
"Tumben pulang cepat non?" Sapaan Pak Tejo melihatnya pulang cepat, tidak seperti biasanya.
"Iya, pak. Kepalaku sakit. Jadi minta ijin pulang duluan." Zivi menjawabnya, lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah.
"Sudah pulang non?" Sapaan yang hampir sama intinya dengan Pak Tejo. -Suami Istri rupanya sehati- Tapi memang wajar, karena biasnya ia pulang kerja sore hari.
"Iya, Bu. Zivi tinggal dulu, mau segera istirahat." Zivi menjawab seperlunya dan permisi menuju ruangannya dekat dapur. Ia mengganti pakaian dan segera minum obat yang Donna belikan, lalu tidur.
"Zivi sudah pulang?" Sore hari saat pulang Eibi bertanya pada Pak Tejo.
"Sudah Tuan. Non Zivi pulang cepat hari ini. Sakit kepala katanya." Jawab Pak Tejo.
"Kenapa tidak memberitahu saya?” Dengan nada tidak senang atas jawaban Pak Tejo.
“Lain kali segera beritahu saya jika terjadi sesuatu padanya." Tambahnya setelah mendapat respon diam Pak Tejo.
"Iya Tuan. Maafkan saya untuk kejadian hari ini." Pak Tejo meminta maaf dengan kelalaiannya yang bukan kelalaiannya.
“Perlu saya panggilkan dokter?” Tanya Alden setelah mobil kembali melaju untuk masuk ke dalam garasi.
“Yeah. Tolong telfonkan dokter.” Eibi segera keluar mobil dan masuk ke dalam rumah. Ia ingin segera tahu kedaan Zivi.
Zivi tak ada di kamar. Ia berlari menuju ruang bawah. Kamarnya gelap, pintu tidak terkunci.
Eibi segera menghidupkan lampu.
"Hmmm, tolong matikan lampunya." Suara seperti merengek terdengar dari arah sofa, Eibi menoleh dan melihat Zivi meletakkan tangannya tepat diatas matanya merasakan silau cahaya lampu.
"Apa yang sakit? Tunggu sebentar! Dokter akan segera kesini." Eibi menghampirinya dengan segera setelah mematikan lampu. Tangannya menempel diatas tangan Zivi yang menekan keningnya dengan bersimpuh dekat Zivi.
"Tidak perlu. Ini sudah biasa. Saya hanya perlu istirahat banyak. Saya sudah minum obat sakit kepala." Zivi menjelaskannya pada Eibi.
Eibi tidak merespon Zivi, dokternya sudah dipanggil. Tunggu saja ia tiba. Ia memasukakkan tangannya dibawah tubuh Zivi.
"Apa yang kau lakukan?" Syok dan menarik tangan Eibi keluar dari bawah tubuhnya.
"Pindah, tidur di kamar." Jawab Eibi dengan kekuatan penuh seperti Gerakan menyendok ia mengangkat Zivi yang tak seberapa kekuatannya untuk menolak di angkat.
"Saya hanya sakit kepala sedikit, masih bisa jalan, turunkan!" menghentikan penolakannya dengan kekuatan, beralih menggunakan kata-kata dengan nada melemah.
"Diam dan menurut saja, ok!" Eibi terus melangkah membawa Zivi menuju kamar mereka.
“Sudahku katakan, tidak perlu.” Ucap Zivi saat ia mendengar Eibi membicara dengan seorang wanita yang adalah dokter.
“Tapi ini perlu. Biarkan dia sebentar memeriksamu” Jawab Eibi dan mengarahkan dokternya ke tempat tidur dimana dirinya berbaring sambil menyalakan lampu.
“Anda hanya perlu beristirahat, ibu. Tekanan darah sangat rendah, juga kurang darah. Ditambah lagi anda sedang dalam masa haid.” Saran dokter setelah memeriksa Zivi serta mendengarkan keluhan yang Zivi utarakan padanya.
Eibi berdiri disamping tempat tidur mendengarkan juga memperhatikan apa yang dokter lakukan dan ucapkan. Hatinya lega dengan ucapan dokter.
“Saya berikan obat sakit kepala yang ada kandungan obat tidur agar ibu bisa istirahat, serta obat penambah darah.” Dokter menyerahkan obatnya pada Zivi, “Ini diminum 3 kali sehari setelah makan.” Tambahnya.
setelah selesai dengan tugasnya, ia segera pemisi. Zivi mengucapkan terimakasih, dan ia tinggalkan. Eibi mengantarnya keluar kamar, dan Alden sudah menunggu di luar untuk urusan pembayaran.
Zivi melanjutkan tidurnya karena merasa masih mengantuk. Matanya berat. Eibi membiarkannya tidur, dan segera membersihkan dirinya. Lampu kamar kembali ia matikan karena ia tahu Zivi tidak bisa dengan lampu menyala.
Malam hari, sudah jam 8 lewat.
Zivi lapar dan merasa harus makan. Jika tidak, dirinya bisa bertambah sakitnya. Namun mau makan apa ia tak tahu. Apa yang dipikirkan terasa tidak enak dalam bayangannya.
Ia memutuskan untuk memasak bubur.
"Masak bubur. Saya lapar." Jawab Zivi mulai membersihkan bahan untuk masak bubur.
Daging ayam, wortel, serta bayam.
"Biar saya masakkan. Kamu kembali ke kamar untuk istirahat." Pinta Eibi meraih tangan Zivi menghentikannya dari kegiatannya.
“Tidak apa-apa. Saya masih bisa mengerjakannya.” Zivi ingin menolak. Namun tangannya tak dilepaskan Eibi, malah mencuci tangannya dan mengringkannya dengan kain lap tangan. "Tidak apa-apa, saya masih bisa. Lagipula, sudah biasa saya seperti ini." ucapnya lagi sambil menatap Eibi.
"Biar saya masak. Ok. Kamu istirahat." Eibi menatapnya balik dengan aura menegaskan.
"Baiklah. Saya tiduran disini saja." Zivi memutuskan untuk menurut namun tetap berada di dapur. Ia ragu Eibi bisa masak untuknya.
Eibi bisa memasak bubur seperti yang ia inginkan. Meski awalnya Eibi mengira sayuran dimasak terpisah. Zivi memberitahunya untuk mencampurkan semuanya dalam bubur yang dimasak dan ditambahkan sedikit garam.
"Enak?" Eibi menanyakan Zivi yang menikmati bubur masakannya. Ia penasaran akan rasanya. Ini pertama kalinya ia masak untuk orang lain.
"Hmmm, I didn’t know that you are good in cooking." Puji Zivi setelah beberapa detik menunjukkan ekspresi serius merasakan bubur yang masuk dalam mulutnya.
“hahaha, you praise too much. even it was, that’s because of you.” Eibi tertawa mendengar pujian Zivi, menggaruk tengkuknya dan menjawab Zivi.
Sikap Eibi dan tawa Eibi membuat Zivi tak bisa tidak terkekeh. Rasa sakitnya terasa menghilang. Meski hanya sebentar, namun Zivi menyukainya. Paling tidak salitnya sebentar terabaikan. Itu yang ia perlukan.
"Sleep on the bed." Setelah minum obat, Zivi hendak tidur di sofa, namun Eibi meminta tidur di tempat tidur.
"You?" Zivi ingin tahu jawaban Eibi. Takut seperti sebelumnya lagi Eibi tidur bersamanya.
"I'll sleep here." Jawab Eibi untuk membuat Zivi tidur ditempat tidur.
"But...!" Zivi tidak enak hati.
"No but, ok." Eibi tidak mau menerima penolakan dengan alasan apapun lagi, ia menuntun Zivi ketempat tidur.
"Sleep now." Ucapnya saat Zivi sudah berbaring dibawah selimut.
“Hmmm, good night.” Zivi mengucapkan selamat malam dengan tersenyum. Ia benar-benar merasakan bahwa dia pria yang baik. Eibi membalasnya sambil tersenyum dan menuju sofa untuk berbaring disana.
Cup! “good night!” Eibi mengecup kening Zivi saat sudah terlelap. Cup! Kecupan sekali lagi lebih lama, lalu berpindah, Cup! 1 kecupan dibibirnya.
05:00 pagi hari Zivi membuka matanya. Dan hal pertama yang ia ingat adalah mimpi singkatnya semalam. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya bisa mimpi aneh seperti itu.
Alih-alih mengeyahkan mimpi anehnya, ia merasakan ada sesuatu dikeningnya, dan meraba keningnya.
Tangan? Ia meraih dan menurunkan tangan itu dan menoleh melihat Eibi yang mulai membuka matanya.
"You?" Zivi tahunya Eibi tidur disofa semalam, namun sekarang Eibi bersamanya diatas tempat tidur. Ia melihat jarak diantara mereka. Lumayan jauh. Ada guling diantara mereka yang memisahkan. Zivi lega.
“Maaf! Semalam saya melihatmu tidur tidak nyaman. Dan saya berpikir mungkin kepalamu sakit, dan meletakkan tangan saya dikeningmu seperti yang kamu lakukan. Dan kamu terlihat kembali tidur nyaman.” Dengan jujur Eibi menjelaskan pada Zivi.
Zivi mengerti dan hanya mengangguk, “terimakasih” ucapnya pelan dengan perasaan tak enak. Hampir saja ia salah paham dan kesal atas kebaikan Eibi.
"Sorry, if I made you upset. I Saw you were so comfortable sleep by my hand on your head. So, I decided to sleep next to you last night." Ucap Eibi menangkap raut tak nyaman Zivi.
"That’s ok. I should thank you." Zivi menjawabnya dan menunjukan senyumnya.
"How do you feel now?" tanya Eibi melihat Zivi dengan seksama.
"I’m fine. My headache was gone!" jawab Zivi jujur. Kepalanya sudah baikan.