Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 104



" Argh sakit ". Keluh nya melepas kasar tangan Revin. " Ayo tidur, aku lelah sekali ". Ruby menenggelamkan kepalanya dan memeluk erat kaka nya.


Saat matanya ikut terpejam, dering ponsel terdengar di telinga nya dan di sana tertera nama Revan yang sedari tadi mencoba menghubungi Revin karena ponsel nya baru saja di aktifkan.


" Iya kak, dia bersamaku ! besok kita pulang ". Jawab Revin.


" Kalian Dimana, kenapa baru bisa di hubungi ?". Ucap Revin terdengar khawatir.


Revin tidak tahu ini dimana jadi dia asal mengatakan nya saja.


" Kita di hotel tidak jauh dari gedung pesta ". Jawabnya asal. " Bilang kepada semuanya jangan terlalu khawatir kita baik-baik saja". Lanjutnya dan Revin langsung mengakhiri panggilan nya.


" Bagaimana Van ?". Tanya Ronald menunggu kabar dari mereka.


" Mereka sedang di hotel, besok baru pulang kita tunggu saja mereka ! sekarang istirahtlah, ini sudah menjelang pagi ". Tutur Revan dengan rasa yang sudah aman, perasaan nya dari tadi tidak enak karena memikirkan kedua adiknya yang masih berada di sana.


Tidak hanya di mansion Ruby yang menunggu kabar dari mereka tapi juga di apartemen Brayn masih sibuk mencari keberadaan Ruby, alat pelacak yang di pasang di handphone Ruby masih tidak bisa di tembus. Brayn, Rayzen dan juga Savira masih terus melacaknya, tadinya mereka masih santai karena mendapati posisi Ruby masih berada dalam gedung pesta tapi semakin kesini sinyal semakin redup sampai akhirnya menghilang. Mereka bertiga mencoba menghubungi Ruby tapi tidak berhasil begitupun David yang sedari tadi handphone nya habis baterai jadi tidak bisa di hubungi sama sekali dan David tidak peduli untuk itu.


" Bagaimana ? ". Tanya Savira membawa coklat hangat untuk mereka yang masih sibuk dengan layar di hadapan nya.


" coba kau hubungi Kaka nya, apa kau memiliki kontak mereka !". Seru Rayzen duduk di kursi dan menaik kan sebelah kakinya.


" oh ayolah jangan pura-pura bodoh ! kita bisa menghack nya kan ". Gelagat Savira di acungi jempol oleh Brayn dan juga Rayzen.


" Tidak punya pun tak masalah, kita pakai cara kita sendiri !". Seru Savira memainkan alisnya sembari tersenyum jail. Mereka langsung saja beraksi tapi setelah tersambung Revan tidak menjawab nya.


" Ckckck sudah tidur sepertinya, berani sekali dia tidur di saat seperti ini ". Kesal Savira.


" Gue juga ngantuk ". Celetuk Rayzen dengan cengiran nya.


pltaakkkk


Savira menjitak kepala Rayzen dengan balpoin.


" Apa ? aku tidak dengar ". Savira berdecak pinggang keluar dari kursinya. " Sini kau ". Rayzen berlari takut Savira memukul nya kembali, seperti tom and jerry mereka pasti seperti itu, Brayn tidak terganggu sedikitpun karena sudah tidak aneh. Kadang Brayn menatap kedua insan itu berpikir apa mereka tidak akan saling jatuh cinta jika kedekatan mereka seperti ini ? tapi entahlah, karena sampai saat ini Brayn belum melihat tanda-tanda mereka berdua berkencan seolah itu hanya pikiran nya tanpa berani bertanya kepada mereka berdua.


Gelap telah berganti terang, sinar mata hari membias pada jendela kamar dan sedikit masuk melalui sela-sela tralis kokoh, Revin dan Ruby tidak terusik seolah sinar itu menjadi penghangat tubuh mereka. Mereka tidur saling memunggungi satu sama lain tidak seperti pas awal mereka tidur dengan berpelukan.


hoaaaammmm


Ruby menggeliat meregangkan otot nya yang pegal dan segera turun dari ranjang nya berjalan menuju kamar mandi.


" sweetyy ". David berteriak memanggil Ruby sembari menggedor-gedor pintu kamar. David belum mengetahui jika Ruby semalam tidur dengan kaka nya jadi dengan seenaknya dia terus berteriak dan menggedor pintu kamar Ruby.


Beberapa menit lalu, David terbangun dari tidurnya dan mendapati kaka nya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


" Bangunlah, kita sarapan pagi sebelum pulang ! kau bangunkan Ruby ". Seru Edward melempar handuk kecil tepat mendarat di wajah David. David langsung beranjak dari tempat tidurnya setelah Edward menutup rapat pintu kamar.


David kesal, ingin bertanya kepada kakanya pun bagaimana, David pun tidak tahu dimana letak dapur nya. " menyebalkan, siapa yang membuat rumah seperti ini, bikin orang pusing saja ". Protes David kesal sesekali berdecih, saat dirinya hendak duduk, kebetulan Alex dan juga Key lewat di hadapan nya.


" tunggu, apa kalian tahu dimana kamar Ruby ?". Tanya David menghentikan mereka.


" Pagi prince !". Sapa mereka menunduk singkat.


" Prince ? ". Ucap nya mengulang, kerutan di dahinya mulai terlihat seolah bertanya siapa mereka. David tidak begitu ingat dengan wajah mereka karena semalam dia tidak terlalu memperhatikan mereka.


" kamar Lady ada di seberang ruangan ini, anda lewati koridor buntu itu dan di sebelah kanan ada tangga, disitulah kamar Lady karena hanya satu pintu yang terdapat di sana ". Tutur Key.


" Naik thank you !". Ucapnya langsung berlalu dari sana.


" Lex, apa dia tidak mengenal kita ? padahal semalam kita bertemu ". Heran Key enggan mengalihkan pandangan nya dari punggung David yang masih terlihat.


" Entahlah ". Acuh Alex.


****


David masih menggedor pintu kamar Ruby, perlahan pintu nya terbuka tapi bukan Ruby yang dia lihat melainkan mata tajam dari Revin seperti menghunus tatapan nya seakan dia benar-benar terganggu dengan gedoran dan teriakan dari Revin.


" Apa kau tidak bisa memanggil dengan tidak sekeras itu ". Ucap Dingin Revin dengan suara khas nya.


" Ada apa ka ?". Tanya Ruby mendekati kaka nya.


" Sweetie ". Panggil David sedikit memiringkan kepala nya agar Ruby dapat melihatnya.


Revin berbalik malas dengan mata yang terlihat masih mengantuk, walaupun wajah nya kusut tapi tidak mengurangi ketampanan nya.


" Keluar, kau mengganggu tidur ku !". Ujar Revin kembali menyelimuti tubuhnya dengan selimut putih tebal.


Ruby mengalihkan tatapan nya kepada David tapi yang di tatap seakan tidak bersalah dan sesekali memalingkan tatapan nya ke arah lain.


" Kau !!". Ruby menutup kamarnya dan membiarkan kaka nya tertidur kembali.


" Jangan marah dulu, ka Ed menyuruhku membangun kan mu dan aku tidak tahu jika ada kaka mu di dalam !" Bela nya.


" Ya sudah ayo, aku sudah lapar ". Ruby masih berdiri di depan pintu kamar nya dengan tangan kanan nya masih memegang kenop pintu.


" Ayo, kau bilang lapar ". David yang sudah terlebih dahulu berjalan membalik kan badan nya kembali karena merasa jika Ruby tidak ikut melangkah.


" Gendong ". Cengir Ruby, David gemas dengan tingkah Ruby dan inilah yang dia rindukan dari nya, walaupun kejam tapi dia akan tetap manja di hadapan nya apalagi di depan kaka nya.


" Ayo naiklah nenek Ruby ". Ucap David berjongkok menepuk punggung nya memberi isyarat bahwa Ruby harus segera naik ke atas nya. Ruby langsung mendekat dan menumpu punggung David dengan Tubuh nya.


|