LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 60 Tak Semua Kisah Cinta Sama



Hari-hari berlalu. Sudah seminggu dengan kebiasaan barunya bersama Eibi, Zivi terbiasa dan juga menikmatinya. Ia menyukai hal baru itu. Tanda bahwa ia benar-benar menyukai Eibi. Dan Eibi sepertinya menyukainya juga, meski tak ada ungkapan suka terhadapnya.


Dan sekarang Zivi merindukan sosok Eibi yang tadi pagi buta pergi meninggalkannya untuk perjalanan bisnisnya keluar kota.


Zivi ingat Eibi dalam balutan sweater warna biru gelap. Ia terlihat begitu tampan. Ia mengaguminya sepenuh hati. Ia menyiapkan keperluan Eibi yang ia bisa dan melihatnya pergi dengan sepenuh hati. Merasa seperti istri sungguhan. *emang sungguhan!


Bukan hanya itu yang Zivi ingat. Ia ingat Eibi mengecup keningnya, lalu mengelus pipinya dengan senyuman manis yang tak bisa Zivi tolak. Hatinya melonjak girang dengan hal itu. Sebenarnya Eibi ingin mengecup bibirnya, namun Zivi mengelak dengan cepat menunduk hingga kena keningnya. Ia membayangkan rasanya andai ia tidak mengelak, karena selama ini tidak pernah melakukannya. Kening saja Eibi adalah orang pertama yang melakukannya.


“Hei! Hei! Tep! Bangun!” Donna menjentik jarinya menyadarkan Zivi yang ia lihat sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.


“Ada apa?” Zivi sedikit kaget.


“Kamu yang ada apa?” Donna bertanya dengan mata menyelidik, namun ada sekilas senyum dari raut wajahnya.


“Tidak ada apa apa.” Zivi menjawab sambil menggeleng untuk meyakinkan Donna.


“Senyum senyum sendiri. Belum tengah hari juga udah sibuk senyum sendiri sampe lupa sekitarnya. Bayangin apa?” Donna to the poin ngomongnya dan bertanya.


“Tidak ada.” Zivi tetap pada pendirian tidak mau ngaku.


“Jangan berbohong. Kamu seperti remaja yang baru pertama jatuh cinta.” Donna mengucapkan secara terang terangan. Tapi yang Donna ucapkan ada benar. Itu pertama kalinya Zivi merasakan seperti itu terhadap orang yang riil. Dan orang itu adalah Eibi.


“Tidak. Aku hanya...” Zivi tersipu. Ternyata ia ketahuan jelas. ‘nampak jelas sepertinya dari wajahnya tanpa ia sadari.’


“Jujur sama aku. Sejak dari kota X, kau berbeda. Apa benar dugaanku kalau kau sudah jatuh cinta padanya?” Donna mengutarakan praduga nya.


“Aku rasa ia. Aku tidak tahu pastinya. Mungkin karena ia perlakukanku dengan baik. Aku mau menolaknya, namun tidak bisa. Hatiku berkata kalau aku menyukainya.” Zivi jujur pada Donna.


“Eibi sendiri bagaimana?” Donna lebih ingin tahu tentang perasaan Eibi pada Zivi.


“Aku tidak tahu.” dengan sedikit lemas karena tidak tahu pasti perasaan Eibi.


“Aku rasa dari ia memperlakukanmu, ia juga menyukaimu Vi.” Donna mendukung Zivi.


“Aku rasa begitu.” dengan suara pelan mengernyit, masih ada secuil keraguan dalam hatinya.


“Ya sudah, itu hal bagus dan jalanilah. Kalau kau ada keberanian, kau bisa ungkapkan duluan perasaanmu padanya.” Donna mendorong Zivi untuk maju demi cintanya.


“Apa? Tidak mungkin. Aku tunggu dan tahu pasti dulu jika ia suka padaku, baru aku memberitahunya.” Bukan tipenya menyatakan duluan.


“Baiklah. Tapi aku bahagia untukmu. Untuk kalian. Dan aku merasakan ada harapan yang indah dalam hubungan kalian.” Donna mengungkapkan perasaan haru juga harapan indahnya untuk Zivi dan Eibi.


“Terimakasih.” Dengan senang berterimakasih atas ketulusan ucapan Donna yang ia rasakan.


“Dan 1 lagi, semoga ia segera mengenalkanmu pada keluarganya.” Donna menambahkan harapannya. Itu bagian yang penting. Jika pasangan serius, ia akan membawa dan mengenalkan kita pada keluarganya.


Drtt drtt


“Sebentar. Ada telfon masuk.” Zivi hanya mengangguk dan permisi kepada Donna.


“Hallo.” Orang yang sedang merekam bicarakan panjang umur. Dia menelponnya.


“Baik. Kamu?” merespon pertanyaan Eibi dan bertanya balik sekadarnya.


“Sedang bekerja.” Donna yang mendengar respon Zivi yang serba singkat dan kaku tapi tersipu malu seperti jengah.


“Tidak perlu. Yang penting kamu baik dan pulang dengan selamat. Itu cukup.” Eibi menanyakan Zivi mau dibelikan apa saat ia pulang nanti. Ia menjawab Eibi apa adanya. Donna makin jengah. Jika dirinya dengan Richard, mana bisa sekaku itu. Dia akan bermanja ria dengan suara yang melankolis untuk menyatakan rindunya dan apapun. Tidak sekaku dan yeah seperti formalnya Zivi merespon Eibi.


Tut


Meski demikian, masih tersempil setitik kebahagiaan dalam diri Eibi. Zivi tidak mematikan telfonnya langsung. Setelah mendengar permintaannya untuk mematikan duluan, baru Zivi lakukan.


“Bagaimana hubunganmu dengan Zivi?” Richard mengingat temannya yang bertanya akan hubungan Eibi dan Zivi. Iapun bertanya pada Eibi. Ingin tahu juga bertanya untuk temannya.


Perjalanan bisnis mereka yang tertunda waktu itu, kini dilanjutkan. Mereka baru saja dari lokasi proyek. Dan Minunggu malam, karena jadwal yang harusnya siang, diundur jadi malam.


“Good. Very good!” jawab Eibi mengeryit. Yang ia tahu, Richard yang pendiam bukan tipe orang yang menanyakan urusan cinta orang lain. Dan hanya anggukan yang Richard berikan.


Setelah bekerja, Zivi tidak langsung pulang. Donna mengajaknya makan ke suatu tempat makan baru dengan view yang baru. Ia menelpon pak Tejo memberitahunya bahwa ia pulangnya malam.


Sambil makan, terlintas dalam benak Zivi bagaimana Donna bisa mengenal Richard dan akhirnya bisa kencan. Donna pun menceritakan awal pertemuan mereka.


Flashback Donna


“Permisi nona!”


“Ya!” balas Donna sambil mengeryit menoleh pada pria yang ia rasa sedang mengajaknya berbicara. Kala itu ia sedang duduk di depan meja bar sambil minum minumannya menunggu temannya yang sedang ke restroom. Ia di ajak kesana oleh temannya untuk menghilangkan penat karena baru saja putus dengan pacarnya.


Pria itu mengulurkan tangannya membuat Donna memundurkan tubuhnya dengan mata menyelidik. Hingga pria itu hanya menunjuk pelipisnya sendiri dekat sudut alis matanya sambil melihatnya. Donna paham.


Ia menirukan pria itu, lalu mengernyit. Tidak ada apa-apa disana.


“Ada sesuatu disana.” Ujar pria itu membuat Donna tertawa.


“yeah, sesuatu.” Giliran pria itu yang mengernyit melihat Donna yang tertawa.


“Please, help me to take it off!” Donna mencandainya dengan memajukan sedikit kepalanya yang tadi mundur.


“it’s a mole!” akhirnya tahu kenapa Donna tertawa. Sesuatu yang ia kira kotoran ternyata bukan. Ia terkekeh kecil. “I’m sorry!”


“Tak masalah!” Donna sambil mengibaskan tangan satunya. Ia tahu juga maksud pria itu baik.


“I’m Richard!” tangan yang terulur ia jabat dan menyebutkan namanya sendiri.


Setelah perkenalan nama, temannya kembali dari restroom dan mengajaknya pulang karena urusan mendadak. Dan tak terpikirkan lagi tentang Richard. Namun takdir mempertemukan mereka kembali di tempat lain yang tak sengaja hingga akhirnya menjadi sepasang kekasih.


Kala itu Donna sedang-jalan ke pantai dan bermain dengan air. “Kurasa kamu adalah takdirku!” suara yang menyeruak ke telinganya. Gombalan yang cukup mengagetkan namun juga membuat Donna tersipu. Hanya saj Donna tidak memikirkan itu serius dan akan bersama dengan Richard.


Flashback off!


“Dan ternyata ucapannya benar.” Zivi terharu mendengar cerita Donna. Tidak sepelik kisahnya.


“Hmmm, kami jadi kekasih!” Donna menyimpulkan.


“Pertemuan yang normal. Tidak semenantang yang kau alami!” bahasa positif Donna akan hubungan Zivi dan Eibi.


“Yeah! Kau benar! Dan aku iri padamu!” Donna tersenyum sambil menatap Zivi.


“Hei! Tak semua kisah cinta sama. Mungkin kisahmu bersama Eibi berawal demikian, tapi bukan berarti itu menentukan akhirnya. jalani prosesnya dengan baik. Kau akan petik hasilnya dengan baik!” Ucapan Donna yang dalam dan mengena.


“Yap. Setuju!”


Tak semua kisah cinta sama!