Mafia Girls

Mafia Girls
EPS 80



Satu minggu telah berlalu dari kejadian yang begitu menggemparkan mereka dari kalangan atas khususnya para pengusaha yang berada di Jerman. Nama Ruby kembali membaik secara beruntun setelah sekian lama nama baiknya tercemar akan fitnah kejam dari saudara tirinya.


Keluarga Ruby yang berada di Irlandia mengcancel keberangkatan mereka minggu lalu karena beberapa pekerjaan yang begitu mendadak yang harus benar-benar mereka tangani dan itu pun tanpa sepengetahuan Ruby akan rencana yang telah mereka susun.


David bersorak ria akan itu, dari awal dirinya mendoakan Jakson serta yang lain nya semoga tidak jadi mengunjungi Ruby. Ya, dia tidak bisa ikut waktu itu karena kerjaan yang begitu menumpuk, baik di perusahaan nya ataupun di Mafia nya, sampai-sampai David meminta kepada Edward untuk mencarikan asisten untuk dirinya di Irlandia karena David tidak menemukan orang yang cocok bekerja dengan dirinya.


David menginginkan asisten yang tau bagaimana mengatur dan membantu pekerjaan David bukan hanya di dalam perusahaan tapi juga di dalam Mafianya. Tidak lama dari rengekan David, Edward mengirim seseorang yang begitu dia percaya dan pasti juga bisa membantu mengurus semuanya.


" Zen, jaga kepercayaan ku ! ingatlah di sana tidak seperti hal nya di sini, aku tidak perlu memberitahumu karena nanti juga kau akan tahu sendiri !". Tutur Edward kepada Zen dengan sebuah koper yang berada di sisinya siap untuk berangkat.


Ya, Edward sengaja memilih Zen untuk pergi ke Irlandia guna membantu adiknya di sana. Edward tahu siapa dan darimana Zen berasal, pemuda tampan keturunan India-Jerman itu memilih untuk bergabung dengan organisasi mafia karena ketertarikan nya dan juga kekaguman nya kepada Edward.


Zen berasal dari salah satu pengusaha ter masyhur di negara India dan juga Jerman, tapi entahlah dia sama sekali tidak berminat meneruskan bisnis milik keluarga nya karena memang dia tidak menginginkan perebutan posisi di sana, Zen mengalah untuk saudaranya tapi bukan berarti dia tidak berkeinginan untuk menjadi seorang pengusaha.


Zen bertemu dengan Edward secara kebetulan di supermarket tempat biasa Edward belanja bahan masakan, Zen membantu membawakan belanjaan Edward untuk membalas kesalahan nya karena sudah tidak sengaja menabrak nya, mereka berdua mengobrol layaknya orang yang sudah saling mengenal satu sama lain dan an pada saat itulah Zen bekerja bersama Edward.


Awalnya Zen begitu terkejut dengan apa yang di lihat dan di dengarnya, sebuah koper telah siap di samping nya, karena pada awal dia bekerja dengan Edward dan itu membuat nya berpikir jika dia membuat kesalahan fatal sehingga di kirim ke Irlandia.


" Maaf tuan, apa saya sudah melakukan kesalahan ?". Tanya Zen dengan ekspresi sedih nya.


" Tidak ada Zen, kau tidak melakukan kesalahan apapun ". Sahut Edward.


" Berangkatlah, hati-hati selama perjalanan mu ! nanti akan ada yang menjemput mu di bandara !". Seru Edward dibalas acungan jempol dari Zen yang sedari tadi mengulas senyumnya karena kebawelan Edward.


" Siap tuanku yang aku cintai dan aku hormati hahahaha ". Ujar Zen menjauh dari hadapan Edward, tangan melambai dengan berjalan mundur sedikit cepat.


" Dasar kau !". Cebik Edward aneh dengan tingkah Zen yang mempunyai sikap yang sedikit berbeda dengan yang selama ini dekat dengan Edward.


**


" Al, apa kau tahu dengan keberadaan Agatha sekarang ? dia langsung hilang begitu saja ". Ucap Revin penasaran. Luis dan juga Nameera menghentikan aktivitas nya karena mendengar pertanyaan dari Revin yang begitu tiba-tiba. Di sana Ruby sedang duduk bersila di atas sofa ruang tamu dengan serius mengotak-atik ponsel nya, Ruby tidak menjawab pertanyaan kakak nya seperti tengah mengabaikan.


Revan dan juga Ronald pergi bekerja, Edward pun sama sedang mengunjungi anak perusahaan cabang Lucifer dan juga perusahaan Abraham yang berada di Jerman.


Ruby berdiri tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dan pergi meninggalkan Revin yang menjadi kesal karena menunggu jawaban dari pertanyaan nya sedari tadi, sedangkan kedua orang tuanya hanya diam dan mengikuti arah kepergian Ruby dengan penglihatan mereka


" Ada apa dengan nya Vin ?". Tanya Nameera kepada Revin dan di respon dengan kedua bahu Revin yang terangkat.


" Dad, kenapa kau tidak berangkat bekerja ? apa selama satu minggu ini di perusahaan sedang tidak banyak pekerjaan ? ". Tanya Revin sedikit dengan nada menyindir kepada Luis.


Selama satu minggu ini Luis dan juga Nameera masih berusaha menebus kesalahan nya kepada Ruby, tapi entah terbuat dari apa hati anak perempuan nya itu sampai dia sama sekali susah untuk memaafkan kedua orang tuanya,


" Yak dasar anak nakal ! Tidak lihat kah daddy yang sudah tua ini ? seharusnya sekarang Revan dan juga kamu yang bertanggung jawab dengan bisnis keluarga kita, Daddy pensiun saja ! Dan apa-apaan, Revan malah bekerja di perusahaan orang lain, kamu urus perusahaan induk saja jangan terus saja berada di cabang perusahaan, Daddy heran dengan kalian ini ! ". Ujar Luis.


Dia dan juga Nameera sama sekali tidak tahu Revan bekerja di mana dan mereka pun tidak mencari lebih dalam tempat Revan bekerja, kalaupun tahu mungkin dia bukan nya geram tapi malah bersorak ria apalagi perusahaan itu milik anak bungsunya mungkin dia akan semakin girang.


" Dih kenapa daddy jadi curhat ". Delik Revin bercanda menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan nya.


" Yaakk ". Luis menjewer telinga Revin sampai telinganya berubah memerah.


" Mommy lihatlah daddy kejam sekali ". Adu Revin sengaja karena daddy nya akan kalah dengan sang mommy. Nameera melotot melihat anak nya di jewer oleh Luis, Luis yang melihat itu langsung melepaskan tangan nya dengan memperlihatkan deretan gigi rapihnya.


**


" Lepaskan kalian ini siapa hah ?! ". Bentak Agatha kepada anak buah Ruby.


" Bisa diam ? kau berisik sekali !". Ujar seseorang yang baru saja tiba.


" Alex lepasin aku ! kamu mau apa hah ? ". Teriak Agatha dengan suara yang begitu tidak menyerak.


" Kenapa aku harus lepasin kamu kaka ku tercinta ?". Seru Ruby keluar dari balik tubuh Alex, karena tubuh Ruby yang begitu mungil sampai-sampai Tubuh Alex bisa menutupi tubuhnya.


Senyum smirk terulas dari sudut bibir Ruby. " Ada apa dengan wajahmu kaka ?". Tanya Ruby pura-pura tidak tahu.


Bagaimana tidak memar, wajahnya terus saja mendapat pukulan dari setiap anggota mafia yang berada di sana atas izin Ruby. Untuk nya, itu hanyalah hukuman ringan yang dia berikan sekaligus sebagai pelajaran bagaimana mengatur emosinya.


" Tch cih jangan pura-pura polos kau ! dasar munafik ". Caci Agatha benar-benar kesal terlihat dari pancaran matanya.


" Ckckckck munafik ? apa itu aku ? ". Tunjuk Ruby kepada dirinya sendiri dam geli dengan ucapan Agatha. " Apa itu tidak salah ? bukan aku yang munafik tapi kau !". Tekan Ruby dengan jelasnya.