
Eline duduk dikursi yang ada dihalaman belakang sekolah. sudah satu minggu Sofa pergi, tapi masih menyisakan duka yang mendalam bagi orang-orang terdekatnya.
Contohnya Kennath yang murung dan mengunci dirinya didalam kamar, Aza yang kembali menjadi pendiam, Alletta yang sering pergi entah kemana, Stepanie dan Lily menjadi lebih pendiam dari biasanya.
Entahlah, semua berubah saat Sofa pergi. sekarang ia tak terlalu dekat yang lain. entah mengapa Eline merasa jika para sahabatnya mulai menjauh. entah untuk menenangkan diri atau apa Eline tak tau.
"Kangen" Ucap Eline menatap kosong kearah depan. seseorang duduk disamping Eline membuat Eline refleks menoleh. ia melihat jika Haykal tengah duduk disamping dengan pandangan mengarah kedepan.
Memang Haykal tiga hari yang lalu masuk kedalam sekolah QIHS sebagai murid. entah apa tujuannya hanya Haykal yang tau.
"Kata orang, nangis itu bukan lemah. jadi kalo mau nangis, nangis aja" Ucap Haykal tanpa mengalihkan pandangannya.
Eline kembali menatap kearah depan.
"Gue tau itu, tapi gue nggak mau nangis" Ucap Eline, Haykal melirik sebentar kearah Eline lalu kembali memusatkan pandangannya kearah depan.
"Yang dekat akan jauh, yang jauh akan dekat. tapi percayalah itu hanya sementara sampai semuanya terungkap" Eline menatap Haykal dengan alis yang bertaut bingung. apa maksud dari ucappan Haykal? mengapa seperti ada makna pada kalimat yang baru saja Haykal ucapkan?.
"Nggak usah dipikirin kalo nggak tau" Ucap Haykal seolah mengerti jika Eline sedang memikirkan ucappannya.
"Kenapa gue ngerasa jika nanti hubungan persahabatan gue bakal hancur? seolah-olah gue nanti akan dihadapkan dengan dengan pilihan yang amat sulit dan pilihan itu yang akan menentukan hancur atau tidaknya pershabatan gue" Terang Eline panjang lebar. ia menceritakan tentang firasatnya yang datang empat hari yang lalu.
Haykal menatap kearah Eline yang terlihat menyimpan banyak masalah.
"Hadapi" Ucap Haykal membuat Eline menatapnya "Hadapi jika memang firasat lo itu akan terjadi, pilihlah pilihan yang lo pilih murni dari diri lo sendiri. nggak ada campur tangan siapapun. pilih berdasarkan kata hati lo bukan kata orang lain" Sambung Haykal membuat Eline mencerna ucappannya.
Sedetik kemudian Eline mengangguk dan tersenyum kearah Haykal.
"Bentar lagi bell" Eline melihat kearah pergelangan tangannya. terbesit dipikirannya untuk membolos membuat senyum manis teebit dibibirnya.
"Bolos yuk" Ajak Eline diangguki Haykal.
"Bolos dimana?" Tanya Haykal.
"Udah ikut aja" Jawab Eline mengaet tangan Haykal menuju dinding pembatas sekolah.
"Lompat" Haykal menatap Eline dengan tatapan tak percaya.
"Serius?" Tanya Haykal dijawab anggukkan kepala oleh Eline.
"Lo gimana? lo kan pake rok" Tunjuk Haykal membuat Eline menaikkan sebelah alisnya.
"Ngeremehin? gini-gini gue jago manjatnya" Ucap Eline.
"Tunjukkin" Tantang Haykal diangguki Eline. Eline bersiap dan hap!
Ia berhasil memanjat dinding yang tingginya dua meter. memang dinding belakang sekolah itu tingginya hanya dua meter sedangkan dinding depan memiliki tinggi hingga empat meter.
"Lo buruan" Haykal langsung saja melompat dan keduanya bolos pelajaran.
🍀🍀🍀🍀
Aza termenung tak mendengarkan penjelasan dari bu Sintia. Aza hanya termenung dengan pulpen yang berada ditangannya. pikirannya melayang saat ia membuka paket itu, paket yang berisikan tubuh Sofa.
Aza mengepalkan tangannya membuat pulpen yang ada ditangannya terpecah menjadi dua bagian membuat ia menjadi pusat perhatian.
"Gue bakal bunuh lo, lo yang udah bikin Alletta menderita, lo yang udah bikin gue kehilangan eomma dan lo juga yang udah bikin gue kehilangan Sofa" Ucap Aza tanpa sadar.
"Aza" Panggil bu Sintia membuat lamunan Aza terpecah. Aza langsung melihat bu Sintia yang tengah menatapnya. ia melihat sekelilingnya dan sama! para murid sedang melihat kearahnya.
"Kenapa bu?" Tanya Aza.
"Kamu kenapa? kenapa kamu mematahkan pulpen yang ada ditanganmu?" Tanya balik bu Sintia.
Bu Sintia melanjutkan pembelajarannya. Aza menolehkan kepalanya kesamping dan mengernyitkan alisnya bingung. bangku yang Eline tempati kosong membuat Aza sedikit khawatir.
Apalagi mengingat jika akhir-akhir ini mereka jarang sekali berkumpul bahkan tak pernah semenjak Sofa meninggal. Aza menatap kearah Stepanie yang menatap kearah bu Sintia tapi pandangannya kosong.
"Psst... Step" Panggil Aza membuat Stepanie menoleh.
"Apa?" Tanya Stepanie pelan.
"Eline mana?" Tanya Aza membuat Stepanie melirik kearah bangku Eline yang kosong. Eline dan Sofa duduk dibangku paling belakang. Stepanie sendiri dan Aza dan Alletta didepan bangku Azka dan Arsha.
"Nggak tau" Jawab Stepanie, ia bahkan baru menyadari jika Eline tak ada dikelas. jawabban Stepanie membuat rasa khawatir Aza bertambah ia membuka ponselnya dan mengirimkan pesan lewat wa untuk Eline.
Aza : Line, lo dimana?
Pesan yang Aza kirim hanya centang satu membuat Aza menggigit bibir bawahnya cemas. ia melirik kearah bangku Haykal dan Kennath yang kosong. ia sudah tau jika Kennath mengurung dirinya dikamar, tapi untuk Haykal bukannya ia tadi pagi berangkat? mengapa tak ada.
Tanpa banyak berpikir ia langsung menghubungi Haykal tapi ponsel Haykal tak aktif. Aza menggerutu sebal dan mencoba menelfon Alletta.
Sama! ponsel Alletta ikut tak aktif membuat Aza menyumpah serapahi Haykal dan Alletta.
"Kalo lagi butuh kagak ada, giliran butuh hilang kek ditelan bumi" Gumam Aza memikirkan cara agar ia bisa keluar dari kelas. kejadian yang menimpa Sofa membuat ia parno dan ingin menjaga para sahabatnya. dan sekarang sahabatnya hilang satu.
"Bu" Bu Sintia mengalihkan pandangannya menatap Aza.
"Ada apa Za?" Tanya bu Sintia disambut cengiran khas Aza. bu Sintia yang melihat tingkah Aza menautkan alisnya bingung. bukan hanya bu Sintia, para sahabatnya dan murid yang berada didalam kelas ikut bingung dengan tingkah Aza.
"Saya kebelet bu, mau kebelakang" Jawab Aza membuat bu Sintia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya sana" Ucap bu Sintia, Aza mengangguk dan keluar dari dalam kelas.
🍀🍀🍀🍀
Haykal menatap datar pada wahana yang ada dihadapannya. ia kira akan dibawa nongkrong oleh Eline, tapi kenyataannya ia malah dibawa kewahana permainan. jika para anggota FOD tahu atau Alletta dan Aza pasti dirinya sudah diejek. sebab ia sangat anti dengan taman bermain.
"Serius El?" Tanya Haykal yang entah sudah keberapa kalinya membuat Eline menatap dongkol Haykal.
"Iya Kal, serius nggak boong" Jawab Eline.
"Lo mau ngapain kesini El?" Tanya Haykal lagi membuat Eline menatap datar dirinya.
"Ya mau main lah Kal, lo kira gue mau mancing? udah ngikut aja napa sih. kalo nggak mau ya sana pulang" Sungut Eline, Haykal gelagapan dan menggangguk pasrah. Eline tersenyum dan menggenggam tangan Haykal.
"Naik itu" Tunjuk Eline dijawab anggukkan kepala oleh Haykal. mereka membeli tiket dan mulai masuk kedalam wahananya. wahana yang mereka tumpangi adalah Disco pang pang.
.
.
.
.
Hayy!
Jangan lupa Like, Komen dan Vote.😘
Stay Healthy.
Happy Reading.