
5 tahun kemudian.
Monika berjalan dengan tegas menuju ruang presdir ditempat ia bekerja. Lima tahun berlalu, cita-cita Monika yang ingin menjadi Sekretaris pun terwujud. Ia bekerja disalah satu perusahaan besar di Asia.
Tokk
Tokk
"Masuk"
Monika membuka pintu ruangan tersebut dan nampaklah Presdir yang tengah membelakanginya.
"Meeting sudah siap pak" ucap Monika sopan dan formal. Sang Presdir tampak kesusahan dengan dasinya membuat Monika maju untuk merapikannya.
"Mengapa kamu selalu tidak ada saat aku kesusahan memasang dasiku" kata Presdir membiarkan Monika merapikan dasinya, Monika tersenyum.
"Saya tidak bisa dua puluh empat jam disamping bapak" Monika memundurkan tubuhnya tapi ditahan oleh Presdir. "Kau terlalu formal"
"Ini dikantor" ucap Monika saat tubuh mereka amat sangat dekat. Presdir pun berdecak sebal.
"Terserah ini kantorku" Monika refleks memukul bahu Presdir.
"Kebiasaanmu tidak pernah berubah Refan" Refan yang mendapati Monika cemberut pun meledakkan tawanya.
"Apa yang lucu?"
"Kamu!"
"Kabar anak kita ini gimana hm?" Refan mengelus elus perut Monika yang tampak menyembul, hamil. Memang satu tahun yang lalu Monika dan Refan menikah, Monika menerima lamaran Refan yang langsung mengajaknya menikah tanpa pacaran. Dan sekarang ia sedang hamil dua bulan.
"Baik papa" sahut Monika menirukan suara anak lecil, Refan terkekeh. Pandangannya lalu tertuju pada Monika.
"Kumpul nanti malem jadi?" tanya Refan "Jadi, kan sekaligus merapatkan hubungan yang renggang hampir enam tahun"
Nanti malam Aza meminta mereka Malvin dkk beserta Alletta dkk untuk datang ke restoran miliknya. Ia geram melihat hubungan persahabatan yang tidak ada kata damai.
Padahal Azka, Arsha, Gavin dan lain lain sudah berbincang bincang tidak seperti awal musuhan dulu, tapi tetap saja. Rasanya tidak pas jika tidak ada konfirmasi yang jelas dan Aza benci hal itu.
"Aza itu memang agak keras kepala, tapi aku salut jika Aza ingin memperbaiki hubungan yang renggang" ucap Refan "Lebih keras kepala Alletta, coba kamu liat Alletta jarang berinteraksi bahkan hampir nggak pernah"
"Iya kan dia di London sayangku" Refan menjawil hidung Monika gemas. Alletta tiga tahun yang lalu memilih untuk menetap di London dan menata hidupnya disana. Untuk urusan mafia ia titipkan dan percayakan pada Aza dan abang-abangnya.
Untuk Kiran, ia sudah mempublikasikan tentang dirinya keseluruh dunia bahwa ia masih hidup. Dan ia juga mengatakan bahwa putrinya yang masih hidup sudah bertemu dengannya bahkan yang menyelamatkan dirinya juga putrinya.
Tapi ia masih merahasiakan tentang Alletta atas permintaan Alletta sendiri. Alletta juga diundang di pertemuan dua circle itu dan akan terbang ke Indonesia nanti siang sekitar jam 10:15.
"Semoga semua bisa balik lagi kaya dulu" Monika menerawang jauh "Aku juga berharap begitu".
.......******......
"ALLETTA"
"Apaan?"
Aza menghembuskan nafanya kesal, ia tadi sedang dilanda kegabuttan dan memutuskan untuk menghubungi Alletta lewat sambungan vidio call.
"Jadi kan lo balik? Awas boong gue mutilasi"
"Yakin mau mutilasi gue?"
"Ya enggak si, tapi awas aja kagak balik"
"Eh lagi dimana lo?" Aza menelisik kesekitaran Alletta yang dapat dijangkau oleh ponsel milik Alletta.
"London"
"Iya tau, tapi dimana?"
"Kereta"
"Yeay, Alletta kagak boong. Gue tungguin ya All" Aza bersorak girang karena ia melihat sekilas tempat tujuan kereta tersebut, Bandara. Senyum diwajahnya pudar kala sambungan itu mati.
"Eh eh, pulsa gue abis" kecewa Aza saat hanya suara operator yang ia dengar, huh! kaya kaya, tapi kagak bisa beli pulsa!!.
"Lo bakal balik kan Al?" Aza menerawang jauh.
...*****...
Jam sudah menunjukkan pukul 20:00 WIB. Malvin, Gavin, Arsha, Azka, Stepanie, dan Eline sudah sampai di restoran milik Aza.
"Haduh, pasutri emang beda ya" jengkel Azka saat Refan tak mengangkat telfon darinya. Refan dan Monika belum sampai padahal katanya sudah dijalan.
"Sabar ege, Monika lagi bunting. Paling dia lagi ngidam kepengen apa gitu, jadi telat kesini" Aza menyauti ucapan Azka. "Ya kan bisa ditunda dulu ngidamnya"
"Lo kira dia kebelet apa ditunda? asal lo tau, ngidam kalo nggak dituruti akan berdampak ke ibu hamil" Stepanie ikut nimbrung.
"Huh, iya iya!!" sebal Azka. Tak lama dari arah pintu Refan dan Monika masuk dan segera berjalan mendekat kearah para sahabatnya.
"Maaf gue telat" ucap Refan duduk dibangku. Azka hanya menggerutu tak jelas dan menampakkan wajah sebalnya. Arsha yang melihat itu meraup wajah Azka dengan tangannya.
"Muka lo nggak cocok buat digituin" tutur Arsha kelewat jujur.
"Kagak ada yang belain gue, Malvin sama Gavin juga cuma diem aja kayak manekin. Bela gue lah Vin" ucap Azka, yang dilakukan dua orang dengan gender yang sama itu hanya diam.
Arsha tertawa "Lo minta pembelaan keorang batu, ya kagak digubris lah" balas Arsha. Selanjutnya mereka berbincang-bincang ringan. Mengejek Azka, menanyai kandungan Monika dan masih banyak lagi pembahasan mereka yang tak berbobot.
Waktu menunjukkan pukul sebelas lebih tapi Aza belum juga menerima balasan dari Alletta semenjak dua jam yang lalu. Ia mulai gusar tapi ia menampik itu karena ia yakin, Alletta tak mungkin kenapa-napa.
Eline melihat jam tangan yang menempel dipergelangan tangannya. "Ini udah jam sebelas lebih, Alletta kok belum dateng?" tanya Eline, sebenarnya ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Alletta. Apalagi Alletta di London sejak lima tahun yang lalu dan sejak itu pula mereka tak bertemu dengan Alletta lagi.
"Al belum bales pesan gue, mungkin lagi on the way kesini" jawab Aza, karena kan Alletta sudah berada dipesawat dan mengatakan ia akan segera tiba di Indonesia. Begitulah isi pesan yang Alletta kirim dua jam lalu.
Malvin diam mengamati Aza dan Eline, Jujur ia juga tak sabar untuk bertemu dengan Alletta. Banyak hal yang ingin ia tanyakan langsung tanpa lewat pesan.
"Alletta sibuk banget sampe nggak pulang ke Indo" tutur Stepanie lesu. Ia ingin, sangat ingin bertemu dengan Alletta sama seperti yang lain. Ia sadar bahwa sikapnya lima tahun lalu begitu buruk. Bahkan ia belum berbaikan dan meminta maaf atas kelakuannya saat Alletta terbang ke London.
Semua menganggukkan kepalanya setuju, Aza tersenyum. "Alletta emang sibuk, tapi dia juga sering kok nanyain kabar kalian ke gue. Alletta walaupun sibuk dia juga nyempetin buat tau tentang kalian" ucap Aza memberitahu. Mereka terkejut karena ternyata Alletta melakukan hal yang menurut orang lain hal kecil tapi sangat berarti untuk mereka.
"Nggak kayak lo Line, lo harus ditelepon ribuan kali dan kasih kabar guncangan dunia dulu baru ngirim pesan" Aza menoleh sebal menatap Eline. Sahabatnya yang satu itu selalu sok sibuk walaupun memang sibuk. Eline memelototkan matanya.
"Ya kan gue sibuk Za, gue kuliah di Kalimantan dan buka toko bunga juga. Gue AMAT SANGAT SIBUK" sahut Eline menekankan kata 'Amat sangat sibuk". Ahh, jika diingat-ingat sudah terhitung satu tahun Eline ke Kalimantan untuk mengejar impiannya dan mendirikan toko bunga dikota tersebut. Eline hanya sesekali mengirim dan membalas pesan untuk sahabatnya.
.
.
.
Guys tembus 50+ komen bisa nggak? bismillah bisa ya. Jangan lupa Vote juga dong dan klik tanda suka biar bisa up terus.