
Setelah cukup puas dengan obralan serta view yang mereka nikmati, mereka pulang. Jam 9 malam baru Zivi tiba dirumah. Waktu yang dihabiskan bersama Donna benar-benar menyelamatkannya dari memikirkan Eibi. Mandi dan tidur, itu adalah permintaan tubuhnya sekarang yang lelah.
Pagi menyapa Zivi dengan perasaan kehilangan Eibi yang sudah seminggu biasanya berada disisinya. Begini rasanya? Zivi teringat tiap pagi Eibi tidak akan lupa menyapanya, “good morning!” dengan sebuah kecupan dipipi atau dikeningnya.
Pekerjaan menyelamatkannya. Saat bekerja, ia bisa lepas dari pikiran akan Eibi. Saat bersama Donna dan rekan yang lain, hatinya bisa terselamatkan. Melakukan hobby serta belajar untuk mimpinya, nama Eibi hilang sejenak dari benaknya.
Saat – saat luangnya Eibi akan muncul dalam benaknya dan tersenyum sendiri. Seperti ini rasanya! Zivi cukup tahu perasaan riil orang-orang merindukan orang yang mereka sayangi, khususnya kekasih.
"Stay still. It’s very comfortable like this." Zivi syok dan merasakan pelukan yang mengerat serta mendengar suara itu. Suara yang ia rindukan dari sejak ditinggalkan. Suara Eibi!
Eibi memeluknya dari belakang, dan merasakan dagunya diatas kepalanya.
"Kapan kamu tiba?" Zivi membuka matanya lalu mendongak.
"Sekitar 30 menit yang lalu." Jawab Eibi dengan mata masih terpejam.
"Kenapa pulang cepat?" Zivi bertanya dengan heran, tidak seperti ucapan Eibi saat memberitahunya.
"Pekerjaannya selesai dengan cepat." Jawab dengan jujur. Ya. karena mereka mempercepat urusannya disana.
"Owh. Jam berapa sekarang?" meraih ponsel disampingnya dan melihat jam.
"Jam 7." Eibi menjawab dengan suara khas mengantuknya.
Saat pulang kerja, Zivi OR sebentar, belajar, mandi, dan segera tidur tanpa makan malam. Mungkin jika Eibi tidak pulang, ia akan tidur terus.
"Kamu istirahatlah. Biar saya siapkan makan malam." Membuat Eibi makin mengeratkan pelukannya.
"Tidak perlu." Zivi menjauhkan wajahnya sedikit melihat Eibi yang masih dengan mata tertutup.
"Jangan seperti ini Bi, ok!" Zivi tetap berusaha lepas karena sesak. Meski ia merindukannya, namun tidak harus seperti itu.
"Sebentar saja. Sampai saya tertidur." Suara Eibi meluluhkan hati Zivi.
"Baiklah." Ucapnya menghela nafas dan memperhatikan dengan seksama raut wajah Eibi yang tertidur dan lama kelamaan ia juga tertidur.
“Jam berapa sekarang?” Zivi terbangun dari tidurnya dan mengingat bahwa ia rencananya untuk masak makan malam. Dan dengan panik ia mencari ponselnya untuk melihat jam.
Matanya melotot melihat jam. Jam 4. Dan dengan merasa bersalah melihat kesampingnya. Ia dapati Eibi melihatnya dengan sederet gigi putihnya terlihat. Ia tersenyum.
“Sudah bangun!” tanyanya.
“hmmm, sebelum kamu bangun!” membuat Zivi mengerucutkan sedikit bibirnya.
“Kamu jadi tidak makan malam!” dengan rasa bersalah.
Eibi mengulurkan tangannya mengacak rambut Zivi sambil tersenyum, “No, prob! Saya sudah makan dalam perjalanan saat pulang.”
Jawabannya membuat Zivi lega. “Tidur lagi! Masih jam 4.” Eibi menariknya untuk mendekat. Sudah beda selimut. Masih berjauhan? tidak.
“Saya sudah tidak mengantuk lagi.” Eibi merasa ada kesempatan untuk bertanya dengan jawaban itu.
“Kenapa tidak menelponku kemarin?” Eibi menunggu seharian agar Zivi menelponnya terlebih dahulu. Karena hari sebelumnya ia yang menelpon Zivi duluan.
“Ada banyak yang saya kerjakan! Lagipula, kamu disana sibuk, saya tidak mau mengganggumu.” Zivi memberi alasannya yang menurutnya pas. meski ia merindukan Eibi, ia tidak terpikir untuk menelpon Eibi. Ia berpikir bagaimana caranya agar Eibi keluar dari pikirannya, dari hatinya.
“Kemarin malam, kamu kemana? Kenapa tidak memberitahu saya?” Eibi bertanya lagi soal Zivi keluar dan pulang malam. Ia tahu bukan dari pak Tejo, namun dari Richard. Zivi tidak tahu jika Richard bekerjasama dengannya, tentu ia tidak keberatan jika foto-foto mereka makan malam bersama upload di medsos Donna. Donna juga tidak tahu perihal kerjasama mereka. Lagipula Richard bukan tipe pria yang akan bahas soal sepele demikian dengan orang lain.
“Kamu tahu darimana?” Zivi menatap lekat-lekat Eibi dalam cahaya gold lampu kamar, penasaran kenapa Eibi tahu. apa di rumah ada CCTV?
“Kamu belum menjawab pertanyaan saya.” Eibi tidak menjawab Zivi tetapi menuntut jawaban.
Siapa yang memberitahunya? dengan alis sebelah terangkat melihat Eibi, ingin tahu siapa sumber informasinya.
“Donna mengajak saya keluar makan ditempat yang baru juga viewnya bagus.” akhirnya menjawab. “nanti saat waktumu luang, kita bisa kesana. Apa pak Tejo memberitahumu?” kalau bukan CCTV, paling pak Tejo, karena hanya dia orang yang Zivi beritahukan.
“Tidak. Saya tahu dari Richard. Lain kali beritahu saya. Cukup saat pergi ke nikahan temanmu dan yang kemarin malam kamu tidak memberitahu saya.” Perkataan yang Eibi ucapkan dengan serius, tangannya mengelus kening Zivi seakan menyisir rambut Zivi yang sedikit menutupi mukanya.
“Apakah harus?” Bertanya dengan ragu kepala ia tundukkan.
“Yap. Itu harus. Aku mengkhawatirkanmu!” Eibi menariknya dalam dekapan. Zivi berharap Eibi akan bilang padanya bahwa ia mencintainya. Ternyata tidak. Dan ia hanya bisa mengangguk patuh tak bisa menjawab. Hanya khawatirkah? Lalu kenapa memeluknya, mengecupnya terus. Kalau sayang, kenapa tidak berterus terang! Sedikit protes.
Sedangkan Eibi senang dengan kepatuhan Zivi. “Saat saya tidak dirumah, ingatlah untuk menelpon saya!” pintanya pada Zivi.
“Untuk?” dengan suara sedikit protes namun pelan.
“Bukankan suami istri demikian? Saling mengkhawatirkan dan saling perhatian?” Ucapan yang masuk akal. Semenjak mereka sepakat lupakan kesepakan itu dan menikmati kebersamaan mereka, maka harus demikian. Khawatir dan perhatian.
“Baiklah. Saya akan usahakan.” Menjawab namun tidak dengan kepastiannya. Ia sangat suka pertanyaan retorika Eibi, terlebih kata ‘saling!’. Itu kata yang sangat penting dalam sebuah hubungan. Entah hubungan keluarga, teman, kerja, tak terkecuali hubungan kekasih itu sangat penting. namun bukan itu yang ia inginkan. Ia ingin tahu perasaan Eibi.
“!” akan usahakan? Eibi tidak puas dengan jawaban Zivi. but, that’s ok.
“Bicara mengenai Richard, apakah kalian dekat?” Zivi bertanya mengenai hubungan Eibi dengan Richard.
“Awalnya tidak. Hanya sebatas rekan bisnis. Mungkin karena pacarnya teman istriku, secara tidak sengaja kami berteman. Perjalanan bisnis kemarin itu saya bersamanya. Melanjutkan urusan yang tertunda saat kamu diam-diam ke pernikahan temanmu.” Eibi menjelaskan dengan pelan seakan bercerita untuknya. Tangannya mengelus punggungnya dari balik selimut.
Mendengar penjelasan Eibi Zivi akhirnyapun paham. “Hmmm, I see.” Zivi menganggukkan kepalanya hingga menggesek dada Eibi yang mengenakan kaos tipis.
“Stop it!” Ucap Eibi yang tiba-tiba menahan kepalanya. Zivi terdiam.
“Sorry! Apakah sakit?” Apakah ia mengangguk keras? Rasanya tidak. Zivi bingung.
Zivi menarik kepalanya dan mengulurkan tangannya untuk untuk menyentuh dada Eibi untuk memastikan.
Damn girl! Tidak tahu apa yang sedang ia lakukan.
“No. Normal man reaction!” Jawab Eibi menahan tangannya dan menatap Zivi dengan lekat. Dia paham tidak?
Zivi hanya menatapnya dengan bibir sedikit terbuka. bingung. Masih berpikir!
Ingin rasanya ia mencium bibir yang sedikit terbuka itu!