
“What?” Eibi menuntut.
“Nothing. No need for you to know.” Zivi menolak menjawab.
“Why?” Eibi
“It’s between women. Ok!” Zivi beralasan.
“Now, let’s go find the others.” Zivi mengajak Eibi menemui yang lain.
“No need. Let them enjoy their time.” Eibi menolak.
Waktu terus berjalan hingga matahari terbenam dan gelap. Para undangan sudah semakin berkurang.
“Ayo, kita pamitan pulang.” Ajak Zivi. kala itu mereka semua sedang duduk melingkar sambil ngobrol dan mendengarkan musik yang mengalun.
“Ayo. Aku sudah sangat lelah.” Sambung Donna. Semuanya setuju dan mereka berpamitan.
“Vi, kamu tidur bersama kita atau?” Tanya Donna kala mereka melewati Lorong yang mengarah kedua arah.
“Zivi will accompany me to eat, you guys go back.” Ucap Eibi pada mereka saat mereka memasuki lorong yang mengarah ke restoran dan satu arahnya menuju kamar-kamar hotel.
Semuanya mengangguk setuju. Mereka tahu Eibi tidak makan saat pesta. Mereka melihat Zivi yang terus berusaha menawarkannya makan, dan tidak ada satupun yan berhasil.
“Please, order for us.” Ucap Eibi saat mereka sudah diberi menu makan.
“No. you order by yourself. I don’t eat.” Tolak Zivi melihat Eibi yang menatapnya sedari tadi.
“Well.” Ucap dan mengambil menu dari atas meja dan melihat-lihat. Padangan Eibi kini beralih pada daftar menu makanan, Zivi lega.
Eibi memanggil pelayan dan menyebutkan menu pilihannya. Tak lama, makanan datang mengenyahkan keheningan diantara keduanya.
“Don’t you want to say something to me?” Tanya Eibi sambil memotong steak pesanannya dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
Gelengan Zivi menghentikan gerakannya memotong dan melihat Zivi dengan seksama, “Really?”
Merasa terintimidasi, “Bagaimana kamu bisa tahu?” akhirnya bertanya.
“Tahu apa?” Tanya Eibi pura-pura tidak tahu apa yang ditanyakan Zivi.
“Bagaimana kamu bisa tahu saya ada disini?” Tanya Zivi memperjelas.
“Saya tidak tahu kamu ada disini. Saya tahu kamu ada dirumah sedang menunggu saya. Kemarin kamu jalan jalan ke pantai saat saya menelponmu.” Eibi menarasikan percakapan mereka kemarin dengan nada dingin penuh sindiran.
Zivi menunduk tidak berani melihat Eibi yang terus menatapnya dengan sedikit sedikit mengunyah potongan daging yang ia masukkan. Kedua pergelangan tangannya menempel meja dengan garpu dan pisau dalam genggaman tangan yang sedikit terangkat.
“I’m sorry for that.” Ucap Zivi dengan nada penyesalan.
“Apa kamu sungguhan minta maaf atau pura-pura?” Tanya Eibi. Ia mengingat betapa senangnya ia merasakan ketulusannya, namun ternyata itu hanyalah fiktif.
“Saya sungguhan minta maaf. Tidakkah kamu mempercayaiku?” Zivi dengan penuh harap. Kini ia berani menatap Eibi dengan mata nanar.
“No. I didn’t believe you. The night you told me you wanted to help me prepare my things, I didn’t believe you. In the morning you gave me the snack box for my trip. I was foolished to believe your acts.” Jawab Eibi sambil meneguk minumnya, menyeka mulutnya dengan santai. “And yesterday, I found out that I have been foolished. I called you, hope you would tell me honestly, but…” Terangnya dengan nada tenang, namun membungkam Zivi, hatinya tersayat mendengar ucapan Eibi. Lebih tepatnya bukan ucapannya tapi sikapnya yang begitu tenang. Ia berharap ia akan memarahinya dengan nada tinggi dan itu akan membuat rasa bersalahnya berkurang.
“I’m really sorry. If you want to be angry, just scold me.” Zivi mengatupkan tangannya berharap.
Eibi menjentikkan jarinya memanggil pelayan untuk memberinya bill. “No need. Scold you, and what will I get? What I felt, will not turn to be good.” Ucap Eibi.
Saat waitress memberinya bill, Eibi membayar dan sisinya menjadi tip.
Mereka meninggalkan resto dan kembali kearah yang tadi menuju Lorong arah kamar-kamar hotel.
Ia berjalan mendahului Eibi, Eibi mengikutinya.
Tok tok tok Eibi mengetuk pintunya.
“You can leave. Thank you for accompanying me back” Ucapnya pada Eibi. Ia masih merasa bersalah, jadi secepatnya Eibi pergi tekanannya berkurang. Ia bisa memikirkan caranya berdamai dengan Eibi.
“Who said I accompany you back? Pack your things and move with me.” Jawab Eibi dengan nada datarnya. Terasa marahnya belum menguap.
“aku pikir kau tidak akan kembali.” Ucap Epi dengan sedikit kaget melihat Zivi didepan kamar mereka.
“Kami hanya datang untuk mengambil kopernya. Maaf mengganggu istirahat mu.” Eibi menjawab untuk Zivi.
“Owh. Ok.” Epi mempersilahkan Zivi masuk, lalu permisi meninggalkan Eibi sendirian menunggu didepan pintu.
“Donna belum pulang?” Tanya Zivi melihat tidak ada Donna. Ia bisa menebak kenapa, namun tetap bertanya.
“Ya. Mungkin juga tidak akan pulang.” Ucap Epi sambil tertawa.
“Hei, apa maksudmu?” tanya Zivi sambil menggelengkan kepala.
“Ya sama sepertimu, mungkin dia akan pindah kamar.” Epi tanpa menyaring perkataannya.
“Hei! Jangan asal bicara. Jika Donna mendengarmu, dia bisa marah mengira kamu berpikir buruk tentangnya.” Zivi mengingatkan Epi.
“Iya, ya. Maaf. Aku bercanda.” Ucapnya.
Saat barangnya sudah selesai dikemas kedalam koper, Zivi keluar dan berpamitan dengan Epi.
“Jomblo. Tak ada yang menemani.” Epi berbisik pada dirinya sendiri setelah Zivi pergi.
Eibi menarik koper Zivi dan mengarahkan Zivi ke lantai atas dan menuju kamarnya.
“No sofa?” Pertanyaan pertama Zivi pada Eibi saat masuk kamar dan lampu dinyalakan. Sofa sudah menjadi tempat tidurnya jika seruangan dengan Eibi. “If you told me, it’s better for me not to move.” Keluh Zivi.
“I’ll sleep on the floor.” Jawab Eibi tanpa banyak bicara, berlalu dari Zivi dan meletakkan koper Zivi di samping lemari.
“Can we change the room with sofa?” Tanya Zivi.
“Hmmm, well. Let me contact the hotel's receptionist.” Eibi memencet nomor telpon penghubung ke receptionist. Jawaban yang mereka terima mengecewakan Zivi. tidak ada lagi kamar kosong. Semuanya penuh.
Zivi pasrah. Ia meminta untuk kembali tidur bersama Epi, tatapan dingin yang ia terima dari Eibi sebelum meninggalkannya ke kamar mandi.
‘marahnya lebih parah daripada dirinya.’ Keluh Zivi. sambil menunggu Eibi, Zivi mempersiapkan keperluan mandi dan gantinya dengan memikirkan cara untuk berdamai dengan Eibi nanti.
Saat selesai mandi, Zivi merasakan kamar dingin, AC menyala. Ia melihat tempat tidur, hanya 1 bantal yang ada disana. 1 bantal kepala, dan 1 bantal guling namun tidak ada selimut. Zivi melihat disisi sebelah tempat tidur dekat dengan jendela kaca yang menawarkan pemandangan malam pada nya. Eibi tidur menyamping menghadap tembok.
Zivi menarik nafas tidak nyaman. Perasaannya tidak enak. Zivi mengecek lemari dan berharap menemukan selimut untuk dirinya, namun tidak ada. Tidak bisa jika dirinya tidak pakai selimut di ruangan yang memiliki AC.
Zivi menghubungi front office untuk menanyakan selimut tambahan, dan untungnya ada. Zivi menerima selimut saat diantarkan lalu mematikan lampu. Tinggal cahaya samar rembulan dan lampu luar yang merembes masuk lewat gorden kamar dan kisi-kisi.
Eibi mendengarkan semua gerak-gerik serta suara Zivi yang serba pelan, mengira dirinya tidur.
Zivi tidur miring menghadap punggung Eibi, “Sudah tidur?” dengan suara halus seperti desis angin. Tidak ada respon yang ia dapatkan. Tangannya ia ulurkan dan mengelus punggung Eibi. “saya sungguh minta maaf. Saya ingin memberitahumu dan minta ijin, tapi karena kamu ada perjalanan bisnis, saya berbohong. Saya hanya takut kamu tidak mengijinkan saya pergi saat kamu tidak ada. dan akhirnya saya terusan berbohong. Malam hari itu, saya berbohong. Cemilannya juga saya rencanakan, tapi saya memberikannya dengan sungguh-sungguh, bukan paksaan. Soal pantai, saya juga bohong. Maaf…” Zivi berkata jujur seperti anak kecil yang mengakui kesalahannya, berharap Eibi mendengarkannya. Tak ada respon juga, akhirnya Zivi menyerah.
“Selamat tidur. Saya tidur bersama Epi saja.” Ucapnya dengan keluhan.
“So, that’s how you feel sorry towards me?” Eibi akhirnya bersuara, menghentikan Zivi yang hendak turun dari ranjang.
“Hmmm, I’ve said my sorry, it’s up to you, if you want to forgive or not.” Jawab Zivi dengan kesal namun suaranya serak dipendengaran Eibi.