Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 109



" By kamu dimana ? tadi kita ke rumah, katanya kamu nganter kakak mu ". Ucap Reina di seberang sana, Ruby sedang menuju ke rumah nya dan sekarang sedang mampir ke toko untuk membeli beberapa keperluan pribadinya.


" Aku baru pulang dari bandara Rei, apa kamu lagi bersama Meily sekarang ?". Seru Ruby mengapit Handphone nya oleh bahu kanan nya karena tangan nya sedang memegang keranjang dan satu nya lagi sedang memilih barang keperluan.


" Jangan pulang dulu kita nongkrong di kafe yuk !". Teriak Meili.


" Woy sakit ini kuping ". Protes Reina karena Handphone nya masih menempel di telinga Reina.


" oke, aku langsung ke sana ! kamu kirim alamat nya". Ruby mengakhiri panggilan mereka.


" Pak apa tidak ada yang ingin di beli biar sekalian ?". Tanya Ruby sedang mengantri di tempat pembayaran.


" Tidak ada non ". Jawab nya.


" Non ?" . Alis Ruby bertaut. " Pak Alan masih memanggil nya non ? Apa pak alan lupa jika Ruby sudah mengatakan berkali-kali jika dirinya tidak mau di panggil nona ?.


" Itu no,,eh Ruby tidak ada yang saya butuh kan ". Ucapnya Gugup karena mungkin mereka baru kali ini bertemu lagi.


" Baiklah ". Tutur Ruby meletakan ranjang nya di atas tempat pembayaran.


" Biar saya yang bawa ". Pak Alan mengambil belanjaan Ruby dan memasuk kan nya ke dalam mobil.


" Kita ke kafe ya pak, temanku sudah menunggu di sana dan ini alamat nya !". Seru Ruby memasang sabuk pengaman nya siap untuk berangkat.


" Siap ". Pak Alan melajukan mobil nya, beberapa menit kemudian mereka sampai di depan kafe.


Ruby turun dari mobil nya, dirinya membaca nama kafe yang ter desain di pintu masuk Kafe. Ruby tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam tapi sebelum itu dia menyuruh Pak Alan untuk pulang lebih dulu karena nanti dia akan pulang bersama Reina dan juga Meily.


" By disini ". Teriak Meily melambaikan tangan nya. Ruby menghampiri mereka berdua dan langsung duduk di sana.


" Wah cake kesukaan ". Sambar Ruby meraih kue mungil di hadapan nya dan langsung di melahap.


" yaak pelan-pelan, ni punya aku masih banyak ! kelaparan apa ya makan gitu banget ?". Seru Meili langsung menyodorkan kue miliknya pada Ruby.


***


" Bagaimana ?". Ucap Edward duduk di kursi kerja nya dengan bersiap untuk pergi ke rapat yang sudah di siapkan jauh hari.


Edward berjalan menuju ruang rapat yang telah di siapkan sebelum nya, Jas berwarna abu yang Edward pakai terkesan menambah karismanya.


Rapat ini diadakan untuk meninjau peningkatan kinerja dari para karyawan di perusahaan nya dan mengecek apakah ada peningkatan kinerja yang diberikan oleh para karyawan atau tidak. Sehingga manajemen dapat mencari cara yang lebih efektif dalam meningkatkan kualitas  kerja para stafnya. Untuk itu Edward akan menerapkan Rapat tinjauan setiap bulan, mengingat perusahaan ini baru berdiri kembali walau dengan nama yang berbeda dan CEO yang berbeda.


Bisa di katakan rapat tinjauan ini diadakan untuk membantu semua karyawan dalam melatih diri mereka, bertanggung jawab dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan.


Rapat di mulai dan Edward memimpin rapat, semua orang terdiam dan seksama mendengarkan pembicaraan dari Edward sesekali mereka bertanya tentang rapat yang diadakan ini, dari setiap ucapan nya, Edward memuji kinerja mereka karena Edward tahu Rapat tinjauan ini jika mereka belum mengetahui apa yang akan di bahas dari Rapat tinjauan mereka pasti akan salah paham. Edward berpikir pasti semua karyawan mengira dalam rapat ini akan menerima kritik atas kinerja mereka selama ini, Edward tidak mengkritik tapi mengayomi mereka sehingga mereka tidak lagi tegang dalam Rapat ini.


" Sekali lagi terimakasih atas kerja keras kalian ". Ucap Edward menunduk, awalnya mereka mengira jika Edward pemimpin yang angkuh dilihat dari wajah nya pun sudah terlihat jika Edward orang yang sombong. Pertama kali Edward menginjakkan kaki nya di perusahaan barumya senyum dari bibir nya tidak pernah terulas, terkesan dingin dan juga datar.


Setelah Rapat selesai, Edward kembali lagi ke ruangan nya. Ketika Edward membuka pintu, sekretaris nya memberi tahu jika ada yang ingin bertemu.


" Maaf pak, ada yang ingin bertemu dengan anda ! dia menunggu di dalam ". Lapor nya. Edward merapihkan jas nya dan juga dasi nya lalu masuk ke dalam. Terlihat seorang pria duduk membelakangi pintu, Edward segera menghampirinya.


" Maaf ada yang bisa saya bantu ?". Seru Edward belum melihat ke arah nya dan langsung duduk di sofa sebrang sehingga posisi mereka berhadapan. Rahang Edward tiba-tiba mengeras, mata nya langsung merah menahan amarah tidak lupa tangan nya yang mengepal.


" Ed !". Sapa nya.


Edward menatap pria itu. " Ada apa, kenapa kau di sini dan kenapa kau tahu aku ada di sini ?". Ucap Edward memalingkan wajah nya.


" Tidak, awalnya gue juga tidak tahu jika ini perusahaan mu sampai akhirnya gue di izinkan masuk dan menunggumu di sini, ya, gue ngga sengaja melihat papan nama yang tertera di sana dan yang gue tahu tidak ada lagi yang memiliki nama itu kecuali kau Ed". Terang nya menjelaskan, telunjuk Leo mengarah lada papan nama yang berada di atas meja kerja Edward.


" langsung saja ada apa ?!". Seru Edward.


Leo menyodorkan map berwarna biru yang isinya kontrak kerjasama yang sebulan lalu terjalin dan sekarang Leo memastikan oleh dirinya dan langsung datang ke Irlandia.


Ada banyak hal yang ingin Leo bicarakan dengan Edward tapi di urungkan nya melihat reaksi Edward yang seperti tidak ingin melihat nya. Edward dengan serius memeriksa berkas itu tanpa mengeluarkan satu patah kata pun, Leo terus menatap nya, dia terus memutar otak nya bagaimana mengajak Edward bicara.


" Maaf ". Ucap Leo lirih, tangan nya menyatu sesekali mengerat.


" Apa ini kenapa perasaan gue takut begini ". Gumam nya di dalam hati, Aura Edward benar-benar tidak ada yang bisa menandinginya sampai Leo pun tidak berani mengucapkan apapun di hadapan nya. Harga dirinya seperti di jatuhkan, ketua mafia seperti dirinya bagaimana bisa takut dengan aura yang dimiliki Edward yang notabene nya bukan siapa-siapa.


Apa yang Leo rasakan jika dirinya mengetahui jika Edward adalah mafia yang dikenal dengan sebutan KING, mungkin dia akan paham kenapa dirinya takut dengan aura yang dimiliki Edward.