LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 45 Bussines Trip



“Tenang. Dia mah ahlinya nyetir dan memenuhi syarat, Cuma bedanya ini perjalanan jauh!” Zivi meyakinkan Epi tentang Donna.


“Siip, kalau gitu. Jadi kita berangkat 2 hari sebelum hari H?” Epi menekankan hari keberangkatan mereka. Pernikahan di hari pekan, so mereka berangkat jumat, siang dengan minta ijin pulung duluan dari kantor dan sekalian minta ijin tidak masuk kerja hari senin.


“Kamu nggak ngajak siapa gitu Ep?” Goda Donna, hahahahaha, Zivi tertawa dengan pertanyaan Donna yang menggoda Zivi.


“Kalian ya... Ngejek...” Protes Epi dengan memberengut, “Tunggu aja. Nanti kejutan buat kalian aku ngajak siapa...”


“Asyik. Kami tunggu lho ya...” Berbarengan Zivi dan Donna menerima tantangan Epi.


Hahahahahaha


Mereka tertawa lepas dengan candaan receh mereka sendiri. Setelah fix tentang keberangkatan, mereka bisa santai dan bercanda receh.


***


“Sudah pulang? Cepat sekali.” Tanya Zivi melihat Eibi berdiri diambang pintu dapur. Dia sudah pulang. Itu adalah akhir pekan memang, namun Eibi tetap keluar, dan pasti untuk bekerja. Itu yang Zivi simpulkan.


“Meetingnya hanya sebentar. Kamu ada kegiatan hari ini?” Eibi bertanya balik.


“Tidak untuk keluar, namun ada kerjaan di rumah.” Jawab Zivi jujur sambil tersenyum dan kembali sibuk dengan kesibukannya memasak. Yeah, ia harus mengerjakan pekerjaan rumah, disaat libur seperti itu, seperti mencuci pakaian, merapikan pakaian dan kamar, dan menyalurkan hobi saat semua beres. Kecuali jika teman-teman mengajaknya jalan.


Jumat mereka akan berangkat, so, mereka tidak ada rencana keluar. Zivi pikirkan apa-apa yang perlu dibawa. Karena akan sekalian jalan-jalan.


“Owh, baiklah.” Eibi dengan mulut membundar serta tatapan lembut. Ia berharap Zivi free dan bisa mengajaknya keluar jalan-jalan sekalian kuliner, menghabiskan waktu bersamanya.


Drtttttttttt drtttttttttt bunyi ponselnya mengalihkan tatapannya dari Zivi dan menerima telfonnya.


“Hallo!”


“Grandma... How are you?”


“I Miss you too.”


“I Will see you soon. Just wait. That would be my surprise.”


“Hmmmm, Hmmmm, Hmmmmm, I Will tell you soon. Don't worry about me, about my life.”


“Grandaughter in law? Forget about it if gandma want me be with her.”


“Ok. Bye.” Zivi mendengar balasan Eibi untuk orang yang diseberang telpon. Grandma. Zivi tahu dari sapaan Eibi diawal percakapan mereka.


“Grandma just called me.” Ia mendengar suara Eibi seperti berbicara padanya. Tentunya, kecuali ada Alden atau Pak Tejo disana, Zivi menoleh dan tidak ada siapa-siapa.


“Hmmm, that's good.” Akhirnya ia merespon Eibi.


“Hmmmm, she is the nearest one for me.” Kenapa Eibi seakan memberitahunya? Ia tak bertanya apapun.


“?” Zivi dengan kedua alis terangkat, -Why? Mom? Dad?- batinnya penasaran dengan pernyatan Eibi. Ia merasakan ada masalah dengan mom dan dad nya.


“Oh yeah, grandma’s love for grandchild sometime more than parents do.” Jawab Zivi sebisanya.


“Next week, do you have any bussiness trip?” Tanyanya untuk mengalihkan percakapan yang barusan. Zivi tidak ingin tahu, tidak ingin mengenal lagi keluarganya.


“Ya. It will take 4-5 days. Is there any problem?” Tanya Eibi penasaraan. Tak biasanya Zivi menanyakan jadwal perjalanan bisnis. Ia yang biasanya memberitahunya.


“No. I just asked you.” Jawab Zivi cepat. “When? What day you will leave?” Tanyanya lagi memastikan keberangkatan Eibi hari apa.


“On Thursday.” Jawab Eibi dengan tatapan menyelidik. Ia menunggu apa ingin Zivi katakan padanya. Tidak mungkin ia bertanya saja.


“What? Tell me what do you want to tell me.” Incar Eibi.


“No. I have nothing to tell you. I just ask you.” Jawab Zivi dengan segera melihat kearah lain. -Kenapa jadi menuntut gini dia bertanyanya?- Batin Zivi. Risau.


Tap! Eibi didekatnya sekarang. Sejengkal jarak mereka. Tatapannya tak lepas darinya, tak berkedip, “Really? Nothing?”


“Hmmm, yap. Really, nothing!” Jawab Zivi dengan gugup. -apa perlu memberitahunya untuk minta ijin? Tapi jika ia ada perjalanan kantor, apa dia akan melarangku nanti?- Zivi berdebat dengan dirinya sendiri. -Tidak. Tidak. Tidak perlu memberitahunya.- keputusan Zivi final.


“On Thursday, you will know.” Jawabnya sekenanya, ia belum tahu apa yang akan ia katakan nanti hari kamis.


“Ok. I’ll wait. I’ll leave at 4 AM.” Jawab Eibi mendetailkan jam keberangkatannya lalu mundur memberi ruang untuk Zivi. Ia tahu Zivi tidak nyaman dengan tatapan dan kedekatan mereka.


“Hmmmm.” Jawab Zivi, ia tahu jawaban Eibi itu kode, sebelum jam itu, ia harus memberitahunya. -that’s ok. Yang penting lepas dulu sekarang. Nanti pikirkan untuk hari kamis- batinnya.


Rabu. Waktu yang ditunggu-tunggu Eibi pun tiba. Malam ini Zivi harus memberitahunya apa yang ingin ia katakana padanya. Ia ingin menerka, namun tidak ada gambaran sama sekali untuk menerka. Blank.


Zivi berpikir, apa yang akan ia katakana nanti malam? Dan ide muncul dalam benaknya. Besok dia berangkat jam 4 pagi. Keperluan orang bepergian. Tapi apa? Berangkat ke kota apa ia tidak tahu. menelponnya lagi untuk bertanya? Mustahil! Ogah jika hanya untuk itu, apa nanti pikirnya? Ia berpikir untuk memikirkan solusinya.


“Hei! Mikirin apa?” Tanya Donna disampingnya melihat Zivi sebentar mengeryit, mengerutkan keningnya. Gelisah, terlihat jelas ia sedang berpikir.


“Tidak. Aku hanya berpikir…… Saat Richard pergi keluar kota, kau biasa memberinya apa?” Tanya Zivi, tidak melanjutkan apa yang ia pikirkan.


Donna paham, pasti ini hubungannya dengan Eibi, “Ciuman, hati-hati, will miss you. Come back soon for me.” Donna menjawab Zivi dengan apa yang ia berikan pada Richard, dan semuanya bukan barang.


“Memberi Donna, Memberi. Itu bukan memberi.” Zivi tidak puas dan memperjelas.


“Memang itu yang aku berikan Zivi. Barang? Untuk apa? Yang ada, saat pulang, dia memberiku barang.” Donna menjawab Zivi dengan penegasan.


“Baiklah. Aku tahu sekarang.” Zivi menemukan solusi untuk dirinya sendiri.


Jam 09 malam. Eibi belum pulang. -Mungkin memastikan semuanya beres sebelum berangkat- batin Zivi melihat jam. Solusi sudah tersedia, tapi Eibi belum pulang jam segini.


Untung tak begitu lama, Eibi pulang. Zivi menawarkan untuk membuatkannya susu hangat sebelum ia hilang dibalik pintu kamar mandi. Eibi senang, menerima sambutan dari Zivi. Namun rasa ingin penasarannya tetap ada.


Setelah mengenakan piyama tidurnya Eibi duduk disofa, Zivi beranjak dan mengambil susu hangat yang sudah ia buat dari atas nakas.


“Thank you.” Ucap Eibi. Meneguk susunya. “Take a seat! What are you going to tell me?” Tanyanya langsung mendongak pada Zivi yang berdiri dihadapannya, sementara tangan kirinya menepuk sofa disebelahnya.


“Hmmm, I want to help you prepare the things you need in your trip.” Ucap Zivi.


“Want to act like the real wife?” Tanya Eibi tidak percaya. Ia tersenyum miris. Zivi yang selama ini ingin menghindarinya, ingin jaga jarak, tidak mungkin menawarkan diri untuk mengurus hal personalnya.


“As long as it’s about acting, that’s ok.” Jawab Zivi sambil tersenyum menutupi kegugupannya, ia tidak punya jawaban lain “But if you mind, that’s ok.” Tambahnya, namun ia menguatkan hati sambil menatap Eibi.


Eibi segera menghabiskan minumannya. Berdiri dan menarik Zivi masuk ke ruang ganti.


“What?” Tanya Zivi ikut melangkah ikuti tarikan Eibi.


Tek! Lampu menyala.


“You want to help me! Ok.” Eibi melepaskan tangannya, dan mengeluarkan koper dengan ukuran yang lumayan dari lemari, membukanya. Zivi terdiam melihat Gerakan Eibi, “Now you can prepare the things I need.”


“Hmmmm, Ok. Now, you can leave me.” Zivi mengiyakan dan menyuruh Eibi keluar.


“How can you know what I need if I don’t tell you?” Tanya Eibi sambil menatap Zivi yang menunduk melihat koper yang sudah terbuka, minta diisi.


-Bego! Bego! Kenapa tidak terpikir seperti ini dari awal?- rutuk Zivi akan kebodohannya sendiri.