
Prok prok prok
Suara tepuk tangan menarik atensi mereka, Monika berjalan mendekat kearah meja Malvin dkk yang ada Stepanie dan Eline.
"Wah, hancur juga pertemanan kalian?" Ucap Monika.
"Enak aja hancur-hancur" Balas Eline tak terima sembari menjambak rambut Monika. "Catat baik-baik ya, pertemanan yang udah dibangun di circle gue nggak bakal bisa hancur segampang itu" Lanjut Eline melepaskan jambakkannya.
Monika memegang kepalanya yang nyut-nyuttan, ia menatap Eline.
"Dih gue belum selesai ngomong udah lo potong aja kek kue" Semprot Monika. Refan yang melihat dari jauh menyenderkan punggungnya ditembok.
"Nih ya, gue kesini karna mau ngasih nasehat" Ucap Monika membuat Eline tertawa.
"Njir nasehat lo kata? kesurupan apa lo sampe mau ngasih nasehat?" Tanya Eline dengan tawanya, Monika yang melihat itu menjadi kesal sendiri.
"Dih kalo lo nggak mau percaya ya udah diem, pake ngatain gue kesurupan lagi" Monika memandang Malvin dkk dan Stepanie bergantian.
"Nih dengerin gue" Ucap Monika serius "Kalo emang dicircle kalian lagi ada masalah" Jeda Monika, ia tampak menarik nafas membuat Eline sudah siap-siap dengan berbagai kalimat untuk dilontarkan.
"Jangan dicela" Peringat Monika saat melihat Eline yang ingin memotong ucapannya.
"Mohon diselesaikan dengan baik-baik" Ucapan yang keluar dari mulut Monika sukses membuat Eline dan yang lainnya menganga.
"Gue tau sekarang kalian lagi bingung dengan ucapan gue, tapi tolong kali ini aja dengerin perkataan gue. mau sebesar apapun masalah yang lagi kalian hadapi, mau serumit apapun masalah itu dan mau seemosi apa kalian ngehadapinnya. tolong gunakan kepala dingin untuk nyelesaiin masalah lo pada"
"Gue ngomong gini karena gue suka ngeliat circle kalian yang kompak, yang bobrok, yang selalu ada hal-hal yang bikin circle kalian itu beda dari circle lain yang sukanya buli, malak, merendahkan. gue salut sama circle kalian yang mau segede gaban masalahnya kalian tetep sama-sama. gue ngaku gue emang punya banyak salah sama ciecle kalian, gue mau minta maaf buat kelakuan gue"
"Tapi kenapa gue lihat masalah yang lagi kalian hadapi saat ini ngebuat circle kalian bubar, nggak kompak kayak dulu lagi. mana circle yang biasanya selalu bawa banyak nilai positif?"
"Plis jangan karena masalah yang lagi kalian hadapi ngebuat kalian bakal nyesel dengan sikap kalian yang membuat pertemanan kalian hancur"
Ucapan dari Monika yang amat panjang lebar itu berhasil membuat Stepanie dan Malvin dkk terdiam. Eline tersenyum tipis mendengar ucapan Monika.
"Lo mau ngapain minta maaf Mon?" Tanya Eline setelah beberapa menit hanya kesunyian yang melanda mereka. ini kali pertama Eline menyebut Monika dengan namanya setelah perang dingin yang terjadi dicircle mereka.
"Heh bersyukur karna gue udah ada iktikad baik ya buat minta maaf" Sewot Monika, ia merasa tersentil seperti ia tak pernah mengucapkan kalimat "Minta maaf" saja.
"Dih ikhlas kaga lo?"
"Ikhlas gue Line, ikhlas" Jawab Monika.
"Kok gue nggak percaya ya? pasti nih ada apa-apanya nih? ngaku lo! lo pasti mau ngambil kesempatan ini buat ngedeketin Gavin kan? ngaku lo! lo udah ketauan, defeat" Tuduh Eline, Monika langsung menggetak kepala Eline.
"Enak bener tuh mulut lo ngomong, gue ikhlas minta maaf malah lo tuduh sembarang, emangnya gue seburuk itu apa" Ucap Monika, Eline mengusap kepalanya.
"Eh cabe kiloan, enak bener tuh tangan lo ngegetak kepala gue" Balas Eline.
"Njir cabe kiloan, jelek banget julukan gue"
"Makanya make up yang normal-normal aja kalo kesekolah, kesekolah kek mau lomba apaan" Saran Eline.
"Good sih saran lo, besok dah gue coba" Ucap Monika membuat Eline melotot.
"Eh lo beneran sakit ya Mon? gue anterin periksa deh serem juga kalo gini" Tanya Eline ngeri.
"Gue sehat, dah gue mau makan" Pamit Monika menuju kearah kantin Pak maman.
...********...
Aza termenung didalam kamarnya, pikirannya masih memikirkan kejadian kemarin. Aza menghela nafas berat, ini sudah menjadi keputusannya bahwa ia akan tetap membela Alletta walaupun teman-temannya akan memusuhinya.
Aza perlahan bangkit hendak kekamar mandi, tapi Alletta muncup dan membantunya menuju kamar mandi.
"Gue bisa sendiri kalik Al, kek penyakitan parah aja gue" Ucap Aza saat ia memasuki kamar mandi.
"Lo emng punya penyakit parah Za" Gumam Alletta lirih tanpa ada yang mendengar.
Tak lama Aza keluar dan berbaring dikasurnya dengan Alletta yang setia membantunya.
"Al" Panggil Aza, Alletta berdehem membalasnya.
"Pindah sekolah?" Tanya Alletta balik, Aza mengangguk.
"Iya, ish otak kapasitas tinggi lo kemana dah? masak pertanyaan gini lo nggak bisa jawab" Kesal Aza. Alletta memperbaiki duduknya yang semula menatap luar menjadi menatap Aza.
"Kenapa lo mau pindah?" Tanya Alletta.
"Emm gue bosen aja si, lagian penyakit gue kan juga makin parah, gue takutnya ntar pada tau lagi kalo gue penyakitan" Jawab Aza.
"Bukannya semua udah tau? lo lupa lo bilang panjang kali lebar ke Rangga dan itu disaksikan banyak orang loh Za" Ucap Alletta panjang lebar, mendengar ucapan Alletta membuat Aza melotot seraya bangkit dari rebahannya.
"Eh anjir iya, duh berarti mereka semua udah tau ya?" Tanya Aza menanyakan kepada dirinya sendiri. Alletta mengangguk membenarkan ucapan Aza.
"Al emang bener gue harus pindah" Ucap Aza disusul dirinya yang langsung menuju kelemari pakaiannya. Alletta menatap bingung Aza yang asik memindahkan baju-bajunya kedalam koper.
"Lu mau pindah sekolah apa pindah rumah?" Tanya Alletta.
"Pindah sekolah lah Al" Jawab Aza yang masih sibuk dengan pakaiannya.
"Ya terus ngapain lo bawa baju segala?"
"Oh iya ya?"
Monolog Aza menghentikan aktivitasnya.
...***********...
Huh
Entah sudah yang keberapa kalinya Eline menghela nafas, ia mengedarkan pandangannya kekanan dan kekiri melihat banyak anak muda seperti dirinya yang asik berkumpul dengan teman-temannya.
Eline saat ini sedang berada dicafe tempat biasa ia dulu kumpul bersama Sofa. ahh mengingat kenangannya yang ada dicafe ini membuat Eline jadi rindu Sofa.
Segera ia mengambil tasnya dan pergi dari sana menuju rumah terakhir yang paling indah milik sahabatnya yakni makam Sofa.
Dua puluh menit Eline sampai dengan paperbag berad ditangannya. ia membeli bunga dan air kemudian menuju kemakam Sofa.
"Hai Sof" Sapa Eline ketika sampai dimakam yang bertuliskan 'Sofa Reece'.
"Gue kangen banget sama lo" Ucap Eline sembari membersihkan makam Sofa. ia meletakkan paperbag yang ia bawa dan mulai mencabuti rumput liar yang mulai tumbuh disekitar makam Sofa.
"Udah bersih deh" Ucapnya saat ia sudah mencabut semua rumput. Eline membuka paperbag miliknya dan terlihat kue kecil dengan tulisan 'Happy Birthday' yang Eline keluarkan.
"Lo nggak lupa kan kalo hari ini hari ulang tahun gue?" Tanya Eline, Eline mengambil lilin dan menyalakannya dengan korek yang sudah ia bawa.
"Happy birthday to me, happy birthday to me, happy birthday happy birthday, happy birthday to me" Eline menyanyikan lagu happy birthday untuk dirinya sendiri di samping makam Sofa.
Air mata tampak mengalir dari kedua mata Eline. sedih rasanya mengingat jika tak ada yang mengucapkan selamat ulang tahun untuknya hari ini.
Orang tuanya masih diluar negri dan teman-temannya yang memiliki masalah sehingga melupakan jika hari ini adalah ulang tahun Eline.
Eline meniup api lilinnya setelah ia berdoa.
"Gue kangen sama lo Sof hikks" Ucap Eline menundukkan kepalanya sembari mengelus-elus makam Sofa.
"Hikss nggak ada yang ngucapin selamat buat gue Sof" Adu Eline masih dengan tangisnya.
"Gue bingung Sof, pertemanan yang kita bangun lagi diambang kehancuran"
"Gue nggak tau harus ngapain Sof, gue bener-bener bingung"
.
.
.
...Happy Reading...