
Duduk diam termenung. Mengingat kembali petaka yang tidak pernah ia bayangkan dalam hidupnya. Zivi mengingat kembali, apa yang terjadi dan rasanya tidak percaya akan hal itu. Tapi itu benaran terjadi padanya.
Ya, dirinya dan Eibi sebentar lagi akan menikah.
Ada sedikit perasaan suka pada Eibi, namun jika seperti ini jalannya, sulit untuk diterima. Bukan seperti ini maunya.
Flashback
Pagi itu ia mendapati dirinya berada disebuah kamar yang sangat mewah, yang sangat berbeda dengan kamar kostnya.
Ia ada dikamar hotel. Terlihat dengan jelas itu adalah kamar hotel. Karena dirinya kadang-kadang ke hotel untuk mengantarkan tamu yang membutuhkan hotel. Dan kadang dirinya juga berkunjung ke hotel-hotel untuk melihat keadaan dan fasilitas hotel, lalu kemudian diajak bekerjasama.
Yang membuatnya syok, ia tidak ada sehelai benangpun ditubuhnya yang tertutup selimut. Dan yang sangat sangat membuatnya kaget, ada seorang pria disampingnya. Sontak membuatnya mendorong pria yang masih terlelap itu.
“Hmmmm, ada apa?” tanya pria itu memprotes merasakan ada yang mengganggu tidurnya sambil mengucek matanya melihat gadis disampingnya yang sedang duduk dengan mata berair. Dari keadaannya yang memegang erat selimut menutupi tubuhnya hingga leher, Eibi memahami apa yang sudah terjadi.
Ia tidur dengan seorang wanita, dan itu adalah Zivi. Wanita yang sedang dalam proses ia dekati. Tak pernah terlintas akan terjadi hal seperti ini. Bagaimana bisa dirinya sudah berada dikamar hotel dengan Zivi?
“What happened? Kenapa bisa seperti ini?” tanya Eibi lagi sambil mengingat kembali peristiwa semalam. Zivi hanya menggelengkan kepala tanda dirinya tidak mengingat apa-apa.
Namun sayang, ia hanya mengingat dirinya ada di club bersama teman-temannya untuk merayakan ulang tahun temannya -Richard-.
Dan secara tak sengaja bertemu dengan Zivi dalam acara itu. keduanya ngobrol dan minum. Namun hanya dirinya yang minum vodka. Zivi memesan minuman yang tak beralkohol.
Setelah itu, dirinya tidak ingat apa-apa lagi.
“Arghhhh” erang Eibi frustasi dengan apa yang ia hadapi saat ini.
“Kamu tenang saja. Aku yakin, pasti ada seseorang yang menjebak kita.” Jelas Eibi menenangkan Zivi yang menangis dalam diam.
Zivi hanya diam tidak merespon. Ia sangat menyesal mengiyakan untuk menemani temannya. Andaikan dirinya tegas menolak tanpa belas kasihan, pasti tidak akan terjadi hal seperti ini.
“Tutup matamu” pintanya pada Zivi yang diikuti dengan tindakan oleh Zivi memahami maksud Eibi.
Eibi turun dari tempat tidur dan memungut pakaiannya yang berserakan dilantai mengenakannya dengan cepat. Lalu berlalu keluar memberi ruang untuk Zivi mengenakan pakaiannya.
“Saya tunggu kamu diluar.” Berpesan pada Zivi sebelum menutup pintunya kamarnya.
Setelah mengenakan pakaiannya, Zivi keluar dan mendapati Eibi yang berdiri disamping depan pintu menunggunya.
Flashback Off
Sejak kejadian itu, dengan beberapa kali pembicaraan, akhirnya mencapai keputusan untuk menikah.
Kini dirinya sedang menunggu menit menanti sebentar lagi orang yang akan meriasnya akan tiba.
Kamar yang ia tempati cukup besar dan terlihat mewah, dengan semua tata ruang yang begitu rapi.
Dirinya baru tiba ditempat itu semalam, dan tidak terlalu memperhatikan. Pagi hari ia bangun dan membersihkan diri sambil menanti periasnya datang ia melayangkan pandangnya keseluruhan ruangan.
Tempat tidur king size, dengan meja kecil disampingnya tempat sebuah lampu tidur bertengger. Ada sebuah lemari juga besar yang terlihat menyatu dengan tembok berwarna coklat. Disebelahnya ada meja rias yang diapit lemari kecil berloker terbuka dengan beberapa laci kecil dibawahnya. Didalam lokernya berdiri botol-botol kecil, tampaknya botol parfum. Ada kursi kecil didepannya. Namun diatas meja rias tidak ada apa-apa.
Tok tok tok
Pintu kamar diketuk menghentikan Zivi dari mengamati ruangan.
“Masuk” jawabnya pada suara ketukan pintu itu.
Periasnya tiba.
………
“anda cantik sekali dengan gaun ini. tambahkan yang ini, pasti tambah cantik” Setelah selesai meriasnya dan mengenakan gaun pengantin putih yang bagian bawahnya mengembang. Lengan gaunnya pendek dan hanya sedikit terbuka dibagian depan, namun tidak terlalu rendah. Bagian belakang juga sama. Masih terlihat tertutup dan nyaman baginya yang tidak biasa mengenakan pakaian terbuka.
“bukan karena gaunnya, gaunnya sempurna karena jatuh pada pengantin yang sangat anggun!” timpal seseorang.
“kalian terlalu memuji.” Timpal Zivi tersenyum malu karena merasa biasa saja, bahkan merasa tidak cocok dengan gaun itu.
Andai ini pernikahan yang ia ingin dan persiapkan, pasti akan sangat senang mendengar pujian mereka. Terlebih lagi dirinya tidak mengenakan tudung gaunnya untuk menutupi kepala dan wajahnya saat menikah nantinya. Bukankan akan sangat memalukan? Para tamu pasti sudah tahu bahwa pernikahannya bukan pernikahan suci.
“bukan. Ini fakta.” Sanggah mereka serempak.
“kita foto bersama ya” ajak yang seorang sambil mengeluarkan HPnya untuk ambil foto bersama.
“baru kali ini saya merias pengantin tanpa jerih lelah yang begitu ribet! Tapi sangat memuaskan!” berdecak kagum dengan karya riasannya.
“share ya… sebagai kenangan!” rekannya minta bagi foto.
‘tidak menyangka sebentar lagi menjadi titik awal hidupku sebagai seorang istri akan dimulai. Seharusnya aku bahagia, tapi ….’ Batin Zivi dalam lamunannya membayangkan hari depannya. Ya, laki-laki yang akan menikahinya adalah laki-laki yang baik hati tentunya. Laki-laki yang bertanggung jawab, setidaknya mau menikahinya karena kecelakaan malam itu.
Namun hal itu tidak cukup untuk menjadi alasan kebahagiaan bagi insan yang menikah. Meski ia sudah mengenalnya melalui pertemuan mereka yang tidak seberapa dan melalui chat, tapi tidak ada rasa itu yang timbul. Rasa yang menggetarkan seperti kebanyakkan orang bilang bahwa cinta itu buat hati bergetar. Getar bahagia serasa mau terbang. Meski ia senang dan sedikit menyukai Eibi.
“Sudah siap?” dari pintu kamar seseorang menyadarkannya dari lamunan.
“sudah.” Jawab sang perias diikuti dengan anggukan Zivi dengan senyum yang dipaksakan.
WISNU. Dia adalah kakak Zivi yang akan menjadi perwakilan orang tua mereka yang sudah tiada. Mereka hanya berdua, kakak beradik yang saling menyayangi sejak ditinggal kedua orang tua mereka. Oups, ada sang nenek juga yang bersama mereka. Namun sejak sang kakak menikah, hanya Zivi yang tinggal bersama neneknya.
****
Laki-laki itu berdiri disana, didepan altar. Laki-laki yang akan ia damping setelah pernikahan ini. Setibanya di hadapan laki-laki itu, kakaknya Wisnu menyerahkan tangan Zivi yang ia genggam ke tangan laki-laki itu.
Dan acara ceremonial pernikahan mereka pun berlangsung dengan mengucapkan janji nikah dan menyematkan cincin nikah.
“selamat ya… Selamat untuk pernikahannya.. yang langgeng… turut berbahagia ya atas pernikahanmu. Cepat dapat momongan…… “ banyak sekali ucapan yang Zivi dengan, ucapan doa, ucapan selamat... semua dari para sahabat dan kerabat dekat yang diundang dalam pernikahan sederhana itu.
Pernikahan tidak menghadirkan awak media, agak tertutup namun tidak bagi keluarga dan sahabat. Mereka menjadi saksi dalam pernikahan itu.
Setelah acara salaman, diikuti dengan resepsi pernikahan. Mereka menuju meja hidangan diberbagai titik dengan menu yang berbeda dan kemudian menuju meja yang sudah disediakan. ada juga yang memilih menikmati hidangan sambil berdiri dan mengobrol. Semua terserah mereka. Dekorasi acara pernikahan memang sengaja dibuat demikian untuk setiap undangan yang memang tidak banyak.
Disela-sela mereka menikmati makanan, ada pemotretan untuk keluarga pamanggilan untuk keluarga inti, dan kemudian memanggil kerabat dekat, kerabat jauh, sahabat dekat, teman biasa, dipanggil secara bergilir untuk foto bersama pengantin.
Hiburan bagi Zivi ketika bersama orang-orang terdekatnya, saat foto bersama. Paling tidak menghilangkan rasa canggungnya bersama suaminya. Ya sekarang dia sudah menjadi suaminya.
“akhirnya… nggak nyangka aku Vi.” Ucap lita dengan senyum bahagia yang tulus kepada Zivi.
“Ia…. Baru beberapa waktu lalu ngomongin jodoh yang kamu mau, terwujud aja.” Timpal Epi yang disebelahnya sambil tertawa, namun tetap menjaga keanggunannya. “aku juga mau ah… ya perbaiki keturunanlah…” tambahnya bercanda.
“hehehehe, kudoakan ya kalian cepat nyusul aku. Udah ah… turun… gantian foto sama yang lain.” Usir Zivi halus karena memang tidak bisa berlama-lama. Karena harus bergantian dengan yang lain.
Fotografernya cukup tampan, dan terlihat sangat ahli dalam bidangnya itu. Ia tinggi, kulit kemerahan dengan rambut pirang. Mungkin teman Eibi.
“Vi… selamat datang kedalam dunia keluarga...” ucap mbak Rena pada Zivi dengan sangat bahagia. Ia bersama suaminya dan beberapa teman kantor Zivi datang ke pernikahan. Mbak Rena yang selalu jadi teman sakaligus kakak bagi Zivi ditempat kerja.
Tak lupa, Dona juga hadir dipernikahan Zivi bersama sang pacar, “Selamat ya.” Ucapnya menyalami Zivi disusul dengan pacarnya. ‘Andai bukan karena kau! Tidak akan seperti ini Don!’ Batin Zivi.
Saat semua sudah kebagian foto bersama, sang fotografer meminta kedua mempelai untuk foto bersama. Zivi dan Eibi *Eibi nama suami Zivi ngikut saja. Usai mengambil 3 hingga 4 kali pose atas permintaan Zivi, mereka bergabung bersama keluarga inti.
Nenek, Kak Wisnu dan sang istri -Santi- duduk santai dimeja keluarga khusus untuk kedua mempelai. Mereka asik ngobrol dengan Alden sebagai perwakilan dari keluarga Eibi yang tidak bisa menghadiri pernikahan mereka. Entah apa yang mereka bicarakan, ada gelak tawa diantara mereka.
“seru amat ngobronya…” ucap Zivi seraya duduk dikursi kosong yang memang tersedia untuknya karena ada tulisan “the bridegroom” dibelakang kursi tempat ia duduk sedangkan disebelahnya “the Bride” untuk Eibi.
Tak lama Eibi duduk bersama mereka. setelah ngobrol sebentar bersama keluarga Zivi, Ia minta diri untuk bergabung bersama teman-temannya yang sedang menikmati soda. Karena tidak disediakan wine sesuai dengan selera kerabat atau teman-teman suaminya. Itu adalah permintaan Zivi. mengingat acara tersebut hanya dari pukul 14:00 siang hingga 17:00 sore hari. Tidak pas untuk menyuguhkan wine.
Entah apa yang mereka bicarakan, terlihat teman-teman Eibi tertawa. Sedangkan Eibi sendiri tidak. datar. Tatapan datar terhadap teman-temannya tertawa.
“ku pikir kau menikahnya sama dia… hahahaha, ternyata….”
“iya, jalan sama dia, nikah sama yang ini…. Hahahahaha”
“tapi lumayan juga yang ini. Dapat dimana?” timpal yang seorang seakan mengejek.
“eh, kalian kalau mengejek, harus tahu tempat bro… “ ucap Eibi mematahkan tertawa teman-temannya.
“nanti kita ketemu di tempat biasa. Sekarang kalian pulang aja.” Tambahnya mengusir.
Ya, pembicaraan teman-temannya lumayan kelewatan baginya. Ditambah moodnya yang sedang tidak senang karena pernikahannya. Mendingan diusir.
Resepsi berlangsung hingga akhirnya undangan pulang satu persatu dan tinggallah mereka keluarga inti yang tersisah dan beberapa tim dekor dan catering yang juga membereskan semua tenda, kursi, meja serta dekoran pernikahan taman itu.
Hening. Sepi. Itulah yang tersisa setelah acara itu usai. Karena keluarga Zivi pun sudah kembali ke motel tempat mereka menginap. Ingin rasanya Zivi minta mereka tinggal bersamanya satu malam di rumah itu, namun tetap saja sungkan minta ijin pada suaminya.
‘gini amat ya titik awal hidup pernikahanku Tuhan. Jauh dari apa yang aku impikan’ batin Zivi.