
JERMAN, Mansion Ruby
Sesuai perkataan Ruby sore tadi, Reina dan Meily langsung menginap di rumah miliknya karena antusias dengan penjelasan yang dia janjikan. Malam pekat dengan suasana sunyi tapi tidak untuk keadaan di dalam kamar Ruby, suara tawa dan kegaduhan masih terdengar keras.
Malam ini hanya Ruby yang berbicara, Reina dan Meily menjadi pendengar yang baik tanpa memotong cerita demi cerita yang Ruby sampaikan dari awal bagaimana dirinya berada di Irlandia sampai sekarang ada di hadapan mereka, lika liku hidup yang keras penuh perjuangan dan penuh cinta dan bagaimana dia akhirnya melabuhkan hatinya pada Edward yang pada awal nya hubungan mereka berdua hanya lah sebatas saudara angkat.
Reina dan Meily pikir jika kisah ini hanya ada di dalam drama-drama yang selalu tayang di televisi tapi nyatanya tidak, kenyataan nya teman mereka satu ini mengalaminya. Saat sedang mendengarkan cerita seperti ini mereka berdua membayangkan bagaimana jika posisi itu terjadi kepada mereka pasti itu akan menyenangkan dan membuat mereka beruntung.
Ruby mengibas-mengibas kan tangan nya pada mereka berdua bergantian sesaat Ruby melihat mereka berdua tengah melamun entah membayang kan apa. " Rei ,Mei !". Seru Ruby mengerutkan kening nya heran dengan kelakuan mereka, Jika mereka seperti ini Ruby berpikir dari tadi nyerocos pasti mereka tidak konsen mendengarkan.
" REINA, MEILY !". Teriak Ruby menonyor kepala mereka berdua.
" Yaak, apaan si kau By main nonyor-nonyor aja ". Protes Meili.
" Ya kalian juga kenapa melamun gitu, gue lembut-lembutin ngga sadar-sadar, mending di tonyor kan dari pada gue pukul, mau kalian !". Delik Ruby.
" Ya ngga git,,,,, ". Reina yang masih ingin protes terpotong oleh suara dering ponsel, Meili langsung mengecek handphone miliknya, Reina pun sama tapi mereka simpan kembali karena suara dering itu bukan berasal dari handphone mereka.
mata mereka berdua langsung mengarah kepada Ruby. " Apa ?". Ujar Ruby yang sudah siap tidur dengan selimut tebalnya. Bibir mereka berdua menunjuk pada handphone Ruby yang masih saja berdering.
Ruby segera duduk mengerti maksud dari mereka. " Honey !". Senyum hangat terulas saat layar itu tertera nama Edward, Ruby langsung menggeser Ikon hijau.
" Siapa ?". pundak Reina terangkat sebagai jawaban tidak tahu. Meili mendekatkan telinganya pada handphone yang masih menempel di daun telinga Ruby, suara Edward terdengar sangat lembut kala Meili mendengarnya sepintas karena Ruby langsung menjauhkan dirinya beranjak mendekati jendela kamar favorit nya.
" haihh, kapan gue punya pacar, apa coba kurang nya gue sampe ngga ada yang lirik !". Reina menepuk-nepuk kepala Meili yang sedang cemberut meracau kesana-kemari.
" Ka Lexi, Ka Andrew, ka Leo masih single ! tenang aja ". Seru Reina seakan memberi harapan. Meili mengangkat kepalanya dari pundak Reina yang sedari tadi bersandar.
" Haiss kenapa harus mereka ? mana ada yang mau sama gue, tidak termasuk tipe mereka kali !". Pesimis Meili, dia selalu saja inscure pada dirinya sendiri padahal pria mana yang tidak menginginkan nya menjadi pasangan, Meili, Ruby dan juga Reina bukan tipe wanita yang peka terhadap pria jika pun peka mereka lebih memilih diam karena mereka tahu jika mereka hanya menginginkannya karena nafsu belaka.
" Ka Leo masih single Mei, pepet terus sampe dapet ". Ujar Ruby mendekati Meili dan juga Reina setelah menelpon, walaupun sedang menelpon, Ruby masih bisa mendengar ucapan kedua teman nya. " kalau engga, ka Lexi sama ka Andrew juga masih lajang !". Lanjut Ruby.
" yaak yaak yaak, kalian berdua sama saja bikin mood gue buruk !". Gerutu Meili di apit dari kedua sisi dan langsung tiduran, tidak lupa mereka menyembunyikan tubuh mereka di balik selimut.
Matahari telah naik ke atas singgasananya, sudah hampir siang tapi mereka enggan untuk keluar dari kamarnya.
" bereskan semuanya dan tata dengan rapih ". Pagi hari Nameera sudah berada di mansion Ruby untuk mengantar makanan kesukaan anak-anak nya dan kebetulan hari ini Reina dan Meili ada menginap jadi Nameera membawa banyak makanan untuk mereka.
" halo bibi ". Sapa Jasmine menundukkan setengah badan nya sopan sembari berjalan menghampiri Nameera. Terlihat Revan dan juga Ronald baru masuk, mereka baru saja pulang dari kantor nya sesaat setelah mereka selesai mengerjakan proyek besar yang menjadikan mereka menginap di kantor.
" halo jas, kebetulan kalian pulang, ayo makan dulu, bibi ke atas dulu !". Tutur Nameera kembali menyapa Jasmine.
" Mom ". Ucap Revan dan Ronald dengan ekspresi yang sudah kelelahan, mungkin mereka berdua terlalu memporsir tubuhnya untuk bekerja.
" ganti dulu pakaian kalian, lalu kita makan bersama ". Nameera berlalu dari sana dan naik ke lantai atas untuk membangunkan Ruby dan yang lain nya karena hari mulai siang.
******
Tiga bulan telah berlalu dan selama itu pula semenjak kejadian di malam pesta, Ruby tidak pernah bertemu kembali dengan Leo dan juga kedua teman nya. Entah kemana mereka pergi ! di kampus pun Reina dan juga Meili tidak pernah melihat mereka. Selama itu pun Edward belum juga kembali, semakin kesini komunikasi antara mereka berdua merenggang. Kadang jika Edward tidak bisa di hubungi, Ruby menelpon orang rumah di Irlandia menanyakan kemana Edward saat ini. Sesaat pemikiran terlintas dari kepala Ruby untuk pergi ke Irlandia tapi di urungkan nya karena ada beberapa masalah di markas mafia di Jerman dan Ruby harus menyelesaikan nya.
Key, selaku pengurus fakultas di sana memberi data dan informasi mengenai mereka bertiga, karena rasa penasaran nya, Ruby meminta Key untuk memberitahu kemana mereka bertiga pergi dan Key hanya menjawab jika dia tidak tahu, yang dia tahu hanyalah Lexi dan juga Andrew meminta surat pindah kampus tapi tidak dengan Leo yang tiba-tiba menghilang begitu saja.
" Iya max kenapa ?". Ucap Ruby dalam earphone nya hendak melajukan mobil. Dia maxim yang sedang menghubungi Ruby, suaranya panik membuat Ruby mendesak nya untuk segera mengucapkan apa yang hendak dia laporkan sebenarnya.
" Lady, it,,,tu nona Agatha dia,, ". Ucapnya terjeda.
" Dia apa cepat katakan !". Ujar Ruby dengan nada tinggi.
" Dia mencoba bunuh diri dengan pecahan kaca di kamarnya". Napas Maxim menghembus tapi masih dengan kepanikan, sekarang mereka sedang perjalanan ke rumah sakit. Alex langsung membawa nya ke sana.
" tch bodoh, ingin cepat mati rupanya ". Ruby memutuskan sambungan nya, tidak lama Handphone Ruby menyala kembali, notifikasi pesan terlihat menyala, Ruby langsung membukanya dan di sana tertera alamat Rumah sakit yang kini merawat Agatha.
" Aku tidak akan mengizinkan mu mati kaka sebelum kau memperbaiki semua kesalahan mu ". Entah apa yang akan Ruby lakukan, entah itu untuk menyiksanya atau membuat Agatha hidup lebih baik lagi tidak seperti sebelumnya.