
Sudah 2 minggu ia menjalani kehidupan pernikahannya dengan Eibi.
Hidup pernikahan bagi Zivi hal yang biasa saja, sama seperti ketika ia masih sendiri. Eibi pergi tanpa pamit atau pulang malam Zivi tidak memusingkannya. Zivi juga melakukan hal yang sama.
Bagaimana tidak, Zivi biasanya sudah tidak ada jika Eibi bangun dipagi hari. Dan saat Eibi pulang Zivi sudah terlelap disofanya. Ya sofa menjadi pilihannya untuk tidur. Karena mereka adalah pasangan, otomatis mereka harus sekamar untuk menjaga penilaian dari para perkerja yang ada dirumah itu. Bi Surti dan dan Pak Tejo, sepasang suami istri yang mengurus rumah itu.
Sejak ada di rumah itu, ada hal yang terlewat yang tak ia lakukan seperti biasanya sebelum menikah. Ia memerlukan satu ruangan untuk kegiatannya itu. Dan sudah ada target ruangan yang ia inginkan. Namun harus ijin, bukan?
“Tumben belum tidur?” suara dari pintu membuyarkan pikirannya yang sedang memikirkan cara meminta yang terbaik untuk mendapatkan ruangan itu. ia memutuskan minta dengan formal. Toh mereka bukan pasangan sesungguhnya yang harus romantiskan.
“hmmmm, saya melihat ada ruangan kosong di belakang setelah dapur. Saya mau memakainya. Apakah boleh?” akhirnya memberanikan dirinya untuk minta. Ini pertama kalinya mereka bicara setelah menikah.
“owh… ruangan itu, tidak dipakai. Pakai saja jika kamu ingin memakainya.” Jawab Eibi cuek dan berlalu menuju kamar mandi.
“terimakasih” berbicara dengan bayangan Eibi yang sudah menutup kamar mandi.
Zivi segera masuk kedalam selimut dan tidur. Sudah larut dan ia sudah mengantuk. Tak butuh berapa lama ia sudah terlelap. Ya, biasanya tidur cepat, namun untuk mendapat ijin memakai ruangan itu, ia harus menunggu Eibi pulang.
Eibipun segera tidur setelah membersihkan diri.
****
“Oups, sorry…” Zivi meminta maaf tidak sengaja menabrak Eibi yang sedang berdiri dibelakangnya.
‘Koq sudah bangun sih! kenapa juga tiba-tiba ada dibelakangku sih!’ batin Zivi agak gugup
Eibi yang tidak banyak bersuara, memang saat itu berdiri dibelakangnya. Saat hendak mengambil minum, ia melihat Zivi yang sibuk didepan kompor. Ia penasaran apa yang dimasak, jadi ia ingin melihatnya. Karena dia cukup tinggi, cukup baginya untuk melihat apa yang sedang dimasak Zivi dengan berdiri dibelakangnya. Tanpa disangka kalau Zivi akan berbalik.
“it’s ok” respon Eibi dengan tangan terangkat dan senyum paksa, khas orang baru bangun tidur. Kemudian ia berlalu menuju kulkas dan mengambil minum.
Saat roti tawar gorengnya sudah diangkat, ia meletakkanny diatas meja.
“mau?” ia menawarkan pada Eibi yang masih disana. Kebiasaannya berbagi jika memiliki makanan.
“boleh!” Eibi mengiyakan karena itu sesuai dengan lidahnya. Roti. Jadi ia mengiyakan. Sekaligus ingin tahu rasanya.
“mmmm, saya suka makan masakan sendiri. apakah saya boleh menggunakan dapur ini untuk memasak?” memberanikan diri minta ijin lagi.
“Hah, bukankah kamu sudah menggunakannya?” setengah tertawa
“maaf. Karena saya selalu tidak mendapat kesempatan meminta ijin.”
“kamu boleh melakukan apa saja dirumah ini, asal tidak menggangguku, nona Zivi.” jelas Eibi sambil menatap Zivi.
Ia tertegun menatap netra bening Zivi yang berbinar mendapat ijin darinya. Gadis polos. Batinnya.
“terimakasih.” Zivi begitu senang mendapat ijin.
Usahanya memberanikan diri berhasil berturut-turut. Itu selalu menjadi modalnya selama ini dalam menjalani hidup.
Hari itu Zivi sudah merencanakan setelah pulang kerja akan membereskan ruangan didekat dapur untuk dijadikan ruangan privasinya. Ia sangat senang bisa mendapat tempat sendiri agar bisa leluasa berkreasi.
Rencananya ruangan itu akan ditata sedemikian rupa. Dijadikan tempat olahraga juga tempat kerja dan melepas lelah dengan nyaman. Dan itu akan dikerjakan sore hari setelah pulang kerja.
***
Ruangannya lumayan besar bagi Zivi, meski tak sebesar kamar Eibi yang ia juga tempati.
Hal pertama yang ia cek setelah mengamati ukuran ruangan itu adalah lampunya. Zivi coba menyalakan saklar yang ada dididing dekat pintu itu. Lampunya masih menyala namun tidak begitu terang. Untuk hal itu, Zivi berlalu keluar menuju halaman depan menuju pos satpam.
Zivi menemui Pak Tejo yang memang bertugas jaga hingga malam. Berbeda dengan Bu Surti yang hanyam sampai sore hari. Zivi minta tolong untuk pergi membelikan lampu untuk menggantikan lampu ruangan yang akan ia pakai. Dan untung masih ada stok lampu baru sehingga Pak Tejo langsung menggantinya.
Ruangan jadi lebih terang.
Ada lemari kecil dipojok ruangan. Mungkin lemari tak terpakai. Zivi mengeceknya, lemari yang masih layak pakai. Ada sofa panjang juga disisi lain ruangan itu.
Yang perlu ia persiapkan berikutnya adalah tinggal membeli karpet berkuran sedang untuk mengalasi lantai dan bisa berolahraga dengan bebas. Ia memerlukan meja kecil sebagai meja belajarnya. Gorden untuk menutup jendela kecil dekat pintu. Kursi plastik. Keranjang pakaian kotor. Dan kertas kado untuk mendekor meja serta lemarinya agar terlihat cantik.
Semuanya Zivi catat dan tinggal belanja esok harinya setelah pulang kerja.
Kerjaannya sore itu cukup menyapu ruangan itu berulang-ulang agar bersih karena lumayan berdebu. Setelahnya ia mengepel hingga 3 kali karena sudah terlihat bersih. *mungkin kalau belum, bisa lebih dari 3 kali.
Setelah membersihkan ruangan itu dan semuanya terlihat bersih Zivi melempar dirinya di sofa, berbaring melepas lelahnya.
Terlintas dalam benaknya agar ruangan itu sekalian jadi kamar tidur untuknya. Namun apakah Eibi mengijinkannya? Harusnya iya karena pernikahan mereka bukan pernikahan layaknya banyak orang yang menikah bermodalkan saling cinta.
‘Apa saya coba bilang pada Eibi untuk pindah tidur dikamar ini?’ batin Zivi sambil memejamkan matanya yang sudah berat. Mengantuk. Lelahnya hari itu berkerja dikantor juga membersihkan ruangan itu membuat tertidur.
Saat dirinya bangun, jarum jam tangannya sudah menunjukan pukul 9 malam. Eibi seharusnya belum pulang jam segitu. Diluar dugaan, saat mamasuki kamar, ia mendapati Eibi duduk disofa tempat yang sudah dua minggu ini menjadi tempat tidurnya.
Eibi sedang memangku laptopnya. Manatap dengan serius layar laptopnya. Keningnya berkerut. Entah apa yang tertera dilayar itu yang membuatnya berkerut.
Zivi sedikit mengagumi sosok Eibi yang demikian. Dia terlihat begitu tampan saat serius dan fokus dalam pekerjaannya. Kedua sudut bibirnya sedkit terangkat.
“Just got back?” sambut Eibi bertanya sambil mengalihkan pandangannya dari laptop melihat Zivi berdiri didepan pintu.
“No, I just cleaned up the room behind the kitchen.” Terang Zivi tersenyum.
“Owh…” respon singkat dan mengembalikan pandangannya pada layar.
Zivi berjalan masuk melewati Eibi menuju ruang ganti disamping meja rias dikamar itu. Zivi mengambil pakaian ganti yang perlukan lalu berlalu menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan diri, Zivi hendak kembali ke dapur untuk masak makan malam yang sudah ia lewatkan karena ketiduran.
“Apakah kamu sudah makan?” Tanya Zivi saat melewati Eibi namun orang yang di tanya masih fokus pada laptopnya. “Saya mau masak makan malam, apakah kamu juga mau disiapkan?” tanya Zivi lagi.
“No, thanks.” Jawabnya singkat tanpa melihat Zivi. masih fokus dengan pekerjaannya.
“Ok.” Zivi hendak berlalu setelah mendapat respon Eibi. Ia tidak tersinggung dengan respon Eibi. Ia memahami Eibi yang sibuk. Mungkin sedang mengurus hal yang sangat penting.
Berbeda dengan Eibi, sedikit merasa tidak nyaman dengan jawabannya sendiri, “would you mind to make me a cup of coffee?” tanyanya kemudian menghentikan langkah Zivi.
“No. I wouldn’t. it will be ready soon. Just wait.” Balas Zivi, lalu berlalu membuat kopi untuk Eibi.
Zivi sudah mengetahui isi dan letak semua hal yang berkaitan dengan dapur. Jadi Zivi tidak lama menemukan kopi dan gula yang ia perlukan untuk membuat kopi.
Zivi memasak air segelas cukup untuk secangkir kopi. Sambil menunggu air mendidih, Zivi menyendok kopi untuk dimasukkan ke dalam gelas. Namun ia tidak tahu, berapa sendok kopi dan seberapa sendok gula?
Dengan mengikuti instingnya, Zivi memasukkan 1 sendok penuh kopi dan setengah sendok gula. Ingin menanyakan pada Eibi terlebih dahulu, namun tidak berani mengganggunya yeng begitu Sirius bekerja.
Air diatas kompor mendidih dan langsung ia tuangkan kedalam cangkir yang sudah berisi kopi dan gula.
Setelah diaduk dan sedikit dicicipi untuk mengecap rasanya. Rasanya cukup enak.
Zivi mengantarkannya ke kamar meletakkan diatas meja dekat tempat tidur. Dan memberitahu Eibi ‘Kopinya saya letakkan disini.”
“Ok. Thank you.” Balas Eibi masih dengan serius menatap layar laptopnya.
Zivipun kembali ke dapur menyiapkan makan untuk dirinya sendiri. menanak sedikit nasi dan mengeluarkan persediaan dari dalam kulkas -sayur dan daging ayam- untuk diolah. Meski hanya dirinya yang akan makan, Zivi menyiapkan makan malam yang bisa cukup untuk dua orang. Siap sedia jika Eibi mungkin saja mau makan nantinya.
Zivi memasak alakadarnya dan mengisi perutnya. Sambil menikmati makannya, Zivi merasakan Eibi memasuki ruang makan. Ia mendongak dan melihat Eibi sedang memegang cangkir kopi yang tadi Zivi buatkan.
“Do you want some?” tawar Zivi dengan mulut yang masih terisi makanan. Zivi menyunggingkan senyum kakunya sambil melihat Eibi.
Eibi melihat hidangan yang tidak seberapa diatas meja. Mengangkat alismatanya. ‘Makanannya sedikit, namun ia menawarkan. Apakah hanya untuk basa-basi atau memang sungguhan ingin berbagi?’ batin Eibi.
“Yes, if you don’t mind.” Jawab Eibi sambil melihat Zivi dengan selidik. Ingin melihat perubahan wajah Zivi dengan jawabannya. Dirinya memang lapar, namun ia lebih ingin tahu kesungguhan Zivi menawarkan makanan.
“Sit down, please. I’ll take the plate for you.” Respon Zivi cepat, ia beranjak dari duduknya, meninggalkan makanannya dan mengambilkan piring untuk Eibi.
“Ini memang sedikit, namun cukup untuk berdua.” Terang Zivi sambil menyendokkan nasi untuk Eibi. “Saya makannya sedikit. Saya sengaja masak untuk dua orang.” Terangnya menyerahkan piring berisi nasi pada Eibi. Dan meminta Eibi untuk mengambil sendiri sayur dan lauknya.
Eibi menikmati masakan Zivi malam itu untuk pertama kalinya. Terasa enak. Meski sangat sederhana, namun memuaskan. Demikian juga secangkir kopi yang ia nikmati tadinya. Nikmat.
“Thank you.” Dua kata yang keluar dari mulut Eibi saat ia sudah menghabiskan makannya.
“You are welcome.” Jawab Zivi sambil membereskan piring kotor diatas meja.
“You can leave. I’ll clean them up.” Ujar Zivi memberitahu Eibi bisa meninggalkan ruang makan.
“Do you need my help?” tanya Eibi
“No, I can do this myself. You go ahead, do your work.” Zivi tahu Eibi yang tadi begitu sibuk jadi menyuruhnya kembali menlanjutkan pekerjaan.
“Okay.” Jawab Eibi lalu berjalan keluar meninggalkan dapur menuju kamar dan mendapati telponnya bergetar. Ada telpon masuk.
Sambil membersihkan piring kotor dan dapur, pikiran Zivi memikirkan hari itu yang ia rasa lewati sedikit berbeda. Sejak menikah, hari itu adalah hari yang ia lewati dengan sedikit berinteraksi dengan Eibi. Bicara dengannya sedikit dan makan bersamanya.