LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 44 Perhatian



“But you still need to stay at home for today, ok!” Eibi mengingatkan Zivi dengan tatapan serius.


“Siap, Boss!” Jawab Zivi dengan sikap siapnya sambil tertawa. Ia ingat sebelumnya ia langsung masuk kerja setelah sakit karena peristiwa mengerikan itu. Ia bergidik saat peristiwa ia itu terlintas sekilas. “aku memberitahu Donna dulu kalau begitu.” lanjutnya dan bergegas bangun dari tempat tidur. Sedangkan Eibi melanjutkan tidurnya.


Hari itu ia tinggal di rumah dan mengisi waktu luangnya dengan melihat email dan mencari-cari soal latihan toefl di internet hingga bosan dan lelah belajar.


Untuk mengisi kebosanan, ia mengajak Bi Surti untuk masak makan siang mereka bersama. Bi Surti mengiyakan dan sekalian mengobrol.


“Enak ya non, dapat suami yang perhatian seperti tuan.” Bi Surti menilai suaminya perhatian saat sedang menikmati makanan mereka, setelah mengantarkan bagian Pak Tejo di pos jaga.


“Ibu, bisa aja! Pak Tejo juga perhatian lho bu orangnya. Setiap hari tanya, mau kemana non? Mau kemana non? Mau kemana non?” Zivi menirukan suara Pak Tejo saat menanyainya setiap pagi berangkat kerja.


“Hahahaha” Bu Surti tertawa mendengar suara Zivi yang Bas seperti pak Tejo, “Benaran non Zivi ditanya seperti itu tiap hari?”


“Iya, Bu! Coba saja tanyakan nanti langsung pada pak Tejo. Saking ditanya tiap hari, kadang saya jawab duluan sebelum bapak tanya. Hahaha” Zivi tertawa sendiri dengan pengutaraannya. Ia membayangkan raut terkesiap pak Tejo saat ia menjawab sebelum ditanya.


“Ibu, kenapa menikah dengan Bapak dulu?” Tanya Zivi ingin tahu kisah Bu Surti.


Bu Surti menceritakan kisah pertemuan mereka, saling suka, hingga akhirnya menikah. Zivi kagum dan memuji hubungan mereka. Bertemu pasangan secara sederhana dan normal seperti Bu Surti, seperti mama dan papanya, itu juga pernah ia impikan.


Percakapannya dengan Bu Surti hingga makanan habis, terus berlanjut hingga kantuk menyerangnya “Wuahh” Zivi menguap. Lebih tepatnya, karena efek obat yang minum setelah makan.


Saat bangun, Bu Surti sudah pulang. Untuk menghilangkan kebosanan ia senam. Rambut diikat cepol keatas, dan memakai costum dan sepatu senamnya.


Durasi senam 25 menit. Sudah setengah bagian senamnya, dan keringatnya mengalir keluar dari por-pori tubuhnya. Hal yang sangat ia inginkan saat OR atau senam adalah berkeringat. Itu seakan membuat tubuhnya lebih rileks dan enteng. Seperti keringat saat sakit, itu melegakan. Pertanda kesembuhan. Pemikiran Zivi.


Eibi menontonnya dari belakang. Terpesona melihat pemandangan didepannya. Ia tersenyum lega juga menggeleng kecil. Zivi yang semalam dengan suara keluhan karena sakit kepalanya, kini sudah sudah senam ria didepan laptop. Harusnya dia masih istirahat, namun tidak seperti yang dipikirkannya.


“Sudah merasa sangat sehat?” Suara Eibi menghentikan gerakannya, Ia sedang mendekat padanya. Karena music video dan konsentrasi, ia sampai tak mendengar suara pintu dibuka.


Zivi tersenyum melihat, “Hmmm, sudah saya katakan tadi pagi bukan?” balasnya pada Eibi. Sakit kepalanya karena periode datang bulannya sudah biasa, dan cara mengatasinya hanya dengan istirahat lebih dalam satu hari. Setelah itu sembuh. Jika teman yang lain merasakan keram perut, doyan makan, emosian, dan lain-lain. Dirinya sakit kepala.


“Sudah cukup senamnya. Keringatmu sudah sangat banyak.” Eibi mengusap keningnya dengan dua jari dan menunjukan padanya jarinya yang basah.


“Sebentar lagi berakhir, tinggal beberapa menit.” Jawab Zivi berbalik melihat Videonya yang terus berjalan, ia ingin melanjutkan senamnya.


Dag, Zivi merasakan kain lembut mengusap wajahnya. Eibi mengusap wajahnya dengan saputangannya, “Sudah. Kamu baru sembuh! Jangan terlalu banyak bergerak dan kehilangan banyak cairan tubuh.” Ucapan Eibi yang serius, namun lembut menyeruak ketelinga Zivi. Epi dengan seksama menyeka wajahnya, memastikan keringatnya lenyap dari sana. Nada suara, Mimik mulut serta perhatian Eibi terhadapnya, semuanya tak lupat dari pandangan Zivi. Apa ini? Kenapa dia merasakan perhatian Eibi berbeda?


Zivi menggelengkan kepalanya, “Hmmmm,” gumaman bibirnya dan mengalihkan pandangannya pada videonya sudah segera berakhir. Eibi menarik tangannya setelah semua keringat Zivi ia seka dari wajah hingga lehernya. Huft, lega Zivi lepas dari Eibi. Tak mungkin secara frontal ia menolak perhatian tulus yang ia rasakan dari Eibi. Ia yang memperhatikannya dari kemarin saat sakit.


Malam hari, saat Eibi sedang diruang kerja, Donna tidak memiliki kegiatan. Nonton video jadi pilihannya. Meski kesal dengan dramanya, karena tidak bisa ia terima, tetap juga ditonton dengan gerutuan dan komentarnya, seakan dia ikut berperan didalamnya.


Ting, suara pesan masuk. Ia segera membukannya. Donna. Ia menanyakan keadaan Zivi, sekalian Zivi menanyakan kerjaan kantor bagiannya hari itu. Donna menceritakannya singkat, hingga beralih percakapan.


“Tak terasa hari H Lita sebentar lagi ya.” Zivi


“Iya. Sudah dapat undangannya?” Donna


“Belum .” Zivi


“Mungkin besok datang surat undangannya.” Donna


“Dapat atau tidak dapat undangannya, aku tetap akan pergi. ” Zivi


“Apa kau sudah mengajak suamimu?” Donna


“Belum.” Zivi


“Semoga dia mau datang.” Donna


“Kamu siap kalah taruhan?” Zivi


“Tak apa. Cuma traktir makan ditempat mewah sajakan.” Donna


***


“Ada undangan pernikahan, non Zivi.” Pak Tejo menyodorkan sebuah undangan untuk Zivi saat Zivi sudah membalas sapaan sambutan yang biasa Pak Tejo ucapkan.


“Terimakasih pak.” Zivi menerima surat itu.


Benar saja. Semalam Donna mengatakan besok undangannya tiba.


“Yei! Akhirnya undangannya sampai juga.” Zivi menulis komentar dibawa foto undangan yang sudah ia ambil untuk dikirimkan pada dua temannya, @Donna dan @Epi dalam grup.


“Pi, Don... Udah terima undangannya?” Lita bertanya pada mereka.


“Yap. Sudah.” Epi membalas Disertai dengan potret undangan.


“Sama, aku juga sudah.” Donna tak ketinggalan, melakukan hal yang sama.


“Syukurlah sudah nyampe. Awas kalau nggak datang ya, bersama pasangan!” Lita berkomen seperti mengancam namun ditandai moji ngakak.


“Tenang saja, pasti bawa pasangan. Sisihkan nanti amplopmu untuk traktir aku! Wkwkwkw. Kecuali yang belum punya nih @Epi, kau temukanlah disana untuknya nanti!” Zivi membalas dengan moji tertawa.


“Tenang. Tinggal minta Stefan untuk mentraktirmu, Wkwkwk. Untuk @Epi dispensasi! Pembawa cincinku dia!” Lita membalas dengan moji tertawa.


“Hmmm, daripada aku nggak datang dan nggak ada yang bawa cincinmu!” Epi membalas percakapan mereka.


Chat demi chat yang Panjang dari perkarang undangan hingga bercanda, dan percakapan seruis kapan Lita berangkat, kesana untuk persiapan, dan kapan Epi sebagai pembawa cincin harus kesana untuk ikut gladi bersih.


Keesokan harinya Zivi, Donna dan Epi janjian makan siang bersama dijam istirahat untuk mendiskusikan keberangkatan mereka.


“Kita ngatur keberangkatannya gimana?” Zivi membuka suara setelah menguk minuman dinginnya untuk menyegarkan tenggorakkannya yang terasa kering. Udara panas buatnya cepat haus dan ingin yang dingin. “Kapan dan Transportnya apa? Hehehe” memperjelas pertanyaannya.


“Aku ada teman bisa nyetir, pakai jasa dia aja dan nanti aku pinjem mobil kantor.” Epi merespon untuk transport.


“Emang boleh?” Zivi dengan heran, -mobil kantor? Ini bukan kegiatan kantor neng!-


“Boleh.” Jawab Epi meyakinkan.


-baik benar kantormu- batin Donna. “Pakai mobilku aja, nanti biar aku yang nyetir.” usulnya


“Kamu berani? Jauh lho. Nyebrang pula!” Epi dengan keraguan.


“Beranilah. Kasihan temanmu nanti sendirian laki.” Balas Donna.


“Suamimu nggak ikut Vi? Nantikan bisa dia kawannya.” Tanya Epi berharap dengan suami Zivi ikut, temannya nanti bisa ada co-drivernya.


“Kitakan berangkatnya awal, nggak mungkin aku ngajak Eibi berangkat awal Ep.” Zivi menjawabnya memelas, namun kenyataannya ia belum membertahu Eibi mengenai pernikahan Lita dan undangannya.


“Lho, nggak papa... Sekalian dia refreshing. Richardmu nggak diajak?” beralih pertanyaannya pada Donna.


“Yeah, pikirmu begitu.” Jawab Zivi. -lha, dia pengusaha, pasti refreshing dikesampingkan, apalagi ini masih tahap pengembangan usaha. Aku juga nggak mau mengajaknya sih, hehehe- batin Zivi.


“Rencananya ajak. Kalau dia mau, paling akan menyusul.” Jelas Donna. Ia memang ingin mengajak Richard, sekalian jalan-jalan bersama mereka.


“Owh, gitu.” Epi pasrah dengan jawaban kedua temannya tidak sesuai harapannya.


“Jadi, gimana? Mau nggak pakai mobilku aja!” Tawar Donna.


“Aku sih mau aja.” Zivi dengan penuh harap. Jika Cuma mereka bertiga, sesame girls tanpa lawan jenis, mereka bisa bicara bebas.


“Aku juga setuju, asalkan kamu sudah ahli dan punya SIM.” Ucap Epi menyampaikan isi pikirannya yang penuh keraguan. Ia takut bepergian jauh, apalagi semua girls.