
"Hiss, si Alletta bolos kagak ngajak-ngajak" Dumel Aza sembari memasukkan peralatan belajarnya kedalam tas. bell pulang baru saja berbunyi, menandakan bahwa semua murid sudah boleh pulang.
Alletta sama sekali tak masuk disekolah hari ini, ia langsung cabut setelah bertemu dengan Malvin tadi.
"Eh Aza" Panggil Azka, Aza menoleh dan menaikkan satu alisnya, tapi dua-duanya yang naik.
"Apaan?" Tanya Aza sembari menggendong tasnya di bahu sebelah kanannya.
"Ngumpul dulu ada yang mau kita omongin" Jawab Azka menunjuk Malvin dkk.
"Kita apaan? elo kalik, enak aja ngajak-ngajak kita" Balas Arsha, Azka memelototkan matanya.
"Loh, kan kalian yang mau ngomong. kok jadi gue yang mau ngomong" Sewot Azka tak terima.
"Udah, jadi ngumpul nggak?" Tanya Aza yang sudah bosan dengan tingkah Azka dan Arsha.
"Jadi" Kompak keduanya.
"Cafe mentari" Ucap Aza, Azka dan Arsha tampak berpikir sebentar, tak lama mereka mengangguk.
"Ok, lo bawa mobil?" Tanya Azka, Aza menggelengkan kepalanya. Azka melirik Gavin berharap Gavin peka, tapi hasilnya tak sesuai ekspetasi. Gavin malah asik dengan handphonenya sendiri.
"Anak ngen" Dumel Azka pelan.
"Gue nebeng Eline" Ucappan Aza membuat Eline menoleh.
"Gue kagak ikut" Sahut Eline.
"Kenapa?"
"Mau ngemall, beli martabak" Jawab Eline ngasal.
"Enggak, enggak mau tau pokoknya lo ikut" Paksa Aza sembari menggandeng lengan Eline menuju parkiran.
"Eh eh" Kaget Eline saat Aza membawanya pergi.
"Udah, nurut aja napa si El" Seru Azka, Eline menoleh kebelakang dan menatap Azka tajam.
"Ngomong lagi, gue buang lo kepulau atlantis" Ancam Eline. Azka tak lagi bersuara dan mengekori Aza, diikuti yang lain.
...*****...
"Mau ngomong apa?" Tanya Aza saat pesanan mereka sampai dimeja. ia langsung mencomot frend fries miliknya.
"Jadi gini" Gantung Azka membuat Aza berdecak kesal.
"Langsung gitu loh, to the point. gue sibuk" Ucap Aza, Azka meneguk kasar salivanya. mengapa jadi ia yang dikambing hitamkan.
"Lo tau" Kini giliran Malvin yang menggantungkan ucapannya, membuat seluruh perhatian yang ada dimeja itu mengarah pada Malvin.
"Eh lo kutub, kalo ngomong jangan kayak Azka deh. sekalinya ngomong kok bikin orang naik darah" Dongkol Aza.
"Lo tau Alletta leader dari The Feniks Of Deadth?" Pertanyaan yang Malvin lontarkan membuat semuanya mati kutu. kentang goreng yang hendak masuk kedalam mulut Aza jatuh begitu saja mengenai seragamnya.
"H-hah?" Cengo Eline yang tak jadi meminum boba miliknya.
Stepanie diam mematung sembari menatap Malvin. ucappan yang barusan Malvin katakan benar-benar membuat meja yang dihuni oleh mereka mendadak hening.
"Hahaha" Tawa Aza canggung, tangan Aza beradu satu sama lain dengan tangan satunya, kebiasaan Aza jika gugup.
"Mati gue" Batin Aza dengan senyum canggungnya. "Jangan ampe salah jawab" Batinnya lagi.
"Otak mana otak? kemana otak gue yang pinter?" Pekik Aza didalam batinnya.
"Ngaco kali lo" Ucap Aza setelah beberapa saat hening melanda meja mereka. Aza refleks meminum minumannya untuk mengurangi kegugupannya.
Melihat gerak-gerik Aza membuat alis Malvin terangkat.
"Malvin nggak ngaco" Kali ini suara Gavin yang terdengar, Aza menatap Gavin. serius! Aza tak pernah melihat tatapan Gavin yang sekarang Gavin tunjukkan. Aza merasa asing dengan tatapan Gavin.
"Malvin ngaco" Bantah Aza, bagaimanapun caranya ia harus berhasil membuat teman-temannya percaya bahwa Alletta bukan leader dari FOD.
"Kok lo bisa segitu yakinnya, kalo Alletta bukan leader dari FOD?" Stepanie bersuara, Aza menatap tak percaya Stepanie. apa ini? mengapa semua orang seperti tidak suka jika Alletta adalah pemimpin dari The Feniks Of Deadth.
"G-gue kan kakaknya Alletta, jadi gue tau Alletta kayak apa orangnya" Jawab Aza.
"Tapi bukan kandung" Tepis Gavin, Aza menatap Gavin tajam. ia tak suka jika ada yang mencampuri urusannya.
"Alletta pembunuh" Suara Malvin mengalihkan perhatian Aza, Aza semakin tak bisa berkata-kata. apa maksudnya Malvin berbicara seperti itu?
"Satu tahun yang lalu, adik gue ikut balapan yang digelar oleh mafia terhebat, nomer satu, The FOD. dan dibalapan itu adik gue meninggal" Terang Stepanie, Aza memutar kembali ingatannya di kejadian satu tahun yang lalu. Aza mengingat-ingat baik-baik tentang balapan satu tahun yang lalu. yang merenggut 5 nyawa sekaligus.
Tapi itu bukan murni salah FOD, ini semua karna ulah si Marco sialan itu, yang mengkhianati FOD.
"Andai kalo The FOD nggak pernah ngadain balapan itu. mungkin adik gue sekarang masih ada" Ucap Stepanie dengan menggebu-gebu, dapat Aza baca raut benci, amarah dan dendam yang menjadi satu dimata Stepanie.
"Apa hak lo ngomong kayak gitu?" Tanya Aza dengan satu air mata yang lolos "Jika pun FOD nggak mengadakan balapan yang merenggut nyawa adek lo, adek lo juga tetep bakal meninggal! Karna apa? karna adek lo hanya diberi umur segitu, dimana ia dinyatakan meninggal" Lanjutnya dengan air mata yang berjatuhan.
"Gue nggak bisa bilang FOD nggak sepenuhnya salah, tapi apa lo pernah denger? pernah ngeliat dengan mata kepala lo sendiri kalo The FOD yang udah ngebunuh adeklo" Ucap Aza dengan amarahnya. biarlah teman-temannya ini membencinya, ia tak perduli!.
"Lo tau apa tentang hal ini Za? lo nggak tau apa-apa" Sentak Stepanie tak terima. ia berdiri memandang Aza dengan pandangan amarah.
"GUE BAHKAN LEBIH TAHU HAL INI DARIPADA LO!!!" Balas Aza ikut berdiri. Eline yang melihat itu refleks berdiri dengan badan yang sedikit bergetar. walaupun ia tak tau apa-apa tentang hal ini, ia percaya jika Alletta tak mungkin membunuh adek Stepanie.
"K-kalian jangan kayak gini. kita bicarain baik-baik dulu ok" Ucap Eline mencoba menenangkan kedua temannya yang tengah dirundung amarah masing-masing.
"Bicarain baik-baik gimana Line? nggak ada yang perlu dibicarain, emang Alletta itu pembunuh. bukannya ia ketua mafia? bunuh orang juga udah jadi aktivitas setiap hari" Ucap Stepanie, sedetik kemudian tangan halus mendarat tepat dipipinya.
Ya! Aza dengan amarahnya menampar Stepanie keras sampai ia terhuyung kebelakang, untung ada Malvin yang sigap menangkap tubuhnya.
Azka, Gavin, Arsha dan Kennath sontak berdiri melihat Aza dan Stepanie bergantian. Eline yang berada disamping Aza menangis.
"Pliss Za hikss" Lirih Eline, ia hendak memegang lengan Aza tapi Aza buru menepisnya.
"Lo!" Tunjuk Aza kepada Stepanie. "Lo siapa seenak jidat ngomong gitu buat adek gue Hah!" Sentak Aza.
"Pembunuh?" Aza menyeringai "Kalo adek gue lo bilang pembunuh, apa kabar sepupu lo yang juga ketua mafia?" Tanya Aza menusuk.
"Lo juga, bukannya lo ngikut sama sepupu lo itu? jadi lo nggak ada bedanya bukan dengan pembunuh yang lo sebut" Ucap Aza dengan tawanya.
"Aza" Panggil Gavin yang tak menyangka dengan sikap Aza.
"Diem lo anj*ng, gue nggak butuh lo ngomong" Potong Aza saat melihat Gavin yang hendak berbicara.
"Persetan dengan pertemanan kita, kalo lo masih ngejudge adek gue pembunuh, jangan harap gue masih sudi nyapa lo, jangankan nyapa, liat muka lo aja gue muak!!!" Selepas mengatakan itu Aza pergi meninggalkan cafe itu. ia memberhentikan taxi dan segera pergi dari sana.
Mereka yang masih ada disana hanya mematung, mereka sama-sama tak percaya jika Aza bisa semarah itu. sedangkan Eline dan Kennath menyusul Aza meskipun mereka tak bisa mengejar jejak Aza.
.
.
.
Jangan lupa like, komen dan vote.
Stay healthy.
Happy reading.