Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 118



" Lemah ". Gumam Leo dalam hati, apakah hanya sebatas ini kemampuan nya selama ini ?. " Tch, kejam ? omong kosong ! ". Ledek nya dalam hati dengan senyum ter simpul dari sudut bibir nya mentertawakan dirinya yang seorang ketua mafia kelas atas tapi apa ini ? ciiih menggelikan.


Edward, Kenzi dan juga Lucky masih menyusuri hutan gelap, kurang nya pencahayaan tidak membuat mereka kesusahan karena mata mereka setajam pisau dan seterang surya jika di ibaratkan.


" King, di sana !". Tunjuk Kenzi, Edward langsung menajamkan tatapan nya, cahaya senter terpantul di antara pepohonan dan itu tidak satu, Edward langsung bergegas menuju pada cahaya itu walaupun jaraknya masih lumayan jauh.


" Ayo kita bergegas !". Seru nya berjalan tidak menghiraukan apapun yang dia injak.


Di tempat pembantaian, Maxim menangkap salah satu dari mereka yang terbaring di atas tanah tanpa memakai baju atasan yang utuh dan dada nya pun sudah berlubang.


" Max !". Seru Key yang mengikuti arah pandang maxim sampai susah menelan ludah nya saking terkejutnya melihat dia begitu mati mengenaskan. Maxim dan juga Key mendekati mante yang sudah terbujur kaku dengan belati tang masih setia tergeletak di samping kepalanya.


" Mante ? dia Mante, iya aku kenal dengan nya !". Seru Key mengamati wajah yang sudah tidak akan asing bagi kalangan mafia dan juga organisasi semacam nya.


" Mante ? sedang apa dia di sini ? bukan nya dia bukan orang Jerman ?". Tanya Maxim, kerutan halus terpatri di kening nya seakan penuh dengan kebingungan karena yang dia tahu jika mante adalah salah satu mafia yang berpengaruh di negara X.


" Max, apa kau sepemikiran dengan ku ?!". Seru nya melototkan kedua matanya, isi pikiran nya terus terngiang Lady nya.


" Tidak, itu tidak mungkin Key ! kita tidak ada urusan dengan nya dan lagi jika pun ada apa-apa kita akan tahu lebih dulu bukan ? ". Ujar nya mantap. " Dan apa kau masih ingat saat kita tiba di jalanan, ada dua mobil yang rusak, itu berarti Lady tidak sendiri ?!". Maxim terus mengucapkan berbagai kemungkinan-kemungkinan yang tengah terjadi.


KRETAAAAKKK, suara ranting patah oleh pijakan membuat Maxim dan yang lain nya waspada dan siaga.


" Siapa di sana ?". Teriak Key bersiap dengan senjata di tangan nya dan laras panjang di tangan anak buah nya. Mereka terus siaga sembari kakinya melangkah mundur pelan saat suara pijakan semakin terdengar jelas, mereka tengah bersiap menembak saat tubuh mereka semakin terlihat.


" Berhenti !". Perintah Maxim teriak, matanya tetap tidak lepas dari mangsanya.


Edward terus berjalan mendekat tanpa mengindahkan perintah Maxim, ekspresi Edward begitu dingin diikuti Kenzie dan juga Lucky di belakang nya dengan ekspresi yang tidak berbeda.


" Siapa yang akan kau tembak Max ?!". Seru nya dingin menusuk pada setiap kulit pada tubuh saking gagah dan suara nya begitu menggema dengan tekanan kuat dari vita suaranya.


Tampak wajah Edward, King nya yang begitu mereka hormati muncul dari kegelapan.


Reaksi mereka begitu terkejut dengan keberadaan king nya dan seketika langsung menunduk hormat.


" Salam hormat kami !". Ucap mereka serempak sembari lutut mereka menyentuh tanah. " maaf kami tidak tahu jika itu anda ". Ujar nya formal, keringat dingin keluar dari tubuh mereka saking ketakutan nya atas apa yang barusan terjadi.


" Apa ini !". Seru Kenzie berjongkok di samping mayat Mante yang terbujur kaku sesekali tangan nya menyentuh luka di dadanya. Lucky berjalan ke arah lain mengamati setiap lingkup yang ada di sekitarnya, matanya menangkap mayat berserakan dan sebagian nya sudah tertumpuk.


" Mante !". Ujar nya.


" Mante ?". Kenzie ikut mengamati wajah nya. " Sedang apa mereka di sini ?". Tanya nya.


Lucky terus mengedar tak melepaskan sejengkal pun yang menjadi petunjuk keberadaan Ruby sampai akhirnya kaki nya tak sengaja menginjak benda pipih.


Lucky langsung mengambilnya membolak-balik kan benda itu yang sudah dia tahu jika itu handphone. " Milik siapa ini ?". Gumam dalam hati masih menatap selidik sampai akhirnya Lucky menekan tombol power, pertama yang dia lihat setelah handphone itu menyala adalah gambar Edward yang sedang tersenyum manis dengan pakaian santai nya.


" King ". Teriak Lucky berlari ke arah nya, Maxim dan juga Key kembali berdiri sesaat terdengar teriakan di telinga mereka. " Lihatlah ! bukan kah ini foto mu ?!". Seru nya menyerahkan benda itu, Edward langsung menyambar nya kasar.


" Baby ". Lirih nya.


" Cepat berpencar, dia ada di sini ! jangan kembali sebelum kalian menemukan nya ". Teriak nya menggema, dalam teriakan nya tersemat rasa resah dan juga rasa penuh kegelisahan. Tangan nya menggenggam kuat handphone milik Ruby.


Eugghhhhh, Ruby membuka matanya perlahan. Ruby mencoba untuk berdiri, darahnya masih terus keluar.


" Sshhhhh, ". Desis Ruby, kaki nya terus di seret tanpa arah. Yang dia cari sekarang adalah mata air karena tenggorokan nya begitu kering dan serak.


" Apa mereka sudah di temukan ? aku berharap sudah !". Serunya menatap langit yang hitam legam dan melanjutkan langkah gontai nya sembari tangan kanan tidak henti-henti nya menekan luka.


Suara gemercik air terdengar mengalir di telinga Ruby, dirinya langsung mendekati asal suara itu dengan ter papah-papah, Ruby menelan salivan nya ingin segera membasahi tenggorokan yang sudah tandus.


Ruby terhenti saat air jernih terpampang di hadapan nya dan jatuh ke bawah layak nya air terjun pada umum nya tapi yang ini tidak begitu menjorok dan juga dangkal. Di pinggir nya tertata rapih pohon rindang seolah tengah melindungi seorang junjungan yang begitu mereka hormati.


Ruby mengatakan hal semacam itu dalam kegelapan karena itulah yang saat ini Ruby lihat, entah jika semua ini terlihat disiang ataupun di pagi hari mungkin lebih menakjubkan. " ini sejuk sekali ". Gumam nya sembari meminum air yang sedari tadi ia tampung di kedua telapak tangan nya.


Setelah puas menikmati sejuk nya air, Ruby menyeret tubuh nya bersandar di pohon rindang yang di sana. Matanya masih terbuka tanpa ingin di pejamkan memikirkan bagaimana nasib nya saat ini.


" Ruby ". Teriak mereka memanggil nama Ruby tanpa embel-embel Lady dari mulut mereka kecuali anak buah yang mengikuti Maxim dan juga Key.


" Baby !". Teriak Edward menyatukan kedua tangan nya membulat menyentuh bibir supaya suara nya menggema.


Suasana kediaman Smith telah hening kembali karena kedua keluarga itu telah beranjak meninggal kan kediaman Smith di sore hari.


" Apa sudah ada kabar ?". Tanya Ronald masih sibuk dengan benda pipih di tangan nya.