LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 42 Blessing ain Disguise



"Sepertinya Richard serius denganmu!" Zivi mengutarakan pendapatnya sambil mengaduk ngaduk minumannya dan tangan satunya memijit mijit pelipisnya.


Dirinya bersama Donna sedang makan siang bersama diluar. Dan Donna baru saja menerima telfon dari mama Richard.


"Kurasa juga demikian. Dan aku sangat berharap dia segera melamar ku untuk membuktikan keseriusannya." Respon Donna penuh harap.


"Amin. Ku doakan segera." Zivi mengaminkan dengan harapan yang sangat dalam.


Diperkenalkan dengan keluarga, terlebih ibu oleh pasangan adalah tanda keseriusannya. Ia sudah setahap membawa kita lebih dalam memasuki bagian kehidupannya. Juga merupakan satu hal yang bisa meyakinkan diri kita bahwa 'dialah'.


Zivi seakan bisa merasakan perasaan bahagia Donna meski dirinya belum merasakannya sendiri. Eibi dan dirinya masih dalam kehidupan masing-masing.


Eibi sudah tahu dan pernah bertemu keluarganya, namun hanya permukaannya saja. Itupun karena terpaksa demi berhasil menikahinya. Dan dirinya sama sekali tidak tahu tentang keluarganya. Bahkan sekalipun Eibi tidak menyinggung tentang mereka.


Benar benar dua orang terpisah dalam satu ikatan. Pernikahan dua orang dengan kehidupan masing-masing. Dan semoga segera berakhir.


Jika Eibi dengat cepat menstabilkan usahanya, maka ikatanpun bisa segera diakhiri. Dirinya bisa nyaman menjalani kehidupan meski dengan status yang tidak pernah ia pikirkan apalagi harapkan dalam hidupnya.


"Bagaimana hubunganmu dengan keluarga suamimu?" Tanya Donna ingin tahu dengan menatap Zivi penuh selidik, "mereka tentu baik padamu kan?"


"Baik. Kurasa mereka pasti baik padaku." Zivi menjawab sambil menyeruput minumannya tak berani menjawab sambil menatap Donna.


"Kurasa? Apa maksudmu, Vi?" Donna syok mendengar pernyataan itu dengan kata ‘kurasa’. Zivi tak merespon, ia lebih sibuk dengan minuman juga kepalanya yang sedikit sakit.


"Jangan katakan bahwa kau tidak pernah bertemu atau bahkan berkomunikasi dengan mereka?" Donna bertanya lagi memastikan dugaannya.


"Tapi memang kenyataannya begitu. Hehehe." Zivi terkekeh kecil seakan itu hal yang lucu, namun miris. Tangannya terus memijit pelipisnya dan sebentar tangannya berpindah ke kepalanya.


"What? You are really kidding me, right?" Donna bertanya tak percaya dengan pernyataan Zivi. "Aku tahu orangnya tidak hadir dalam pernikahan kalian. Tapi bukan berarti dia tidak memperkenalkanmu dengan keluarganya kan?" Setahu Donna, pernikahan pasti diawali dengan pertemuan keluarga dari kedua pihak.


"Hmmmm, awalnya aku juga mau mengenal keluarga nya bahkan sebelum menikah, tapi sekarang aku senang tidak mengenali mereka." Zivi mencurahkan sedikit isi hatinya.


"Bodoh! Kenapa kau mau menikah dengannya jika ia saja tidak mau mengenalkanmu pada keluarganya?" dengan nada agak marah dengan Zivi.


"Hmmm, aku memang yang paling bodoh. Aku akui itu. Tapi jika kau diberi alasan oleh Richard, maaf aku belum bisa memperkenalkanku pada kelurgaku. Mereka masih sibuk. Nanti saja ya. Maaf mereka tidak bisa datang ke pernikahan kita, karena bla bla bla... Dan kau dalam keadaan terdesak untuk menikah. Apa yang akan kau lakukan? Apalagi kau melihatnya begitu sungguh sungguh?" Zivi menatap serius Donna dengan pernyataannya menirukan ucapan Eibi disaat awal persiapan mereka menikah. Berharap Donna memahami posisinya.


Perasaan merasa bodoh juga menghantui dirinya, namun keadaan seperti itu yang ia hadapi. Ia hanya tahu Eibi ingin bertanggungjawab atas dirinya, dan bagaimana jika ia hamil dan orang tua Eibi belum bisa bertemu dengannya karena kesibukan mereka. Ia bisa bertemu dengan orang tua Eibi setelahnya. Manatahu jika semua itu hanyalah ucapan Eibi untuk bisa menikahinya. Sudah terlanjur. Yang penting dirinya masih aman, tubuhnya masih terjaga dari Eibi.


"Maaf, kurasa aku akan melakukan hal yang sama. Memang suamimu saja yang brengsek." Caci Donna jengkel.


"Kau benar. Dia memang brengsek. Untungnya aku tahu lebih awal. Jadi bisa mengurangi bobot kebrengsekannya. Hahaha" Zivi menyetujui Donna sekaligus merasa terhibur dengan sikap Donna.


"Sudahlah. Sudah terlanjur. Doakan saja segera berakhir. hehehe. Ayo kita pulang ke kantor, aku mau tidur." Zivi ingin segera tidur dan menutup matanya. Kepalanya makin sakin dan harus segera menutup matanya untuk mengurangi rasa sakit.


"Kau kenapa? Kepalamu sakit?" Donna menangkap sikap Zivi yang memijat kepalanya dengan mata yang sudah redup. Ia hafal betul, jika seperti itu, Zivi pasti sakit kepala.


"Hmmmm, sedikit sakit. Namun masih bisa aku tahan hingga pulang nanti." Zivi menjawab Donna dan segera meraih tasnya, berdiri untuk segera meninggalkan tempat itu.


"Kalau begitu pulang saja. Nanti aku yang mintakan ijin. Motormu tinggal saja.” Donna memutuskan untuk Zivi tanpa memberinya cela untuk menolak. Langkahnya berusaha mengimbangi Zivi yang agak cepat.


Zivi hanya ingin segera masuk mobil Donna dan memenjamkan kembali matanya. Itulah kenapa langkahnya cepat. Zivi tak merespon keputusan Donna, dan Donna menerimanya sebagai tanda persetujuan.


"Mau apa?" ditengah perjalanan Zivi merasakan Donna menghentikan mobilnya.


"Tunggulah disini sebentar." Ucap Donna langsung keluar dari mobil. Zivi hanya diam tak banyak bertanya. Jarinya terus bekerja memijat kepalanya dengan mata sedikit terbuka untuk melihat kemana Donna pergi.


APOTEK 24J


"Ini, minumlah. Untuk obat sakit kepala." Donna menyodorkan plastik berisi obat saat sudah duduk dibelakang kemudi.


"Terimakasih. Perhatian sekali. Baik deh" Zivi ternyesum khas memuji juga menggoda Donna.


"Hmmm, emang aku suamimu?" Tangga Donna dengan kesal, namun lebih tepatnya kesal pada Eibi.


"Hei hei, kenapa bawa suami. Lagipula, Eibi baik kok. Tak seburuk yang kau pikirkan." Zivi merespon Donna dengan pembelaan terhadap suaminya. Namun bukan dibuat-buat, memang ia rasakan Eibi baik padanya. Awalnya memang brengsek karena niatnya yang tersembunyi menikahinya. Dan semakin kesini, hubungan mereka baik, dan Eibi memperlakukannya dengan baik, hingga kadang membuat hatinya goyah.


"Ya, baiklah. Apapun katamu. Semoga dia mendapatkan apa yang ia mau." Donna berharap positif dengan kesal.


"Bagus sekali doamu. Kupikir kau akan mendoakannya sebaliknya." Zivi terkekeh mendengar ucapan Donna.


"Ya. Supaya kau segera lepas darinya. Tapi lebih baik jika ..."


"Berharaplah. Namun jangan terlalu berharap. Terimakasih sudah mengantarku. Tak terasa sudah tiba." Donna tak sampai menyelesaikan kata-katanya, namun dipotong oleh Zivi.


Dengan percakapan mereka yang seperti itu, mengalihkan Zivi dari rasa sakit dan tak terasa mereka sudah tiba di depan gerbang tempat tinggalnya.


"Sama-sama. Ingat minum obat dan segera istirahat! Bye!" Donna kembali melajukan mobilnya setelah Zivi keluar dari mobilnya.


"Bye. Take care!" Zivi melambaikan tangannya pada Donna dan melihatnya hingga menghilang dari pandangannya. Meski kepalanya sakit, namun hantinya senang mendapatka teman yang peduli padanya. Jebakan pernikahannya dengan Eibi, justru membuatnya dekat dengan Donna dan menjadi akrab seperti sekarang. -Blessing in disguise. Isn’t it?- pikirnya.