LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 73 Tidak Ada Pesan



Ia mengambil gambar dirinya yang sebagian tubuhnya dibalik selimut lalu mengetik pesan singkat disana sebelum ia mengirimnya pada Zivi. Zivi bagaikan vitamin baginya membuatnya bersemangat lagi melewati hari yang pasti melelahkan hari itu.


Setelah rapi, ia menuruni tangga menuju ruang makan untuk sarapan.


Tada!


Senyum Eibi seketika hilang. Rasanya baru saja ia menikmati udara yang segar dan angin timur membawakannya bau busuk yang mengubah air mukanya jadi tidak senang.


Diam, tidak menghiraukan wanita yang sedang menatapnya dengan tersenyum dari sana.


“Selamat pagi cucu nenek!” salam dari wanita kesayangannya membuatnya Kembali tersenyum.


“Pagi nenek.” Jawab singkat dengan senyuman tulusnya. Tidak peduli seberapa tidak senang hatinya, saat berhadapan dengan nenek pasti secepat itu bisa merubah hatinya.


Eibi menarik kursi yang dekat dengan neneknya dan duduk. “Nenek senang sekali atas hubungan kalian. Meski jarak jauh kalian tetap bisa langgeng.” Pujian yang di dengarnya barusan tidak berpengaruh baginya.


“Untuk apa pagi -pagi kesini?” Bertanya dengan nada dingin.


“Kenapa bertanya seperti itu? tidak baik Bi.” Teguran langsung nenek menangkap nada suara Eibi yang tidak baik. “Tentunya dia kangen kamu. Lihat, ini masakan yang Kezia bawa.” Jelas neneknya.


Kezia merasa ada tempat dihati nenek tentu saja senang, “Maaf jika mengganggumu pagi-pagi. Kamu pasti sangat pusing karena urusan kerjaan. Saya paham, hanya saja aku kangen lihat kamu.” Kezia merangkai kata untuk mendapatkan simpati.


“Maaf ya Kei. Mungkin karena Eibi baru tiba dan harus menggantikan papanya, jadi seperti ini.” Ucapan yang menyenangkan hati Kezia, namun tidak dengan Eibi.


Eibi yang ingin makan, jadi kehilangan selera makan. Beruntung ponselnya berbunyi dan memiliki alasan untuk segera pergi setelah menjawab telpon. “Nek, ada hal sangat penting yang harus Eibi segera handle.” nanti saat tepat ia akan menjelaskan hubungannya dengan Kezia pada nenek. Ini juga agar tidak membuat Kezia malu atas penolakan langsungnya di depan neneknya.


“Baiklah. Ingat untuk makan. Sepenting apapun urusan pekerjaan, tetap Kesehatan yang lebih utama.” Nasihat neneknya.


“Aku ikut.” Kezia tidak ingin kehilangan kesempatan. “Nenek, saya mau menemani Eibi.” Pintanya, badan Eibi sudah menghilang dari ruang makan.


“Baiklah.” Dengan jawaban itu ia segera bergerak cepat untuk mendapatkan Eibi.


Bugh! Pintu mobil tertutup. Eibi duduk di kursi kemudi dan menghidupkan mesin.


Bugh! Tidak ia sangka Kezia akan duduk disampingnya. Diam. Menarik nafas dan Kembali mematikan mobilnya.


“Ok. Sejak kamu pergi, kamu berubah. Aku tidak tahu apa kesalahanku. Tapi aku minta maaf jika aku membuatmu marah.” Kezia dengan wajah memelas berharap simpati Eibi.


“Sungguh? Kamu tidak tahu kesalahanmu?” Tanya Eibi menarik nafas. Jika ia membuka perbuatannya bersama Anthony akan membuatnya malu. Dan ia tidak tega melakukannya. “Argggh, lupakan. Meskipun kamu merasa tidak ada kesalahan, saya sudah menikah, dan itu tidak akan mengubah apapun. Dan aku rasa, selama ini aku sepertinya tidak pernah mencintai kamu.” Terang Eibi dengan pelan, namun tegas.


“Tidak. Tidak mungkin. Pasti wanita itu telah mempengaruhimu hingga kamu seperti ini.” Protest tak percaya akan perkataan Eibi.


“Hmmm, wanita itu yang kamu sebut adalah istriku. Dan dia tidak tahu apa-apa tentangmu. Apalagi tentang kita.” dengan penekanan pada frasa pertamannya. Ada sedikit syak dihatinya saat membawa Zivi dalam hubungan masa lalunya. ‘bagaimana bisa Zivi mempengaruhinya? Dia saja awalnya adalah korban.’


“Sekarang kamu turun. Aku ada urusan penting.” Tegas Eibi.


“Baiklah. Aku terima alasanmu.” Kezia dengan kekuatan penuh mengucapkan kata-kata itu. Namun misinya belum berakhir. “Tapi tolong biarkan aku menumpang mobilmu. Nanti turunkan aku didepan apartemen.” Pintanya.


“Baiklah.” Eibi tidak menolak karena kebetulan arah mereka sama.


“Terima kasih.” Setelah Eibi berhenti didepan apartmen Kezia mengucapkan terima kasih.


“Ouch! Kakiku! Aaaahh!” mengerang kesakitan sambil menyanggah dirinya dengan satu tangan dipintu mobil. Eibi pun beraksi segera turun dan melihat apa yang terjadi dengan kaki Kezia.


Eibi segera menggendong Kezia dan menutup pintu mobilnya. Ia memenuhi keinginan Kezia.


Tanpa ia sadari bahwa ada yang sedang mengambil gambar mereka dengan pose yang demikian. Kezia juga memanfaatnya untuk mengeratkan pelukannya di leher Eibi dengan tatapan yang bisa dilihat orang lain itu adalah tatapan kekasih pada pasangannya.


***


Pagi hari!


“Eibi tidak mengiriminya pesan? Ada apa?” Zivi merenung saat bangun. Ia berinisiatif untuk mengirimi Eibi pesan, “Selamat pagi! Selamat sore menjelang malam untukmu ” dengan tambahan emoticon pelukan.


Pagi hari setelah sarapan, Zivi menyibukan diri dengan membenahi taman nenek yang lama terlihat kurang terurus. Mungkin karena nenek sudah tua dan kakak ipar juga tidak begitu sering main kesana untuk membantu nenek merawat taman. Tanaman sayuran seperti cabai, terong, tomat terlihat kurang segar. Bekas tanaman sawi juga bayam serta bawang merah ada, dan itu semuanya sudah mati.


Dulu kesibukan hariannya juga sebagai penghiburnya adalah taman itu. Taman mini didepan rumah. Pada umumnya di rumah-rumah tetangga, taman akan dihiasi dengan bunga. Berbeda dengan Zivi yang kurang tertarik dengan bunga. Ia lebih memilih sayur. Jadilah tamannya ditanami sayuran dan hanya beberapa pot bunga yang menghiasi taman kecil itu. Pot-pot bunga itu tetap ia rawat. Itu adalah milik ibunya.


Sekarang pot-pot itu sudah kosong dan Zivi merapikannya saja dipojok. Ingin menanam, namun itu akan meninggalkan pekerjaan untuk neneknya nanti. Cukup merawat yang ada saja.


Sambil menggarap taman Zivi teringat akan taman dirumahnya. ‘rumah Eibi maksudnya’ ia membenahi sendiri pemikirannya. tapi bukan itu pemikiran utamanya. Taman rumah itu yang menjadi sasarannya. Apa Eibi akan mengijinkannya berkreasi dihalaman belakang rumahnya? Halaman samping tempat Eibi dan Alden bermain bola, jadi tidak mungkin.


Jika Eibi mengijinkannya, ia akan membeli pot juga pupuk serta benih-benih sayuran yang mau ia tanam. Zivi merencanakan dalam hati sambil tersenyum.


“Hei! Apa yang kamu pikirkan hingga tersenyum sendiri?” Kakak ipar mengejutkan Zivi.


“Huh! Tidak. Tidak ada.” Jawab Zivi berusaha menyembunyikan senyuman rasa malu yang ketangkap basah kakaknya.


“Lagi ingat Eibi?” bertanya langsung, Zivi terlihat malu-malu membuatnya tidak tahan untuk menggodanya.


“Ah tidak. Zivi lagi bayangin di rumah jika bisa ditanam sayuran seperti ini pasti sangat menyenangkan.” Zivi memberitahukan idenya pada kakaknya.


“Bayangin itu sampai buat kamu tersenyum?” Kakak ipar tidak percaya, namun mengingat Zivi suka menanam rasanya masuk akal. “tapi ide yang bagus.” Puji kakaknya.


“Tapi Eibi mengijinkan atau tidak, aku ijin dulu padanya?” Jawab Zivi dengan sedikit melemah.


“Ijin?” Tanya kakak iparnya langsung. Baginya hubungan keluarga, suami dan istri hal seperti itu tidak perlu ijin, lagi pula itu bagus.


“Ya, ijin. Itukan rumahnya.” Jawaban Zivi polos tanpa merasakan kecurigaan kakak iparnya. Baginya itu hanya beda pendapat saja.


“ya, itu juga rumahmu. Kamu istrinya.” Jawab kakak iparnya, “Apa maksudmu rumahnya?” semakin curiga. Hal mendasar Zivi pasti tahu, milik suami pasti juga adalah miliknya. Kenapa rasanya dari perkataan Zivi, mereka masih terpisahkan?


“Ya, itu memang rumahnya. Maksudku aku tetap perlu diskusikan dengan Eibi jika mau menanam.” Zivi berusaha menjelaskan seluwes mungkin agar kakaknya tidak curiga. Toh hubungannya dengan Eibi sekarang sudah sangat baik.


Zivi tidak berani berpikir bahwa hubungannya dengan Eibi serius. Untuk hal ini, dirinya belum yakin.


Dengan penjelasan Zivi, keraguan kakak ipar lenyap dan tersenyum mengerti. Ucapan Zivi benar.


“Sebentar.” Zivi sambil merogoh kantong celananya. Merasakan ponselnya bergetar.


“Hmmm, pasti Eibi.” Kakaknya tersenyum sambil melihat Zivi yang tersenyum sambil menekan kunci ponselnya.


Namun dalam sekejap senyumnya hilang.