Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 81



" Apa yang kau serahkan kepada mereka sehingga mereka begitu menuruti semua perkataan mu ? Ah aku tahu, kau menyerahkan tubuh jelek mu ini , iya bukan ? ". Ucap Agatha begitu culas dengan perkataan nya dan menunjuk Ruby begitu kasar.


" Yak jaga ucapan mu itu ! Dia tidak seperti mu yang dengan mudah memulai dan menyerahkan kehormatan nya kepada laki-laki. Tidak kah kau tahu siapa sebenarnya yang sedang kau caci ini Agatha ?". Geram Alex tidak suka dengan cacian dari Agatha. Ruby melipatkan kedua tangan nya sembari sesekali melempar senyum smirk dari salah satu bibirnya.


" Aku tahu, jelas dia wanita murahan ! Semuanya dia tutup rapih dengan wajah polosnya itu, kenapa kau terus saja membelanya ? ". Tekan Agatha tidak tahu malu dengan perkataan nya. Apa dia lupa telah mencoba membunuh Alex.


" Jaga mulut kamu itu Agatha, jika tidak badai akan sangat sulit untuk berlalu ". Tunjuk Alex geram


" Dia in.. " . Lanjut Alex. Namun belum selesai dia berucap, tangan Ruby menegak di udara mengkode agar dia diam.


" Apa kau tahu ini kaka ku tercinta ?". Ruby merogoh besi berukuran kecil dari sakunya dan orang awam pasti mengira itu hanyalah besi atau semacam nya, untuk itu Agatha bereaksi biasa saja dan menganggap hal itu adalah lelucon belaka.


Ruby Membuka lipatan itu dan reflek Agatha begitu terkejut. Tanpa bisa di cegah, Ruby mendekatkan ujung pisau yang begitu runcing nya ke wajah Agatha. Alex hanya diam melipat kedua tangan dan menyenderkan lengan berisi nya pada dinding


" A,,ap,,pa yang akan kau lakukan ?". Agatha melangkah mundur dengan tubuh nya yang begitu bergetar, tatapan Ruby berubah menjadi sangat tajam dan perubahan itu di rasakan oleh Agatha sendiri. Ruby mengikuti langkah Agatha dan terus maju sembari menodongkan pisau dengan kuat.


" Hiks,,hikss,, berhenti apa yang kau lakukan ? ".


Gerakan Ruby benar-benar cepat tidak terlihat sama sekali sampai-sampai dia telah berada tepat di hadapan Agatha dengan pisau yang sudah menyentuh kulit wajahnya. Agatha begitu terkesiap sampai tubuhnya tersungkur, Ruby berjongkok menyetarakan tingginya.


" Siapa kau dengan berani berbuat seperti itu kepadaku, dasar tidak tahu di untung ! apa kau tahu aku begitu benci kepada mu, ckckckck apa kau pikir sudah berada di atas angin hah ? jangan terlalu Naif Agatha, kubiarkan kau berbuat sesukamu saat itu, tapi tidak untuk sekarang ! Ini benar-benar sudah kelewatan. Jika sikap mu tidak berubah mungkin aku dan kedua kaka ku akan sangat menyayangimu mengingat kau benar-benar tidak punya keluarga, tapi apa ? Sshhhhh benar-benar ". Geram Ruby menikmati ringisan Agatha yang begitu merdu terdengar di telinganya, Ruby menyayat sedikit demi sedikit kulit wajah Agatha dengan begitu santainya.


Alex yang menyaksikan itu begitu bergidik ngeri, dia membayangkan apa yang akan terjadi kepada dirinya jika saat ini dia masih bekerjasama dengan Agatha. Pikiran Alex melanglang buana kesana-kemari membayangkan betapa beruntungnya diri nya tidak mendapat kesadisan dari Lady nya itu, jika tidak, Alex benar-benar tidak tahu kedepannya akan bagaimana.


" Apa ini begitu nikmat sampai kau meringis seperti itu kakak ? ". Ujar Ruby. Pertanyaan itu sontak mendapat tatapan horor dari Alex. Nikamat ? dasar iblis ! Batin Alex, mungkin itu yang terus dia rapalkan dalam hati ny.


Agatha merasakan nyeri yang begitu perih. " Sa,,kit, hentikan !". Mohon Agatha. Dia ingin menangis menumpahkan air mata nya namun dia berusaha semaksimal mungkin agar tidak terjatuh, karena jika terjatuh luka itu akan semakin perih karena cairan asin. Ruby menjambak Rambut Agatha kebelakang sampai wajah nya menengadah ke atas.


" Hentikan ? ". Tekan Ruby sembari menarik pisau nya, lumuran darah segar menempel pada pisau lipat cantik itu . " Ah aku pikir kau begitu menikmatinya sampai-sampai kau baru memohon kepada ku hahaha ". Suara itu begitu menyakitkan telinga bagi orang yang sudah hafal dengan seruan enteng dari Ruby.


" Baiklah aku berbaik hati kali ini ". Ruby berdiri mengusap-usap pisau nya dan berbalik memunggungi Agatha yang tergeletak di atas lantai dan menyandar pada dinding.


" Bereskan semuanya ". Titah nya kepada Alex. Ruby berlalu pergi menyisakan Alex dan juga Agatha. Air mata Agatha akhirnya keluar juga karena sakit itu tidak bisa dia tahan, sangat perih sampai Agatha perlahan hilang kesadaran


Alex meninggalkan Agatha di dalam ruangan itu, tangisan agatha begitu sesak dan sesekali meraung meratapi wajah nya yang begitu hancur karena ulah pisau lipat Ruby.


**


" Halo honey ". Ucap Ruby dengan menahan handphone dengan bahu kanan nya, karena dia tengah memilih baju untuk di pakai. Ruby baru saja selesai membersihkan diri akibat bau amis yang melekat dalam tubuh.


" Apa kau masih di markas baby ?". Tanya Edward yang baru saja selesai dengan pekerjaan nya.


" Iya honey, tapi sebentar lagi aku pulang . Apa kau begitu sibuk sampai baru menelpon ku hmm ? ".Tutur Ruby sembari merajuk.


Ruby belum terbiasa berjauhan dengan Edward, karena Itulah faktanya, selama pertemuan mereka tidak sekali pun mereka berjauhan dari awal sampai saat ini.


" Iya baby, aku baru saja selesai membereskan pekerjaan ku dan langsung menghubungimu, apa tidak masalah ?". Ucap Edward yang sangat tahu jika kekasih nya itu sedang merajuk, namun itu lah obat untuk lelah nya lelah nya, walau hanya dengan mendengar suara Ruby membuat stamina nya kembali segar.


" apa kau sudah makan honey ?". Tanya Ruby begitu perhatian.


" Belum baby sebentar lagi ". Jawab Edward tersenyum seperti orang gila entah kenapa, padahal setiap hari mereka seperti ini apalagi setiap hari bertemu di mansion, tapi tetap saja suara Ruby membuat jantung nya terus saja berdebar tidak karuan.


" Sebentar lagi apa nya, makan lah dulu sana jangan membiarkan perutmu kosong ! Aku tutup telpon nya yah, aku mau berangkat pulang ". Seru Ruby mengakhiri sambungan nya, sekarang Ruby sudah rapi dengan baju baru nya sedikit polesan natural tapi tetap sangat cantik.


" Selamat siang Lady, hati-hati di jalan nya ". Ucap salah satu anak buahnya yang sedang berkumpul entah sedang membahas mengenai apa, Semua orang yang berada di sana langsung berdiri berjejer mengucapkan salam secara serempak. Ruby hanya tersenyum dan sedikit menunduk kan kepalanya.


" Lanjutkan lah, kalian tidak perlu seperti ini ". Ucap Ruby menghentikan langkah nya dan berbalik menghadap mereka semua. " Sudah siang, waktunya mengisi perut kalian !". Ucap Ruby berbalik dan melanjutkan langkah nya.


" Hati-hati di jalan Lady ". Hormat Alex membuka pintu mobil untuk Ruby, hari ini Ruby menyetir sendiri tanpa seorang sopir, ruby mengangguk tanda terima kasih. Ruby melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sebelum pulang ke rumah, Ruby mampir terlebih dahulu di kedai minuman karena tenggorokan nya begitu haus, panas nya mentari di siang hari mengeringkan tenggorokan sang pengguna jalan.


" Eh, hai by !".


|