LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 17 Anjuran Wanita Yang Sudah Lama Menikah



Setelah menjemput tamu dan mengantarnya ketempat tujuan, Zivi kembali ke kantornya.


Siang hari setelah makan, hal-hal yang ia perlukan sudah beres. Tidak ada lagi yang ia lakukan dan entah mengapa ia teringat Eibi yang kemarinnya bergabung dengan teman-temannya, Lita dan Epi.


Saat itu dirinya jalan-jalan sekalian makan siang Bersama Lita dan Epi disebuah restauran yang terletak di gunung yang menawarkan pemandangan yang bagus. Pemandangan alam dengan menu lezat yang ditawarkan cukup menarik hati konsumen. Terlihat dengan pengunjung yang hampir memenuhi seluruh ruangan itu.


Tak diharapkannya akan berpapasan atau bertemu Eibi diluar, terlebih lagi berkenalan dengan teman-teman dekatnya.


‘orang yang mencintai kita pasti mau membuka diri mengenal dan berbaur dengan teman-teman kita?’ batin Zivi miris mengingat ucapan Lita saat mereka sedang ngobrol santai sambil menunggu menu yang mereka pesan ‘Tapi untuk dirinya dan Eibi itu sangat tidak mungkin. Tapi kenapa Eibi dan Alden ikut bergabung dengan mereka? Padahalkan masih ada meja yang lain?’ batin Zivi merenungkan sendiri peristiwa kecil yang kemarin.


‘Peduli amat ah! Ngapain juga mikirin kenapa? Mungkin dia hanya ingin bergabung agar ramai.’ Menjawab sendiri pertanyaan di batinnya, tidak ingin ZIvi membiarkan dirinya menerka jawaban yang akan melibatkan urusan perasaannya. Masih terngiang ucapan Eibi dimalam pertama setelah mereka menikah.


“Hei! Melamun aja dari tadi?” ucap Mbak Rena menepuk Pundak Zivi.


“Eh, Mbak. Tidak. Zivi tidak melamun, hanya sedang memikirkan sesuatu.” Terang Zivi menolak dikatai melamun.


“Melamun dan berpikir, beda tipis Vi.” Terang Mbak Rena sambil tersenyum. “Apa kamu ada masalah Vi?” Tanya kemudian prihatin.


“Tidak Mbak. Zivi tidak ada masalah sama sekali.” Jawab Zivi terus terang, namun kemudian ia merasa ada masalah dengan dirinya sendiri, bukan dengan orang lain.


“Vi, kalau ada masalah jangan sungkan cerita sama Mbak. Mbak tidak janji akan bisa selalu membantu, tapi paling tidak akan mengeluarkan apa yang membebani hati dan pikiranmu.” Mbak Rena menawarkan diri untuk menjadi tempat curhat Zivi.


Mbak Rena prihatin dengan Zivi yang biasanya ceria, namun menjelang menikah hingga sekarang setelah menikah, ia beberapa menemukan Zivi termenung sendiri dalam waktu yang lama.’Huftt’ Mbak Rena menghela nafas. Jauh sebelum itu, Zivi adalah orang terlihat seperti tidak ada beban, tidak ada masalah. Hari-hari ia lewati dengan riang, mendengarkan musik dan ikut bersenandung ria disaat ia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya.


“Vi,” panggil Mbak Rena sambil menarik kursi Donna yang kosong untuk duduk *Donna sedang ada tugas keluar jadi tidak ada disana dan menjadi pengusik Zivi seperti biasanya.


“Kamu harus tahu, hubungan saat pacaran dan setelah menikah akan sedikit berbeda. Saat akan menikah, kita merasa sangat cocok dengan pasangan kita dan nantinya tidak aka nada masalah. Salah. Justru setelah menikah kau akan banyak tahu tentang pasanganmu dan ternyata banyak yang bertentangan dengan dirimu.”


“Iya Mbak. Zivi tahu. Zivi sering dengar.” Jawab Zivi ‘kenapa bahas hal ini?’ ringisnya dalam hati.


“Nah, Mbak cuma mau kasih tahu, saat sudah menikah, masalah apapun harus kita selesaikan dengan pasangan kita. Karena saat menikah, tidak adalagi pintu belakang untuk berbalik keluar seperti masa pacaran dengan mudah mengatakan kata putus. Jalan satu-satunya adalah selesaikan dengan komunikasikan dengan baik. Dari pada menguras pikiranmu dan masalahmu juga tak akan terselesaikan.” Nasihat Mbak Rena yang diikuti anggukan Zivi ‘Komunikasi’ gumamnya dan cukup didengar oleh Mbak Rena.


Mbak Rena tersenyum, “Ya, komunikasi. Apapun masalahmu dengan suamimu, komunikasikan.” Ucapnya.


Dari penjelasan Panjang lebar mbak Rena, Zivi hanya menangkap satu kata komunikasi. “Iya Mbak.” Jawabnya, “Terimakasih.” Tambahnya tak mengurangi rasa terimakasihnya pada Mbak yang sudah merupakan kakak baginya dikantor itu.


Ya, Zivi harus membahas masalah pernikahannya dengan Eibi. Agar ada keterbatasan yang jelas dan keduanya tidak perlu canggung atau pura-pura saling menjaga perasaan satu sama lain, pura-pura tidak tahu alasan dibalik pernikahan mereka. Hal itu juga akan aman, agar mereka, terlebih khusus dirinya untuk tidak membiarkan hatinya jatuh pada pria itu.


Tanpa Zivi ketahui, kejadian kemarin itu bukanlah kebetulan. Memang Eibi sengaja mengikutinya lewat GPSnya. Dan berkenalan dengan teman-teman dekatnya juga adalah kemauan Eibi. Ia tidak pergi seperti saat dilapangan bulu tangkis.


FlashBack On


Setelah menerima telfon yang ternyata telfon dari orang yang tidak ia harapkan, Eibi kembali menghubungi Alden. Dan berhasil.


"Hallo" suara dari seberang telpon.


"Please, find out what is she doing on this Sunday." Tanpa membalas salam dari lawan bicaranya dari seberang.


"Who?" Tanya Alden kaget. Pagi-pagi, sudah menyuruhnya mencaritahu kegiatan orang lain tanpa tahu siapa orangnya.


"Zivi." Jawaban pendek menyebutkan nama Zivi tegas. Alden tidak tahu ada apa dengan bos dan juga temannya itu.


"If I knew, do I need you to look for it?" Suara dari seberang terdengar sedikit geram.


"...." Alden tak langsung menjawab ‘betul juga ya’ pikirnya.


"Ok. I'll try." Jawab Alden akhirnya. ‘Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba ingin tahu tentang kegiatan gadis itu? Apa jangan-jangan ….’ Batinnya. Dan segera melacak dimana Zivi berada. Sekita 2 jam ia melacak keberadaan Zivi lewat nomor ponselnya.


Pukul 10:30


"Finally, I find you."


Titik map menunjukkan lokasi tempat Zivi berada.


Hotel Lily. Hotel yang terletak dibukit. "Apa yang sedang dilakukannya disana?"


Segera men-screenshot lokasi tempat Zivi berada dan mengirimkannya pada Eibi.


'What's she doing there? is she with her guest?'


(I want you Find out what she ia doing)


Pesan terkirim ke Alden. Alden segera menyusul kesana dan tidak lama kemudian Eibi juga tiba. Alden sangka hanya dirinya akan mencari tahu dan melapor nantinya, ternyata tidak.


....


"Akhirnya kita bisa ke sini juga ya..." Seru Lita senang bisa datang ke restoran itu.


Restoran Lily yang ada di lantai atas hotel.


Restaurant yg ditata sedemikian rupa. Spot demi spot ada untuk berpose mengambil foto.


Meja demi meja juga ditata dengan sangat bagus. Bentuk meja yang berbeda-beda dan dengan berbagai jenis warna gelap soft juga menawan hati.


Ada yang ditata untuk 2 orang, 3 orang, 4 orang, 6 orang. Dan juga disiapkan ruangan khusus untuk.


Mereka memilih menu dan bercengkrama ria sambil menanti pesanan mereka.


Dan tak lama cengkrama ria itu berhenti saat dua orang pria mendekati meja mereka, minta untuk bergabung.


FlashBack Off


Pukul 17:30. Waktunya pulang kantor. Zivi membereskan mejanya hingga terlihat rapi dan mengambil tasnya untuk pulang.


Karena paginya tidak membawa motor, Zivi berjalan sambil membuka aplikasi grab hendak memesan grab. Namun dirinya sekilas melihat ada mobil yang tidak asing baginya.


Tidak mungkin!


Ia hendak memencet tombol pesan, ponselnya berbunyi. Dan diluar dugaannya, itu benaran adalah mobil suaminya.


Dia menjemputnya? What?