Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 93



" Lalu apa hubungan nya dengan Ruby, kenapa dia yang mempersiapkan semuanya ? bukan nya ruby tidak bekerja di sana ? lalu kenapa kalian yang bekerja di sana malah tidak tahu ?". Tanya Kake Han tanpa jeda, membuat mereka yang akan menjawabnya selalu saja terpotong oleh pertanyaan kake Han.


" Sebentar lagi juga kakek akan tahu, jadi kami tidak perlu memberitahumu ke !". Celetuk Revin merubah rasa penasaran kake nya menjadi kekesalan.


" Cucu durhaka kau ya ". Ujar Kake Han memukul Revin dengan tongkat yang selalu kake Han bawa kemana-mana.


" sakit ke, kenapa aku saja yang kau pukul ". Keluh Revin mengusap-usap lengan nya yang sedikit memerah.


" Kita ngga ikutan yah !". Kilah Ronald langsung karena takut kena imbas nya juga.


Di dalam mansion lain, seseorang sedang menyiapkan pakaian yang besok malam akan dia kenakan.


" Bagaimana ? apa mommy cocok memakai gaun ini ?". Ucap Nyonya Jeffrey yang sedari tadi begitu antusias mencoba beberapa gaun yang menurut nya harus berkesan saat perayaan nanti.


Ya, itu lah kediaman Jeffrey yang malam ini begitu riweh dengan kelakuan mommy nya. Ketiga pria di sana duduk berjejer seperti juri yang akan menilai pesertanya, mereka begitu pusing dengan satu wanita ini, mereka memijit kening mereka merasa pusing melihat nya.


" semuanya cocok mom menurut ku, kau memakai apapun tetap lah cantik, ia kan Dad, Le !". Seru Sehalio ingin segera pergi dari sana, setibanya mereka berdua di rumah, bukannya istirahat tapi ini sebaliknya. Tubuhnya begitu lelah dan matanya begitu perih karena kantuk yang menjalar sepanjang jam kerja.


" Ia mom, daddy pun sependapat dengan Lio ! kau tetap cantik memakai apapun percayalah, kau tanyakan saja kepada Leo ". Ujar Tuan Jeffrey benar-benar sudah lelah dari tadi memperhatikan istrinya itu bolak-balik seperti setrikaan, bukan hanya itu ocehan nya pun melengkapi rasa lelah di dalam diri mereka seolah telinga nya sakit sampai gendang telinga.


" tidak tidak, pokok nya mommy harus terlihat cantik ! lihatlah yang mengundang kita perusahaan besar dan pasti semua kalangan ada di sana, mommy tidak mau menjadi yang terjelek ". Serunya begitu kekeh ingin berpenampilan paling sempurna sembari berkaca di depan cermin besar di sana.


" Hufhhhh terserah mommy aku sangat lelah, aku belum mandi dari saat pulang sekolah, badan ku lengket sekali mom ! aku duluan yah ". Keluh Leo pura-pura dengan wajah melasnya dan langsung berdiri. Leo mengipas-ngipas badan nya dengan baju seragam yang masih terbalut di tubuhnya, mommy nya melihat itu langsung membalik kan tubuhnya menghadap Leo.


" Yasudah sana pergilah, sepuluh menit ! mommy memberi waktu sepuluh menit dan kau harus sudah ada di sini lagi, mengerti !". Tekan Mommy nya benar-benar tidak memberi celah kepada anaknya itu, Leo melirik kepada daddy nya meminta tolong tapi gelengan kepala sebagai jawaban nya. Tidak ada yang di takuti mereka kecuali amukan dari wanita di depan nya ini.


" Ish engga jadi, kau teruskan saja dulu ". Leo kembali duduk dengan wajah yang cemberut seperti anak kecil padahal usianya sudah tidak bisa lagi di bilang kecil tapi mungkin karena dia anak bungsu dari keluarga jeffrey jadi mereka semua memanjakan nya tapi bukan di manja seperti kebanyakan orang.


" anak baik !". Seru nya mengelus lembut rambut Leo dan dia langsung melanjutkan aksinya memilih gaun yang cocok untuk perayaan nanti.


***


" Makanlah ". Alex mengantarkan makanan kepada Agatha yang masih saja di kurung di dalam ruangan itu, entah apa yang akan Ruby lakukan selanjutnya. Sebenarnya Ruby tidak mengetahui apa saja yang telah dilakukan Edward kepada Agatha, mungkin masa bodo toh dia pantas mendapatkan nya. Tapi di dalam hati yang paling dalam masih ada rasa sayang Ruby terhadap Agatha mungkin karena mereka pernah tumbuh bersama dalam satu atap.


" Kenapa kalian begitu kejam kepadaku ?". Seru Agatha menatap kosong ke sudut ruangan yang bercat putih itu sembari memeluk kedua lutut nya, rambut yang acak-acakan menggambarkan seperti orang yang sedang tidak waras lengkap dengan baju piyama yang belum dia ganti. Wajah nya begitu pucat pun bibirnya ikut pucat, matanya begitu sayu.


Alex berjalan memutar setelah meletakan nampan yang berisi nasi lengkap dengan lauk pauk nya.


" Kejam ? siapa yang kau bilang kejam ?". Ucap Alex terkesan lembut tetapi mengandung tekanan di sana, Agatha masih tidak menoleh ke arah Alex yang sudah berada di depan nya.


Alex menarik kursi kecil di samping nakas tempat tidur dan meletakan nya tepat di hadapan Agatha yang sedang duduk di tepi ranjang.


" Kau tidak pantas mengatakan kami kejam, apa kabar dengan kau yang bertingkah begitu keji ! apa kau lupa ? ". Ucap Alex lagi mengulurkan tangan nya hendak merapihkan rambut surai Agatha, Alex menyelip kan rambut Agatha ke belakang telinga nya sesekali mengelus lembut bekas luka di wajah nya.


hiks,,hiks,,hiks


Agatha tidak merespon apapun pertanyaan dari Alex tapi dia malah menangis menyembunyikan wajah nya di lutut nya.


" maaf, maafkan aku !". Tangis Agatha pecah saat dirinya begitu mengingat bagaimana siksaan dari Ruby di tambah siksaan menyakitkan dari Edward serasa dirinya tidak menginginkan kehidupan ini lagi. Ucapan Edward terus terngiang di kepalanya dan ekspresi wajah Edward seakan telah menguasai matanya, dia tidak akan melupakan wajah itu, wajah yang begitu kejam tapi entah kenapa membuat nya semakin tampan dan menawan.


" Terlambat ! Apa kau baru menyesalinya hah ! ini benar-benar terlambat Agatha !". Ucap Alex.


Dari Perkataan nya seolah benar-benar tidak ada kesempatan kedua untuk dirinya, dari pada seperti ini lebih baik dia mati saja.


HAHAHAHAHA


" Apa anak sialan itu sedang balas dendam kepada ku ! dimana dia akan ku bunuh jika aku melihat nya ". Agatha benar-benar gila, itulah yang ada di pikiran Alex. Awalnya menangis dan tidak lama dia tertawa, mungkin kejiwaan nya sedang di landa keresahan dan ego nya masih menguasai dirinya.


Tidak lama Alex keluar dari sana dan langsung menguncinya kembali.


" kenapa mereka belum kembali". Alex menyingkap jaket nya dan melihat jam yang melingkar di tangan nya. Key dan juga Maxim sedang membereskan pekerjaan mereka, Maxim pergi ke bar dan Key pergi mengurus yayasan dan Alex yang kini harus menjaga Agatha di sana.


|