
Semua orang sudah kembali kerumah masing-masing. kecuali para sahabat Kayla yang menunggu kesadaran Kayla kembali. disana juga ada Bunga, Angga dan Kevira menatap Kayla yang masih dibawah alam sadarnya.
Aza sedari tadi menatap tajam kedua orang tua Kayla dan selingkuhannya. bukan tak sopan, tapi Aza tau bagaimana rasanya berada diposisi Kayla karna ia pernah merasakannya. walaupun eommanya tak mengikuti appanya berselingkuh, tapi tetap saja ia tau seperti apa Kayla. rasa hancur, kecewa, marah dan benci pasti yang dirasakan oleh Kayla.
Ketiganya yang menyadari jika Aza menatapnya pun sedikit risih.
"Kenapa kamu menatap kami?" Tanya Kevira yang tak tahan dengan tatapan Aza.
"Nanya? nyadar nggak?" Sewot Aza membuat ia menjadi pusat perhatian didalam ruangan itu.
"Gue nggak habis fikir, ada ya yang ngikutin jejak suami buat selingkuh. kagak mikirin apa gimana hancurnya perasaan anaknya. bapaknya juga sama, nggak puas dengan satu perempuan. ini juga perempuan benalu malah jadi selingkuhan. gue kasih tau ya, lo cantik tapi nggak dengan hati lo yang busuk" Kevira, Bunga dan Angga terdiam. mereka merasa tertampar dengan ucappan pedas Aza. Sofa bertepuk tangan saat mendengar ucappan Aza yang kelewat jujur.
"Bener banget Za, gue dukung" Aza mengacungkan jempolnya. mereka yang melihat itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sekedar informasi, jika anda tak tau apa yang dirasakan oleh Kayla. biar saya yang kasih tau, percaya atau nggak, kepercayaan yang Kayla punya buat kalian itu hancur. hancur melihat keluarganya, kecewa dengan sikap ayah dan ibunya, sedih karna keluarganya hancur dan benci karna kelakuan ayah dan ibunya. saya yakin sekedar melirik saja Kayla tak mau, karna apa? karna saya pernah diposisi Kayla. camkan itu" Aza mengalihkan pandangannya, ia tak mau lepas kendali.
Lily yang mendengar ikut menundukkan kepalanya, ia merasa gagal menjadi teman yang baik untuk Kayla, ia juga sedih jika Aza belum bisa memaafkan kelakuan Rangga.
Alletta yang melihat itu menghembuskan nafasnya pasrah. susah menasehati Aza jika sudah menyangkut soal perselingkuhan.
Nathan melihat kearah Aza yang memiringkan tubuhnya hendak tidur, ia kemudian kembali menatap wajah pucat Kayla. satu air mata lolos dari pelupuk mata Kayla walaupun ia belum sadar, tapi dialam bawah sadar Kayla pasti ia mendengar semua ucapan Aza.
Tangan Nathan terulur menghapus airmata Kayla.
"Bang, gue pamit. mau eksekusi" Ucap Alletta pelan dibalas anggukan oleh Nathan. Alletta segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.
"Bang gue juga ikut pamit, sekalian sama ni anak" Ucap Devan menunjuk Malvin dkk, Nathan menganggukkan kepalanya sembari berpikir kenapa pamit padanya? ia bukan orang tua Kayla.
"Aku pamit dulu, kalo ada apa-apa hubungin aku" Ucap Kennath, Sofa menganggukan kepalanya dan tersenyum.
"Kamu nggak papa kalo aku tinggal?" Lily menganggukkan kepalanya, ia tak mau egois karna pasti Azka juga lelah.
"Ya udah aku pamit, kalo ada masalah hubungin aku" Ucap Azka setelah menghembuskan nafasnya berat. Lily mengangguk paham.
"Gue balik Line, jagain Lily. lo juga jangan capek-capek, istirahat" Ucap Azka pada Eline. Eline mengangkat jarinya menunjukkan tanda ok. Eline senang karna perasaan yang ia punya untuk Azka sudah sepenuhnya hilang, ia yakin sebab ia sama sekali tak sakit melihat Azka yang memperhatikan Lily bahkan ia merasa senang jika Azka bersama dengan Lily.
Malvin dkdk keluar dari ruangan membuat Sofa, Eline dan Stepanie berebut tempat duduk.
"Gue disini" Ucap Sofa.
"Nggak, gue yang disini" Ucap Eline.
"Enak aja, gue yang disini" Ucap Stepanie.
Mereka asik memperebutkan sofa yang berada dipojok. entah apa yang mereka ributkan, hanya mereka yang tau. Lily tersenyum dan mendudukkan dirinya disamping Aza yqng sedang memejamkan matanya.
Merasa ada seseorang yang duduk, Aza membuka matanya.
"Ngapain lo disini?" Ucap Aza.
"Gue mau tidur juga disini, boleh ya" Mohon Lily, Aza menghembuskan nafasnya berat dan mengangguk. bukannya ia tak suka dengan Lily, tapi jika melihat wajah Lily entah kenapa Aza jadi mengingat semua perlakuan buruk Rangga pada Awan.
"Lo belum maaffin papi?" Tanya Lily setelah beberapa saat keduanya hanya saling diam.
"Belum" Jawab Aza tanpa menatap Lily.
"Gue tau lo masih terluka sama sikap papi, tapi apa nggak sebaiknya lo maaffin papi Za? gue kasian lihat papi yang banyak termenung akhir-akhir ini" Lily menatap penuh harap.
"Nggak segampang itu buat gue maafin dia (Rangga), luka yang dia torehkan sampai kapanpun akan tetap membekas didalam diri gue. bukan cuma fisik tapi juga batin" Aza menahan sesak didadanya.
Siapa yang tak sakit jika melihat ayahnya lebih memilih putri lainnya, bukan apa hanya saja ia juga terluka sama seperti Lily. tapi Rangga hanya menenangkan Lily, padahal Aza berharap jika Rangga juga akan menenangkannya. ia berpikir jika Rangga tak bisa bersikap adil padanya. jika ingin tau, rasa benci yang Aza miliki sudah hilang, tapi melihat perlakuan Rangga, rasa benci itu kembali dihatinya.
Lily hanya mampu terdiam, ia tak tau apa saja yang sudah Aza alami dalam kehidupannya. ia juga menyalahkan dirinya yang memaksa Aza untuk memaafkan Rangga.
Dipojok ruangan Sofa, Stepanie dan Eline masih merebutkan sofa. tak ada yang mau mengalah membuat Aza turun tangan.
"Ngapain sih, sofa banyak gitu, malah ngerebutin yang lain" Sontak Sofa, Stepanie dan Eline memberhentikan adu mulutnya.
"Udah lah, kertas batu gunting aja dari pada rebutan" Final Aza, Sofa, Eline dan Stepanie langsung bermain kertas, batu gunting. Sofa memekik keras saat ia yang menang, ia langsung merebahkan tubuhnya dan memejamkan mata.
Eline dan Stepanie mendengus kesal dan memilih sofa lainnya.
🍀🍀🍀🍀
Alletta masuk kedalam ruang tahanan untuk mengeksekusi Nesa, ia tersenyum menyeringai saat melihat Nesa yang keadaannya jauh dari kata baik-baik saja. Alletta berbaik hati karna tak mengeksekusi Nesa kemarin, rencananya lusa baru ia akan mengseksekusi Nesa.
Tapi melihat Albert yang berhasil mencelakai salah satu temannya membuat ia murka. ia langsung mempeecepat kematian Nesa. masalah lampu sudah ditangani oleh Haykal.
Alletta mengulurkan tangannya pada Faris, seakan mengerti, Faris memberikan air panas bercampur cabai ketangan Alletta.
Tanpa basa basi, Alletta langsung menyiramkan air itu ketubuh Nesa yang membuat Nesa terbangun dan mengeluh panas.
"PANAS" Teriak Nesa melengking membuat para mafioso terbangun dari tidurnya.
'Mati nggak tuh, panas-panas kan' Batin Faris melihat Nesa yang melompat kesana kemari sembari mengeluh panas dan perih.
Alletta tersenyum miring melihat Nesa kesakitan. para mafiosodatang dan langsung menodongkan sejatanya kearah Alletta dan Faris. mereka tak tau jika itu adalah queen mereka sebab Alletta tak memakai topeng.
"Angkat tangan, atau kalian kami tembak" Ucap salah satu mafioso, dia ketua devisi penembak handal dimafia Alletta bernama Aris.
Alletta melirik sebentar dan bertepuk tangan membuat mereka menatap bingung Alletta.
"Gue suka dengan ketangkasan kalian, bagus. pertahankan" Puji Alletta dengan suara khasnya. mereka dengan kompak menurunkan senjata dan membungkuk saat tau itu Queen mereka.
Mereka tau hanya dari suara Alletta yang memeng khas.
"Maaf Queen" Ucap para mafioso dengan serentak.
"Tak apa" Ucap Alletta. ia meminta Faris dan Aris untuk membawa Nesa keruang eksekusi.
.
.
.
.
Hayy!
Author mau kasih informasi nih. akhir-akhir ini banyak typo ditulisan author kan? bukan apa sebab kuku author patah😭 author yang udah terbiasa dengan kuku panjang jadi kayak gimana gitu kalo kuku author pendek😅
Aktivitas yang gampang, yang biasa author lakuin malah jadi susah. contohnya waktu ngetik, kalo biasanya cuma makan waktu sejam dua jam, sekarang malah jadi empat jam karna nulis, hapus, nulis hapus. author udah cobain terbiasa tapi tetep aja nggak nyaman. jadi maaf kalo sekarang banyak typonya, ntr author peebaiki lagi.
Dan author juga mau kenalan nih 😂 kalian kalo mau manggil author nama pena author boleh, mau manggil Al boleh, atau Prin juga boleh. atau mau manggil Alletta juga boleh.
Nama panggilan author ada disalah satu nama tokoh novel ini. Aza banyak orang yang manggil author itu. Aza itu singkatan dari nama asli author. umur author dah tau ya. 14 tahun, author udah sma sama tinggi author 158cm.
Jangan kaget kalo ketemu author karna orang-orang pada bilang kalo pembawaan author itu dewasa. banyak yang ngira author udah umur 17 tahun😂 padahal masih 14 tahun. author juga mau punya temen😭 author cuma punya temen masa sd dan itupun sekarang udah nggak pernah ketemu atau kontek-kontekkan.
Masa smp author juga nggak punya temen, entah kenapa author juga nggak tau. kalo sma author masih sama nggak punya temen. pada genk genk ngan, author jadi nggak mau dan milih buat sendiri aja😅 author itu suga yang mencintai kesepian dan kesendirian.
Author juga mau cerita kalo author milih jurusan pake cap-cip-cup😂 author waktu itu bingung mau milih ipa atau ips jadinya deh cap-cip-cup dan yang kepilih ipa. Kalo masalah nilai author, alhamdulillah baik. cuman maslah agama aja yang jelek nilainya😂 masa author udah ngerjain serius malah dapet nilai 25 45. kan jadi greget😁 udah belajar tapi tetep aja jelek.
Udah lah. segitu aja dulu ya, mau ngetik yang novel satunya. sehat-sehat ya✋
Jangan lupa Like, komen dan Vote.😘
Stay Healthy.
Happpy Reading.