
" Dev, apa kaka mu sudah berhasil kau hubungi ? ". Tanya DadynJakson yang sampai saat ini belum menerima panggilan dari Edward ataupun Ruby.
" Sudah Dad, nanti juga kaka menghubungimu dad sabarlah ok ! ". Seru David kepada daddy nya dengan ekspresi wajah masam karena dia merasa heran dengan tingkah kaka nya.
" Oh iya dad, apa sudah tahu jika Ruby sudah melancarkan aksinya ?! Aku ikut senang karena semuanya lancar dad tapi bagaimana dengan orang tuanya ? ". Sambungnya bersidakep.
" Tidak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja ". Ucap Brayn tiba-tiba di ikuti Raizen dan juga Savira yang baru saja pulang dari pekerjaan nya.
" Yaak mengagetkan saja kalian ini ! Bukan nya ucapkan salam malah ikut bersuara mengagetkan ". Kesal David karena kedatang Brayn yang tiba-tiba dari belakang. Langkah mereka begitu senyap tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
" Aaaaa adik kecil kita merajuk ternyata hahahaha ". Seru Savira mengusap kasar rambut David berkali-kali.
" Merajuk apa nya ? Apa aku terlihat sedang merajuk ". David menepis tangan savira lumayan kasar.
David sudah terbiasa dengan tingkah mereka bertiga, tidak satu pun dari mereka yang tidak bisa diam untuk mengganggu David.
Menurut mereka David sangat menggemaskan kala di goda, lamanya mereka tinggal di mansion Jakson tidak membuat mereka susah beradaptasi. Ada sedikit persamaan dengan Ruby dari sifat David, yaitu selalu menggemaskan kala di goda dan akan berubah manja kala menginginkan sesuatu. Mereka bertiga tidak mempermasalahkan semua itu, tidak ada rasa canggung di antara mereka.
" Kau ini Sudah besar Dev, tapi tingkah seperti anak kecil saja ". Ujar Jakson kembali duduk di sana.
" Apa kalian semua tengah sibuk ?". Tanya Jakson berharap mereka semua tidak sedang sibuk dengan pekerjaan nya.
" Aku sibuk ! ". Jawab cepat David yang tidak ingin tahu apa yang akan daddy nya lakukan.
" Kami sedang tidak sibuk dad ! Ada apa ? ". Seru Brayn .
" Apa kamu benar-benar sibuk Dev ? ". Tanya Jakson sekali lagi karena Jakson tidak ingin mengganggu pekerjaan anaknya itu, David mengiyakan nya dengan cepat tanpa tahu apa maksud Jakson.
" Ok jika sudah begitu besok kita berangkat menemui Ruby di sana ! kalian persiapkan semuanya ". Mendengar Jakson akan berkunjung ke Jerman membuat David membelalakkan matanya tidak percaya, dia mengira daddy nya itu akan menyuruh hal yang tidak tidak seperti sebelumnya david harus menemani daddy nya seharian di taman membaca buku dan duduk manis di sana membuat david mati kebosanan.
Brayn, Raizen dan Savira langsung melihat ekspresi dari david yang masih melotot. Mereka semua tertawa terbahak dengan ekspresi David.
HAHAHAHAHAHA
" Kau ini kenapa Dev ! sudahlah, kau kan sibuk jadi bereskan saja urusan mu itu " Ledek Raizen masih dengan tawa nya.
" aku doakan kalian ngga jadi pergi ". Ujar David lalu pergi dari sana menuju dapur, entah apa yang akan dia ambil.
***
" kau ini kenapa baby ? hayeehh Lady Red Pheonix ternyata gadis yang begitu berpikiran sempit ! " Edward menyenderkan sebelah bahunya di pintu kamar Ruby, Ruby terlihat sedang melamun di dekat jendela seperti sedang mendinginkan kepalanya. Ruby menoleh ke asal suara tanpa menyautnya dan mengembalikan pandangan nya ke luar.
" Baby ada ap dengan mu hmm ? ". Tanya Edward memeluk tubuh ruby dari belakang dan mengaitkan dagunya pada salah satu bahu milik Ruby.
" hufffhhhh, entahlah ! hatiku masih ada rasa nyeri jika melihat mereka berdua, apa aku terlalu kejam ka ?". Pemandangan dari jendela kamar Ruby begitu terlihat indah sehingga siapapun yang melihatnya akan begitu sangat nyaman.
" aku tau dan aku pun mengerti semuanya, tapi apa jika kau seprrti ini terus apa hatimu tidak akan semakin terluka ? kau masih beruntung masih bisa melihat kedua orang tuamu tidak seperti aku yang tidak beruntung ! sudahi semuanya agar hatimu tidak merasa terbebani lagi, aku tau kau begitu menyayangi mereka dan aku yakin besarnya cintamu tidak sebanding dengan rasa bencimu itu ". Edward begitu sangat mencintai Ruby sampai sekecil apapun yang berkaitan dengan dirinya edward akan tahu.
" terimakasih, memang anda itu obat mujarab buat aku tuan ". Ruby membalikan badan nya dan mendekap Edward dengan nyaman. " teruslah seperti ini, agar jika kedepan nya ada kesalahan dalam diriku kau bisa mengingatkan dan juga memberi solusi yang tepat untuk ku, terimakasih dan maaf !". Lanjut nya menyusupkan kepalanya ke dalam dada bidang milik edward. Edward menepuk nepuk punggung Ruby agar dirinya tenang.
" Turunlah, kita makan siang bersama ! kaka duluan ke bawah, kasihan daddy mu ". Pamit Edward. Edward berjalan menuruni tangga, semua orang langsung menoleh ke arahnya. Revan dan juga daddy Luis saling pandang karena melihat edward turun sendirian, ekspresi Luis semakin sedih kala kenyataan yang begitu menyesak kan kembali menghampiri.
" Bagaimana Ed, apa berhasil ! di mana Ruby ". Seru Revan berdiri menghampiri Edward begitu tidak sabar, Edward menaikan kedua bahu nya sebagai jawaban.
" Bagaimana ? ". Bisik Meili kepada Leo yang berada di samping nya. " Entahlah !" Jawab singkat Leo.
Semua orang sudah duduk rapih di sana tinggal menunggu Ruby yang belum datang, Nameera terus saja menatap tangga seolah menunggu seseorang turun dari sana.
" Mommy makanlah duluan, mungkin Ruby sedang ada pekerjaan ". Ucap Edward tidak tega melihat Nameera terus saja berharap akan kedatangan Ruby.
" Tidak, mommy nunggu Ruby ! dia tidak bisa jika telat makan, nanti perut nya akan sakit Ed ". Ujar Nameera masih ingat dengan kondisi Ruby.
TAK,,TAK,,TAK
Suara langkah kaki begitu cepat menuju ke dalam Rumah, telihat Revin dan juga Ronald baru saja datang masih dengan stelan kantor nya. Ronald menghentikan langkah nya dan langsung memberi salam kepada mereka tapi tidak dengan Revin yang lurus saja tanpa menoleh meniki tangga menuju kamar Ruby.
" selamat siang semua nya ". Sapa Ronald sedikit menunduk kan setengah badan nya.
" Duduklah, kita makan bersama ". Ucap Daddy Luis walaupun masih belum mengenal siapa Ronald tapi dia tau seberapa dekat nya dia dengan anak anak nya dari Revan.
" Terimakasih paman !". Ucap Ronald. " waaahhh kenapa semuanya kesukaan Ruby, pasti semuanya akan sangat enak ". Mata Ronald berbinar kala menyaksikan masakan yang begitu menggoda di hadapan nya. Revan yang sedari tadi menatap Ronald sangat tidak dia indahkan karena Ronald tau apa yang akan di tanyakan oleh Revan.
Salam hangat dari authorr
LIKE
KOMEN
SHARE
VOTE
😍🥰😘