
Setelah makan, Zivi teringat untuk menghubungi rekan koordinasinya hari itu untuk minta maaf, dan memberitahu mereka bahwa ia tak bisa datang karena masalah urgen. Mereka memahaminya, dan memberitahunya agar tak khawatir. Mereka sudah mengatasi urusan anak-anak hari itu. Zivi berterima kasih. Setelah mengakhiri pembicaraan dengan mereka, ia kembali beristirahat. Bi' Surti diminta menginap dulu oleh Eibi untuk berjaga-jaga.
Setelah malam, disaat Zivi terlelap, Eibi keluar bersama Alden untuk mengurus masalah tersebut. Mereka ke kantor polisi dan bertemu dengan penculik Zivi.
“Siapa yang menyuruh kalian?” Tanya Eibi dengan tak melepaskan tatapannya pada penculik Zivi. Mereka ada empat orang.
“Kami tidak tahu, tuan.” Perwakilan seorang. Terlihat seperti pemimpin mereka.
Sekali lirikan, algojo melayang pukulannya pada mereka.
Teriakan kesakitan menggema dalam ruangan itu. Polisi semua ada dalam kendali Eibi. Mereka disuruh tutup mulut. Intinya hanya untuk membuka mulut para penculik itu.
Setelah mereka disesah tanpa ampun, mereka memberikan detail orang yang menyuruh mereka, namun tidak tahu wajahnya seperti apa.
Untuk lebih jelas, Eibi meminta ponsel pemimpin mereka, dan memanggil nomor seseorang yang kenal.
“Apakah misi sudah selesai dilaksanakan?” suara dari seberang dengan tidak fasih.
Diam tak merespon. “Ya nona.” Pemimpin penculik menjawab setelah diberikan instruksi.
“Good. You didn’t disappoint me.” Suara penuh kepuasan, “You will be mine, Bi.” Ucapnya kecil namun terdengar.
Eibi mengenali suara itu dan sangat pasti. Dugaan Alden tidak salah, Anthony juga sudah mengatakannya, namun ia tetap memastikannya sendiri. Tak merespon lagi, amarahnya memuncak hingga urat-urat tangannya terlihat jelas saat mengencangkan genggamannya pada ponsel itu. Tanpa ba bi bu, segera menutup ponselnya dan mengantonginya. Meninggalkan ruangan itu. “Cukup. Lemparkan mereka ke suatu tempat terpencil selamanya.” Perintahnya.
Ia menghubungi Kezia, dan bertemu dengannya, “Tell me, what do you want, huh?” Sentaknya.
“Honey, what are you talking about?” tanya Kezia dengan lembut seakan tidak tahu apa yang Eibi bicarakan.
Eibi merebut ponsel yang saat itu ada dalam genggaman Kezia. “Hei, what are you doing with my phone?”
Eibi mengeluarkan ponsel yang tadi ia ambil dari penculik dan melakukan panggilan. Terhubung tepat pada ponsel Kezia.
“You!” Plak! Tamparan Eibi sudah tak bisa mengendalikan emosinya “How dare you?” ucapnya.
Kezia memegang pipinya yang barusan ditampar. Baru kali ini ia ditampar oleh Eibi, air matanya mengalir. Namun dirinya juga tidak bisa berdalih lagi. Ia ketahuan oleh Eibi dengan bukti yang sangat jelas.
“You hit me?” Kezia tak percaya, “Do you really love her?” Tanyanya lagi. Eibi tidak mungkin membela wanita itu sampai sedemikian jika tak mencintainya.
Eibi tak menjawab pertanyaannya, ia menelpon polisi, dan menyerahkannya pada mereka dengan bukti yang ia sendiri dapatkan, ditambah kesaksian dari Anthony yang melihatnya sendiri. Ia memerintahkan untuk mendeportase Kezia dan masuk dalam catatan hitam, tidak diijinkan untuk masuk Indonesia lagi. Masalah harus diselesaikan.
Sudah jam 3 pagi saat kembali ke rumah. Ia melihat Zivi tidur lelap, hatinya tenang.
Setelah membersihkan dirinya, ia berbaring disamping Zivi, menyamping menghadap Zivi.
Ia mengecup keningnya, lalu beralih kebawah seperti yang biasa ia lakukan sebelum tidur. Lalu kembali memandangnya. Merapikan anak rambut yang menutupi muka Zivi. namun tangannya terhenti saat Zivi mulai menggerakkan kepalanya, seperti menggeleng, “hmm, hmm, hummm hiks no” dalam tidurnya menangis.
Eibi menariknya dalam pelukannya, mengelus punggungnya untuk menenangkannya, “Vi, I’m here. Calm down.” Bisiknya. Hatinya lega, Zivi berangsur tenang kembali. Tak lama, dirinya terlelap sambil memeluk gadis itu.
Zivi terbangun lebih pagi, karena banyak tidur dihari sebelumnya. Dirinya Syok mendapati dirinya dalam pelukan Eibi. -Kenapa bisa begini?- batinnya. Ia tidak ingat apa-apa mengenai semalam.
Dengan pelan ia mengangkat tangan Eibi yang melingkar dipinggangnya. “Wake up?” suara Eibi mengagetkannya, ia menengadah melihat Eibi membuka matanya, bertemu dengan tatapannya.
“Hmmm.” Ucap Zivi menganggu dan melepaskan tatapannya. Ia kembali ingin melepaskan tangan Eibi. Namun Eibi malah mengeratkan pelukannya. “It’s still early. Sleep again.” suara berbisik.
“So, let me sleep. Watch me sleep.” Bisik Eibi tambah mengeratkan pelukannya kembali menutup matanya.
Zivi pasrah, diam dan memejamkan matanya dalam pelukannya. -hangat- itulah yang ia rasakan. Tak lama ia mendengar hembusan nafas halus dari Eibi. -Eibi rupanya benar-benar masih mengantuk- batinnya. Setelah Eibi benar-benar terlelap dan pelukannya melonggar, Zivi kembali beraksi. Dan berhasil.
Ia melihat jam, masih jam 5. Benar saja ucapan Eibi. Masih pagi. Namun dirinya tak mengantuk lagi, ia kembali mengisi waktunya dengan pergi ke kamar bawah, menenangkan dirinya dari ketakutan, menyemangati dirinya. Terlebih dahulu ia bersyukur karena dirinya selamat dan aman. Ia bersyukur Tuhan mengirimkan penyelamat untuknya.
Beberapa tahun lalu juga, dalam keadaan yang sudah hampir dirinya dinodai, beruntung dirinya ditolong. Tuhan baik. Sangat baik. Ia sangat bersyukur.
Ia membuka laptop, melihat email dan belajar sebentar. Saat sudah jam 6 pagi, ia ke dapur ingin masak. Namun Bi Surti sudah menyiapkan semuanya.
“Pagi Ibu.” Sapa Zivi, “sudah bangun?”
“Pagi Non. Sudah. Maaf, ibu tidak tahu harus menyiapkan apa untuk sarapan, Ibu masak masakan biasa jadinya dengan bahan seadanya. Apa Tuan bisa makan?” Tanya Bi Surti. Zivi tahu, itu bahan masakan yang ia siapkan untuk dirinya. Bi Surti tidak tahu.
“Tidak apa Bu. Nanti Zivi yang beritahu tuan, kalau dia tidak mau, bisa Zivi atur.” Jawab Zivi, “O ya, bu. Anak Ibu ditinggal, apa tidak apa-apa?” tanya Zivi.
“Tidak apa-apa. Ada bibinya yang memperhatikan.” Jelas Bu Surti namun terlihat raut muka yang khawatir.
“Ibu, jika Ibu mau pulang untuk mengurus anak Ibu dulu, pulang saja. Nanti setelah anak Ibu ke sekolah, Ibu bisa kembali lagi seperti jam kerja biasa. Maaf, karena Zivi sakit, Ibu harus diminta menginap.” Zivi merasa tidak enak dengan Bu Surti.
“Non, namanya juga sakit. Tak perlu minta maaf. Ibu senang bisa menjaga Non Zivi.” Jawab Ibu.
“Terimakasih Bu. Ibu, pulang saja dulu. Kasihan anak Ibu.” Zivi meminta Bu Surti pulang.
“Benar tidak apa-apa non?” Tanya Bu Surti ragu.
“Iya Bu. Nanti saya yang beritahu Tuan.” Jawab Zivi.
Bu Surti bergegas untuk pulang mengurus anaknya dulu yang akan berangkat sekolah.
Saat bangun Eibi mendapati Zivi sudah tidak ada dan Eibi sudah tahu ia kemana. Ia hanya mendapati roti panggang diatas meja dengan tulisan, “For Eibi” yang pasti Zivi pelakunya. Ia tersenyum, namun hatinya masih tidak puas, bisa-bisanya gadis itu masuk kerja.
“Where are you?” Tanya Eibi tak senang.
“Where should I be? At work.” Jawab Zivi dengan alis terangkat, bertanya juga menjawabnya.
“Alden has already ask for your leaving today.” Ucap Eibi memberitahu.
“Yeah, And My Boss asked me why this morning.” Ucap Zivi mengingat dirinya ditanya kenapa dirinya masuk padahal sudah minta ijin. Lebih tepatnya dimintakan untuk ijin.
“But I handled it. Don’t be worry, I’m really fine now. Ok.” Zivi tahu Eibi khawatir terhadapnya, jadi a\=ia menenangkannya dengan berkata lembut memberitahu dirinya sudak baik.
“Well, if you said so.” Ucap Eibi tidak senang dan langsung mematikan ponselnya.
Tut tut tut
“???” Zivi melebar, langsung ditutup telponnya. Huft, menggelengkan kepalanya. Ada rasa tak nyaman, namun ia abaikan dan kembali fokus bekerja.
Anthony yang tahu bahwa Kezia sudah dideportase, ia ingin segera menyusulnya. Saat ini pasti Kezia membutuhkannya. Meski ia sesali perbuatan Kezia, ia juga menyayangi gadis itu.
Nanti malam ia akan kembali menyusul Kezia. Sebelum itu ia ingin bertemu Zivi terlebih dahulu untuk mengetahui keadaannya.