LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 9 Berbohong dan Juga Jujur



“Hei, bangun! Sudah waktunya pulang.” Ucap Donna menepuk-nepuk pelan punggung Zivi membangunkannya.


Setelah jam istirahat siang tadi, Zivi segera membereskan pekerjaannya yang urgen dan minta ijin temannya untuk tidur dimeja kerjanya. Sekalian minta tolong di bangunkan jika pak bos tiba-tiba datang menengok.


Ia tidur jam 3 dan sekarang sudah jam 4:30. Jam pulang kerja. itu artinya ia tidur selama 1 setengah jam.


“Seharusnya kamu tidak usah masuk. Pakai waktu cutimu pernikahanmu untuk istirahat. Pasti semalam kamu kelelahan.” Dona mengomentari Zivi yang sedang meregangkan tangan dan otot lehernya agar segera bangun sepenuhnya.


“Hmmmm, aku Cuma mengatuk saja, semalam tidurku kurang nyenyak.” Terang Zivi jujur, namun tanpa sadar membuat Dona dan juga mbak Rena yang mendengar berpikiran yang lain.


Zivi kurang nyenyak tidurnya semalam, karena ia tidur disofa kamar dan pastinya harus tidur lurus dan tidak bebas bergerak karena takut jatuh. Ditambah dengan kepikiran akan perkataan Eibi yang ia dengarkan.


Namun dalam benak Donna dan Mbak Rena berbeda. Mereka mengira ia kurang nyenyak tidurnya karena ia habis menikmati malam pengantinnya.


“Aku pernah mengalaminya Zivi, memang perlu istirahat. Karena badan kita pasti terasa sakit apalagi itu setelah melakukannya. Sebaiknya kamu jangan masuk kantor dulu.” Saran Mbak Rena.


“Iya, Vi. Lagian kerjaanmu bisa ku handle. Kitakan dapat cuti menikah 3 hari dari kantor. Karena hari ini kamu terlanjur masuk, besok sama lusa jangan deh. Dirumah saja.” Sambung Donna memberi anjuran perhatian pada Zivi.


“Baiklah. Besok aku tidak masuk.” Jawab Zivi. dalam benaknya berencana untuk menemui keluarganya saja besok sekalian jalan-jalan dan mengantar mereka ke bandara pulang ke kota kelahirannya, kota asal keluarganya.


Sore itu setelah berpisah dari teman-teman kerjanya, ia langsung menuju ke motel tempat keluarganya bermalam selama mereka ada disana menggunakan ojek online.


“Lho, kok pengantin baru kok kesini?” tanya nenek saat melihatnya.


“iya, kangen.” Sahut Zivi sambil memeluk neneknya. “Kakak sama kakak ipar mana?” tanyanya.


“Mereka jalan-jalan lagi berdua.” Jawab nenek.


“Nenek tidak ikut?”


“Nenek capek. Jadi nenek pilih diam di motel saja.” Jawab neneknya jujur. Neneknya sudah tua jadi memang tidak bisa diajak seharian jalan-jalan.


“Ya sudah Zivi temani nenek. Zivi pesan makan ya. Kita makan malam bersama.” Ucap Zivi sambil mengeluarkan ponselnya untuk mencari menu yang sesuai dengan selera neneknya.


Sebelum memesan, tak lupa Zivi menanyakan dahulu neneknya jika diam au atau tidak. Neneknya memilih masakan khas indo. Sambil menunggu makanan datang, Zivi ngobrol dengan neneknya.


“Nek, waktu nenek menikah, apakah nenek mencintai kakek?”


“Tentu saja nenek mencintai kakekmu. Demikian juga kakekmu.” Jawab neneknya.


“Kalau mama sama papa bagaimana?”


“Sama. Nenek juga tidak akan membiarkan mama dan papamu menikah jika bukan karena mereka saling mencintai.” Terang nenek.


“Nenek bahkan sampai menguji papamu jika dia benar-benar mencintai mamamu atau tidak.” sambungnya.


“Oya? Bagaimana mengujinya?”


“Gampang! Nenek hanya perlu mengatakan jika mamamu akan dijodohkan dengan orang lain. Jika papamu benar mencitai mamamu, maka dia harus bisa menggarap sawah nenek yang satu hektar!”


“lho, bukannya papa kerjanya kantoran, bagaimana kerjaan papa saat nenek kasih ujian seperti itu?”


“Ya, itu urusan papamu. Nenek hanya perlu memberi tahu apa yang harus dilakukan untuk bisa menikahi mamamu. Jika tidak bisa, maka dia harus mundur.”


“Nenek tega sekali!” protes Zivi. “Andaikan papa menyerah, kasihan mama.”


“Tapi buktinya papamu tidak menyerah begitu saja. Dia mengatakan pada nenek akan mengusahakan yang terbaik. Dan nenek percaya, jika dia cinta sejati mamamu, dia tidak akan mundur. Dan itu terbukti.” Zivi terharu mendengar kisah cinta orangtuanya yang sangat berlawanan dengan dirinya.


“Lho, kamu kenapa menangis?”


“Tidak kenapa-napa nek.”


“…”


Tuing


Ponsel Zivi berbunyi pertanda makanannya telah tiba.


“Nek, makanannya datang. Zivi ambil dulu ya.” Zivi beranjak keluar mengambil makanan.


‘selamat. Jangan sampai nenek menanyakan tentang pernikahanku dengan Eibi.’


………


Tak terasa sudah jam 8 malam. Mereka sudah banyak bercerita, lebih tepatnya Zivi memberi rentetan pertanyaan pada neneknya untuk dijawab, tanpa memberinya cela untuk bertanya masalah pernikahannya.


Dan akhirnya tidak ada lagi pertanyaan untuk ditanyakan.


Diam agak lama.


“Vi, saat kamu memberitahu nenek bahwa kamu akan menikah dengan sangat tiba-tiba, nenek sangat kaget. Dan nenek pernah bertanya, apakah kamu mencintainya? Kamu menjawab iya.” Nenek berkata-kata sambil mengingat kembali saat Zivi tiba-tiba menelpon memberitahunya soal pernikahan.


“Apakah Eibi mencintaimu? Apakah kalian saling mencintai?” tanya neneknya.


Jujur nenek ragu akan pernikahan Zivi. Zivi bukanlah anak yang mudah menjalin hubungan dengan lawan jenis. Bahkan semasa sekolah hingga kuliah, ia tidak pernah membawa teman laki-laki kerumah atau menyebutkan teman laki-laki dihadapannya.


Tiba-tiba telpon dan memberi tahu neneknya akan menikah.


“Atau kalian hilaf hingga melakukan yang seharusnya tidak?” tanya neneknya beruntutan.


Dug!


Zivi dengan cepat menyembunyikan perasaan syoknya mendengar pertanyaan nenek yang ketiga. Seakan nenek tahu hingga dalam akan dirinya. Ya, meski hanya sebatas jebakan.


“Kami saling mencintai nek. Kami menikah karena saling mencintai.” Terang Zivi berbohong “dan kami tidak melakukan seperti yang nenek curigakan pada kami.” Tambahnya, jujur.


Andai ia tidak mendengar percakapan Eibi semalam, mungkin ia mengira ia melakukannya. Untungnya ia mendengar, jadi ia tidak sepenuhnya berbohong pada neneknya.


Tak terasa waktu sudah jam 9:30 dan kakaknya serta kakak ipar tiba.


Zivi mengobrol sebentar dengan mereka, menghentikan obrolannya bersama nenek. Sekalian minta motornya pada kakaknya untuk dibawa pulang. Dan memberitahu kakaknya bahwa besok ia akan berkunjung lagi.


Saat pulang, Zivi tiba di rumah dan masuk kamar. Ia melihat Eibi belum pulang. Sudah jam 9:45.


Zivi tidak memedulikannya, ia memilih membersihkan diri, dan mengatur tempat tidurnya disofa kamar.


Ia menghela nafas dan mendaratkan pantatnya ke sofa yang sudah ia lapisi dengan separuh selimut tebal, dan separuhnya lagi keatas sandaran sofa. Nanti saat berbaring, separuh selimut itu yang akan ia Tarik untuk menutup tubuhnya.


Zivi melihat ranjang king sizenya sudah bersih tanpa hiasan untuk malam pengantin lagi. ‘mungkin Eibi meminta pelayan untuk membereskannya.’ Batinnya.


Zivipun membaringkan tubuhnya yang lelah, dan tak lama, ia terlelap.