
“Kamu diantar Vi?” pertanyaan sambutan Donna pada saat masuk ruangan. Ia heran kenapa Donna masih disana dan tidak ikut apel pagi bersama yang lain. Tidak mungkin Donna baru nyampe kantor.
“Yap! Seperti yang kamu lihat!” Jawab Zivi sambil meletakkan tasnya diatas meja, namun sekilas ia bisa melihat raut wajah Donna yang sumringah.
“Kau kenapa?” Akhirnya bertanya pada Donna seakan tidak tahu penyebabnya, ia tidak nyaman dengan tatapan Donna yang sumringah.
“Hei, tentu saja aku senang karenamu. Dia baru saja mengantarmu! Sudah sejauh mana hubungan kalian? Apa kau memberitahu perasaanmu padanya?” Pertanyaan Donna beruntun, dan untung hanya mereka berdua.
Zivi memutar bola matanya, “Jika itu yang kau ingin tahu, lupakan. Sekarang ayo bergabung apel pagi sebelum dimulai!” Zivi bangun juga menarik Donna. Pertanyaan Donna ia abaikan.
“Skip saja apel paginya! Jawab Aku dulu!” Donna memohon.
“Kalau mau tahu, ikut apel pagi dulu. Nanti akan aku ceritakan!” Zivi nego barter dengannya seperti orang tua sama anak. Orang muda meski bukan anak kecil lagi, kadang sisi kekanak-kanakannya ada.
“Tapi ingat, lihat situasi saat bertanya!” Zivi mengingatkan Donna dengan tatapannya. Donna hanya mengangguk dan mengikuti Zivi keruang apel.
Jam sebelas
“Ingat, saat makan siang nanti kau harus menceritakannya padaku!” Donna mengingatkan Zivi saat sudah menyelesaikan pekerjaan.
Zivi hanya berguman tanda mengiyakan, namun teringat dirinya akan makan siang bersama Eibi. Apa tunda saja makan siang dengan Eibi? sepertinya Donna tidak makan siang bersama Richard? Pikir Zivi.
Drt drt drt ponsel Zivi berbunyi. Bersamaan dengan bunyi panggilan ponsel Donna. Masing-masing fokus ke ponsel.
"Eibi: 30 menit lagi saya jemput!" Eibi mengingatkannya. Ia ingin membalas, tidak bisa makan siang bersama.
“Vi!” Zivi mendongak mendengar Donna memanggilnya, “Sepertinya tidak bisa makan siang bersama. Richard mengajak aku makan siang bersama!” Donna dengan raut setengan senang juga tak enak hati memberitahunya demikian.
“Ck! Kau yang minta, kau juga yang batalkan! Paham aku kalau sudah menyangkut cinta, lupakan yang lain!” berdecak sinis pada Donna, namun senyumannya tak menunjukkan bahwa ia sungguhan kesal terhadap Donna. Ia ikut senang melihat Donna senang. “Pergilah. Biarkanlah aku makan siang sendiri!” tambahnya sambil tersenyum lebar.
“Bukan maksudku begitu.” Donna dengan nada bersalah. Takut dirinya dipikir tidak memikirkan teman.
“Pergilah. Aku hanya bercanda. Aku juga akan makan siang bersama Eibi!” Jawab Zivi sambil tertawa kecil.
‘Apa yang Eibi ucapakan ternyata benar! Apa Richard memberitahunya? Apa mungkin karena itu sehingga ia mengajaknya makan siang bersama?’ batin Zivi
Tanpa Zivi tahu digedung kantor hotel, yang menjadi kantor tetap Eibi. Sebelum mengirim pesan pada Zivi, Eibi harus terlebih dulu melobi Richard agar mengajak Donna makan siang.
“Kau, Eibi mengajakmu makan siang bersama?” Donna sontak kaget dengan jawaban Zivi!
“Hmmm, nih lihat!” Jawab Zivi sambil menunjukkan pesan Eibi yang barusan masuk.
“Bagaimana kalau double date?” Usul Donna. Zivi mengidikkan bahu. Eibi yang mengajaknya, tergantung Eibi mau apa tidak.
Melihat reaksi Zivi, Donna paham. Lagipula Richard belum tentu juga mau! Batinnya.
“Baiklah! Lain kali saja. Bisa kita agendakan!” Donna menyerah dengan usulnya sendiri.
Namun dalam hatinya tak memungkiri bahwa ia senang melihat Eibi mengantar Zivi, dan sekarang Eibi mengajak Zivi makan siang bersama. Ia bisa merasakan kemajuan hubungan mereka.
***
Eibi membawa Zivi ketempat makan yang memiliki ruang makan private.
“Kapan kamu akan berencana mengunjungi kakakmu?” Tanya Eibi kala mereka menunggu makanan yang mereka pesan datang.
“Mungkin dalam waktu dekat!” Zivi tidak menyangka Eibi mengingat percakapan vicall dengan kakaknya saat di kota X.
Zivi menangkap dari ucapan itu bahwa Eibi akan pergi bersamanya, “Tidak perlu ikut jika jadwalmu padat!” Jawab Zivi.
“Kamu tidak mau saya ikut pulang bersamamu?” Tanya Eibi melihat keberatan di raut Zivi.
Zivi menggeleng-geleng. Eibi sungguhan mau ikut pulang bersamanya? Sebelumnya Eibi kesana dan hanya sebatas mengenal keluarganya dan menyatakan maksud menikahinya. Mengingat itu Zivi, sedikit sedih, pasalnya itu semua hanya kebohongan Eibi.
Dan sekarang? Eibi terlihat serius, ditambah dengan perlakuannya padanya yang tulus. Hubungannya dengan Eibi sangat baik dan bisa dikatakan mengalami kemajuan. Perasaannya makin bertumbuh untuk pria dihadapannya itu.
“Kalau begitu diputuskan saya ikut!” Putus Eibi menatap Zivi dengan lekat seakan menyalurkan kesungguhannya.
Tak lama pintu mereka diketuk dan menyusul pintu terbuka. Pelayan mengantarkan pesanan mereka.
“Wow!” Zivi terkesima melihat menu makanan yang datang. Tidak menyangka Eibi memesan terlihat agak banyak, namun isi ditiap piring hanya sedikit dan tetap cantik dilihat, mengundang selera.
Roasted potato, roasted pork, fried chicken, dan pasta, Ice cream, mineral water, serta piring, sendok, garpu tidak ketinggalan.
“Jika kurang, nanti kamu bisa nambah!” Eibi memberitahunya setelah pelayan meninggalkan mereka.
“Ini sudah terlalu banyak!” Ucap Zivi.
“Let’s eat!” Ajak Eibi sambil mengambil roasted pork untuk diletak dipiring kosong, juga membuka pasta dan menyedok setengannya untuk ditaruh bersanding dengan pork, “Coba ini.” Ucapnya dan meletakkannya didepan Zivi.
“Thank you!” Ucap Zivi tersenyum sipu merasa dilayani. Dirumah biasanya ia yang akan melakukan itu untuk Eibi jika mereka makan bersama.
“For you, it’s my pleasure.” Ucap Eibi sambil mengedip sebelah matanya, lalu mengambil hal yang sama untuk dirinya.
Menikmati makanan dalam diam, untuk menu lainnya, Eibi akan mengambil untuk Zivi terlebih dulu, lalu untuk dirinya. Serasa makan berbagi. Namun saat bagian ayam goreng, Zivi hanya minta sedikit. Ia hanya mau potatonya saja.
“diam!” saat menikmati eskrimnya, Eibi tiba-tiba menyuruhnya diam.
“Hmm!” Zivi reflek diam dan melihat Eibi.
Eibi mengulurkan tanganya dan dengan jempolnya ia mengusap sudut bibir bagian atasnya, lalu membersihkan jempolnya dengan tisu.
“Hehe, terimakasih!” Ucap Zivi malu. Merasa dirinya makan cemot didepan Eibi.
“Kamu bisa habiskan punya saya.” Merasa Zivi menyukai eskrim tak ragu Eibi menyodorkan miliknya pada Zivi.
“No. cukup!” Zivi menolak. Bukan karena tidak mau, Eibi sudah makan sebagiannya, dan sendok bekasnya masih didalamnya. Zivi tidak suka.
“Kenapa?” Tanya Eibi seakan membaca raut Zivi yang masam. Senyum tapi masam. Sudah ketiga kalinya seperti dan sepetinya ia sekarang ia bisa menyimpulkannya kenapa.
“Tidak. Saya sudah cukup kenyang!” Jawab Zivi sedikit gelagap merasa diselidiki.
Eibi tersenyum. Sepertinya dugaannya tidak salah. Zivi tidak suka berbagi sendok. Lebih tepatnya ia jijik jika berbagi sendok dengannya. Ia teringat awal saat Zivi memberikan pudingnya dan ingin memberinya sendok baru, ‘itu bekas saya!’. Kenapa Zivi jijik berbagi dengannya? Sedangkan dirinya tidak? Wah, bagaimana bisa French kiss jika seperti ini? jangan itu, bagaimana jika mengecupnya disana secara terbuka? Eibi membayangkan apa yang tidak bisa dibayangkan.
“Sekarang kamu bisa memakannya!” Eibi mengambil sendoknya dari dalam gelas dan menyodorkan Kembali gelas es krimnya pada Zivi. sendoknya ia masukkan ke dalam mulutnya lalu meletakkannya dipiring bekas makan setelah menikmati es krim yang melekat disana.
Zivi tetap menolak dan menggelengkan kepalanya.
Shit! Sungguhan Zivi jijik. Bahkan tanpa sendoknya saja tidak mau. Tidak heran jika kue yang ia makan dari tangan Zivi, Zivi memasukkan semuanya kemulutnya.
‘Tunggu saja! Lihat nanti! Kamu akan menyukainya.’ batin Eibi.