
“Kezia dan Eibi sudah lama pisah. Dan Eibi sudah menemukan gadis yang paling tepat buat Eibi. Grandma hanya perlu bersabar saat semua urusan disini beres, akan Eibi usahakan untuk membawanya bertemu grandma.” Eibi menjelaskan dengan tenang pada grandma, meyakinkannya.
Meski ragu, grandma hanya bisa mengangguk, “Baiklah. Grandma tunggu. Pada ulang tahun grandma kamu harus membawanya. Jika benar kamu membawanya, grandma baru akan mempercayaimu.” Grandma memberikannya batasan waktu.
“!” giliran Eibi yang speechless. Rupanya grandma tidak mempercayainya hingga memberinya tantangan.
“Tenang saja. Asalkan papa sudah sembuh dan perusahaan aman, Eibi akan membawanya secepatnya tanpa harus menunggu ulang tahun grandma.” Eibi menyakinkan grandma seakan tadi tidak ada masalah dengan Zivi.
Ia yakin sepenuhnya bahwa Zivi adalah gadis yang ia tunggu selama ini. Gadis yang bisa menggerakkan hatinya. Dan pasti ia akan memilikinya. Tidak peduli jika Zivi menolaknya, ia akan mengusahakan yang terbaik agar dia masuk dalam pelukannya lagi.
Tidak disangka juga ketertarikan yang awalnya hanya untuk main – main di café itu akan berubah seserius ini baginya. Dan karena sudah serius, makai a tidak akan melepaskannya.
Sementara Eibi dan Zivi berjuang dengan pikiran dan hati mereka yang berkecamuk, Kezia menikmati kesenangannya dalam apartemennya yang nyaman. Ia tahu bahwa Zivi pasti marah. Buktinya ponselnya tidak bisa hubungi. Ia berdiri dengan senyuman lebar melihat berita tentang dirinya dan Eibi dalam berita sambil memutar-mutar ponselnya ditangan. Meski Eibi menolaknya, asalkan Zivi berhasil ia sisihkan, maka urusan Eibi pasti bisa ia taklukkan. Eibi pasti kembali jadi miliknya.
Anthony yang bersamanya dalam ruangan itu mencium hal yang tidak baik: “Apa yang membuat terlihat sangat senang hari ini?”
Kezia “Menurutmu apa? Selain memenangkan orang yang aku cintai, apalagi?” bangga dengan fantasi akan Eibi yang akan jadi miliknya.
“Apa yang kau lakukan padanya?” meski sakit hatinya mendengar ucapan Kezia, ia tetap bertanya dengan tenang.
Dengan berita yang Kezia tonton, mungkinkah Kezia menjebak Eibi untuk tidur dengannya? Tidak mungkin dan tidak boleh. Kezia adalah wanitanya. Sejak pertama kali ia menyerahkan diri padanya, maka dia hanya boleh menjadi miliknya.
“Tenang saja. Aku tidak melakukan apa-apa padanya. Aku hanya berusaha untuk membuat wanita itu melepaskannya.” Jawab dengan senyuman puas melihat Anthony.
“Apa maksudmu?” dengan sigap menekan bahu Kezia dan bertanya. Ia cemburu namun ia juga tidak rela Zivi disakiti.
Menyadari sikap Anthony, Kezia mengalungkan tangannya pada Anthony dan mencium sudat bibirnya, “Tenang. Aku tidak menyakitinya. Aku hanya mengiriminya foto-fotoku bersama Eibi agar ia meninggalkannya. “Cukup kesalahan bodoh yang pernah aku buat saat itu, dan aku tidak akan mengulanginya lagi.” Ucapnya sambil mencium Anthony. Ia bersyukur Anthony menyadarkannya setelah ia di deportase. Anthony meneranginya meskipun dengan pertengkaran yang lumayan hebat.
Ciuman dan ucapan lembut Kezia membuat serta terpaan nafas yang jatuh pada lehernya membuatnya tidak bisa tidak mencium Kezia seketika setelah ucapannya itu.
Dan jadilah hubungan itu makin jauh meleburkan dua rasa. Rasa bahagia Kezia serta cemburu Anthony melebur dan bahkan hilang dengan rasa yang diberikan oleh sentuhan fisik dari keduanya.
“Cukup! Tidak boleh lebih dari ini!” Kezia menghentikan Anthony yang sudah menggebu dan siap dengan menu utamanya.
Lemas! Anthony hanya bisa pasrah dan melepaskan Kezia yang terlihat kelelahan.
Setelah dari kamar mandi, Kezia sudah terlelap, Anthony meraih ponsel Kezia memeriksa isi ponselnya. Ia menghafal sebentar nomor yang ia tebak adalah nomor Zivi dan menghubunginya di dalam kamar mandi.
“Shit!” Tidak berhasil.
Ia mencoba menghubungi Eibi, ia di tolak. “Huft!” Apa yang bisa ia lakukan sekarang?
Ia paham Eibi tidak menerima telponnya, jadi tidak bisa ia menyalahkannya. Zivi, kenapa tidak bisa ia hubungi.
Alden! Sama saja. Kedua pria sahabat sejati itu sepakat mengabaikannya.
Dirumah, Alden merenung setelah menerima perintah Eibi. Bukan masalah tugasnya bertambah. Namun dari nada perintah Eibi menunjukkan bahwa ada masalah. Dan apa masalahnya?
“Ya, hallo!” Alden menghubungi Epi untuk menanyakan kapan Zivi pulang. Pasti Zivi memberitahu sahabat dekatnya.
“Apakah kamu tahu kapan Zivi akan pulang?” Alden
“Sepertinya 1 minggu. Namun tidak pasti.” Epi.
“Baiklah. Terimakasih.” Alden segera mengakhiri telfon lalu menghubungi Donna dan mendapatkan jawaban yang sama.
“Huft!” Hanya menghela nafas dan berharap tidak terjadi apa-apa.
Zivi menikmati harinya yang panjang dengan kesibukan barunya, keu-kue yang ia buat tidak percuma. Ia menikmatinya dengan menjualnya lewat media FB kakaknya. Dan laris manis beberapa toples habis, dan ada yang memesan lagi.
Malamnya sudah sangat lelah saat ia menyalakan ponselnya setelah berbaring. Beberapa panggilan dari tak terjawab. Yang menarik perhatiannya adalah Eibi. Namun taka da satupun pesan masuk. Paling tidak Eibi mengiriminya pesan jika tidak berhasil menghubunginya. Tidak.
2 nomor asing yang tidak ia ketahui. Ia tebak itu adalah Kezia. Ia abaikan dengan mematikan kembali ponselnya.
Zivi yang punya kebiasaan membatasi harapannya dengan ketentuan waktu, hal itupun terjadi kini. Ia mempertimbangkan untuk membeli nomor baru jika Eibi tidak lagi menghubunginya esok.
‘Mungkin ini akhirnya.’ batinnya meski tidak pernah membayangkan akan berakhir secepat ini dan dengan cara demikian. Terlebih lagi saat perasaannya sudah ada untuk Eibi.
‘Seperti ini rasanya patah hati’ batinnya tak bisa membendung air matanya.
Dan kenyataan benar-benar menyakitkan. Pagi hari ia bangun, menghidupkan ponselnya berharap ada pesan atau panggilan dari Eibi namun tidak ada sama sekali. Jika hanya barang yang tidak berhasil ia raih, ia bisa menahannya. Jika teman, ia juga masih bisa menahan air matanya.
Setelah berjam-jam dalam kamar menangis sembunyi dari keluarganya, Zivi bangkit dan membersihkan dirinya seakan ingin menghapus Eibi dari dirinya. Setelah memastikan sembabnya tidak terlihat dan keluar bersama dengan keluarganya seperti tidak ada masalah. Setelah itu ia keluar untuk membeli bahan kue lagi sekalian membeli nomor baru.
Waktu berlalu dengan cepat. Masa ijinnya berakhir dan Eibi sekalipun tidak menghubunginya. Padahal ia masih sedikit berharap. Alasan itu yang membuat nomor baru yang ia beli masih menganggur hingga saat ini. Eibi sungguh melupakannya? Zivi merenung sambil memainkan gelang pemberian Eibi.
Rasanya masih ingin tinggal dan menyibukkan diri dengan kegiatan baru yang menyenangkan dan menguntungkan juga menolongnya melupakan Eibi. Tapi tidak mungkin. Sudah harus kembali. Jika tidak, ia bisa dipecat. Lagi pula ia harus mempersiapkan dirinya untuk mengurus perpisahan dengan Eibi.
Masalah perpisahan ini Zivi simpan sendiri. Kebiasaannya yang tertutup, ia tidak akan memberitahu masalahnya dengan siapapun termasuk keluarganya. Saat ketahuan, saat itulah saat yang tepat untuk menjelaskan.
Dan dengan keteguhan hati, Zivi yakinkan diri untuk kembali dan menghadapi serta menyelesaikan masalahnya sendiri, Zivi mengepakkan barang-barangnya. Tidak bisa ia tinggal atau undur karena masalah ini. Ini bukan alasannya untuk mundur. Selama ia masih diberikan nafas, tidak bisa ia menyerah begitu saja. Ini hanyalah salah satu ujian yang harus ia lewati. Sama dengan masalah-masalah kemarin yang ia bisa lewati, maka hal inipun tidak beda.
Zivi pulang dan meninggalkan hasil kuenya ia berikan pada kakak juga neneknya.
Diseberang sana Eibi mengusahakan yang terbaik untuk menyelesaikan urusan perusahaan. Mengupayakan dokter yang terbaik untuk pemulihan papanya. Sementar urusan yang tinggalkan pada Alden sesekali meeting online.
Kezia menikmati masa dimana Eibi tidak lagi bersikeras menolaknya. Meski ia dingin terhadapnya, tak diusir saja sudah cukup saat ia berkunjung ke rumah, kantor atau rumah sakit. Ya, lebih sering ke rumah atau rumah sakit untuk mendapatkan hati keluarganya. Melihatnya demikian, Eibi pasti akan melunak dan kembali padanya. dan benar saja, Eibi baik padanya, ia berhasil mengajaknya makan malam bersama. Ia juga tidak mendengar Eibi menyebutkan istrinya lagi dihadapan. Usahanya berhasil!
Ingin sekali ia memamerkan masa kebersamaan itu pada Zivi, namun nomornya sudah di blokir Zivi.
Ia menikmati keberhasilannya, sementara Eibi hanya kasihan padanya dan membalas kebaikannya yang ikut repot memperhatikan keluarganya.
Anthony gigit jari. Kezia tidak lagi menghiraukannya. Perhatian Kezia tertuju pada Eibi semata dan keluarganya. Zivi tak bisa ia hubungi dan bahkan ia di blokir. Alden juga Eibi tidak menghiraukannya.