Mafia Girls

Mafia Girls
MG EP 49



"SOFA"


Mereka yang ada didalam mansion memusatkan perhatiannya pada seorang laki-laki yang baru saja masuk dan berteriak nama 'Sofa'.


Nafas laki-laki itu nampak memburu dan matanya yang memerah seperti sedang menahan tangisnya.


Kennath! laki-laki yang beteriak itu adalah Kennath. betapa terkejutnya ia saat sedang mencari Sofa dan mendapatkan kabar jika kekasihnya itu sudah tiada.


Tentu Kennath tak langsung mempercayai berita itu. tapi tetap saja dadanya sakit seperti Sofa benar-benar telah meninggalkannya. Kennath melangkah mendekat kearah jenazah Sofa dengan langkah yang terburu-buru.


Mereka memberikan ruang untuk Kennath melihat Sofa untuk yang terakhir kalinya.


"Bohong" Ucap Kennath memangku wajah pucat Sofa.


"Sof, bangun Sof" Ucap Kennath menoel-noel pipi Sofa berharap Sofa akan bangun.


"Katanya lo pengen jalan-jalan hari ini, kalo mau jalan-jalan lo harus bangun" Ucap Kennath dengan air matanya yang tak dapat ia tahan.


Dingin! itu yang Kennath rasakan saat menyentuh tubuh kaku Sofa. nyatakah? apa ini nyata jika Sofa telah meninggalkannya pergi untuk selam-lamanya.


"Bangun Sof, jangan kayak gini" Kennath memeluk tubuh Sofa erat. ia masih tak percaya jika Sofa akan pergi secepat ini. rasanya ingin ia memutar waktu dimana ia meninggalkan Sofa.


Andai ia tak meninggalkan Sofa, andai tadi ia tak cemburu, andai tadi ia pergi jalan-jalan dengan Sofa pasti saat ini Sofa masih disampingnya dengan keadaan selamat.


Tapi andai, tinggal andai. semua sudah terjadi dan hanya meninggalkan penyesalan.


"Gue nyesel pergi tadi ninggallin lo Sof, gue mau denger lo ngejelasin tentang apa yang terjadi Sof. pliss gue mohon lo bangun" Isak Kennath, semuanya masih terdiam menyaksikan betapa terpukul dan kehilangannya Kennath akan sosok Sofa.


Najwa yang melihat Kennath rapuh pun mendekat. ia ikut memeluk Kennath yang masih setia memeluk tubuh Sofa yang dingin. hati Najwa ikut sakit melihat terpukulnya putranya saat kehilangan Sofa.


Kennath yang terkenal cuek dan akan bicara jika ia mau. saat ini tengah menangis dihadapan banyak orang.


"Ikhlasin Sofa pergi nak, kalo kamu kayak gini, susah di Sofanya nak" Ucap Najwa mengelus punggung Kennath.


"Sofa nggak mungkin pergi ma" Bantah Kennath, sulit rasanya mempercayai jika Sofa sudah pergi.


"Jangan kayak gini Ken" Ucap Najwa.


Derya ikut mendekat kearah Kennath.


"Kamu jangan lemah Ken, ikhlassin Sofa pergi" Ucap Derya, Kennath melepaskan pelukannya dan menatap Derya.


"Lemah?" Ucap Kennath menjeda ucapannya "Siapa yang nggak akan lemah kalo kehilangan seseorang yang berarti dihidupnya. coba papa ada diposisi Ken, apa papa nggak akan terpukul" Sambungnya yang tanpa sadar telah membentak Derya.


"Iya papa ngerti, tapi kamu harus ikhlas. ini udah takdir Ken" Ucap Derya.


"Seandainya tadi Ken nggak pergi ninggalin Sofa, pasti Sofa masih disini dengan keadaan hidup" Sesal Kennath, Aza maju mendekat kearah Kennath, Aza menepuk bahu Kennath membuat Kennath menatapnya.


"Sofa pasti nggak akan marah dengan sikap lo. walaupun gue nggak tau ada masalah apa diantara kalian. Sofa pasti sedih kalo ngeliat lo kayak gini, gue mohon ikhlasin Sofa pergi. gue yakin perlahan lo pasti bisa" Ucap Aza lembut, bagaimanapun kesedihannya ia tetap harus memberikan dukungan pada orang-orang. karna ia pernah merasakan bagaimana ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi.


Gavin mendekat dan memegang pundak Kennath.


"Yang dibilang sama Aza benar, lo harus ikhlasin Sofa pergi. gue percaya lo pasti bisa" Ucap Gavin, Kennath menghembuskan nafasnya berat. ia bangkit dan mengangkat tubuh Sofa.


Kennath dengan hati-hati merebahkan tubuh Sofa diatas alas yang sudah disiapkan.


"Aku bakal berusaha buat ikhlasin kamu pergi, walau aku tau itu mustahil tapi akan aku coba" Ucap Kennath dengan senyumnya, ia mencium kening Sofa lama dan menutupkan kain putih diwajah Sofa.


"Aza" Aza menoleh saat ada yang memanggilnya. dilihatnya Alletta yang datang dengan Haykal dibelakangnya.


Aza dapat melihat jika Alletta sedang menyembunyikan tangisnya. jika orang lain melihat Alletta biasa saja maka Aza bisa melihat hal yang Alletta sembunyikan.


Aza menghampiri Alletta dan langsung memeluknya. Haykal yang melihat Eline sedikit pucat langsung menghampirinya. Haykal memegang pinggang Eline saat Eline hampir saja terjatuh.


Eline terkejut dan menatap Haykal. mata keduanya bertemu membuat keheningan beberapa detik. Haykal sadar dan melepaskan pegangannya.


"Makasih" Ucap Eline, Haykal yang mendengar suara Eline pun hanya mampu mengangguk.


Aza melepaskan pelukannya dan menuntun Alletta untuk melihat Sofa yang terbujur kaku.


Alletta duduk tepat disamping jenazah Sofa. tangannya perlahan mulai membuka kain yang menutupi wajah Sofa.


Deg


Jantung Alletta berpacu dengan cepat saat melihat wajah Sofa. ingatan-ingatan saat Sofa sedang merengek melintar dipikirannya.


"Za, gue pengen ikut" Rengek Sofa memegang lengan Alletta. tingkahnya bak anak kecil yang minta dibelikan mainan membuat Alletta sedikit menggulum bibirnya.


"Ok" Sofa langsung memekik girang saat Alletta memperbolehkannya ikut untuk menyerang markas milik Albert.


Alletta menutupkan kembali kain itu dan menahan agar air matanya tak tumpah. Alletta melihat kearah Suryeon yang menatap kosong kearah jenazah Sofa.


Alletta bangkit dan mendekat kearah Suryeon.


"Tante" Panggil Alletta tapi tak membuat Suryeon mengalihkan pandangannya. perlahan Alletta memeluk tubuh Suryeon dan mengelus punggung Suryeon.


Suryeon hanya mampu menangis dipelukan Alletta. pelukan Alletta sama persis dengan pelukan sahabatnya Kiran. masa-masa sulitnya dulu ia lewati bersama Kiran.


Sekarang ia sangat rindu dengan sahabatnya itu. ia memikirkan bagaimana reaksi Kiran jika masih hidup mendengar kabar jika Sofa telah tiada. pasti Kiran akan sedih mengingat ia dekat dengan Sofa sedari kecil.


Alletta melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yang mengalir dipipi Suryeon.


"Tante kuat, Alletta tau itu" Ucap Alletta diangguki Suryeon.


...********...


Tubuh Sofa sudah dimakamkan di pemakaman khusus yang dimiliki oleh para sahabat Suryeon. banyak tamu yang sudah meninggalkan pemakaman meninggalkan orang tua Sofa, para sahabat orang tua Sofa dan tentunya Alletta dkk, Malvin dkk dan Devan, Refan, Gibran, Nathan dan bu Tata yang masih setia menunggu.


"Anak mama yang tenang ya disana, mama sayang sama kamu" Ucap Suryeon mengusap batu nisan yang bertuliskan 'Sofa Reece'.


"Anak kesayangan papa, papa insyaallah ikhlas kamu pergi" Ucap Vian.


"Kalian mau ikut pulang sekalian atau masih mau disini?" Tanya Ririn.


"Kita masih mau disini mom, mom dan semua pulang aja dulu" Jawab Azka diangguki Ririn. Ririn, Suryeon, Nanda, Febby, Reein, Najwa, Ulan dan Irene pun pergi diikuti suaminya masing-masing.


Keheningan menyelimuti area pemakaman. mereka semua masih terdiam dengan posisinya masing-masing.


Alletta maju dan memegang batu nisan Sofa. 'Gue minta maaf karna gue lo jadi kehilangan nyawa lo, tolong bilang gue harus apa? gue juga terpukul kehilangan lo. lo tenang aja gue bakal jagain orang tua lo, Kennath dan para sahabat yang lo sayangi. gue akan ngebalas perbuatan Albert berkali-kali lipat. sekali lagi gue minta maaf' Batin Alletta bangkit.


"Aku nggak tau mau ngomong apa, aku harap kamu tenang disana, aku sayang sama kamu" Ucap Kennath mencium batu nisan itu. ia bangkit dan berdiri disamping Alletta yang memegang payung. yang lain pun bergantian mengucapkan kalimat perpisahan.


"Saya nggak nyangka kalo Sofa akan pergi secepat ini" Ucap bu Tata, meski ia galak ia tetap menyanyangi murid-muridnya. terutama Alletta dkk yang selalu membuat ulah yang akan membuat kepalanya pusing.


"Umur nggak ada yang tau" Ucap Gibran menatap bu Tata.


"Iya pak" Ucap bu Tata.


"Kalo diluar nggak usah manggil 'Pak', lagian umur kita juga sama" Pinta Gibran.


"Iya pak eh G-gibran" Ucap Tata canggung. jujur sudah lama ia menyukai Gibran, tapi ia pendam karna ia tau tak mungkin jika Gibran akan menyukainya.


"Lagi berduka loh, jangan pdkt'an" Celetuk Aza membuat Gibran menyentil dahinya.


"Siapa yang lagi pdkt'an?" Tanya Gibran.


"Ya bang Gibran lah" Enteng Aza.


"Gue sama Tata itu hanya rekan kerja Za, nggak lebih" Bantah Gibran, hati Tata mencelos mendengar ucappan Gibran. tapi memang benar jika dirinya dan Gibran hanga sebatas rekan kerja.


"Iya Za, kamu itu seenaknya saja jodohin orang" Ucap bu Tata.


"Biarin" Ucap Aza mendekat kearah Gavin.


.


.


.


.


Hayy!


Jangan lupa Like, Komen dan Vote.😘


Jangan lupa juga follow ig author, karna author akan kasih pengumuman apapun tentang novel ini dan novel satunya di ig author. ig author @Alletta prin.🙏


Stay Healthy.


Happy Reading.