
"Lo seneng enggak Line?" Tanya Aza saat mereka turun dari wahana roller coaster. Eline tak menjawab pertanyaan Aza dan buru-buru ketoilet untuk muntah. Aza tertawa kecil dan mengikutinya dari belakang.
Huek
"Hadeh, gue kira lo udah nggak mabok roller coaster lagi Line"
"Hm"
Huek
Aza setia memijit belakang kepala Eline guna mengurangi sedikit beban Eline maybe?
Tadi sehabis mencak-mencak enggak jelas, Aza tak sengaja melihat notifikasi dari handphone nya yang menunjukkan tanggal 18 Maret, dan ia langsung teringat jika itu tanggal ulang tahun Eline.
Jadilah mereka sekarang ada dipasar malam karena Aza mengajak Eline untuk meranyakan ulang tahunnya. Aza merasa bersalah sebab tak mengingatnya.
"U-udah" Ucap Eline dan membasuh mukanya.
"Maafnya Line" Cicit Aza saat mereka sudah didalam cafe.
"Enggak papa, lagian gue seneng kok"
"Senengnya ampe mabok gitu ya Line?"
Tabokan dahsyat itu Aza dapatkan dari Eline.
"Kagak usah difilter juga"
"Iya-iya sorry"
Keheningan menyapa mereka, Aza diam seraya memikirkan apakah yang lain sudah meranyakan ulang tahun Eline. Sedangkan Eline, ia asik memilih angle yang pas untuk foto.
"Line"
"Hah?"
"Yang lain udah..." Eline menghentikan aktivitasnya dan menatap Aza sebentar. Eline tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat tau apa yang akan Aza tanyakan.
Mendapat jawaban Eline membuat tangan Aza terkepal diatas pahanya. sungguh apakah mereka harus lupa dengan ulang tahun Eline? walaupun mereka sedang ada masalah tapi enggak seharusnya mereka seperti itu.
"Santai kalik, yang penting lo inget"
Aza menatap Eline dengan perasaan bersalah, dia sempat lupa tadi dengan ultah Eline.
"Tadi nenek lampir dateng" Aza sontak berhenti memainkan sedotannya dan menatap Aza.
"Ngapain? ngereog?" Tanya Aza bingung.
"Enggak, dia minta maaf"
Aza serasa tertimpuk batu saat mendengar jawaban Eline. minta maaf? yakin itu Monika?
"Lo yakin itu nenek lampir? bukan tuyul?"
"Huh, yakali tuyul Za, orang dia nyata begitu"
"Lagian minta maaf? minta maaf atas dosa dia yang mana?"
"Enggak tau? semua kalik" Seru Eline mengedikkan bahunya.
"Dosa dia kebanyakan, jadi bingung dia minta maaf buat apa" Tutur Aza kelewat jujur.
"Udah puas belum? balik yuk, pegel badan gue" Ajak Aza merenggangkan tubuhnya. lelah hari ini untuk Aza sebab badannya yang diombang-ambing saat menaiki wahana.
"Yuk, badan gue senasib" Setuju Eline dan mereka berduapun pergi dari sana menuju rumah masing-masing.
......*********......
"Dengarkanlah, disepanjang malam aku berdoa" Haykal saat ini tengah memegang gitar sembari bernyanyi dengan suaranya yang lumayan.
"Idih, lagu jamet" Ucap Gibran saat mendengar lagu yang dinyanyikan oleh Haykal. Haykal tak menggubris ucapan Gibran dan melanjutkan nyanyiannya serta petikan-petikan gitarnya.
"Bersujud dan lalu aku meminta" Resap Haykal yang sangat menghayati lagu yang ia nyanyikan.
"Shalat aja bolong" Cerca Gibran.
"Gue mau nyanyi Bran" Sebal Haykal merasa terganggu dengan suara amat menyebalkan Gibran.
"Iya nyanyi tapi jangan lagu jamet" .
"Ya apa? gue cuma hapal lagu itu doang" Ucap Haykal.
"Udah enggak usah nyanyi" Gibran bangkit dari duduknya dan pergi menuju ruangannya. mereka saat ini tengah ada di ruang tamu markas.
"Hah, nyanyi aja ribet" Pasrah Haykal meletakkan gitarnya. matanya mengedar untuk mencari seseorang dan ya! orang yang ia cari tengah asik bermain ular tangga dengan Soobin dan Miki.
"Turun!" Perintah Lily dengan senyuman bahagianya. terpaksa Soobin menurunkan pionnya dengan berat hati.
"Sekarang giliran gue" Ucap Lily yang bersiap mengocok dadunya.
"Enggak, sekarang giliran Miki" Sergah Miki mencegah dadu yang akan dilempar Lily.
"Gue anjir, habis Soobin gue" Ucap Lily tak terima.
"Shh, itu giliran Miki, emang dikira kalian main cuma berdua apa?!" Balas Miki. enak saja giliran Lily, dirinya sedari tadi menunggu giliran untuk menggerakkan pionnya.
"H-hah?" Lily menggaruk belakang kepalanya dan baru menyadari jika memang sehabis Soobin itu Miki.
"Sorry Mik" Cengir Lily dan mereka melanjutkan permainan ular tangga itu.
...*******...
Hari hari berlalu dan bulanpun ikut berlalu. Terhitung sudah ada 6 bulan persahabatan antara Alletta dan Malvin dkk renggang, hanya Stepanie yang terlihat hadir ditengah tengah Malvin dkk. Alletta, Aza dan Eline hanya memandang jauh dan diam. Begitu terus sampai enam bulan ini. Juga mereka sudah naik kekelas duabelas. dan beberapa bulan lagi mereka akan lulus.
"Ngepet aja udah, ngeluh mulu lo"
Nada yang penuh dengan sarkasme itu keluar dari mulut Aza, ia kesal karena Kayla datang dan tiba tiba memasang wajah nelangsa. Dan Kayla bilang jika ia diambang kebangkrutan dan hubungannya dengan Nathan juga tidak baik baik saja.
"Lo nuyul, gue ngepet" kata Kayla mendapat acungan jempol dari Monika. Fyi, setelah permintaan maaf Monika waktu itu, perlahan wanita itu mulai berubah. Masih menggunakan make upnya tapi tak semenor dulu. Kalau dulu kan mirip tante girang, bercanda.
"Biar makin kaya, jadi kerjanya harus double" tambah Monika. Aza mendelik tidak terima.
"Mana ada kerja kayak gitu, enggak halal brody" bantah Aza dengan mengibaskan tangannya didepan muka Monika.
"Ada Za, ngepet juga kerja kali. lo kira ntar jalan belum lagi kalo ketauan terus dikejar kan kita harus lari, itu juga makan tenaga dan waktu" cerocos Monika tanpa jeda.
"Iya tapi nggak halal" Aza melotot ke arah Monika diikuti Monika yang sama sama melotot juga. Dan mulailah debat antara keduanya, yang lain? enggak mau ikut campur.
Sedangkan Kayla masih terus termenung memikirkan hubungannya dengan Nathan, sidokter ganteng yang membuatnya kesemsem. Alletta berpikir sejenak, tampaknya masalah keduanya serius. Bukan apa sebab Kayla dan Nathan itu sering bertengkar tapi setaunya itu karena hal kecil.
Dan tidak membuat Kayla seperti orang hilang akal disini.
"Hebat banget?" Alletta bertanya sembari bersedekap tangan didada. Kayla menoleh dan menganggukan kepalanya lesu.
"Iya Al, sampe dia nggak mau nganterin gue kesekolah tadi" balas Kayla dengan wajah melas.
"Masalah apa?" Alletta tau, bukan haknya untuk tau apa yang sedang terjadi dihubungan keduanya tapi ia juga tidak bisa diam jika melihat masalahnya cukup serius.
"Mantan dia tuh Al, masak udah dandanan mirip tante girang itu nempel nempel mulu sama Nathan. Ya gue sebagai pacarnya yang bentar lagi jadi istrinya kan pasti nggak terima" ucap Kayla mengeluarkan uneg unegnya terhadap mantan Nathan yang semena mena main nemplok saja.
"Terus? lo apain?" timpal Eline.
"Gue pukul dia karena dia duluan nampar gue waktu gue bilang baik baik kalo Nathan punya gue. gue nggak terima terus gue pukul balik dan ternyata Nathan liat tapi waktu gue mukul Elyn, dia nggak liat langsung kalo gue ditampar ama Elyn"
"Salah paham?" tebak Alletta tepat sasaran. Hah rasanya ingin ia patahkan leher Elyn karena ia juga mendengar aduan dari beberapa anggotanya yang tak nyaman karena ulah Elyn.
"Iya Al, gue udah jelasin sama Nathan tapi dia malah bentak gue nyuruh gue pergi. Sampe sekarang gue nggak tau dia masih sama tante girang itu apa enggak" Kayla berkata dengan takut, begini begini ia takut apa yang ia takutkan selama sebulan ini terjadi.
Elyn berhasil merebut Nathan, itu yang Kayla takutkan. ia memang bisa mencegah orang yang akan mendekati pacarnya tapi ia tak bisa menang, bisa tapi kemungkinannya kecil jika benar Nathan juga menginginkan Elyn.
"Gue setel lagu galau ya?" tanya Eline karena ia merasa ada satu lagu yang pas untuk ini. karena tak ada jawaban jadi ia menyetel aja lagunya lumayan keras tapi tidak terlalu karena teredam juga dengan suara murid kelas yang persis toa.
Bunga terakhir...
Bunga terakhir.... kupersembahkan pada yang terindah...
Kayla mendelik mendengar lagu apa yang Eline putar dari handphone nya. Ia tengah galau kenapa yang Eline putar lagu berduka sih?
"Salah lagu" ucap Alletta dibalas cengiran khas Eline. Ahh Alletta baru sadar jika Eline banyak berubah semenjak kematian Sofa. ia selalu tersenyum, sangat beda dengan Eline yang dulu karena kebanyakan diam. Entah untuk menghibur orang orang disampingnya atau? untuk menghibur dirinya juga?
Kennath juga banyak berubah, rambutnya mulai gondrong membuat guru bk pusing memikirkan Kennath yang berbeda seratus delapan puluh derajat. Apakah Kennath sudah melupakan Sofa? jawabannya tidak, bahkan ia kerap bolos dengan alasan kemakam milik Sofa dan Kennath juga pernah mengatakan
"Gue enggak ikhlas dan nggak akan pernah" itu yang akan Kennath ucapkan jika ada yang bertanya sampai kapan mau gini terus? Kennath juga bertambah kurus dan tatapan matanya yang tajam mengintimidasi siapa saja yang akan mendekatinya. Ia hanya milik Sofa dan akan selamanya begitu.
"Nanggung Al, lagunya enak" Eline meresapi lagu yang ia setel dan tatapan itu, tatapan rindu dan lelah atas semuanya. Jelas Alletta bisa melihatnya walaupun sebentar, sama dengan yang lain. Mereka juga memberikan tatapan itu tapi hanya sekejap sebelum ego mereka, mereka junjung tinggi.
Hanya satu kata yang cocom untuk semuanya.
"Bullshit"
.
.
.
... Happy Reading, Author mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa man teman. ...