
Ingin Eibi menerobos masuk mengikuti Zivi. Namun kost tempat Zivi tinggal sepertinya adalah kost khusus putri yang tertutup. Ia melihat-lihat mencari serta memikirkan caranya masuk, namun tidak ada cela untuk masuk. Para gadis masih kian kemari tidak memberinya cela untuk lewat tanpa ketahuan.
“Besok cari tahu tentang kost putri di jalan XXXXX.” Pintanya Alden. Ia memutuskan untuk pulang dan kembali lagi besok. Sudah cukup lega menemukan tempat tinggal Zivi.
Eibi segera pulang untuk mengecek urusan besok bersama dengan pihak yang sedang ingin melepas salah satu hotelnya di pulau.
****
Sekitar jam 10 Zivi mengantar pengunjung ke salah satu hotel yang sudah dibooking. Ia harus menggantikan temannya yang sedang ujian skripsi. Ia ditemani salah satu anak baru yang direkrut, yaitu Galuh. Sekalian untuk memberikannya contoh dalam menyambut pengunjung. Seharusnya tidak perlu lagi bagi Zivi, tapi aturan kantor mengharuskan bagi yang baru masuk. Hanya sebagai gambaran sedikit.
Ia berjalan santai bersama Galuh dari dalam Gedung hotel ketika ia sekilas melihat 2 orang berjas hitam yang berjalan kearahnya. Hal itu mengingatkannya pada Eibi jika berpakaian formal seperti itu.
Entah mengapa, ia ingin melihat siapa mereka. Berharap ia melihat Eibi?
Zivi mengangkat sedikit pandangannya dan melihat …
‘Eibi!’ terkejut, benarkah itu Eibi?
Benar! Dia sudang pulang. Kapan? Bertanya dalam hatinya.
Berharap Eibi melihat kearahnya, namun tidak seperti harapannya. Eibi terlihat serius berjalan sambil berbicara dengan orang disebelahnya.
Tap! Tak disangka Eibi menangkap pandangannya dengan datar. Memenuhi harapannya, namun terlihat Eibi yang biasanya saja.
Seperti menelan pil pahit, Zivi menelan ludahnya karena syok. Eibi melihatnya, namun berbeda. Tatapan asing yang menyelidik dan tawar. Zivi kikuk dan risih.
Jika Eibi senang, dengan penampilannya yang tergolong baik harusnya tidak seperti itu. Ia mengenakan kemeja putih tulang yang kasual berlengan panjang, rambut yang kuncir kuda dengan celana panjang cream serta sneaker yang sudah dipadukan satu dengan yang lainnya.
Karena ia kerja lapangan hari ini, ia memakai yang sedikit kasual, namun elegan. Penampilan di depan pengunjung juga adalah hal yang sangat perlu diperhatikan. Hampir semua rekan kantor yang bertemu dengannya hari ini memujinya, terpesona. Namun ini? bukankah harusnya…
Zivi segera menghempaskan pikiran yang mulai mengada-ngada. Apa yang ia harapkan. Segera mengubah raut muka dan menjadi biasa seperti tatapannya yang tawar. Untuk menghadapinya, bukankah harus memberinya hal yang sama?
“Ayo, kita harus segera. Aku barusan mendapat telfon untuk segera ke bandara lagi.” Galuh menarik tangannya.
Terkejut ditarik, Zivi mengalihkan pandangannya dari Eibi dan mengikuti Galuh.
Sedangkan yang merasa di abaikan, geram dalam hati. Ia menunggu laporan dari Alden tentang kost itu. tunggu saja.
'cincin. Zivi melepaskannya? Ia mengembalikan gelangnya dan melepaskan cincinnya! Jadi, memang ia sudah merencanakannya dari awal!" kesal. Tanpa sengaja ia melihat jari manis polos Zivi yang ditarik teman prianya.
Eibi tidak bisa tidak, mengingat malam itu, malam yang hangat baginya. Ia bisa dengan terbuka menunjukkan perasaannya dan Zivi menerima tanpa penolakan sama sekali.
Jika tidak ada berita buruk yang terjadi saat itu, apakah akan ada kemungkinan Zivi melakukan rencananya? Mungkin tidak! Karena tidak akan ada kesempatan itu ia berikan.
Meski ke distrak oleh Eibi dalam pikirannya, Zivi tetap mengusahakan dirinya fokus dalam bekerja. Tidak bisa tidak. Ia harus profesional bukan? Jangan sampai pelanggan komplain atau memberikan penilaian buruk.
Tidak dipungkiri, saat free sedikit, tidak bisa tidak ia berpikir. Eibi tidak menelponnya. Saat melihatnya, tatapannya datar. Eibi memang tidak pernah serius dengannya. Seperti semula, ia hanyalah alatnya. Ucapan wanita benar.
Dengan pemikiran ini, ia pun merencanakan untuk menghubungi Eibi nanti stelah pulang kerja untuk perpisahan mereka. lebih cepat lebih baik.
Ia juga memikirkan tentang telfon Alden beberapa hari lalu. Mungkinkah itu tujuannya untuk memberitahu kepulangan Eibi. Ahhh, andai ia tidak segera memutuskan telponnya, mungkin ia sudah bertemu Eibi dan mengurus perpisahan mereka. Pikirannya berlebihan, ia mengira Alden ingin tanya tentang tempat tinggalnya.
Menit demi menit berlalu, udara sejuk serta langit sudah menunjukkan bahwa sudah sore hari dan jam juga menunjukkan sudah saatnya pulang kerja.
Zivi menolak dengan sopan untuk diantar Donna pulang. Setelah Donna menghilang, ia mulai melangkahkan kakinya berjalan menyusuri trotoar yang akan membawanya ke tempat kostnya yang tidak jauh. Sebelum masuk gang yang menuju kostnya, ia mampir ke alfa untuk membeli minuman dingin. Entahlah, ia merasa haus dan ingin minum yang dingin.
Duduk sebentar disana sambil menikmati minumannya. Tidak ada yang ia pikirkan. Berpikir pun, hanya itu yang bisa ia pikirkan. Eibi dan perpisahan.
Setelah matahari sudah terbenam, baru ia memutuskan untuk pulang.
Glek, ia membuka pintu dan masuk. Namun saat hendak mendorong menutup pintu, ada yang menahannya.
“…” terkejut dan mematung. Matanya melebar, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Setelah tangannya sakit dicengkeram, baru ia sadar dari keterkejutannya.
Eibi mencengkramnya kuat, dan otomatis Zivi memberontak ingin melepaskan tangannya. Ia melemparkan tasnya dan ingin melepaskan tangan Eibi yang mencengkeramnya.
Eibi menguatkan cengkramannya dan menutup pintunya. Lock! Otomatis pintu terkunci.
“Lepaskan!” Tegas Zivi. Ia sudah berencana menghubunginya, malah ia dijumpai duluan dengan sikap seperti ini. “Jika tidak, saya teriak!” Ancamnya kesal.
“A…” sebelum sempat teriakannya keluar, Eibi membungkamnya tanpa ampun. Dengan kasar dan kuat bibirnya menyesap bibirnya membuatnya tercegat dan syok namun hanya sesaat. Tangannya bertindak untuk mendorongnya, namun Eibi sama sekali tak bergeming malah dirinya terus didorong berjalan mundur.
Bruk! Terjatuh ditempat tidur dengan Eibi diatasnya.
Eibi yang awalnya tidak ada niat sejauh ini jadi semakin menjadi. Amarah atau rindu yang ia luapkan, bercampur aduk. Sekalipun ia berkata ‘melepaskan’ namun hati dan tindakannya sekarang berkata lain.
‘tidak akan ku lepaskan.’ Batinnya. Tangannya dengan kuat menahan kedua tangan Zivi di masing-masing sisi dan menyesap apa yang bisa ia sesap membuat yang ia sesap tidak bisa tidak mengucurkan air mata.
Hingga saat tangannya merasakan sesuatu pada pergelangannya gadis itu, baru ia terhenti. Detak jantung dan tindakannya berhenti.
Gelang itu, Zivi memakainya. Ia mengangkat tangan Zivi dan memastikan. Benar!
Ia mengalihkan pandangannya pada Zivi menangis tak bergeming dibawahnya. Dalam sekejap, ia memeluknya dan berlahan mengecup kening serta pipi Zivi dengan sayang. Andai Zivi melihatnya, pasti ia bisa merasakan tatapan yang kini berbeda itu.
“I’m sorry!” bisikan itu menyadarkan Zivi juga menenangkan sedikit hatinya. bisikan lembut, menyesal, dan sayang ada dalam suara itu.
Seakan semua prasangkanya lepas melihat gelang itu.
Ia sudah salah paham.
Banyak hal yang membuatnya salah paham, tapi gelang itu cukup menjelaskan.
Itu yang paling penting. Zivi mendengarkan dan memegang ucapannya.
Zivi masih memakai gelang itu.
jadi, gelang yang untuknya itu adalah...
Ia merapikan anakan rambut Zivi yang berantakan, juga kancing bagian atas bajunya yang sedikit terbuka.
Ia sangat menyesali perbuatannya yang berlebihan karena salah pahamnya.
Drep drep, kalung hati pemberiannya ada disana, serta cincin pernikahan mereka juga tergantung disana. Semua ragu sekejap sirna.
Tapi…
Kenapa Zivi tinggal di kost?
Bukan hanya itu, ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan.
Ia memandang dengan seksama gadisnya itu yang tidak memberinya muka. Airmatanya masih mengalir!
“I’m sorry. Am really sorry!” minta maaf dengan penuh penyesalan. Perbuatannya pasti menyakiti hatinya. Sangat!
Zivi mendorongnya dan bangun tanpa melihat Eibi.
Eibi ikut duduk disampingnya, namun tidak nyaman. Zivi tidak melihatnya juga tidak bicara.
Hening………………………………
Eibi menyesal dan merasa bersalah.
Zivi yang syok juga memikirkan tindakan Eibi yang hampir saja! Apa maksudnya? Kenapa?
Dan kenapa Eibi bisa tahu tempat tinggalnya? Bagaimana ia menerobos masuk?
“Pulanglah!” Usir Zivi dengan ketus.
“Pulang bersamaku!” Pinta Eibi.
“Tidak. Besok saya akan pulang dan sekalian ada yang ingin saya bahas.” Menolak.
“Kalau begitu, saya juga tidak akan pulang.” Eibi
“Maksudnya?” dikira bisa tinggal semaunya? Apa kata ibu kost dan teman-temannya nanti membawa laki-laki ke dalam kamar, menginap pula! “Pulanglah. Nanti ibu kost bisa marah!”
“Untuk apa marah? Dia mengijinkan!” ucapan Eibi membuka mata Zivi lebih lebar.
“Kamu…”