Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 86



"Sejak Kapan ?". Tanya Leo tidak menyangka bahwa mereka benar-benar seorang pasangan kekasih, setahu dia mereka berdua hanyalah seorang adik kaka saja. Hatinya sakit mendengar pernyataan Ruby langsung dari mulutnya sendiri.


Mereka berhenti bercakap mendengar pertanyaan dari Leo, Ruby menoleh ke arahnya dan tersenyum. " Aku mencintainya sejak awal bertemu dengan nya, beberapa waktu lalu baru bisa menyatakan nya karena ada seseorang yang membuatku takut untuk kehilangan nya, kau pun tau siapa dia kak !". Ucap Ruby sesekali menoleh ke arah Edward dengan mimik wajah yang kadang bahagia dan kadang penuh dengan ketakutan dan Edward pun tidak melewatkan perubahan itu.


Leo mengerutkan keningnya berangsur mencoba mengingat siapa yang membuat Ruby takut kehilangan dirinya dan sesekali Leo mencoba mengerti akan Edward. " Kenapa takut kehilangan jika kalian saling mencintai tidak perlu ada yang di khawatirkan, tapi bukan lagi jika Edward tidak benar-benar mencintaimu By ". Seru Leo berusaha mengorek hubungan mereka tanpa menyadari malam begitu hening menunjukkan waktu yang terus berputar.


Lio dan Revin enggan untuk ikut campur urusan mereka termasuk kedua orang tuanya, mereka semua hanya terdiam mendengar obrolan mereka yang semakin ke sini semakin mendalam.


Ruby menyunggingkan senyumnya. " Jika kau berasumsi seperti itu berarti kau benar-benar belum mengenal Edward kak Leo, apa pertemanan kalian hanya sampai ini ?! Baik baru atau lamanya pertemanan jika mereka sudah sering bertemu dan bertukar cakap setiap hari biasanya mereka akan saling mengerti siapa dan bagaimana watak teman nya dan ya aku menyimpulkan sampai ini jika kau benar-benar belum berteman dengan nya kak Leo ! ". Tekan Ruby santai dengan duduk tegap menghadap Leo yang kebetulan berada lurus tepat di sebrang nya, mata tajam bersemu perak menajamkan pandangan nya.


" Jika seperti itu mungkin memang benar aku benar-benar belum mengenal dirinya, tapi yang aku tahu dulu dia pernah berkata jika aku boleh mendekatimu seolah dirinya menyetujui jika aku menjadi pasangan mu By, apa aku salah berharap dari ucapan nya itu dan waktu itu Edward juga kau mengakui jika kalian adalah adik dan kaka walaupun Edward hanya kaka angkat dirimu tapi aku sangat yakin dari perkataan nya dan itu terlihat jelas dari wajah mu, tapi kenapa semua nya berubah seperti ini ? Apa kalian hanya mengada-ada saja ?!". Seru Leo menahan perih di hatinya merasa dirinya di permainkan oleh Ruby dan Edward, tangan nya mengepal menahan amarah yang sedari tadi ditahan nya.


" Kau tau kak Le, Edward rela melakukan apapun untuk ku walau nyawa taruhan nya apalagi hanya sebatas perasaan dia akan jauh lebih rela melepaskan diriku untuk bahagia dengan seseorang yang menurutnya sangat aku cintai dan itu dia melihat pancaran mataku saat pertama kali aku bertemu dengan mu, sejak awal kak Edward pun tahu jika dirimu tertarik kepadaku dan menurutnya aku pun tertarik kepadamu ka Leo dan saat itupun dia berusaha menjauhiku membuatku merasa tidak nyaman, tidak lama sejak saat itu dia menyetujui jika kau menjadi pasangan ku, kau harus tahu itu bagaimana dia begitu menghormati setiap rasa yang timbul dari hati kita masing-masing dan dia mengalah untuk diriku dan juga mengalah hanya untuk teman yang belum lama dia kenal, tapi maaf kak hatiku benar-benar telah penuh dengan namanya sehingga untuk berpaling pun sangat enggan, maaf jika aku melukai perasaan mu, aku tidak bermaksud mempermainkan perasaan siapapun tapi inilah kenyataan nya jika aku sangat mencintai kak Edward. Hanya dia !! ".


Ucap Ruby panjang lebar dan tanpa berani ada yang memotong perkataan nya, Leo terlihat melemas tubuhnya seakan tidak bertulang, lain halnya dengan Edward yang begitu senang mendengar setiap kata demi kata yang keluar dari mulut Ruby sehingga sesaat dia berpikir mengapa Ruby begitu tahu tentang dirinya ? apa rasa di dalam hatinya begitu kentara ? Edward enggan menoleh ke arah lain dengan pikiran yang entah kemana.


" Apa tidak ada sedikit saja kesempatan untuk ku by ?". Lirih Leo.


" Maaf ". Ucap Ruby memutus semua harapan yang begitu besar dari Leo termasuk keluarganya.


" Baby ". Seru Edward membuat semua orang menoleh ke arahnya tidak lupa Leo pun sama halnya dengan mereka.


" Aku baik-baik saja honey ". Senyum Ruby


Edward mengalihkan pandangan nya kepada Leo yang terlihat penuh kecewa dari wajahnya. " Le, apa kau baik ?". Tanya Edward.


" Tidak apa Ed, mungkin dia bukan jodoh ku dan selamat untuk mu ". Ucap Leo datar tanpa ekspresi sedikitpun.


" Tapi kau terlihat tidak baik Le dan dari ucapan mu itu menunjuk kan kau sedang marah, marahlah jika itu membuat mu tenang Le ". Seru Edward. Bagaimanapun Edward bukanlah sembarang orang, jangan dibilang dia King nya Red Pheonix jika hal seperti ini dia tidak tahu.


" Sudah lah Ed, ini bukan saat nya seperti ini biarkan dia tenangkan dirinya terlebih dahulu dan lihatlah ini sudah jam 1 pagi ! apa kau begitu tega membiarkan Ruby tidur selarut ini ? jika dia sakit kau tahu akibatnya Ed ". Revin memotong ucapan Edward yang hendak berdiri mendekati Leo di sana.


" Tuan Revin benar, kalian pulang lah terlebih dahulu biarkan dia menenangkan dirinya ". Ucap Lio membenarkan perkataan Revin, bukan karena apa, Lio takut jika Leo mengamuk, Lio menarik Leo untuk masuk ke dalam menjauh dari sana.


" Honey ". Panggil Ruby mendekati Edward dan langsung menggenggam tangan nya tidak lupa sedikit gelengan kepala seolah dirinya tidak mengizinkan jika Edward terus bertanya kepada Leo.


" Pulang lah sayang, maaf semuanya jadi seperti ini !". Ucap Nyonya Jeffrey penuh penyesalan tapi entahlah sikap ini benar atau palsu.


" Tidak apa bi, harusnya aku yang minta maaf ". Ruby memeluk hangat nyonya Jeffrey.


" Jika begitu kami permisi pulang paman, bibi !". Pamit Revin, Ruby melepaskan pelukan nya dan pamit pulang.


Malam yang begitu penuh ketegangan dan kebahagiaan membuat dia yang penuh kecewa dan ada pula yang penuh dengan kehangatan.


Mereka bertiga akhirnya sampai di depan mansion, Ruby telah lelap dengan tidurnya sampai akhirnya Edward terpaksa menggendong nya masuk dan Revin melajukan mobilnya ke dalam garasi di bawah tanah mansion itu yang dirancang khusus oleh Ruby.


" Kalian darimana ? kenapa baru pulang hah ? ini sudah sangat malam ". Ternyata bukan ruangan gelap dan keheningan yang menyambut mereka tapi lampu terang dan juga suara langkah yang begitu cepat menyambut kedatangan mereka. Revan mengambil alih tubuh Ruby daei pangkuan Edward dan langsung membawanya ke kamar diikuti Ronald dan juga Edward di belakang nya.


Revan merebahkan tubuh Ruby dengan sangat hati-hati di atas kasurnya, menyelimutinya dengan begitu telaten sesekali mengusap pucuk kepala Ruby dan mencium kening nya cukup lama seperti sudah lama tidak bertemu.


" Darimana saja kalian hah, kenapa Ruby begitu kelelahan ?". Seru Ronald terlebih dahulu duduk di dekat Revin.


" Duduk lah dulu dan jangan keras-keras, suaramu mengusik tidurnya ". Ujar Revin tersedak dengan air yang masih berada di mulutnya.


" Aku tadi menemani Ruby ke Mansion Leo karena undangan makan malam, karena tadi dia sendirian makanya aku ikut dengan nya ". Ucapnya karena itu memang kenyataan nya.


" Apa harus sampai selarut ini ? ". Kesal Revan, bagaimanapun dia masih khawatir walaupun masih ada Revin di samping nya.


Revin menceritakan semua yang terjadi di sana sampai-sampai Revan dan juga Ronald begitu iri jika Edward begitu spesial bagi Ruby.


" Awas jika aku melihat kau menyakiti Adik ku, akan ku bunuh kau ". Ancam Revan tidak kepalang.


" Dan akan ku cincang mayat mu dan ku buang ke laut, ingat itu !". Timpal Ronald menambah kekejaman kaka dari Ruby, senyum Revin tersungging dari sebelah bibirnya.


" Tenanglah, bagaimana aku bisa menyakiti gadis yang begitu berharga untuk ku ? jika ada sedikit saja aku menyakiti dirinya maka kalian tidak perlu repot menghukum ku karena aku sendiri yang akan menghukumnya ". Ucap Edward tegas dan ketegasan itu membuat ketiga kakak nya bergumam di dalam hati.


" Buktikan, aku tidak butuh perkataan mu saja !". Ucap Ronald berlalu pergi.


" Ingat lah ucapan ku !". Tekan Revan yang ikut pergi dari sana menuju kamarnya.


" Istirahatlah, ini sudah malam ". Seru Revin juga berlalu pergi dari sana dan tidak lama Edward pun pergi.