LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 13 Ingin Tahu Lebih Tentang Zivi



“Al… Ayo kita pergi bermain bulu tangkis!” Mengajak Alden yang sedang sibuk dengan laptopnya di ruang kerja.


“Tumben, kenapa tiba-tiba ingin main bulu tangkis?” fokusnya teralih memandang Eibi dengan keryitan didahinya.


“ya, saya hanya sedang ingin saja. Ayo, segera, nanti kita terlambat.” Sambil bangkit dari tempat duduknya.


Alden menutup laptopnya dan mengikuti Tuannya sekaligus temannya itu.


Siap dengan pakaian olahraga “ada yang kurang!” Alden berucap setelah menyadari ada yang kurang.


“ahhh, raket? kita bisa menyewanya disana!” Eibi menjawab santai.


******


Saat mereka sudah masuk kedalam gedung dan berhasil menyewa satu lapangan untuk bermain bulu tangkis, Eibi tidak langsung fokus menuju lapangan.


“kemana dia?” celinguk cilinguk mencari seseorang.


“siapa?” Alden bertanya melihat tingkah Eibi.


“bukan siapa-siapa. Ayo masuk!” Menghentikan pencariannya lalu menarik Alden masuk lapangan dan main.


“aww! Sakit!” mengadu saat shuttle cock mengenai jidatnya.


“Fokus bro!” sambil menghampiri Eibi yang sedang mengelus dahinya.


“awas ya, saya balas kamu!” ancamnya mendorong Alden ke areanya untuk kembali bertanding.


Permainan berlanjut hingga Eibi kalah telak 3 kosong.


“beruntung kamu kali ini saya ijinkan menang!” Eibi tidak mengaku kalah.


“iya Tuan Akando. Saya sangat beruntung.” Menyebutkan nama depan Eibi dengan mimik mengejek “kamu sedang cari siapa sebenarnya? Main tidak fokus, tentu saja kalah!” bertanya disertai pernyataan melihat Eibi yang bermain sambil celingukan ke arah lapangan-lapangan sebelah lapangan mereka.


“itu dia.” Dengan senyumnya yang lebar menemukan orang yang dicari.


“Zivi!” Alden syok mendapati orang yang dicari adalah Zivi “jadi ceritanya kita kesini bukan murni untuk bermain!” ujarnya menyadari kenapa Eibi tiba-tiba mengajaknya main bulu tangkis.


“hehehe, saya hanya …. hanya penasaran dengannya!”


“ayo kita bergabung dengan mereka.”


“Jangan. Biarkan saja dia menikmati waktunya bersama teman-temannya.” Cegah Eibi. Ia cukup senang dan lega melihat Zivi menikmati bermain bulu tangkis bersama teman-temannya. Zivi yang tertawa lepas, bergerak leluasa dengan kostum olahraga yang cukup sopan. Dan Zivi bermainnya bersama teman perempuan semua.


“Sebentar lagi juga dia akan pulang!” sambil menarik Alden dan mengembalikan raket ke tempat penyewaan dan keluar menuju tempat parkir mobil mereka.


Ia hanya tahu sedikit tentang Zivi. hanya permukaannya. Belum terlalu dalam ia mengenalnya. Namun dengan kejadian pertama ia dengan tidak sengaja mengetahui kesukaan Zivi olahraga senam, ada rasa ingin tahu lebih tentang gadis yang adalah istrinya itu.


Apalagi hal-hal yang belum diketahuinya, ia ingin mengetahuinya. Tanpa ia sadari ponselnya terus berdering dalam tas selempang kecil yang menggantung dalam tasnya.


Flashback On


Pagi hari sebelum berangkat, Eibi mendengar percakapan Zivi dengan temannya melalui telfon.


“Vi, sore nanti kita main bulu tangkis yuk!” Suara dari ujung seberang telpon terdengar. Dia adalah Donna.


“boleh! Tapi kalau masih ada tempat yang kosong!”


“tenang! Ada temanku yang bekerja disana. Nanti aku booking lewat dia untuk kita.”


“siapa saja yang ikut?”


“ya kita saja, bertiga. Kamu, aku, Mbak Rena” menyebutkan nama teman kantor mereka yang lumayan dekat, hanya mbak Rena.


“Kok Cuma bertiga? Bagusan berempat. Bisa dua lawan dua.”


“Kan kita cuma bertiga. Siapa lagi yang kita ajak?” Tanya suara dari ujung telpon.


“Hmmm, aku ngajak temanku satu ya…” Zivi berencana mengajak.


“Boleh. Ajak saja.” Donna menyetujui.


“baiklah. Tempatnya dimana?” ingin tahu nama tempat main bulu tangkis.


Flashback Off


“Bro, your phone is ringing.” Seru Alden menyadarkan Eibi yang tenggelam dalam pikirannya sendiri. Namun Alden tahu penyebabnya siapa ‘Bahagia yang tidak Kau sadari artinya’ batin Alden yang merasakan bahwa Eibi sudah mulai jatuh hati pada Zivi, istrinya sendiri.


Eibi segera menjawab telponnya tanpa memperhatikan siapa yang menelponnya.


“Hallo… Honey…” suara dari seberang telpon.


Menyadari siapa yang menelpon, rahang Eibi menegang, “What’s up?” jawabnya dengan pertanyaan. Terlihat ia sedang menahan amarahnya.


“Don’t you miss me? I miss you so much.” Suara yang begitu manis dan manja terdengar ditelinga.


“Hmmm, honestly speaking, I don’t miss you.” Jawabnya terus terang tak terbuai dengan ucapan manis nan manja itu.


“Honey, you are kidding me. Right?” tak percaya akan apa yang ia dengarkan. Eibi yang begitu sayang dan perhatian padanya, tidak pernah demikian padanya. Sudah hampir 3 bulan ini dia tidak menelponnya, dan baru kali ini ia telponnya terhubung. Dan respon yang ia dapat dari Eibi sangat diluar dugaan. Eibi tidak biasanya seperti terhadap dirinya. Ada apa? Apakah dia memiliki wanita lain?


“Hmmm, what do you think?” Eibi malah menanyakan pendapatnya.


“I miss you. When will you come back?” Tanyanya mengabaikan respon Eibi yang tidak seperti biasanya.


“I think, I will not go back there.” Jawab Eibi sekenanya, hanya berusaha merespon dengan baik dan meredam amarahnya.


“Why? For me you have to come back honey. Especially, on my birthday. Next week. You didn’t forget it, right.” Ucapannya memelas untuk mendapat simpati dari Eibi.


“I’m serious. I won’t. And for your birthday, I have already forgot it. I need to do something. So, I hang up.” Ujar Eibi tanpa menunggu respon langsung mematikan ponselnya.


“Kezia?” Tanya Alden pada Eibi yang sudah mematikan ponselnya.


Eibi memberikan anggukan sebagai jawaban.


“You haven’t broken up yet with her?” tanya Alden.


Eibi tidak menjawab. Dan Alden terima sebagai jawaban bahwa Eibi belum putus dengan Kezia.


Eibi ingin memutuskan hubungannya dengan Kezia, namun ia ragu. Dalam hatinya masih ada rasa untuk perempuan itu. ia tidak mau memutuskan tanpa mengkonfirmasi perasaannya terhadap Kezia sudah benar-benar hilang. Ia berpikir mungkin itu hanya amarahnya sesaat karena perbuatan Kezia.


Kezia pastinya ada alasan melakukan hal itu padanya. Kezia yang ia kenal tidak seperti itu. Kezia yang ia kenal adalah Kezia yang sangat baik, dan juga setia terhadapnya selama ini. Dia selalu menemani hari-harinya baik atau buruk, Kezia bersamanya.


Tanpa mengutarakan isi hatinya, Kezia memahaminya. Kezia yang mencintainya dan menerima dan memahaminya. Kezia yang membuatnya bisa jatuh cinta untuk pertama kalinya, setelah cinta untuk ibunya.


Telpon dari Kezia membuat Eibi lupa akan bahagia yang barunya ia rasakan saat melihat Zivi dan sedikit lebih tahu tentang Zivi. Eibi kembali teringat akan masa manis bersama Kezia dan juga mengingat vidio pengkhianatan yang Kezia lakukan padanya.


Sakit hati dan amarah memenuhi hatinya. Tekadnya untuk membalas Kezia sungguh ia tekadkan. Cinta? Amarah? Dendam? Semuanya berkecamuk dalam batinnya. Eibi terjerat dalam rasa yang campur aduk. Tidak bisa lagi ia memisahkannya. Ia putuskan untuk membalaskan dulu sakit hatinya pada Kezia baru akan memutuskannya jika memang harus.


Eibi membuka pintu mobil disebelah pintu kemudi diikuti Alden membuka pintu disebelah bagian kemudi. Alden menghidupkan mobil dan melajukannya kembali kerumah. “Sudah batalkan pembelian rumah dan pemesanan restorannya?” Tanya Eibi pada Alden yang sedang fokus menyetir juga sedang memikirkan hubungan Eibi.


“Sudah. Sejak kau memerintahkannya, sudah aku lakukan.” Terang Alden.


“Sebaiknya kau putuskan saja hubunganmu dengan Kezia. Terlebih lagi sekarang kau sudah menikah.” Saran Alden.


“Zivi gadis yang baik. Terlepas kau terpaksa menikah dengannya karena dijebak, tapi dia tidak tahu akan hal itu. Jangan kau permainkan dia.” Tambahnya lagi.


“Kenapa sekarang kamu banyak bicara?” tanya Eibi tidak terima di beri saran oleh Alden. ‘Kau tidak berada pada posisiku dan kau tidak merasakan apa yang aku rasakan. Gampang memberiku saran.’ Batin Eibi.


“Sebagai teman aku memberimu saran bro. kalau diterima dengan baik, bagus. Kalaupun tidak, it’s Ok.” Respon Alden prihatin, “Tapi pertimbangkanlah baik-baik apa yang aku katakan. Kau pasti lebih alasannya kenapa aku menasihatimu demikian.


“Hmmm” Respon Eibi yang juga mempertimbangkan saran Alden. Namun masih ada dalam benaknya untuk membalas Kezia terlebih dahulu, baru memutuskannya.


Lagipula Kezia pasti sudah melihat foto pernikahannya bersama Zivi dari Anthony yang adalah fotografer pernikahannya waktu itu. Ia sendiri yang menawarkan diri untuk menjadi fotografer juga sekalian menyaksikan bahwa ia benar-benar menikah dengan Zivi.


***


Sekilas tentang Anthony.


Dia adalah teman Eibi saat kuliah, teman jurusan. Dia teman yang baik bagi Eibi sebelum ia tahu apa yang terjadi beberapa bulan yang lalu akan pengkhianatannya. Dia juga adalah kekasih Kezia selain dirinya. Kezia mengenal Anthony dari Eibi.


Anthony masuk dalam hubungannya dengan Kezia. Bahkan melakukan lebih dari apa yang ia lakukan terhadap Kezia. Dia ingin merebut Kezia seutuhnya dari dirinya.


Itulah alasan utamanya menjebak Eibi agar menikah dengan orang lain terlebih dahulu. Dia ingin Kezia meninggalkan Eibi sepenuhnya dan hanya dia yang memilikinya seutuhnya.


Dengan foto itu dia mau mengatakan pada Kezia bahwa Eibi sudah mencintai dan menikahi orang lain. Jadi Kezia harus melepaskan Eibi dan berpaling padanya dan hanya padanya. Tidak adalagi Eibi. Dirinya tidak lagi jadi orang kedua dihati Kezia.