
Jam 1:30 dini hari Zivi sudah membuka matanya seperti alarm otomatis yang berbunyi membangunkannya. Ia mengusap punggung Eibi untuk membangunkannya.
“Bangun.” Bisiknya pelan.
Cup!
Respon Eibi menyatakan dirinya bangun dengan mengecup kening Zivi dan segera bangun keluar dari tempat tidur. Demikian juga Zivi. Eibi mandi dan Zivi menyiapkan pakaian yang akan dikenakannya diatas tempat tidur, lalu turun untuk membuatkannya teh lemon hangat.
“Kamu tidak keberatan dengan yang saya siapkan?” melangkah maju dan menyodorkan cangkir lemon tea pada Eibi.
“Tidak. pilihanmu tepat!” balas Eibi sambil memperhatikan dirinya dengan pakaian kasual pilihan Zivi.
“Syukurlah.” Dengan senyuman puas Zivi ikut memperhatikan Eibi dengan tampilan lebih muda beberapa tahun dari usia sebenarnya karena pakaian yang ia pakai. Celana jeans cream sesuai postur tubuhnya dengan kaos warna hitam. Tinggal sweater yang belum Eibi kenakan, nanti saat hendak berangkat baru ia akan pakai. Seperti biasanya.
“Tunggu saya sebentar.” Segera berlalu dan masuk kamar mandi mencuci muka dan menggosok giginya.
Dan secepat kilat mengganti pakaiannya.
Eibi duduk tenang menikmati tehnya sekalian menikmati Zivi dengan Tindakan kilatnya siap-siap. Dalam hatinya, ‘gadis ini! kenapa sibuk menyiapkannya pakaian, membuatkan lemon tea untuknya jika ingin ikut?’. Namun demikian, hatinya tidak sepenuhnya kesal, ada rasa haru atas perhatian Zivi padanya, bahkan mengutamakan dirinya. Bukankah jika demikian mereka akan harmonis? Saling mendahulukan satu dengan yang lain.
“Tidak perlu tergesa-gesa, masih ada waktu!” Memberitahu Zivi. tidak tega juga melihatnya demikian, seperti takut ketinggalan. Tidak mungkin juga ia akan meninggalkannya. Ia ingin Zivi mengantarnya.
“Waktu memang selalu ada, tapi kita tidak bisa terlambat tiba di bandara. Kita harus tiba disana sebelum waktunya cek ini, daripada ketinggalan.” Zivi merespon Eibi dengan opini yang menurutnya masuk akal.
“Selesai.” Jawabnya dengan tas kecilnya sambil tersenyum pada Eibi.
Jam 2:20 mereka sudah tiba diparkiran bandara, dan ada rasa lega dalam hati Zivi. Untung jalanan tidak macet.
Tanpa kata apapun terhadap kedua sejoli dibelakang kemudi Alden turun. Ia sudah tahu seberapa jauh hubungan mereka dengan penglihatan yang tak disengaja semalam. Seakan dirinya dan Damon menjadi saksi dalam diam mereka saat kissing balkon, meski terlihat hanya seperti siluet, namun jelas itu adalah mereka. Dan saat ini, ingin memberi mereka ruang untuk mengucapkan perpisahan sementara mereka dengan leluasa.
Melihat Alden turun, Eibi tidak melewatkan kesempatan. Ia mengangkat dagu Zivi dan bertemu dengan tatapannya. Setelah sekian detik menatap Zivi, tanpa ragu ia ******* bibir mungil gadis. Dengan tangan satunya ia menutup mata Zivi yang melebar karena ciumannya. Ia mengira Zivi tahu dan mau dicium. Ternyata tidak. Nampak keterkejutan Zivi bahwa dugaannya salah.
Meski belum puas dan ingin menciumnya lebih dalam, ia harus menghentikan diri dan memeluk Zivi. sebelum Zivi sadar dari rasa syok.
“Tunggu saya pulang!” Bisiknya lebut dan merasakan anggukan Zivi dari samping telinganya.
Setelah sedikit tenang, Zivi melepaskan diri dari pelukan Eibi. Ia tak mengira Eibi akan menciumnya lagi setelah semalam. Ia merasakan gemuruh dalam batinnya dan ia tidak berani menatap Eibi akan apa yang terjadi barusan. Dan parahnya ia merasakan Eibi terus memandangnya dan terasa bahwa ia sedang tersenyum. ‘apa yang ia senyum kan? Abaikan!’ Zivi membuka tas dan menegeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menaruhnya dalam genggaman Eibi.
“Apa ini?” Tanya Eibi sambil tersenyum. Bukan itu yang membuatnya tersenyum, namun karena ia puas menemukan Zivi yang tersipu malu atas ciumannya.
“Untukmu. Kamu hanya boleh buka saat sudah tiba disana. janji?” Ucapan Zivi meminta janjinya.
“Sure!” Eibi memainkannya sebentar dalam genggaman, lalu memasukkannya dalam tas selempangnya. ‘Apa isinya?’ ia penasaran namun ia harus tunggu membukanya disana. ‘Gadis ini! diam-diam menyiapkan hadiah untuknya.’ Ada rasa senang dalam hatinya.
“Ayo, turun. Nanti terlambat.” Zivi segera membuka pintu, demikian juga Eibi mengikutinya keluar dari mobil.
****
“Selama Eibi pergi, saya yang akan mengantar juga menjemputmu.” Alden memberitahu Zivi setelah memarkirkan mobilnya dalam garasi.
Zivi yang tidak biasa merepotkan, langsung menolak, “Tidak perlu repot, saya bisa naik motor.”
“Tapi …”
Drrrt drrttt
Bari ia meletakkan tasnya, ponselnya berbunyi.
Eibi? Dengan segera menjawabnya sambil tersenyum. Tidak banyak yang Eibi ucapkan, hanya memberitahunya bahwa Alden yang akan mengantar dan menjemputnya. Dan Zivi tahu bahwa Alden pasti segera memberitahu Eibi setelah ia menolaknya.
“Tidak perlu. Jangan repotkan temanmu. Lagipula selama ini saya juga biasa bawa motor.” Zivi tetap teguh dengan pendiriannya.
“Baiklah. Tapi ingat menghubungi Eibi jika perlu bantuan.” Menyerah. Memang Zivi bukan tipe gadis yang bisa ia paksa. Kadang bisa dipaksa, kadang tidak. sesuai dengan moodnya.
“Hmmm, pasti. Jangan khawatirkan saya. Setiba disana, ingat memberi kabar.” Pesan Zivi.
“Tentu.” Eibi dengan senang hati. Tanpa Zivi minta pun, ia akan memberitahunya.
Zivi ingin memberi salam untuk keluarga Eibi, namun hanya bisa ditahan. Keluarga Eibi belum mengenalnya, memberi salam? Bukankah itu berlebihan? Malah akan menimbulkan pertanyaan dari keluarga Eibi nanti. Pertimbangan Zivi.
“Sudah waktunya saya harus mematikan ponsel.” Zivi mendengar Eibi dari seberang memberitahunya bahwa pesawat akan segera diterbangkan.
“Ok. Bye! Save flight!” Ucap Zivi dan menunggu Eibi memutuskan hubungan telpon.
Setelah itu siap-siap untuk berangkat kerja. Seperti ucapannya, ia berangkat kerja dengan motornya.
Jika ia ingat-ingat, kebersamaannya dengan Eibi yang intens ternyata membawanya pada perpisahan. Meski hanya sementara. Tapi tidak disangka saja. Memang bahwa hidup kadang menyuguhkan hal-hal yang tak terduga.
Tidak masalah. Yang penting dirinya dan Eibi semakin dekat dan bahkan sepakat melupakan kesepakatan yang ia buat diawal setelah menikah. Sekarang ia hanya berharap papa Eibi bisa segera pulih dan Eibi bisa Kembali bersamanya.
Bekerja seharian menjadi pengalih yang bagus bagi bagi Zivi dari rasa kehilangannya atas Eibi, meski sesekali Eibi muncul dalam benaknya dan tidak bisa tidak rasa kosong itu juga hadir. Ingin rasanya seperti sebelumnya saat belum Eibi masuk dalam hidupnya, terlebih sebelum Eibi masuk dalam relung hatinya. Tapi ia juga tidak masu menyesal. Pertemuanya dengan Eibi juga membawa hal yang indah dalam hidupnya, meski sebentar. ‘Masakan mau melewati jalan yang mulus saja! Terkadang jalan yang liku juga memberikan keindahan tersendiri.’ Batin Zivi menyemangati dirinya. Tidak mau menyesali pertemuan dan kebersamaannya dengan Eibi.
Setiba dirumah, Zivi langsung disambut oleh ke hampaan. ‘Saat Eibi disini, meskipun tidak dirumah, aku tidak merasakan kosong seperti ini.’ membatin dengan hembusan nafas panjang.
Zivi memikirkan kegiatan apa yang akan ia lakukan untuk mengisi kekosongannya, meski rasanya tidak berselera, tapi harus memaksakan dirinya.
Ting tong, bunyi pesan masuk.
Kakak Ipar: Hallo Vi! Gimana kabarmu? Lama tidak ada kabar.
Pesan dari kakak ipar membuatnya teringat rencananya untuk pulang, dan Eibi juga ingin ikut bersamanya. Dengan pesan ini, Zivi berpikir bahwa pulang beberapa hari bisa menjadi pangalih yang terbaik dari kekosongan yang ia rasakan sekarang. Nanti saat Eibi kembali, mereka bisa berkunjung bersama. Tapi kapan Eibi pulang? Eibi tidak memberinya waktu yang pasti.
Zivi segera membalas chat kakaknya dan memikirkan alasan terbaik untuk minta ijin besok pada atasannya.
Diluar langit sudah mulai gelap dan cahaya temaran lampu mulai menghiasi malam menjadi lebih indah. Demikian juga hati seorang pria yang kini merasakan ada kesempatan untuk mendekati sang pujaan hatinya. Gadis yang selalu ia rindukan dan ia cari, sialnya ia temukan saat gadis itu bersanding dengan temannya dipelaminan. Beruntungnya ia tahu beberapa jam setelah pernikahan kenyataan pernikahan mereka. Dan kini adalah kesempatan yang baik baginya untuk mendekati gadis itu.
“Kenapa kau selalu menanyakan hubungan mereka, Mon?” Tanya Richard yang kini sedang bersamanya dalam bahasa mereka.
“Tidak. Hanya ingin tahunya.” Menjawab dengan senyuman khasnya.
“Jika kau berniat jahat, sebaiknya buang jauh-jauh niatmu itu.” Memperingatinya. Sepertinya Richard membaca isi pikirannya.
“!”