LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 76 Rasanya LDR



Zivi kembali dengan rutinitas pekerjaannya, menyibukkan diri.


“Bagaimana rasanya LDR?” Tiba-tiba Donna bertanya padanya.


“Ya biasa saja.” Zivi dengan sesantai mungkin menjawab Donna.


Ia tidak menceritakan yang sebenarnya pada Donna, bahkan ia tidak memberitahu Donna jika dirinya ngekost di dekat kantor mereka.


Ia hanya sesekali pulang untuk melihat rumah dan membayar upah Pak Tedjo dan Bibi Surti dengan alasan ia menginap di tempat temannya.


Hanya Alden yang tahu jika dirinya ngekost.


“Kenapa?” Saat itu Alden menanyainya alasan ia kost.


“Biar lebih dekat. Bagaimana kabar papa Eibi?” Bertanya untuk mengetahui kabar papa Eibi.


“Masih belum sadar, namun kondisi fisik semuanya baik.” Jelas Alden tidak menanyakan lebih lanjut. Hatinya menimbang apakah memberitahu Eibi soal kepindahan Zivi atau tidak?


“Hmmm, beritahu saya jika Eibi hendak kembali.” Pintanya pada Alden. Zivi sudah mempersiapkan diri dan sudah mencaritahu bagaimana mengurus perceraian.


“Jika boleh saya tahu, apakah dirimu ada masalah dengan Eibi?” Alden


Dengan senyuman kecut Zivi menjawab, “Kurasa kamu paling tahu bagaimana hubungan saya dengan Eibi dari awal sebelum menikah.”


Tentu saja Zivi berpikir bahwa Alden tidak mungkin tidak tahu. Secara, Alden adalah orang yang paling dekat dengannya.


“Dan ku rasa, sudah saatnya kami berpisah.” Zivi mengutarakan intinya pada Alden.


“Tolong jangan beritahu dia untuk saat ini. Mengenai saya ngekos dan keinginan saya untuk pisah. Biarkan dia fokus dengan kesembuhan papanya dan urusan lainnya disana.” Tegas Zivi pada Alden, dan ia yakin bahwa Alden past setuju dengannya karena mereka memiliki pemikiran yang sama. Dan benar saja. Alden setuju.


“Biasa bagaimana?” Tanya Donna menyadarkan Zivi yang ia rasa sedang tenggelam dengan pikirannya. Ia mengira ada uraian lebih lanjut, ternyata tidak.


“Huh? Kamu tahu bagaimana rasanya, tidak perlu bertanya padaku.” Zivi kembali normal dan menjawab Donna. ‘kacau rasanya LDR.’ Batin Zivi. Perasaannya kacau. Tapi juga bagus, ia tahu mengakhirinya. Mengakhiri perasaannya yang kacau.


“Hmmm, aku hanya ingin tahu saja perasaanmu. Tapi kurasa hampir samalah, meski dengan masalah yang berbeda.” Donna merespon Zivi menggali lebih dalam, “dan bagaimana kalau kau kerumahku saja malam ini. kebetulan Richard tidak ada di rumah.” Ajak Donna.


“Kamu?” Zivi


“Iya. Tapi beda Gedung, hanya saja kami sering bersama jika free.” Donna


“Tapi kalian tidak…”


“Hei, kami tidak tidur bersama.” Donna menjawab pertanyaan Zivi yang tidak terselesaikan.


“Hmmm, that’s good.” Zivi tersenyum sambil mengangguk. Senang untuk Donna yang mendapatkan pria yang baik seperti Richard.


“Nanti pulang, jalan – jalan sebentar ke pantai yuk. Sekalian dinner disana. Sejak kau pulang, aku tidak ada teman jalan, rasa kering.” Dengan nada sedikit protes.


“Kenapa kau tidak mengajak Epi?” Zivi merasa disalahi.


“Aku sudah mengajaknya, tapi susah sekali. Memang, jika beda tempat kerja, pasti sulit hang out bersama.” Keluh Donna, “Coba ajak dia nanti sore jika bisa.” Usulnya.


“Sepertinya tidak bisa. Jam kerja dia hari senin padat, akan pulang malam dan ia pasti lelah.” Zivi menjelaskan detailnya pada Donna, karena ia sudah tahu jam kerja Epi.


Waktu berlalu, jam kerja berakhir. Meninggalkan kantor menuju pantai dengan mobil Donna. Zivi tidak membawa motor karena tempat kerjanya dekat.


Pantai sedikit sepi, kebanyakan wisatawan sudah duduk di resto sambil makan, minum dan bercengkrama. Hanya beberapa orang yang jalan kian kemari.


“Sudah lama sekali kita tidak kesini.” Aku senang sekali. Foto aku dengan langit sorenya.” Pinta Donna dengan girang merentangkan tangannya ke atas saat baru mereka tiba di pantai.


Crek! Zivi segera mengambil gambar Donna sambil tertawa. Ia biasa saja dengan berada dipantai itu, namun ia ingat pertama kali merantau dipulau ini, ini adalah pantai yang pertama kali ia kunjungi, dan juga tempat yang sering ia datangi bersama Epi dan Lita diwaktu free mereka.


“Hei, kau! Aku belum siap! Pasti jelek hasilnya.” Donna protes sambil mendekati Zivi dan melihat hasilnya.


“Tidak. Bagus hasilnya.” Zivi


“Mana, lihat!” Donna sambil menarik ponsel dari tangan Zivi.


“Yei, bagus sekali! Pintar juga kamu motretnya!” Puji Donna melihat fotonya dengan puas hati.


“Lagi ya, foto aku. Kesana.” Ucap Donna sembil berjalan lebih kedalam seakan mendekati cahaya emas matahari.


Zivi berbalik mendengar suara mengadu dari belakangnya. Tidak mengikuti Donna.


Pria yang berjongkok dengan kaki yang berdarah.


“kamu?” Zivi segera menghampirinya dan ikut berjongkok didepan pria itu. kakinya tertusuk pecahan beling.


“Sebentar.” Zivi segera melepaskan tasnya untuk melihat apakah persedian obatnya ada. dengan serius mencari.


Mendengar nada khawatir Zivi, pria itu tak kuasa mengontrol senyumnya.


Wanita yang sama. Masih sama. Nada yang sama. Kekhawatiran yang sama yang pernah ia dengar diawal ia bertemu dengannya.


‘Apakah ia masih mengingatnya? Apakah ia masi mengingat pernah melakukan hal yang sama pada seorang pria 2 tahun lalu?’


Jika diawal pertemuan mereka ia sungguhan terluka oleh beling, kali ini ia rela beling ini melukainya sama persis dengan yang pertama didekat wanita ini untuk mendapatkan perhatiannya dan sekalian mengenalnya. Ia ingin mengulangnya dan melakukan apa yang terlewatkan. Berkenalan dengannya.


“Hissss” perih itu mengalihkan perhatiannya dari wanita yang dikaguminya itu.


“Hanya ada tissue dan plester.” Sedikit kecewa, namun ia tetap mengabil kedua benda itu dan meletakkannya dipasir. “Biarku bantu.” Zivi menahan tangan pria itu yang hendak menarik beling yang menancap dikakinya.


“Tahan ya. Tutup matamu.” Pinta Zivi sambil memegang punggung kaki pria itu dengan satu tangan dan satunya menarik beling dalam sekali tarik setelah ia lihat aman untuk sekali tarik.


Dengan cepat ia mengambil tissue dan membantunya membersihkan darah dari kaki pria itu.


Pelan-pelan hingga darahnya tinggal mengalir sedikit. “Kurasa, kita perlu ke apotik.” Menahan tissue yang baru pada luka pria itu.


“Bantu aku tahan sebentar” pintanya.


Zivi mengambil hansaplash untuk memplester luka yang ditutup dengan tissue itu.


“Rupanya kau ...” Donna tak berdaya mendapati Zivi yang sedang membantu pria asing dengan lukanya.


Ia mengira Zivi mengikutinya, namun setelah berkali – kali ia biacar, taka da respon. Dan saat berbalik Zivi yang ia ajak bicara masih ditempat sama tadi berjongkok dengan seorang pria.


“Damon?” Donna kaget ternyata pria itu adalah Damon teman Richard. Ia ikut berjongkok bersama mereka.


“Kau mengenalnya?” bertanya sambil mengusap bersih pasir dari kaki pria yang dipanggil Damon itu. “Alas kakimu mana?” Tanya padanya.


“Ini.” Donna segera menyerahkan sandal Damon yang ada disampingnya sebelum Damon mengambilnya.


Ketiganya berdiri,


Tep tep tep Zivi dan Damon melakukan hal yang sama untuk menepuk bersih pasir dari tangan mereka.


“Ini.” Zivi menyodorkan tissue pada damon sebelum ia mengambil untuk dirinya sendiri.


“Thanks.” Sambil menarik tissue dari tangan Zivi.


“Damon.” Ucapnya menyodorkan tangannya pada Zivi.


“Zivi.” menerima tangan Damon setelah membersihkannya dengan tissue.


‘akhirnya ia berkenalan langsung dengan Zivi.’ betapa senang hatinya.


Zivi dan Donna melanjutkan kehebohan mereka sebentar sebelum makan malam.


Damon segera pergi setelah berterimakasih pada mereka.


Eibi duduk dikursi dengan ponsel ditelinganya.


“Zivi sedang jalan-jalan bersama Donna ke pantai. Tidak perlu kau khawatir.”


Mendengar laporan Alden ia lega.


“tut tut” hubungan telpon terputus.


Alden “!”