
***
" Ini bukan arah pulang, kita akan kemana ?". Heran Revin, Edward sedang mengemudikan stir nya. David dan juga Ruby duduk di kursi belakang, wajah lelah terpatri dari wajah Ruby, tubuhnya masih di warnai dengan darah tapi David sudah terbiasa dengan itu. Revin enggan untuk menoleh pada Ruby seakan dirinya takut menatap wajah sang adik.
" Tidurlah !". Seru David menarik kepala Ruby agar dirinya bersandar pada bahu David tapi Ruby memilih menenggelamkan kepalanya pada dada bidang milik david karena mungkin sudah terbiasa. Edward melihat dari kaca yang menggantung di depan nya.
" Sstttt, tidak usah membangun kan nya ". Mobil mereka terhenti di depan gedung yang begitu luas tempat di mana Agatha masih di kurung di sana. " Kau keluarlah terlebih dulu, biar kaka yang menggendong nya !". Ucap Edward membuka pintu mobil bagian belakang dengan pelan dan mengambil alih Ruby dari pelukan David.
David keluar dengan perlahan dan Revin berdiri mematung di depan gerbang gedung yang lumayan tinggi, pikiran nya melanglang buana ke sana kemari dengan tatapan nya masih mengedar.
Terlihat dari jauh dua orang pria menghampiri mereka, gagah dengan pakaian nya tidak lupa bentuk tubuh yang kekar. Mereka berdua menunduk hormat kepada David dan juga Revin, David yang masih baru di sini masih belum mengenal siapa mereka dan sekarang mereka sedang berada di mana ? Batin nya.
" Selamat malam tuan !". Sapa mereka, Edward yang berhasil menggendong Ruby membalik kan badan nya, kedua pria itu terkejut melihat Lady nya masih dengan penampilan yang seperti ini.
" Parkirkan mobil nya ". Tutur Edward. " Dan kau antar mereka berdua ke kamarnya ". Lanjutnya melangkah kan kakinya sembari menggendong Ruby.
" Mari saya antar ". Pria itu mempersilahkan David dan juga Revin mengikutinya, sepanjang mereka menuju kamarnya setiap orang menunduk hormat pada mereka. David sudah terbiasa dengan itu tapi tidak dengan Revin, sekarang David mengerti mereka sedang di mana.
" Ini dimana ? kenapa ruangan ini redup dan ada apa dengan orang-orang, setiap bertemu kepalanya terus saja menunduk ! apa wajahku begitu menakutkan ?". Ucap Revin bingung kenapa malam ini semua orang terus saja mengejutkan dirinya, Revin butuh sekali jawaban dari kebingungan nya.
Langkah David dan juga Revin terhenti sesaat, setelah melewati ruang redup mereka berdua sedikit menutup mata dengan tangan, cahaya terang menusuk matanya. Mereka berdua di suguhkan oleh ornamen dan segala macam keindahan di Ruangan itu, mata mereka beredar menatap takjub, sungguh tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
" Mari lewat sini ". Ujar pria yang mengantar mereka ke dalam ruangan nya, David dan juga Revin terus mengikuti pria itu sampai dirinya terhenti di depan pintu yang berjejer, terlihat ada empat pintu di sana.
" Silahkan !". Pria itu membuka dua pintu yang berdampingan, David dan juga Revin masuk ke dalam masing-masing ruangan.
" Maaf, bisakah kau atarkan saya menemui Ruby ?". Ujar Revin sebelum dirinya masuk ke dalam kamar.
" sesuai keinginan anda tuan ". Ucapnya menunduk singkat.
" terimakasih, tunggu lah beberapa menit !". Pinta Revin menutup pintu dan langsung membersihkan dirinya, sebelum melaksanakan Ritual nya, Revin membuka Lemari bermaksud mencari pakaian ganti dan Revin mengatupkan mulut nya karena di sana sudah tertata rapih pakaian yang pas dengan tubuh nya dan handuk yang menumpuk rapih dan juga beberapa pakaian kantor dan aksesoris nya.
" sebenarnya ini dimana ?". Gumamnya bertanya pada udara yang mengisi ruangan.
Tidak menghabiskan waktu lama, Revin telah selesai dengan ritualnya. Saat pintu terbuka pria itu masih setia berdiri tegap di samping pintu.
" mari tuan ". Revin mengikutinya dan lumayan dekat dengan ruangan itu hanya melewati ruangan luas seperti ruang keluarga yang ada di mansion Ruby, tidak jauh dari sana hanya melewati koridor buntu dan ada beberapa anak tangga sebelah kanan dan terlihat pintu berwarna glosi di sana.
" ini kamarnya ?". Seru Revin menunjuk kamar berpintu bronze.
" Benar tuan ". Jawabnya. Revin membuka pintu itu dengan perlahan, saat pintu terbuka lebar terlihat Ruby terbaring di tempat tidur masih utuh mengenakan pakaian hitam nya tapi darah yang semula mewarnai dirinya sudah bersih dan Revin melihat pada sekitar, matanya menangkap tubuh Edward yang tengkurap di sofa panjang dekat jendela tinggi di sana.
" Ed, bangun ". Revin menyentuh bahu Edward hendak membangun kan nya.
" mmmm, ". Edward bangun dan langsung duduk dengan mata yang masih terpejam.
" Bersihkan tubuh mu dulu lalu istirahatlah ". Ujar Revin menaruh jas Edward yang terserak di lantai dan menaruh nya di sofa.
" baiklah, selamat malam !". Edward pergi, mata kantuknya enggan untuk terbuka.
Setelah Edward, Revin mendekati adiknya dan duduk di samping ranjang. Tangan Revin mengelus lembut pipi Ruby dan membangunkan nya.
" Al ". Suara lembut mengulang memanggil, membangunkan adik nya agar dirinya bangun dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum tidur.
" Al bangunlah ". Revin masih berusaha membangunkan nya dan sesekali menarik tangan nya tapi Ruby tidak terganggu dengan itu.
" RUBY ALDERIA bangunlah, kau jorok sekali ! Bangunlah mandilah dulu, cepatlah banguun ! kalau tidak,,, ". Revin mengeraskan suara nya dan mengoyangkan tubuh adik nya.
" Kalai tidak apa hmm !". Ruby membuka matanya langsung. " kalau tidak kau akan apa ?". mata Ruby melotot mendekatkan wajah nya kepada kaka nya itu.
" kalau tidak,, kaka akan ". Ucap Revin langsung menggelitik Ruby sampai Ruby menyerah.
hahahahahah
" ia ia ia berhentilah ". Tawa Ruby karena geli mendapat gelitikan dari Revin.
" yasudah ayo mandilah dulu, cepat ". Ujar nya.
" Ia ia, dasar cerewet ! aku aduin sama Ka Revan baru tahu rasa ". Umpat Ruby mengandung ancaman untuk Revin tapi Revin tidak takut karena dia sedang tidak bersama Revan jadi bebas untuk mengganggunya.
" dih aduan, ayo mandi dulu lihatlah tubuhmu !". Seru Revin menyadarkan Ruby yang masih berpakaian layaknya pembunuh bayaran, Ruby tertangkap basah oleh kaka nya karena akhirnya satu kaka nya tahu apa yang telah dia lakukan.
" Ka ". Ucap nya manja seakan takut dengan kakanya.
" mandilah ". Seru Revin tanpa ingin menjawab panggilan adik nya. Revin menyandarkan kepalanya dan kaki nya berselonjoran di atas kasur, kedua tangan nya melipat. Ruby masuk ke dalam kamar mandi hendak membersihkan badan nya.
" ka ". Panggil Ruby setelah selesai dengan mandinya, Revin sudah terpejam di sana seolah tidak ingin pindah ke kamar yang sudah di persiapkan. Ruby masih berdiri di ujung ranjang mengeringkan rambutnya, setelah kering Ruby ikut membaringkan tubuhnya di samping Revin yang tidur dengan tengkurap.
" Kemarilah ". Revin tiba-tiba berbalik dan menarik Ruby ke dalam pelukan nya.
" cehhh, pura-pura tidur ". Ucap Ruby dan mendapat cubitan hidung dari Revin.