LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 64 Kamu Merindukan Saya?



Jawaban yang Donna berikan berpengaruh terhadap Zivi. ‘tentu saja penting. Terdengar klasik tapi memiliki kekuatan. Dari bukan siapa-siapa menjadi bagian penting dalam hidupmu. Ikatan terjadi, bukan hanya permukaan tapi disini.’ Sambil menaruh tapak tangannya di dadanya, Donna berbicara penuh perasaan.


Dan Zivi setuju. Lebih tepatnya sependapat. Eibi tidak pernah mengatakan itu padanya. Memperlakukannya dengan baik. Apa dirinya terlalu baper? Zivi mempertanyakan dirinya sendiri.


Sepulang kerja, Zivi melakukan rutinitas seperti. Meski agak malas karena gundah, Zivi memaksakan dirinya. Harus. Itu cara yang bisa ia temukan untuk mengenyahkan kegundahan hatinya.


OR selesai dan lelah. Ia membaringkan dirinya disofa. Karena lelah pikiran dan fisik, akhirnya ia tertidur hingga jam 6.30 baru dirinya bangun.


Buat pancake, makan tanpa menunggu Eibi. Ia sisihkan pancake buat Eibi jika nanti ia pulang, bisa makan. Membersihkan dirinya lalu berbaring disofa sambil menonton drama kerajaan turkey sebagai penghibur. Eibi belum pulang. Sudah jam 8 malam.


Ia terjaga meninggalkan drama Turky terus berjalan. Eibi tiba dan melihat gadis yang ia rindukan terlelap dengan suara Bahasa asing terus terdengar. Ia menghampiri Zivi dan melihat tangannya yang masih memegang ponselnya yang terus menyala.


Eibi mengambil ponsel Zivi dan mematikannya, baru hendak ia letakkan, ponsel Zivi menyala. Ada panggilan masuk. ‘Siapa Amo?’ Eibi mengeryit. Yang ia tahu tidak ada teman Zivi yang bernama Amo. Apakah orang baru Zivi kenal? Kenapa menelponnya malam sekali? Ia biarkan panggilan itu hingga dengan sendirinya berhenti.


Saat sudah berhenti, dan orang itu ‘Amo’ rupanya tidak menelpon lagi, ia ingin membuka daftar kontak Zivi. Sayang, tidak berhasil. Terkunci. Huft. Ya Sudah. Eibi pasrah. Ia letakkan ponsel Zivi diatas meja samping tempat tidur dan mengambil selimutnya untuk menutupi tubuh Zivi. Menyalakan AC dengan suhu seperti biasanya, lalu bergegas membersihkan dirinya sebelum menyusul gadis itu tidur.


15 menit kemudian, ia sudah selesai mandi dan segar. Rasa lelah juga rasa lengket tubuhnya seharian diluar rumah sudah hilang. Membuatnya lebih rileks ditambah gadis yang ia rindukan sudah ada didepan mata sedang terlelap. Entah apa mimpinya. Eibi berharap Zivi memimpikannya.


Cup! Satu kecupan seperti biasanya mendarat sebelum ia memindahkannya untuk tidur bersamanya ditempat tidur.


“Sudah pulang?” Suara ngantuk Zivi menggapai telinganya sebelum ia mencapai tempat tidur.


“Hmmmm, saya membangunkanmu.” Eibi menatap Zivi dan merasa bersalah membangunkannya dari tidur. “Lanjutkan saja tidurmu.” Tambahnya meminta Zivi tidur kembali, segera membawanya ke tempat tidur dan meletakkannya disana.


“Tidak apa-apa. Saya tertidur menunggumu pulang.” Jawab Zivi santai mengerjapkan matanya dan duduk.


Tak bisa tidak Eibi tersenyum mendengar suara Zivi. Dia mengatakan ‘menunggunya’. Dia sungguh menunggunya?


Ia berbaring dan menarik Zivi ikut berbaring bersama. Zivi berbalik menghadapnya.


Cup! Secepat kilat Eibi maju dan mengecup keningnya dengan kuat. Cukup lama membuatnya terkesiap, namun tidak meronta setelah sadar.


Zivi menatap lekat mata Eibi setelah ia kini kembali menatapnya.


“How was your day?” Tanya Eibi sambil tersenyum. Rindunya terobati setelah bertemu dengan gadis ini. tak bisa tidak mengecup keningnya dengan kuat. Untung dia tidak memprotesnya.


“Baik.” Menjawab sambil tersenyum sayu. ‘memikirkan perasaanmu terhadapku bagaimana?’ batinnya. “Bagaimana pekerjaanmu?”


“Baik. Semuanya bisa teratasi dan sekarang berjalan dengan baik.” Dengan sumringah namun tangannya tidak diam. Telunjuknya sedikit mencolek hidung Zivi, membuat sang pemilik merasakan gatal yang tak seharusnya.


Zivi menangkap jari Eibi dan menjauhnya dari hidungnya, “Hmmm, kau membuat hidungku gatal.” Dengan sedikit manyun.


“Kalau begitu, begini saja!” Zivi terkejut, Eibi tiba-tiba mendekapnya erat. Zivi mematung, ia teringat waktu pagi itu, jika ia bergerak bisa-bisa … “kamu sungguh menunggu saya pulang?” pertanyaan Eibi membuyarkan pikiran Zivi.


“Iya. Kamu memintaku menunggu!” Jawabnya santai seadanya.


“!” Eibi diam. Hanya itu? tidak ada alasan lain? Andaikan saya tidak memintanya menunggu, apa dia tidak akan menunggu?


“Hanya itu?” Eibi bertanya.


“Ya. Apalagi?” balik bertanya dengan polos.


“Kamu merindukan saya?” Pernyataan berupa pertanyaan.


“H…” Hampir saja Zivi menjawab namun berhenti. ‘tunggu! Dia berharap saya merindukannya?’


“Merindukan saya atau tidak?” Eibi bertanya lagi.


“Saya tahu!” Respon Eibi dengan raut yang sumringah tambah mengeratkan pelukannya. Dirinya juga sangat merindukannya.


Apa! Pede sekali dia. Zivi berdecak menyesali jawabannya terhadap Eibi.


“Apa kamu sudah makan?” memberikan pertanyaan pengalihan. Sudah larut, tentu saja Eibi sudah makan di luar bersama Alden.


“Sudah! Ayo, kita tidur.” Respon Eib sambil melepaskan pelukannya dan menarik selimut Zivi untuk menutupi tubuh Zivi, lalu kemudian menarik selimutnya sendiri.


Tidur saling berhadapan, saling tatapan. Tidak ada yang bicara. Hingga hanya deru nafas dari keduanya yang terdengar. Tidak ada dari keduanya yang memulai pembicaraan. Seakan membiarkan batin berbicara dengan batin.


‘Saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan benar-benar sejauh ini menyukaimu.’ Eibi.


‘Apa kamu sungguh menyukaiku?’ Zivi


‘Saya sangat menyukaimu!’ Eibi


‘Kenapa kamu tidak mengatakan kalau kamu meyukaiku?’ Zivi


‘Saya tidak akan mengatakan sukaku padamu. Cukup kamu rasakan saja. Tidak perlu kamu mengatakan kamu menyukaiku. Cukup saya rasakan saja.’ Eibi.


Bicara dengan batin masing-masing hingga tanpa sadar mereka terbuai kedalam alam mimpi untuk melepas lelah masing-masing dengan rindu yang sudah terobati karena akhirnya kembali bersama.


Saat membuka mata pagi hari, perasaan yang tak biasa dirasakan menyeruak dalam batin Zivi. Hangat, tenang, aman, dan merasa bahagia. Ia memandang wajah yang tidur lelap disampingnya. Dengan seksama memperhatikan seakan membawa setiap bagian wajah itu terukir dalam batinnya hingga dengan satu kata ia simpulkan. Tampan!


“Apa saya sangat tampan?” suara itu menyadarkannya. ‘bagaimana bisa ia tahu apa yang ia pikirkan?’ Zivi tersipu sambil menggelengkan kepala. Tidak akan mengakuinya di depan Eibi.


“Tatapanmu tidak bisa berbohong. Kamu begitu terpana memandangku hingga tidak berkedip!” Pernyataan Eibi membuat Zivi menyesali perbuatannya tadi.


“Bicaramu makin ngaur!” Zivi memberangut dan hendak bangun keluar dari tempat tidur.


“Ahh!” Histeris, tubuhnya ditarik Kembali oleh Eibi dan kepalanya mengenai dada Eibi.


“Kau!” Zivi sontak protes memukul dada Eibi tanpa memperhatikan ucapnnya ‘kau!’ saking kesalnya. Biasanya percakapan dengan Eibi, ia menggunakkan -kamu-. Hanya orang-orang yang akrab dengannya, ia menggunakan kata -kau-. Terhadap Eibi lebih formal dan sopan dengan kata -kamu-. Pagi – pagi kesal dan kata-katanya tidak tersaring.


“Cup! Saya belum memberikan ini padamu!” kecupan serta suara tenang Eibi dari atas kepalanya bagaikan air dingin yang tiba-tiba memadamkan kesalnya. Rasa manis teresap dalam hatinya. Ia mendongak dan bertemu mata dengan Eibi yang juga menatapnya. Deretan pagar putih terlihat. Ia tersenyum padanya.


‘Dasar pria bermulut manis!’ decaknya menghela nafas. Namun tak bisa tidak hatinya menyukainya, iapun membalas senyuman Eibi.


“Cup! sekarang kamu boleh pergi!” Eibi mengecup keningnya dan melepaskannya. Tak berkutik, Zivi terdiam sebentar lalu bergeser turun dari tempat tidur. Sekarang Eibi mengecupnya terang-terangan. Bahkan seperti hobi barunya. Dan ia tak berdaya menolaknya. 1, 2, 3, 4, …. Menghitung kecupan Eibi dari semalam dan kecupan , tanpa menghitung kecupan yang ia dapat saat tidur . Ia menyukai semuanya. Ia suka hobi baru Eibi. Ia merasa disayang.


Setelah dari kamar mandi, Zivi melihat jam dinding.


“Jam 5.” Jawaban yang ia dapat dari Eibi. Ternyata ia tidak tidur dan bahkan memperhatikan jika ia sedang melihat jam.


“kamu bukannya tidur?” ia bertanya pada Eibi sambil menarik selimutnya untuk dilipat.


Eibi menggeleng, “Ayo, jalan pagi. Sudah lama rasanya tidak olahraga bersamamu!” sambil turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.


Zivi sekalian melipat selimut Eibi dan menata bantal serta seprei agar rapi.


“Ayo siap-siap!” ucap Eibi menarik Zivi agar ganti.


“Tidak. Nanti saya terlambat!” Hanya sekedar alasan. Zivi sebenarnya tidak suka jalan-jalan pagi.


“Tidak akan. Nanti kita berangkat kerja bersama.” Eibi memberitahunya sekalian.