Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 78



Edward menggendong Ruby menuju kamarnya dan saat sampai, dia langsung membaringkan dengan sangat pelan.


" Teruslah seperti ini, aku menyukai nya baby !". Gumam Edward perlahan mengecup kening Ruby dan sedikit menyingkap rambut serta menyelipkan nya ke daun telinga.


" Apa dia tidur Ed ? ". Tanya Revan yang hendak memanggil Ruby karena teman-temannya akan pulang. Revan berjalan mendekat dan berjongkok di samping ranjang tempat berbaring nya Ruby.


" Kau turunlah ". Titah Revan tanpa menoleh kepada Edward. Edward pun langsung berlalu dari sana dan menutup rapat pintu kamar Ruby.


" Ed kita pulang ya, salam untuk Ruby ". Pamit Lexi di ikuti Andrew dan juga Leo bertos ringan.


" Oke ! Kalian berhati-hati lah ". Seru Edward.


" Kami pun pamit juga ya kak ! Eum apa kami boleh main lagi ke sini besok ?". Ucap Meily berharap. Tanpa mereka sadari, kini setiap yang menyangkut Ruby akan ada kata izin dari Edward, padahal itu sama sekali tidak ada ucap dari Edward.


" Mom dad bermalam saja di sini kalian pasti lelah ! Hari mulai petang, aku tidak mengizinkan kalian pulang hanya berdua ! ". Ucap Edward ketika Luis dan Nameera hendak berpamitan.


" Tidak Ed, kami akan pulang bersama Revan ". Bantah Luis, karena dia sudah tidak bisa tinggal lama di rumah itu. Dia sudah tidak kuat dihadapkan dengan sikap Ruby yang begitu asing di mata nya.


" Kak Revan tengah menemani Ruby tidur di atas". Seru Edward.


" Edward benar paman, bermalam lah di sini ! Kalian bisa tidur di kamar bawah. Tenanglah, kita dekati Ruby perlahan ". Tutur Ronald tersenyum.


Senyum itu sangat hangat sekali, dia bukan nya tidak peduli dengan apa yang telah orang tua itu lakukan kepada adik tercintanya, hanya saja dia merasa takut jika Ruby salah langkah dan terus mengingat masa lalu.


" Ayo aku antar ke kamar kalian ". Ajak Edward mengantar mereka untuk istirahat.


" Kau juga istirahat lah, sekalian cuci wajah mu itu ! Tch sangat kusam sekali ". Ucap Edward kepada Ronald di iringi ejekan yang membuat nya sedikit mempercepat langkah


****


DOR,,DOR,,DORR


" Buka pintunya, tolong siapapun yang berada di luar hiks,,hikss,,hikss ". Agatha terus saja menggedor pintu dimana dirinya dikurung dalam ruangan yang begitu gelap tanpa penerangan sedikitpun.


Sudah hampir 2 hari lamanya dia di kurung di ruangan gelap itu, saat pertama kali Agatha membuka matanya, terlihat ornamen yang begitu oriental melapisi setiap dinding, warna nya yang begitu nyaman untuk di pandang membuatnya penasaran akan keberadaan dirinya saat ini.


Tidak ada jendela atupun semacamnya agar dirinya bisa memastikan keberadaan saat ini, Agatha dengan cepat menuju pintu dan hendak membukanya tapi hasilnya begitu nihil, pintu nya terkunci rapat.


Hatinya mulai gundah, saat terbangun dari pingsan, dirinya mencoba mengingat apa yang tengah terjadi. Matanya membulat penuh, dia segera bercermin pada salah satu kaca yang berada di ruangan itu, saat itulah air matanya jatuh bercucuran.


Setitik cahaya masuk dan memantul pada cermin membuat nya semakin jelas melihat keadaan dirinya saat ini, dia menangis histeris berlari menuju pintu dan terus menggedor nya mencoba berteriak agar siapapun mendengar nya.


" Dasar wanita gila !". Seru Zen menutup telinganya rapat-rapat seolah-seolah mengeluh karena suara bising yang selama 2 hari ini mengganggu pendengaran nya.


" Sabar, kita nikmati dulu saja ". Ujar Alex memangku kaki nya sembari merebahkan tubuh dengan asyik memainkan game kesukaan nya.


" Mungkin aku kena guna-guna nya hahahaha". Jawab asal Alex.


" Gila !". Zen melempar bantal sofa ke arahnya kesal.


" Kenapa belum ada perintah kembali dari Lady ? Ah sudahlah kita tunggu saja ". Lanjutnya berdiri mengisi air dalam gelasnya yang mulai habis ke pantry kecil yang ada di sana.


" Haish, jika bukan perintah Lady sudah ku habisi wanita gila itu ". Gerutu Alex pelan tanpa terdengar oleh Zen yang terlihat memegang gelas berisikan air putih.


**


" Kenapa kau begitu menggemaskan Al ? ". Revan mencubit hidung mancung milik Ruby yang tengah terlelap dalam tidurnya. Ya beginilah sekarang Ruby, dia akan cepat dalam hal tidur.


Revan begitu menyayangi dan mencintai adik perempuan satu-satunya itu, dia tidak keberatan jika Ruby terus bersikap manja kepada nya. Revan menyingkap selimut itu dan membenamkan tubuhnya di samping Ruby dan menarik adik nya itu kedalam pelukan, mengelus pelan kepalnya sehingga Ruby begitu terlihat nyaman.


Cklek !!


Pintu kamar Ruby terbuka perlahan, Revin sengaja mengunjungi kamar Ruby karena merindukan wajah manis adik nya itu, padahal belum lama mereka saling bertemu.


Revin mendekati mereka dan ikut merebahkan badan nya di sisi lain yang masih terlihat luas untuk satu orang dan kini Ruby berada di tengah mereka. Revin pun memejamkan matanya dengan senyum yang terus mengembang dari kedua sudut bibir dan akhirnya ikut terlelap.


" Dad, apa yang harus kita lakukan ?! Mommy takut jika Ruby tidak bisa memaafkan kita hiks,,hiks,,hiks ". Hati Nameera begitu gundah. Perasaan nya begitu tidak tenang, nafas pun begitu sesak. Luis terdiam tanpa ekspresi, hanya bisa menenangkan istri nya itu karena dia pun sama merasakan gundah dalam hatinya.


**


" Bagaimana ?". Seru David berada dalam aula markas Red Pheonix bersama dengan petinggi divisi dalam organisasinya.


" Bersih, mereka tidak memperjual belikan barang-barang terlarang sama seperti kita ! ini data tentang mafianya ". Laporan dari tim pengintai dan juga bekerja sama dengan divisi lain yang hasilnya di serahkan kepada Kenzie untuk di teliti ulang lalu di serahkan kepada David.


David langsung menerima berkasnya dan langsung mengecek dengan teliti, David menganggukkan kepalanya puas dengan hasil kerja keras mereka.


" Om terimakasih atas kerja keras kalian ". Ucap David yang langsung membuat mereka semua bangga akan kinerja diri mereka masing-masing.


mereka sangat beruntung berada di dalam lingkungan mafia yang di pimpin oleh seseorang yang begitu menghargai setiap keringat yang keluar, walaupun ketiga pemimpin mereka begitu dingin apalagi Lady nya yang menurut mereka bagaikan Es di antartika tapi itu tidak jadi masalah, mereka tahu di balik sikap itu ada kelembutan di dalam Lady nya dan itu pun terbukti.


" Untuk Permintaan dari Mafia yang berada di negara J kita masih harus mendiskusikan nya dengan King dan Lady sekalian mempertimbangkan kelanjutan berkas yang ini ". Seru David meraih berkas ber map biru.


" Bersenang-senanglah, jangan terlalu terbebani dengan semuanya ! bersantai lah sedikit ". Ujar David berdiri dan meninggalkan ruangan itu dengan gaya khasnya


. Sebenarnya David tidak begitu menekan mereka atas kerja nya, karena dia pun tahu bagaimana lelah nya bekerja dalam bidang seperti ini. Tapi David kadang heran entah kenapa rekan nya atau pun mafioso yang berada dalam organisasi nya begitu antusias jika mendapat tugas dari David apalagi jika tugas itu langsung di perintahkan oleh Lady serta King, seolah terlihat tanpa beban mereka menyanggupi apapun yang di perintahkan oleh Ruby. Aneh memang, tapi begitulah mereka.


|😘