
Ruby dan kedua teman nya masih berada di dalam kafe menikmati siang nya.
" By, kamu bener pacar nya ka Ed ? sejak kapan ? kamu mah gitu lupa sama temen, kita ngira kamj udah ngga mau lagi temenan sama aku dam juga Reina ! kamu tahu kita sedih kalau kamu benar-benar menjauhi kita ". Ucap Meili, matanya sudah berkabut pertanda akan keluar air mata dari matanya.
" dihh baperan, engga lah Mei aku ngga akan gitu sama kalian berdua ! maaf jika aku bersikap dingin pada kalian ". Tutur Ruby memegang kedua tangan sahabatnya itu.
" Aaa kita sayang sama kamu By ". Reina dan Meili memeluk Ruby bersamaan.
" Sudah-sudah malu dilihat orang ". Ucap Ruby membuat mereka mendengus kesal dan mengedarkan tatapan nya, benar saja semua yang ada di sana melihat mereka seakan menjadi pusat perhatian.
" Sudah mau sore, aku harus pulang ". Ruby melihat jam tangan yang melingkar di tangan nya.
" Lah, ini masih siang By ! noh langit masih cerah ". Ucap Reina, mulutnya menunjuk keluar.
" Iya By, kamu juga belum cerita kapan jadian sama ka Edward, kita penasaran !". Seru Meili sangat antusias dengan hubungan Ruby dan juga Edward.
" Gimana kalau kalian nginap di rumah ku, ide bagus kan ? udah lama juga kita tidak tidur bareng dan gadang bareng ". Saran Ruby. Terakhir mereka bersama itu berapa tahun yang lalu saat sebelum perpisahan sekolah menengah pertama.
" ok setuju, aku izin dulu sama mommy di rumah ". Reina langsung berselancar pada handphone nya.
" Aku juga ". Meili pun langsung menghubungi orang rumah.
***
Agatha termenung sendu di kamarnya, dirinya seperti berada di dalam kastil yang hanya di huni oleh dirinya sendiri, tak ada suara dan tawa di sana.
Setelah terakhir Edward datang tidak ada lagi yang mengunjungi dirinya termasuk Ruby, tapi Agatha selalu melihat Alex dan orang berbeda memberi makan untuk dirinya, setiap hari akan orang yang sama masuk ke dalam kamarnya lalu di kunci kembali seperti sudah memiliki jadwal nya masing-masing.
Terkadang Agatha memilih untuk mengakhiri dirinya tapi tak kunjung sukses karena Alex atau pun yang lain nya selalu datang di waktu yang tepat, tidak ada celah untuk dirinya berbuat macam-macam. Agatha benar-benar seperti tahanan saat ini, di sela keterdiamannya, Agatha mengingat Mommy and Daddy nya siapa lagi kalau bukan Luis dan juga Nameera.
Ketika teringat mereka kedua matanya tidak sanggup menahan air mata yang dengan semangat keluar dari matanya. Beberapa ingatan mereka membuat nya tercampur penyesalan.
" Maaf, maafkan aku ". Lirih Agatha di sela tangisnya, Agatha ingin mengucapkan itu langsung terutama kepada Ruby tapi egonya terlalu besar hingga dirinya kalah oleh Ego itu sendiri.
Cekleekk, pintu kamar terbuka lebar memperlihatkan Alex berjalan menghampirinya dengan makanan di nampan yang di bawanya.
Agatha menghapus sisa air mata yang masih membasahi sudut matanya dengan cepat.
" Makan lah ". Suara Alex melembut setiap hari nya, dia berusaha membujuk Agatha untuk makan karena peringatan Ruby selaku terngiang di telinganya.
Agatha tak mengindahkan nya, kurus kering itulah keadaan Agatha sekarang, selera makan nya seolah hilang.
" Agatha ". Alex terus berusaha membujuk Agatha agar dirinya mau makan.
Alex bingung harus bagaimana menghadapi Agatha, jika harus memilih, Alex lebih memilih untuk menyiksa Agatha seperti sebelumnya saat King mereka memerintahkan untuk membuatnya tersiksa dari harus seperti ini dan mungkin Alex tidak memiliki kemampuan untuk membujuk seorang wanita.
Alex terus memutar otak nya agar Agatha nurut apa yang Alex perintahkan.
" Ruby menyuruhku mengantar makan ini, apa benar kau tidak mau makan tha?". Entah kenapa Alex memiliki ide seperti ini, bagaimana jika Agatha marah karena Alex menyebut nama Ruby di hadapan nya tapi itu salah, dugaan nya benar-benar tidak tepat. Agatha langsung meraih piring yang masih berada di atas nampan dan langsung memakan nya, Alex tertohok tidak percaya jika ini berhasil, matanya tiba-tiba melotot bagaimana reaksi dari Agatha yang alex kira dia akan marah.
" Apa dia sehat ?". Batin Alex masih memperhatikan Agatha yang lahap dengan makan nya. Alex menangkap ada segurat rasa sedih di matanya sesekali kening nya mengerut. " Apa dia sedang menyesali perbuatan nya ?". Alex terus bergelut dengan pikiran nya sendiri tanpa mengalihkan tatapan nya.
******
Di perusahaan yang menjulang tinggi tepatnya di dalam kantor Revan, terlihat dua insan yang saling melempar ketidak sukaan nya, siapa lagi kalau bukan Jasmine dan juga Ronald.
" Dasar pria dingin melebihi es di antartika, ceehhh pantas saja kau belum memiliki kekasih, kelakuan mu saja kaya gini mana ada wanita yang tertarik kepadamu ". Jasmine terus mengumpat tidak ada takut-takutnya.
" yaaak nenek lampir, nenek centil apa kau bilang ? belum punya pacar ? haaah nyadar diri sebelum ngatain orang, kaya yang udah punya aja ". Balas Ronald, Ronald memang terkesan dingin oleh orang diluar sana tapi tidak jika sudah mengenal nya lebih jauh, ya seperti sekarang ini. Ronald bahkan tidak tanggung-tanggung memaki Jasmine tapi itu hanya candanya saja.
Jasmine William yang ditugaskan untuk menjadi sekretaris Revan di saat awal Revan menjabat di sana.
Usia Jasmine dan juga Ronald seumuran, Jasmine sudah lebih dulu bekerja di perusahaan ini dan tidak selang beberapa hari, Ronald pun ikut bergabung dan menjadi patner kerja.
" Saling suka tahu rasa kalian". Ucap Revan selesai dengan kerjaan nya.
" diihh amit-amit ". Delik Jasmine.
" yey siapa juga yang mau sama nenek rempong kaya kau !". Balasnya menyakitkan.
Revan tersenyum geli menyaksikan dua sejoli sedang melempar kata-kata umpatan dan juga makian.
" oke, kalian tetap seperti itu, gue pulang duluan Bye ". Revan meninggalkan mereka berdua yang saling menatap tajam tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. " Nald benar kau tidak akan pulang !". Seru Revan memperlihatkan kepalanya saja.
Ronald langsung berlalu dari sana begitupun Jasmine yang mulut nya masih saja tidak diam sembari kaki yang tidak henti-hentinya ia hentakkan.
Irlandia tepat nya di dalam markas mafia pusat Red Pbeonix
" Kak, kapan rencananya mereka akan bergabung dengan kita ? takutnya jika di tunda akan menghambat semuanya, kan enak jika mereka sudah berada di posisi masing-masing kasihan juga divisi itu belum ada ketuanya". Tutur David.
" Entahlah, kaka tidak tahu ! nanti kaka bicarakan lagi dengan Ruby, untuk masalah ini tidak enak jika bicara melalui telpon ". Ujar nya.
" baiklah ! oh ia kapan kau akan ke Jerman lagi ka ? apa urusan perusahaan mu sudah selesai ?". Obrolan mereka terus berlangsung sampai tidak terasa sudah beberapa jam mereka duduk berdua di sana.