
Love’s power. Someone you have in your heart cares for you. That’s really something. It can turn your heart upside down.
Eibi berangkat dengan hati yang berbunga. Perjalanan bisnisnya kali ini terasa berbeda. Beban proyek seakan hilang, dan seperti mendapat energi baru dalam perjalanannya kalinya. Senyum samar bisa terlihat oleh Alden yang disampingnya. Dan ia tahu apa penyebabnya. Ia tak sengaja melihat Eibi mencium Zivi tadi. Sesuatu yang tak pernah ia lakukan pada Kezia sebelumnya.
“Sepertinya hubungan kalian sudah serius?” Pertanyaannya terlontar memastikan. Ia pernah mengatakan pada Eibi untuk memberitahukan perasaannya pada Zivi. melihatnya mencium Zivi, mungkin ia sudah menyatakan perasaannya dan Zivi menerimanya. Pikir Alden.
“Hmmm. What time our schedule today with Mr. Hill?” Eibi hanya bergumam sebagai jawaban dan menanyakan mereka nanti. Ia tidak terlalu suka membagikan hal pribadinya pada orang lain, termasuk Alden. Alden cukup tahu dari melihat dan berkomentar seperlunya.
“At 4pm. We still have time to rest.” Alden menjawab dan tak menuntut jawaban yang ia inginkan. Ia sudah tahu bagaimana Eibi.
“What's that?” Alden bertanya lagi dengan melirik ke tas kecil yang Eibi pangku. Tak biasanya Eibi repot membawa hal seperti itu kecuali koper dimana semua barangnya sudah ada disana.
“My wife’s way to show her care towards me.” Jawabnya. Sambil membuka dan melihat isinya.
“She prepared two for each item. The one must be for me. She cared about both of us.” Komentar Alden melihat Zivi menyiapkan dua dua item.
“These are all for me. She didn't mention your name a little bit.” Eibi menyanggah. Jiwa pelitnya dadakan muncul, tidak ingin berbagi.
“?” -hanya makanan bro!- batin Alden. “owh, I see!”
***
'Owh!No!' Zivi terbangun dengan penolakannya terhadap dirinya dalam mimpi.
‘Tidak boleh. Kenapa dalam mimpi aku pasrah.’ Dalam mimpi, diam saja ia dicium oleh Eibi. ‘Dan itulah yang sepertinya terjadi tadi pagi! Hal yang tidak bisa diterima. Kenapa bisa diam saja. Dan dalam mimpi juga!’. Menggelengkan kepala dan melihat jam.
“What? Aku terlambat. Gara gara Eibi ini.” Gerutunya dan dengan segera bangun melipat selimut secepat kilat dan menuju kamar mandi. Sudah jam 6:30. Perjalanan membutuhkan waktu 15-20 menit jika tidak macet.
****
“Pak, Zivi pamit dulu ya. Tolong jaga rumah.” Zivi pamit pada pak Tejo pada jumat siang itu. Ia sudah memesan taksi untuk kerumah Donna. Mereka berkumpul disana untuk berangkat.
“Mau kemana non? Sampe bawa koper segala.” Pak Tejo sambil melihat Zivi dengan koper serta tas punggung kecil.
“Saya ke rumah teman pak. Nginap. Bosan sendirian dirumah.” Jawab Zivi sambil tertawa.
“Ah, non. Bukannya sudah biasa. Jika mau, saya bisa mintakan ijin pada tuan agar istri saya dibolehkan menginap menemani non.” Usul pak Tejo.
“Tidak usah repot Pak. Lagian saya ingin bersama teman saya. Sudah lama kami tidak kumpul bersama.” Zivi menolak dengan alasan. Ia berbohong pada Pak Tejo, agar tidak Panjang urusannya.
“Baik non. Nanti saya beritahu tuan begitu jika beliau bertanya.” Respon Pak Tejo mengagetkan Zivi. ‘Memberitahu? Rupanya memberi laporan! Untung tidak kukatakan yang sebenarnya. Bisa gagal!’ Zivi lega merasa aman.
“Iya Pak. Tapi tak perlu bapak hubungi lagi. Dia sedang sibuk sekarang. Saya sudah sudah minta ijin Eibi untuk hal ini.” -Aduh, jadi pembohong aku sekarang- gerutu Zivi.
“Baik, non.” Pak Tejo tidak curiga. Zivi yang penampilannya manis dan tak terlihat tampang pembohong, membuatnya ia cepat percaya.
***
"Hi! Nice to meet you and run this bussiness together." Eibi menyalami Mr. Hill ditempat mereka melihat lahan yang akan menjadi tempat mereka membangun proyek bersama.
"Yeah. Hope we can get along as like as your wife and my girlfriend." Jawab Mr. Hill menyambut tangan Eibi dengan senyuman lebarnya. Ya, dia adalah Richard pacar Donna. Richard Hill. Mereka sudah saling kenal meski tidak dekat.
"Yeah. I hope so Mr. Hill." Balas Eibi dengan senyuman lebarnya. Akan semakin bagus jika mereka bisa bekerjasama dengan baik dan jujur satu sama lain. Apalagi istri dan pacarnya berteman. Teman dekat sekarang.
***
Zivi dkk masuk kamar hotel. Mereka akhirnya tiba jam 10.30pm, dan tinggal di hotel dimana Lita akan melaksanakan pernikahan nya. Perjalanan yang sangat melelahkan dan butuh istirahat!
Untung tinggal Chek in, karena mereka sudah booking melalui Lita beberapa hari sebelumnya. *1 kamar untuk bertiga, sekalian hemat, dan uang bisa untuk jalan jalan disana. Prinsip Epi dan Zivi jika jalan-jalan, dan sekarang bersama Donna.
Drtttt drttt drttt Ponsel Zivi berbunyi saat matanya sudah berat ingin menutup. Ia ingin segera tidur melepas lelah. Namun karena tempat baru, ia butuh waktu hingga bisa tertidur, dan huft, baru saja mau bisa tidur, ada pengganggu! Donna dan Epi sudah masuk alam bawah sadar melepas lelah mereka. Enak sekali jadi mereka! Bisa segera tidur.
‘Eibi?’ bisiknya untuk diri sendiri. ‘Ada apa? Malam begini menelponnya?’ Tidak biasanya juga Eibi menelponnya, dan tidak pernah dalam benaknya berharap untuk ditelpon. Hmmm, kecuali tempo hari hari saat ia makan bersama teman-temannya di kafe.
"How are you?" Suara lembut terdengar saat telfon sudah terhubung.
“Fine. How is your trip?” Tanya Zivi. -Ada apa ia menelpon? - batinnya.
“Safe. Thanks honey.” Balasan yang ia terima. -honey? - kata yang paling ia tidak suka. Zivi bergidik. -Apa dia mabuk? -
“For what?” Zivi ingin tahu Eibi berterima kasih untuk apa.
“Your concern. Delicious cookies.” Jawab Eibi sambil menikmati cookies yang Zivi bawakan dengan secangkir kopi. Ia sedang memeriksa email masuk sambil menikmati cookies yang lezat baginya itu.
“Your most welcome. I have to hang up. I have to rest.” Jawab Zivi segera ingin menutup telponnya. Tubuhnya benar-benar ingin tidur. Belum lagi besok mereka harus jalan-jalan pagi karena sore akan ada gladi bersih pernikahan Lita.
“Owh, well.” Balas Eibi. Meski kurang senang namun ia paham karena sudah malam dan memang saatnya Zivi harus tidur.
“Bye. Tut” itulah yang Eibi dengarkan. Zivi langsung mematikan tanpa menunggu responnya.
“?” Hati yang berbunga kini jadi kesal karena telponnya langsung diputuskan. ‘she cared, but now?’ Eibi merasa kesal, namun ia redam. Ini bukan yang pertama kalinya. Ia sudah tahu. berusaha menghibur diri.
Ia sendirian sementara menunggu Richard dan Alden segera menemuinya untuk membahas proyek mereka lebih lanjut. Ia berharap bisa bicara lama dengan Zivi, sayangnya, tidak sesuai harapannya. Kesal.
Beruntung Alden bersama Mr. Hill segera menghampirinya, mengalihkannya dari kekesalan.
“Kita bisa segera menyelesaikan urusan disini dan bisa pulang cepat.” Usul Richard.
“Hmmmm, akan lebih bagus jika seperti itu. Bagaimana menurutmu Alden.” Eibi mengiyakan, ia ingin segera bertemu Zivi.
“Saya rasa kita bisa, tinggal bertemu dengan kepala dewan untuk perijinan. Semua hal-hal yang penting sudah kita selesaikan.” Alden menjelaskan. “Kita bisa menghubungi kepala dewan untuk mengubah jadwal.”
Drt drt Ponsel kerja Alden berbunyi dan ia melihat siapa si penelpon. Sekretaris kepala dewan, yang pasti berkaitan dengan acara temu mereka.
“Yang kita bicarakan langsung menelpon” Alden menunjukkan layar ponselnya pada Eibi dan Richard. Mereka membangun relasi dengan Richard dan bisa cepat akrab dengannya.
Alden menjawab telponnya segera. Raut wajahnya berubah, terlihat kekecawaan, dan pastinya juga kekecewaan Eibi dan Richard.
Ia memberitahu mereka bahwa kepala Dewan tidak bisa ditemui untuk beberapa hari ke depan karena urusan keluarga yang mendadak.
“Baiklah. Tidak masalah.” Richard.
“Kita bisa tunda untuk berikutnya.” Eibi dengan senang hati. Ia ingin pulang segera. Ia segera minta Alden membooking pesawat untuk mereka saat itu dengan penerbangan cepat.
“Semuanya penuh, kecuali penerbangan besok pagi jam 5.” Jelas Alden.
“Baiklah. Ambil yang jam 5.” Jawab Eibi, Richard juga setuju.