LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 38 Makan Bersama Teman Lama



“Do you want to go work together?” Pertanyaan Eibi mengagetkan Zivi yang sedang menyiapkan sarapannya.


Zivi mengeryit, melihat Eibi berdiri diambang pintu dapur. Sudah lengkap dengan pakaian kantornya dan sedang fokus mengenalkan arlojinya. Tidak biasanya dia bangun pagi, kecuali ia harus berangkat keluar kota dengan jam pagi hari. Apa dirinya yang salah jam?


Zivi melihat arlojinya. Masih pagi. Jamnya tidak mungkin salah. Ia melihat ponselnya untuk memastikan jam arlojinya tidak salah. Sama. Masih pagi, “Kamu keluar kota lagi?” Tanya Zivi akhirnya. ia lupa belum menjawab pertanyaan Eibi.


Eibi mengeryit mendengar pertanyaan Zivi, “Tidak. Saya ada jadwal meeting pagi.” Menjawab akhirnya, “mau berangkat bersama?” Tanyanya lagi.


Ia ingin berangkat bersama Zivi. ia ingin mengantar juga menjemput Zivi seperti pasangan pada umumnya. Namun mengingat ucapan gadis itu kemarin, ia menghargainya. Tidak bisa ia memaksa gadis itu untuk mengikutinya maunya. Untuk mendapatkan hatinya, ia harus lembut.


“Owh, no. Thanks.” Zivi menolak. Baru kemarin berkata jaga jarak. Bagaimana bisa hari ini dirinya membuka cela jaga jarak terabaikan. “Let’s have breakfast!” ajak Zivi sambil tersenyum tulus.


Seperti ucapan orang, kalau mengajak orang makan, ajaklah dengan senang hati, supaya itu jadi berkat untuknya. Itulah yang ia lakukan pada Eibi.


Nasi, ikan goreng, sayur sup warna warni cantik -campuran sayuran bayam, wortel, tomat, sosis yang potong kecil-kecil- diatas meja. Tidak banyak, namun cukup untuk berdua. Jika ia makan sendiri, biasanya Zivi bawa untuk jadikan bekal atau simpan untuk nanti sore saat pulang.


Eibi melihat masakan sangat sederhana, namun warnanya juga harum masakannya menimbulkan rasa ingin makan dalam dirinya. Eibi duduk, Zivipun memberikan piring dan sendok untuknya dan meminta Eibi mengambil duluan.


Sama dengan harumnya, rasanya nikmat juga segar. Eibi suka dengan rasa itu. “It’s yummy.” Puji Eibi.


“Hmm, terimakasih. Sebenarnya masakan yang sangat simpel dan bisa dikerjakan cepat. Saya tidak bisa masak seperti masakan restoran.” Zivi berkata jujur juga malu dengan pujian Eibi. Baginya itu berlebihan.


“But I told you the truth. It’s simple but yummy.” Ucap Eibi setelah menghabiskan makannya. “Hmmm, tentang sabtu malam, kamu pergi kemana?” Eibi bertanya pelan-pelan.


“Owh, itu, kami ada perayaan kecil untuk Lita.” Zivi memilih kata-kata yang tepat untuk memberitahu Eibi sebagai pengganti kata bridal shower. Ia tidak mau Eibi tahu tentang hal itu.


“Dan kamu minum?” dengan raut menyelidik.


“Hmmm, hanya sedikit.” Jawab Zivi tak enak, “2 cup kecil.” Jelasnya. Ia tak mau Eibi salah sangka terhadapnya.


“Lain kali, beritahu saya kamu keluar, apalagi hingga minum.” Pinta Eibi. Bahaya jika Zivi minum tanpa sepengetahuan, kalau terjadi apa-apa, bagaimana? Ini juga salah satu cela untuk membuat gadis memberitahunya jika ia hendak keluar.


“Hmmm, baiklah.” Zivi mengiyakan. Eibi mengkhawatirkan dirinya. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, ia perlu juga memberitahu Eibi.


Setelah selesai makan dan menggosok gigi karena habis makan ikan, merekapun berangkat kerja dengan kendaraan masing-masing. Eibi bersama Alden naik mobil, dirinya naik motornya.


Sepulang kerja, saat mampir ke tempat ia memesan perhiasan beberapa waktu lalu. Pemilik memberitahunya tadi siang bahwa pesanannya sudah jadi. Setelahnya, ia ke supermarket untuk membeli keperluan pribadinya sekalian membeli stok makanan. Persediannya dikulkas sudah menipis.


“Kamu…” suara itu terdengar saat ia sedang mencermati masa kadaluarsa produk yang ingin dibelinya. Ia menoleh dan melihat pria tinggi besar disampingnya sedang melihatnya dengan wajah sumringah. Zivi merasa familiar dengan orang itu.


“Kamu benaran Zivikan?” Tanya pria itu lagi.


“I… iya” jawab Zivi merasa tidak enak. Pria tersebut jelas familiar namun ia lupa namanya.


“Vi… ini aku Ron. Masa kamu lupa?” Pria itu memeluknya dengan rasa haru dan senang.


“What? Kamu Ron?” tanya Zivi sambil keluar dari pelukan pria itu dan melihatnya dengan seksama. Rasa gembiranya terlihat jelas diwajahnya sambil menatap Ron.


Ron adalah Ronald yang biasa ia panggil Ron. Dia teman masa kecilnya.Teman bermain sebelum sekolah hingga PG, TK, SD, SMP mereka selalu bersama. Namun sayang saat lulus mereka harus berpisah karena orang tua Ronald pindah kerja. Ron yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu. Pastinya. Ia hanya bersamanya selama masa mereka belum pubertas.


“Ya ampun, aku tak menyangka bakal ketemu disini! Kamu sangat berbeda sekarang. Hampir aku tak mengenalimu.” Ucap Zivi sambil menggebu-gebu. Ada rasa kagum terhadap pria itu. Ron yang terlihat sangat dewasa dan begitu tampan. “Dilihat dari sisi manapun, bisa ku lihat bahwa kabarmu sangat baik.” Zivi memujinya dengan pernyataannya.


“Hmmmm, seperti yang kau lihat!” jawab Ron bangga dengan mengendikkan kedua bahunya, “Kamu, apa kabarmu?” Tanyanya.


“Kabarku baik.” Jawab Zivi.


“Hmmm, bisa kulihat. Ayo, sambil belanja, kita bisa ngobrol.” Ron mengambil alih keranjang bawaannya untuk didorong.


“Boleh. Cari dulu apa yang ingin kamu beli, setelah itu ke bagianku.” Usul Zivi membiarkan Ronald mendorong keranjang belanja.


“Baiklah.” Zivi mendahuluinya. “Apa selama ini kau di ***i?” tanya Zivi ingin tahu.


“Tidak. Aku belum seminggu disini. Ada proyek baru yang sedang kami kerjakan disini.” Terang Ron. Zivi tetap sibuk melihat-lihat dan mengambil yang ia perlukan.


“Owhhh. Kebetulan sekali bisa bertemu. Betapa senangnya aku bisa bertemu denganmu, Ron…” Zivi berucap tidak percaya bisa bertemu dengan Ron yang tidak pernah ia harapkan bisa bertemu lagi dengannya. Ron terus mendorong keranjang mengikuti Zivi sambil melihat dan mengambil yang ia perlukan.


“Benarkah? Kau hampir tak mengenaliku tadi!” Ron menggoda Zivi, dirinya juga sangat senang bisa bertemu dengan Zivi.


“Hmmm, salahkan dirimu berubah dengan drastis hingga aku tak mengenalimu.” Protest Zivi, “Tapi kenapa kau langsung mengenaliku?” Tanya Zivi heran. Rasanya tak adil. Apa dirinya tak banyak berubah selama ini?


“Tentu saja aku mengenalimu. Itu bukti bahwa aku tidak pernah melupakanmu!” goda Ron. Tentu saja ia mengenali Zivi yang sekarang, beberapa waktu lalu ia tak sengaja menemui namanya dimedia sosialnya, dan melihatnya.


“Kurasa sudah semua yang ku perlukan. Bagaimana denganmu?” Tanya Zivi melihat Ron. Barang yang perlukan tidak terlalu banyak.


“Sudah. Tidak banyak yang kuperlukan. Hanya ini, ini, dan ini” Ucapnya sambil mengambil barang-barang yang ia perlukan. Lalu mendorong keranjang menuju kasir, namun mengantri terlebih dahulu. “Setelah ini, hayo makan bersama.” Ajaknya.


“Ok. Ide yang bagus.” Jawab Zivi sambil melihat arlojinya. Sudah hampir jam 6. Bisa sekalian untuk makan malam, pikirnya. OR skip. “Kamu tunggulah di luar, biar aku yang ngantri.” Ucap Zivi mengambil alih keranjangnya.


“Tidak perlu. Kita ngantri bersama.” Tolak Ron.


“Baiklah.” Zivi tak memaksa.


Giliran mereka untuk membayar. Kasir yang bertugas menyeken semua belanjaan mereka dan menyebutkan harga belanjaan mereka. Zivi menyodorkan kartunya untuk membayar.


“Pakai ini saya.” Ron menyerahkan kartunya langsung pada kasirnya.


“Jangan mbak! Pakai ini saja.” Zivi menolak lalu melihat Ron.


“Pakai ini mbak.” Ron ngotot dan mengabaikan Zivi. Zivi menghela nafas pasrah. Tidak mungkin ia berdebat dengannya disana dan menjadi tontonan umum. Akan sangat memalukan.


“Baiklah.” Jawab pendek dengan perasaan tidak nyaman, namun nyaman untuk mbak kasirnya. Karena tak perlu menunggu perdebatan mereka.


Mereka berjalan keluar menuju resto dekat diluar supermarket untuk makan bersama. Ron membawa tas belanjaan. Zivi ingin membawa sendiri belanjaannya, namun Ron menolak.


“Berikan aku nomormu aku transfer biaya belanjaanku.” Pinta Zivi sambil membuka ponselnya untuk mengetik. Sambil menunggu pesanan, lebih baik segera diselesaikan. Pikir Zivi.


“Sinikan ponselmu. Biar aku mengetiknya.” Pinta Ron, Zivi patuh. “Sudah.” Ucap Ron menyerahkan kembali ponsel Zivi dengan layar depannya. Ron mengeluarkan ponselnya lalu mengirim pesan.


Drt


Ponsel Zivi bergetar. Pesan WA masuk. Dari RONmu namanya -Nomor Ron-. Zivi membelalak melihat Ron yang tersenyum menatapnya.


“Maksudku nomor rekeningmu, Ron!” ucap Zivi dengan geram tertahan. Gemas akan tingkah Ron. Baru bertemu setelah sekian lama berpisah, tetap saja tingkahnya menyebalkan seperti dulu.


“Owh… kau meminta nomorku. Dan ku kira…” Jawab dengan senyuman melebar melihat raut Zivi, “hahaha, Vi. Anggap saja itu traktiran dariku. Nah, makanan kita nanti kau yang bayar.” Ucapnya untuk melegakan hati Zivi.


“Baiklah.” Jawab Zivi. biaya makanan mereka dirinya yang bayar sebagai ganti biaya belanjaannya. Meski beda jumlahnya, tenang. Ada jalan lain untuk menggantinya nanti. Tidak perlu berdebat. Itulah Zivi.


Eibi pulang cepat, berharap bisa bersama dengan Zivi sekalian mengenakan kembali cincin nikahnya pada jari manisnya. Sayang tak sesuai harapan. Tak ada Zivi di kamar, ruang bawah, di taman juga tak ada. Pak Tejo memberitahunya Zivi belum pulang. Ia ke ruang kerja setelah membersihkan dirinya. Memejamkan mata dengan memainkan cincin itu dijarinya. -Kemana gadis itu? kenapa belum pulang? Kenapa tidak memberitahunya sama sekali? -Eibi bertanya – pada dirinya.


Sudah gelap. Zivi belum pulang. Eibi melihat jam. Sudah menunjukan 6:30. Kenapa Zivi belum kembali? Ia khawatir. “Halo! Where are you?” langsung bertanya saat telfon terhubung.


“Makan bersama teman siapa?” Bertanya sudah mulai tak senang mendengarnya.


“Baiklah. Setelah makan, cepatlah kembali. Jangan terlalu malam pulangnya.” Pintanya.