
" Baby ". Panggil Edward pelan di sela batuknya, dada nya begitu sakit terasa.
" Bertahanlah aku mohon honey. maaf, maafkan aku ". Derai air mata Ruby kian pilu.
" Maaf ". Lirih Edward dan seketika memejamkan matanya dengan nyaman.
" Tidak tidak aku mohon bukalah matamu kak hiks,,hikss,,hikss ku mohon !". Ruby menangis histeris di sana.
Semua orang terdiam melihat sifat Ruby yang lain di hadapan mereka. Ruby yang lembut, Ruby yang lemah terlihat jelas di antara para mata yang terus menyaksikan itu.
Leo begitu bersalah dengan keadaan Edward yang seperti itu.
" Maaf Ed, aku tidak bermaksud seperti itu . Maaf ". Leo terus mengucapkan maaf karena merasa bersalah, Lexi dan juga Andrew masih menenangkan Ruby yang masih tengah memeluk erat Edward.
" DIAM ". Bentak Ruby seakan jantungnya berhenti berdetak melihat Edward begitu tiba tiba menutup matanya, suara Leo yang terus meminta maaf membuat dirinya geram. Leo langsung terdiam begitu Ruby membentaknya.
Suara ambulance begitu nyaring terdengar sepanjang jalan, terlihat pihak kampus berlari begitu tergesa-gesa menghampiri Edward yang tergeletak. Saat keadaan itu, mahasiswa, dosen dan orang-orang yang ada di sana tidak curiga kenapa pengelola dan beberapa orang penting berada di sana, karena keterkejutan mengalihkan kecurigaan itu sendiri.
Akhirnya Edward dilarikan ke rumah sakit, Ruby yang sedari tadi menangis tidak sedikit pun melepaskan pegangan nya.
**
Edward tengah di tangani oleh dokter, sedangkan Ruby enggan untuk meninggalkan Edward. Dia benar-benar terus memegang tangan nya walaupun sebelum itu dokter melarangnya untuk masuk ke dalam ruangan.
Begitu menyesakkan dada kala melihat Edward terbaring seperti itu, jantung Ruby seakan berhenti berdetak saat ini, hatinya pun begitu tersayat-sayat dan alangkah menyesalnya Ruby saat ini. Apakah ini akhir ? tidak pikirnya ! dia harus tetap bersamanya apapun yang terjadi. Sesal terus menguasai dirinya sampai tangis pun seperti tidak memihak padanya.
Setelah selesai di tangani, Edward di pindahkan ke ruang rawat, wajahnya begitu pucat tapi tidak menghilangkan ketampanan nya.
Dua hari pun berlalu tapi Edward tidak sedikit pun menunjukkan reaksi apapun dan selama itu pun Ruby tidak bisa memakan apapun karena tidak berselera. Selangkah pun Ruby tidak beranjak dari sisi Edward. Ruby berfikir harus segera menyelesaikan rencana nya karena bukti sudah cukup untuk melawan Agatha, tinggal mencari waktu yang tepat untuk melancarkan tujuan nya, tapi kapan ? Batin nya.
Revan, Revin dan juga Ronald sudah tidak bisa membujuk Ruby dengan cara apapun. Mereka melihat adiknya selalu resah dan juga mata nya terus memancarkan penyesalan membuat ketiga kakak itu hanya bisa mengusap wajah dan juga dada nya. Mereka sudah tidak tahu lagi harus bagaimana.
Dokter secara Rutin terus mengecheck keadaan Edward tapi kondisinya tetap sama. Menurut dokter, Edward seperti enggan untuk bangun entah apa yang terjadi dan saran dokter cobalah mengajak pasien berbicara setiap hari, karena kecelakaan sebelumnya membuat tubuh Edward kembali mengalami shock.
" Van, bagaimana ? apa masih tidak bisa ?". Tanya Ronald begitu pasrah dengan keras kepalanya Ruby.
" Begitu berarti nya kah dia di dalam hidup nya ? Aku seolah tidak mengenal Ruby yang seperti ini Nald ". Revan begitu bingung dengan sifat Ruby yang seperti itu, membuat dia seakan tidak mengenal adik perempuan nya itu.
" Entahlah, aku rasa memang benar seperti itu !". Jawabnya lesu.
" Oh iya Van, nanti malam kita ada undangan perayaan ulang tahun perusahaan Jordan. Aku dan Revin juga akan ikut ". Lanjut Ronald sembari memberi undangan yang dia dapat kemarin.
**
Dalam gedung nan megah nya sudah terhiasi berbagai macam dekorasi yang begitu elegan, ulang tahun perusahaan jordan akan segera di mulai. Tamu terus berdatangan dari berbagai macam kalangan berada di satu ruangan saat ini.
" Hai hai Ladies, bagaimana ? cantik kan !". Pamer Resa putri dari pemilik perusahaan Jordan yang begitu centilnya.
" Iya iya kau sangat cantik nona ". Puji Agatha dengan balutan gaun berwarna biru jingga nya, riasan yang begitu cantik.
Agatha dan kedua teman nya menghampiri orang tua mereka yang tengah bergantian memberi selamat kepada tuan Jordan.
" Selamat malam ". Sapa Tania dan juga Resa kepada Nameera.
" Selamat malam juga sayang. Bagaimana kabar kalian ? Kenapa jarang main ke rumah ?". Sahut Nameera dan bertanya seakan mereka berdua memang sering main ke rumah Smith.
" kami baik tante, kapan kapan kita main ke sana lagi ". Tutur Tania begitu sopan nya kepada Nameera.
" Oh iya Dad, apa kak Revan dan kak Revin datang ? aku tidak melihat nya sedari tadi !". Tanya Agatha begitu kental dengan akting nya.
" Entahlah, daddy tidak tahu ". Jawab lesu Daddy Luis menerima kenyataan bahwa kedua anaknya kini benar benar jauh dari nya.
**
Riuh tamu undangan teralihkan kepada ketiga pemuda tampan yang baru saja datang dengan setelan formal yang terbalut gagah dalam tubuh. Warna jas dan juga bawahan begitu serasi.
Para wanita lajang, tidak bisa menghentikan jeritan mereka karena pesona dan karisma dari mereka bertiga yang begitu kuatnya. Luis dan juga Nameera yang notabenenya kedua orang tua dari Revan dan juga Revin pun begitu terpesona dan segan kepada anak-anak nya saat ini , seakan di sana bukan lah kedua anak mereka.
" Selamat untukmu tuan Jordan, semoga semuanya selalu di mudahkan ". Ucap Revan mengulas senyumnya setipis mungkin di ikuti oleh Revin dan juga Ronald. Jordan dan juga tamu-tamu di sana hanya mengetahui jika Revan dan Revin datang karena mereka memanglah putra dari tuan Smith, untuk itu mereka ada di sini.
Namun siapa sangka, mereka datang bukan karena mereka putra dari Smith melainkan perwakilan dari perusahaan Ra Company, tapi tidak ada yang tahu kecuali penerima tamu undangan do depan.
" Anda siapa ?". Tanya Jordan di saat bersalaman dengan Ronald. Sebelum Ronald menjawabnya Agatha dan juga kedua teman nya memotong pembicaraan mereka.
" Hai kak, aku sangat merindukan kalian ! Apa kalian tidak merindukan adik kalian ini hmm ? ". Manjanya Agatha di sambut sinis oleh Revan dan juga Revin.
" Maaf, kita tidak mengenal anda nona ! Oh dan iya, kami hanya mempunyai satu adik, jadi tidak perlu repot-repot mengaku-ngaku jika anda adalah adik kami. Paham !!". Tegas Revin. Revin benar-benar muak dengan wajah ular Agatha, sudah bertahun-tahun tidak bertemu namun menurut Revin tetap saja sama.
Luis dan juga Nameera hendak menyapa kedua anak mereka tapi di urungkan, alasan nya karena mereka melihat jika kedua putra nya masih marah.
Revan, Revin dan Ronald berlalu pergi dari area berdirinya tuan Jordan dan juga beberapa tamu penting yang tengah mengucapkan selamat kepadanya.
" Kami pamit ke sana ". Pamit Ronald dan berlalu pergi
" Silahkan, selamat menikmati acaranya ". Tutur Tuan Jordan sedikit menunduk kan kepala.
Luis dan juga Nameera tidak bisa berbuat apa-apa karena memang lah mereka yang salah. Wajah mereka begitu memelas dengan ke adaan seperti ini.
" Mom dad !" Panggil Agatha menyadarkan kedua orang tuanya karena mata mereka terus mengikuti langkah kedua putra mereka. Luis dan Nameera tidak mempedulikan panggilan dari Agatha, mereka langsung duduk di kursi yang telah di siapkan.
" Tuan perwakilan dari Ra Company hadir ". Bisik asisten tuan Jordan. Dia baru saja menerima laporan dari penerima kartu undangan di depan dan betapa bahagianya Jordan mendengar mereka menghadiri acara perusahaan nya.
" Apa kau sedang tidak berbohong ?". Tatapan jordan selidik bercampur bahagia.
" Benar tuan, apa perlu saya panggil penjaga di depan sana ". Seru asisten Jordan.
" Tidak perlu ! Cepat beritahu moderator untuk memberi sambutan dan berterimakasih atas kedatangan mereka. Sshh tapi di mana mereka ? Apa masih di luar ? ". Jordan begitu antusias dengan itu. Sang asisten pun kembali pergi menuju moderator yang telah berada di atas podium
Salam hangat dari author
LIKE
KOMEN
SHARE
VOTE
🤣😘💕🥰