.
" Baiklah, sekarang mari kita berkunjung padanya ". Ucap nya pada diri sendiri.