
" Tidak ada tanda-tanda mereka melewati jalan ini max !". Seru Key mengamati setiap sudut dan juga bekas pijakan kaki tapi tidak ada tanda itu dalam pengamatan nya.
Pertarungan sengit masih terjadi antara Ruby dan juga mante.
Sratt,,srettt,, sraat sreet.
Ruby terus menghindar sesekali menepis dari tajam nya belati yang terus di layangkan kepadanya, Mante terus mencari celah untuk bisa melukai Ruby sampai-sampai dirinya bergerak salto seolah akan menerkam Ruby.
yaaaaaaaakkkk,, Mante menyerang Ruby dengan brutal, sesaat Ruby lengah dan itu memberikan peluang untuk nya menyerang.
Greeppp, Belati tajam merobek perut Ruby dan mante tidak segan menarik nya kembali sampai darah segar Ruby keluar. Ruby menggila kala mante berani menyentuh kulitnya.
Debh,,Debh,,debh,, Ruby memukul punggung mante dengan siku nya. Sesekali lututnya menendang perut dan dada mante sesaat setelah belati itu berhasil lepas dari tangan mante, Tubuh mante di angkat dan juga di lempar dengan mudah nya.
Brugghhhh
Suara itu lebih keras dari sebelum nya, terdengar pula retakan tulang dari nya, jika orang-orang mendengar itu pasti akan sangat mengerikan. Tatapan Ruby pun seperti penuh dengan kebencian dan juga ambisi yang kuat, mata tajam nya terus berubah merah menahan amarah.
Ruby meraih belati milik mante yang tergeletak di atas tanah dan langsung menggenggam nya, Jari Ruby mengusap-usap belati itu yang masih tertempel darah milik nya dengan kaki terus melangkah mendekati mante.
" Tch, darah ku yang berharga hahaha dan kau berani membuat nya keluar ?!". Seru Ruby berjongkok dengan horor, Mante kalap mata, ingin rasanya mengutuk dirinya agar segera mati tapi itu tidak mungkin, melihat iblis di depan nya yang terlihat baik-baik saja dengan luka di perut nya, tak ada kerutan tipis pula di kening nya tak akan membiarkan dirinya untuk mati dengan mudah.
Ruby terus mengulang usapan pada belati itu sampai akhirnya tertancap di dada mante, Ruby dengan santainya naik ke atas perut mante dan mendudukinya.
" Apa kau tahu mante, siapa yang sedang kau coba lenyap kan ini ?!". Racau Ruby seperti sedang kerasukan, terlihat dia begitu tidak normal dalam bicara, tubuhnya seperti di ambil oleh rasa kebencian yang begitu menggila.
Setengah sadar, mata mante terbuka perlahan terkejut bagaimana gadis kecil ini mengenalnya. Dirinya sudah tidak bertenaga melawan gadis kecil di hadapannya sampai sekilas dia mendengar pertanyaan Ruby yang membuat nya menegang. Apa dia pemimpin itu ?. Batin nya.
Mulutnya terkunci akan pertanyaan itu, siapa yang tidak tahu kekejaman Lady sang pemilik Red Pheonix.
" La,,la,,dy ". Gagap Mante.
" ckckckc,, pergilah dengan tenang ".
Bleessh !!
Jlebbb !!
Tusukan demi tusukan Ruby darat kan pada dada Mante, tidak puas dengan dua tusukan, Ruby terus membuat dadanya berlubang sampai kesadaran nya tiba-tiba memudar. Ruby mencoba berdiri dan berjalan sempoyongan, tangan nya berlumuran darah. Lutut nya seakan tidak mampu lagi untuk menumpu badan nya.
Mayat-mayat berserakan di dalan hutan yang begitu gelap gulita, bau amis tercium dari jarak yang lumayan jauh. Ruby terus menekan luka nya yang telah di ikat oleh kain dari baju mante yang baru saja di robek dan terus berjalan sesekali memukul-mukul kepalanya agar tetap sadar.
Tak ada ekspresi dari wajah nya dan tak ada juga rasa sakit yang terlukis di wajah nya, Ruby terus menyeret kaki nya yang juga terluka karena goresan belati.
*******
Eughhh,
" kak, mereka sadar ". Teriak Reina yang sedang menemani Lexi dan juga Andrew berbaring di atas ranting ranting yang telah Leo susun dan di lapisi dedaunan rindang. Leo bergegas memeriksa mereka dan mengucapkan syukur karena mereka baik-baik saja.
" Dimana ini ?". Seru Lexi melihat sekitar.
" Kita masih di dalam hutan !". Seru Leo memalingkan wajah nya, matanya masih tampak tersirat ke khawatiran dan ke resahan.
Reina dan Meili duduk berdekatan dan bersandar santu sama lain, matanya melihat pada langit yang begitu pekat tanpa di hiasi bintang, tidak seperti malam-malam sebelum nya seakan langit ikut marah dengan kejadian ini.
" Rei, bagaimana keadaan nya hiks,,,hikss ! aku sama sekali tidak berguna rei, bagaimana ini ?!". Tangis Meili terisak tapi tak menunduk kan kepalanya dan juga pandangan nya dari langit seolah dia sedang mengadu pada yang maha pencipta.
Reina pun menumpahkan air matanya, hatinya sakit bagai di sayat belati, meninggalkan Ruby seorang diri membuatnya merasa semakin tidak berguna sebagai seorang teman.
Semuanya terdiam dalam keheningan malam tak seperti Ruby yang sedang tergeletak sendiri di temani rumput yang menyembunyikan tubuh kecil nya.
Kegaduhan telah terjadi saat orang tua Reina dan juga Meili mendatangi Kediaman Smith yang sama sekali tidak tahu maksud kedatangan mereka.
" Tidak ada mom, mereka tidak ada di mansion !". Seru Revin yang baru saja mengunjungi mansion karena di telpon pun tidak ada yang menerimanya apalagi telpon rumah karena di sana masih belum mempekerjakan pelayan, untuk itu Revin langsung mendatanginya.
" Apa kau sudah mencari ke setiap ruangan ?". Tanya Revan ikut resah, Revin menjawab nya dengan yakin.
" bagaimana ini dad, kemana anak kita ?!". Nameera mulai terisak dan termasuk kedua ibu dari teman nya Ruby itu.
Angin kencang melanda hutan sampai daun dan ranting pun berjatuhan, bukan karena angin topan atau semacam nya tapi karena Helikopter yang di tumpangi Edward mulai mendarat pada titik terakhir sinyal yang Brayn dapatkan.
Edward tidak membawa mafioso dari sana hanya dengan Kenzi dan juga Lucky saja itu sudah cukup baginya, karena masalah itu tidak perlu repot membawa mereka semua ke Jerman.
" Ayo !". Edward bergegas masuk ke dalam hutan dan helikopter pun langsung terbang kembali tanpa perintah dari king nya.
Edward, Kenzi dan juga Lucky menggenggam penerang jalan nya masing-masing. Berjalan terus berjalan dari arah berlawanan dengan Key dan juga Maxim.
" Disini !". Teriak salah satu mafioso nya yang terkejut melihat mayat berserakan dengan darah yang sudah terlihat berubah warna. Maxim dan juga Key langsung bergegas menghampiri.
Maxim dan juga Key saling pandang sesekali tersenyum, akhirnya mereka menemukan petunjuk akan keberadaan Ruby.
" Mereka semua mati, apa yang harus kita lakukan dengan mayat ini ?!". seru nya sedikit menendang tubuh yang tergeletak di tanah, bukan nya tidak sopan tapi dirinya hanya bersiaga atas apapun yang terjadi jadi tidak terlalu terkena dampak nya.