Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 99



Kakek Han terkejut dengan kebenaran ini, apa ini yang di katakan Revan tempo hari.


" Dad, apa dia benar anak ku yang manja itu?". Tanya Nameera meremas dadanya tidak menyangka dia sesukses ini.


" Benar, dia anak kita mom ! kenapa selama ini daddy tidak menyadarinya jika semua anak kita begitu maju dengan pesat nya terutama Ruby, daddy benar-benar tidak menyangka". Ucap Luis mengingat kan pada bagaimana sikap manja Ruby dan juga sifat Agatha yang dewasa tapi sekarang berbanding terbalik, selama Agatha di didik oleh nya tak sekalipun dia membawa kabar bahagia dari sekolah nya maupun dari mana itu dan sifat boros nya begitu tidak terkendali.


" Selamat malam semuanya, mungkin saya tidak perlu lagi mengenalkan siapa saya ! Saya mengucapkan terimakasih kepada semuanya karena berkenan datang pada acara pesta kecil ini ". Ucap Ruby berdiri tegap bagaimana layaknya seorang pemimpin, Ruby menyebut pesta sebesar ini hanyalah pesta kecil ? lalu bagaimana pesta megah sebenarnya ! Batin mereka cengo dengan perkataan Ruby.


Ruby terus berbicara di depan sesekali memberi arahan dan juga membagi pengalaman nya sebagai seorang pembisnis muda, dia tidak menyesali masa muda nya yang hilang yang harusnya bermain bersama teman-teman nya tapi malah memilih menata masa depan nya sejak dini dan itu sama sekali tidak membuat nya menyesal.


Kedua teman Ruby, Reina dan juga Meily begitu bangga memiliki teman seperti Ruby.


" Cih sombong ". Decih Nyonya Jeffrey.


" Jangan gbeitu mom, kalau dia jadi mantu pasti kau juga bangga, benar bukan Dad ?!". Ucap Lio menyunggingkan senyumnya.


" Ya ya ya, dan itu hanya mimpi belaka ". Ujarnya.


" Untuk yang terakhir, salam hangat dari saya, terimakasih !". Ruby mengakhiri pembicaraan nya.


prok,,,,prok,,,prok


tepuk tangan untuk Ruby menggema di satu ruangan yang begitu luas nya, banyak pasang mata yang begitu terkagum-kagum kepadanya.


" Cucu kakek ". Peluk kakek Han lembut membelai rambut surainya.


" kenapa kau tidak pernah berbicara kepada kami By ". Ucap Luis


" Pernah, dulu dia ingin mengungkap kan nya tapi kejadian itu membuat nya mengurungkan niat untuk memberi tahu kalian ". Ucap Edward


Tak klotak !!


klotak !!


klotak !!


Suara alas kaki terdengar, terlihat pria tampan sedang menuju mendekati Ruby dan satu wanita yang begitu anggun nya terbalut dress yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.


" Ruby ". Teriak savira dengan suara kerasnya sampai-sampai yang berada di dalam ruangan begitu terkejut dan mengalihkan pandangan nya. Wanita muda di sana bak ketiban pohon pisang mimpi apa malam kemarin sampai-sampai malam ini menyaksikan para pria tampan secara live.


" Kakek ". Teriak Ruby girang, Ruby berlari tidak peduli dengan tatapan mereka, suaranya begitu manja tidak seperti Ruby yang mereka kenal saat berada di depan sana.


Bughh !!


Ruby berhamburan memeluk Jakson sampai-sampai tubuh Jakson sedikit tersungkur.


" Kau ini tidak berubah sayang, bagaimana kalau kau jatuh hmm bukan nya sakit tapi malah akan malu di saksikan banyak orang !". Ucap Jakson memeluk rindu Ruby sesekali mengecup singkat pucuk kepala Ruby.


" Mereka berbohong, mereka bilang tidak bisa datang tapi apa ini ? mereka benar-benar menyebalkan !". Adunya manja, benar-benar dalam mode anak kecil sekali.


" Apa kau hanya akan memeluknya by ?". Tegur Savira tidak terima.


" kemarilah !". Ruby beralih memeluk Savira singkat.


" Apa kabarmu, apa semuanya baik ? aku tidak mau kabar buruk terdengar di telingaku !". Seru Savira matanya mengabsen setiap inci dari tubuh Ruby.


" Baik, semuanya baik ! kau lihat lah ". Tutur Ruby sedikit menjauhkan tubuh nya agar Savira lebih jelas melihat nya.


***


" Apa kau tidak rindu padaku gadis datar !". Seru Rayzen merentangkan tangan nya tapi Ruby tak mengindahkan ucapan Rayzen, tatapan nya begitu nyalang kepada Rayzen dan juga Brayn.


" Kejutan apa, yang ada kalian membuat ku kesal tau ngga !". Kesal Ruby, Rayzen menarik tangan Ruby dan mendekap nya singkat karena deheman seseorang membuat nya harus melepaskan pelukan itu.


Ekheemmm


Rayzen begitu malas jika harus bertemu dengan Edward, bukan nya apa, selama ada dia Rayzen tidak bisa menggoda Ruby.


" Kemarilah, kakak merindukan mu ". Brayn tidak peduli dengan Edward, hanya Brayn lah yang tidak pernah mengindahkan apapun yang dilakukan Edward. Ruby adalah adik nya dan itu sudah mutlak untuk nya. Edward menatap nyalang kepada Brayn.


" Boy, apa kau akan terus menatap nya seperti itu !". Ucap Jakson mengibaskan-ngibaskan tangan nya ke depan wajah Edward seraya menyadarkan nya.


" Dad ". Jakson memeluk singkat tubuh Edward sebagai salam.


" Jangan terlalu posesif, dia tidak akan di ambil oleh nya ! lagian mereka adalah kaka nya ". Seru Daddy Jakson memegang bahunya.


Sweetie , teriak David dari arah belakang, setibanya di sana david mencari toilet karena sedari perjalan dia menahan nya.


David berjalan cepat menghampiri Ruby dan merentangkan tangan nya seolah bersiap untuk memeluknya tapi naas bukan pelukan yang dua terima tapi sebuah pukulan di perutnya yang membuat tubuh David terpental lumayan jauh.


HAHAHAHAHA


Mereka tertawa dengan kemalangan David.


" Yaaaak kenapa kau memukul ku ! apa semua orang begitu senang senang memukul ku, aahhhh dasar gadis manja, gadis nakal, gadis datar, gadis jelek tidak ada lembut-lembut nya kau yahh ". Keluh David memegang perutnya yang sakit karena pukulan Ruby sembari mengumpat nya.


Ruby mengulurkan tangan nya berniat membantu David untuk berdiri kembali.


" Apa sakit ?". Ucap Ruby menyentuh perut David sembari menopang nya.


" Jangan tanya ". Keluh nya.


" Suruh siapa kau berbohong kepadaku kalau kau tidak akan datang ke sini, apa kau tahu aku merindukan mu pria jelek ". Peluk Ruby.


" aku pun merindukan mu sweetie ". Balas David memeluknya, Jakson dan juga Edward tidak aneh lagi dengan interaksi ekstrem mereka tapi tidak dengan mereka yang baru melihat nya.


" Apa dia pemilik dari Jakson Company, aku pernah melihat nya ". Ucap salah satu tamu undangan.


" Iya dia orang nya, apa dia sedang ada pekerjaan disini, ?". Ucapnya yang lain.


" Wah kita beruntung sekali datang kesini ". Ucap nya lagi.


Pembicaraan mereka semua sampai terdengar di telinga Jakson.


" Selamat malam tuan Jakson ". Sapa tuan Jeffrey di sambut dengan salam tangan oleh Jakson. " Senang bertemu dengan mu ". Lanjutnya sopan. Jakson menatapnya seakan bertanya siapa dia ini.


" Jeffrey, salam kenal ! apa anda salah satu undangan di sini tuan ?". Ucap nya berbasa basi, siapa yang tidak mengenal Jakson Abraham pembisnis termasyhur dari negara Irlandia.


" Jeffrey Company ?". Ujar Jakson.


" Kau benar sekali tuan ". Jawab nya.


" Tidak, saya sedang menemui cucu dan anak saya di sini ". Ucap Jakson seraya melirik pada wanita di samping Jeffrey.


" Dia istri saya dan yang ini putra sulung saya ". Lio dan juga Nyonya Jeffrey mengenalkan dirinya masing-masing.


" Saya sangat terhormat bertemu dengan anda tuan Jakson ". Ucap Lio, entah apa tujuan mereka berani menyapa Jakson.


David menatap selidik kepada Lio sesekali sudut bibir nya terangkat.


Jam menunjuk kan jam 22.30, pesta berjalan dengan lancar sesuai harapan, Tapi itu tidak bertahan lama saat suara benturan terdengar sampai telinga.