
“Makanlah terlebih dahulu!” setelah beberapa saat Eibi berucap sambil menatap Zivi yang juga menatapnya.
Hanya satu tujuan Eibi. Jangan sampai Zivi mengucapkan kata-kata seperti yang Alden sampaikan padanya.
“Okay!” Zivi menurut. Ia merasa benar apa yang Eibi ucapkan. Bisa jadi ucapannya nanti menghilangkan selera makan mereka berdua.
“Bagaimana kabar keluargamu? Bagaimana kabar nenek?” Eibi bertanya sambil mengunyah steaknya. Ia ingin membuat sauna sedikit hidup dan tidak sepi.
“Semuanya baik. Sehat. Nenek sehat.” Zivi menjawab dan bertanya “Bagaimana dengan keluargamu? Bagaimana keadaan papamu?”
Eibi mengangguk, namun ada yang janggal dalam pertanyaan Zivi.
Papamu? Seperti tersirat ketidakterikatan dalam ucapan itu.
“Semuanya juga sehat. Papa sudah pulih.” Menjawab juga dengan kecut hati.
“Syukurlah.” Respon Zivi singkat tidak menanyakan lebih lanjut.
“Kenapa saat pulang tidak memberitahu saya?” Eibi bertanya lagi. Terdengar santai, tapi bagi Zivi sepertinya menuntut.
Jika hubungan mereka baik-baik saja, ia akan dengan senang hati memberitahunya. Atau bahkan sudah memberitahunya.
“Bagaimana memberitahumu? Pesanku saja tidak kamu balas!” Berucap santai merasa diri benar. Pada awalnya memang ia sudah berniat akan memberitahu Eibi. Namun Eibi bukan hanya tidak membalas pesannya, iapun tidak menghubunginya sama sekali hingga ia tiba-tiba muncul beberapa hari yang lalu.
“…” Eibi terdiam. Ia tidak membalas pesan Zivi karena amarahnya masalah gelang.
“Ok. Saya akan jelaskan masalah itu.” Eibi mengusap bibirnya dengan tissue dan bersiap menjelaskan.
‘Kenapa sekarang jadi percakapan rasanya mulai panjang? Saat ia ingin bicara sesuatu, Eibi menghentikannya.’ Zivi dalam hati jadi tidak nyaman.
“Makanlah dulu.” Ucapnya akhirnya mengingatkan Eibi pada ucapan awalnya.
“Ok. Makan dulu.” Eibi sadar dan mengiyakan.
Waktu berlalu dengan hening. Hanya suara gesekan garpu, pisau dan piring yang terdengar.
Tidak yang bicara lagi.
“Sprite?” Eibi menawarkan untuk mengisi gelas Zivi yang sudah kosong saat sudah menghabiskan steak mereka.
Setelah anggukan Zivi dan berucap ‘sedikit’, Eibi menuangkan untuknya sedikit lalu untuk dirinya sendiri.
Selesai makan, Zivi menyusun piring kotor dan hendak mencucinya, namun Eibi menghentikannya.
“Biarkan besok Bibi yang cuci.” Ucapan Eibi.
“Baiklah.” Zivi menurut saja. Mungkin waktunya bisa ia gunakan untuk membahas hal penting tersebut.
Waktu baru menunjukkan pukul 8 malam.
Kembali ke kamar dalam diam. Eibi ingin memegang tangannya, namun Zivi menghindarinya dengan memegang pinggiran tangga dan tangan kirinya ia masukkan dalam kantong celananya.
“Tidak ada yang kamu kerjakan?” Zivi berbalik dan bertanya pada Eibi setelah masuk ke dalam kamar.
Ia ingin memastikan waktu Eibi sebelum ia membahas hubungan mereka.
“Tidak.” Jawab Eibi menatap Zivi yang menatapnya tenang itu.
Zivi mengangguk-angguk, “berarti saya bisa bicara denganmu sekarang!” ucapan tenang yang keluar dari mulutnya namun cukup membuat hati yang mendengarnya sakit tidak menerima bahkan sebelum ia mendengarkan lebih lanjut isi yang akan dibicarakan.
Suara tenang itu sama persis saat pertama kali Zivi membahas hubungan mereka saat ia sudah tahu kebenarannya.
Sebelum Zivi melanjutkan ucapannya, Eibi maju dengan pelan hingga cukup dekat dengan Zivi, menatap matanya yang biasa bersinar, namun kini beda.
Dep. Eibi mendekapnya dalam pelukannya. “Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu, ok!” Pintanya lembut dan mengecup kepalanya.
Mendengar ucapan Eibi serta suaranya yang seakan memberinya kesan sedih, membuat Zivi terdiam.
“Jangan seperti ini, Bi.” Ucapnya berusaha melepaskan diri setelah kembali meneguhkan hatinya.
“Kenapa? Kau tidak merindukanku?” Pertanyaan Eibi membuat Zivi terdiam lagi.
Rindu? Tentu saja. Ah tidak. Tidak! Zivi berperang dengan batinnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak perlu minta maaf. Saya turut senang untukmu dan Kezia.” Jawab Zivi dengan tenang meski hatinya sakit. Ia tidak menunjukkannya.
“Maksudmu?” Eibi bertanya mendorongnya keluar dari pelukannya dan menatap mata Zivi penuh dengan selidik.
“Maksudnya karena kalian sudah kembali bersama, kita bisa…” Zivi ingin mengutarakan maksud hatinya.
“Stop it!” Suara Eibi sedikit meninggi, bukan hanya memotong pembicaraan Zivi, juga mengagetkannya.
Zivi menatapnya kaget, “jelaskan kenapa kamu tiba-tiba membahas Kezia? Saya? Kembali bersama?” Eibi bertanya, sesekali manarik nafas, menetralkan suaranya yang mengagetkan Zivi.
Sedikit menyesal karena suaranya meninggi tidak ingin mendengar ucapan selanjutnya dari Zivi. Tidak bisa tidak ia lepas kendali.
Zivi menatap Eibi balik dengan selidik mencari sesuatu dari mata Eibi, tidak ada tanda bahwa Eibi menyembunyikan sesuatu.
“Kalian tidak kembali bersama? Tapi berita itu?” Zivi terbata-bata bertanya pada Eibi.
“Berita?” Eibi yang tidak pernah melihat berita, kecuali berita penting yang berkaitan dengan industry dan perekonomian kembali bertanya.
“Hmmm. Aku melihatnya.” Jelas Zivi dengan suara melemah sambil melepaskan tangan Eibi.
Ia ke sofa dan mengambil ponselnya dari tas dan mencari berita selebriti dari internet. Berharap masih ada jejaknya.
Eibi hanya diam menunggu dan melihat apa yang ia lakukan.
“Ini.” Zivi menyerahkan ponselnya dengan layar gambar Eibi dan Kezia didalamnya.
“Kamu yakin ini adalah saya?” Eibi akui itu adalah dirinya dalam gambar, namun tetap bertanya. Banyak orang mungkin akan bertanya-tanya pria itu siapa? Julukannya saja ‘Pria Misterius’. Bagaimana Zivi bisa yakin itu dirinya? Apa Zivi begitu mengenal dirinya?
“Yakin.” Tanpa ragu Zivi menjawabnya dan mengambil kembali ponselnya.
“Bagaimana bisa kamu begitu percaya terhadap berita receh seperti ini!” Eibi tak habis pikir Zivi bisa menerima berita demikian tanpa pikir panjang, “Beritahu saya, apa yang membuatmu yakin?” bertanya lagi.
“Kalau begitu, beritahu saya bahwa itu bukan dirimu.” Zivi meminta pernyataan.
Jika Eibi mengatakan tidak, maka ia benar-benar pembohong.
Jika Eibi jujur, berarti itu cukup baginya.
“Saya akui, itu adalah saya.” Eibi memegang kedua sisi bahu Zivi dan menjawab dengan jujur sambil menatap mata Zivi.
“Hmmm, hal yang bagus. Paling tidak kamu jujur.” Zivi tersenyum sambil melepaskan kembali tangan Eibi. Untuk kata ‘tapi’ Zivi tidak ingin mendengarkannya lagi. Excuse apa yang akan Eibi berikan padanya, ia tidak mau terpengaruh. Ia tidak mau tertipu.
Melihat Zivi yang tidak memberinya kesempatan untuk melanjutkan ucapannya, Eibi tidak membiarkan Zivi lepas. Ia mencengkram kuat Pundak Zivi.
“Bi, lepaskan. Jangan seperti ini. sakit.” Zivi berusaha sambil memohon dengan tenang.
“Tidak. Sebelum kamu mendengarkan saya.” Eibi menolaknya dengan tegas.
“Lepaskan. Ini sakit, Bi.” Zivi mulai menangis kesakitan, namun sebenarnya pertahanan hatinya lepas. Hatinya yang sakit, begitu sakit.
Eibi melepaskan tangannya dari Pundak Zivi, namun bukan lepas. Perpindah tempat ke kepala Zivi dan membungkap tangis gadis menyedihkan dari gadis itu. Ia seolah merasakannya.
Zivi terkejut beberapa saat terdiam, lalu kembali meronta “Uhmmmm”.
Eibi tidak melepaskannya begitu saja, ia dengan kuat menyesap bibirnya hingga ia kehabisan nafas dan tak berdaya baru ia melepaskannya.
Eibi memeluknya erat dan mencium dengan sayang sisi kepalanya dengan hati yang sakit mendengar senggukan tangis yang tertahan.
Zivi tak meronta lagi, cuma sakit hatinya berlipat ganda. Bukan hanya Eibi kembali pada kekasihnya, Eibi bahkan berusaha membohonginya dan menciumnya paksa tanpa seijinnya.
“Paling tidak, dengarkan dulu penjelasan saya.” Bisik Eibi pada telinganya lalu kemudian meletakkan dagunya diatas kepalanya.
“Itu memang adalah saya. Tapi bukan berarti bahwa saya kembali pada Kezia.” Eibi mulai menjelaskan pada Zivi.
“Itu adalah saat saya menolong Kezia yang tidak bisa jalan karena keram kakinya kambuh. Mungkin ada wartawan yang tak sengaja melihat dan mengambil gambar kami. Dan Kezia adalah publik figure, tentu saja wartawan itu mengambil kesempatan itu dengan memotret kami.” Jelasnya.
Zivi mendengar dan menimbang-nimbang untuk percaya atau tidak. Sementara Eibi menyadari sesuatu saat menjelaskan, ‘apakah itu jebakan? Sengaja difoto untuk memprovokasi hubungannya dengan Zivi? terlihat Kezia tersenyum seakan menyadari adanya kamera?’
‘Pasti!’