LOVE OR NOT?

LOVE OR NOT?
Ch. 34 Rasa Aman



Tempat makan yang sangat indah. Zaman modern dengan pembangunan yang sedang marak dengan Gedung mewah, namun hati manusia tetap tidak merdeka dari pesona alam. Terbukti zaman sekarang, pengusaha-pengusaha meski mampu membangun tempat makan yang megah, mereka memilih membangun tempat makan yang terlihat sederhana dan dipadukan dengan alam.


Eibi membawanya makan ditempat makan yang tak kalah mempesona dengan tempat Anthony membawanya. Makanannya sangat enak, sayangnya ia tak merasakan makanan yang sudah dirinya dan Anthony pesan.


Mengingat hal itu, Zivi kembali memikirkan Anthony. Ia merasa tak enak dengannya. Ia sangat ingin menghubungi dan meminta maaf. Dan ia ingat, mereka belum saling bertukar nomor ponsel.


Minta Eibi? Tidak mungkin! Ucapannya masih teringat, ‘saya tidak suka kamu bertemu dengannya’. Ucapannya beserta auranya saat mengucapkannya tidak bisa dikatakan ia bercanda. Akan jadi apa jika dirinya minta nomor ponselnya dari Eibi. -kenapa Eibi sepertinya tidak menyukai Anthony? Bukan seperti, tapi memang ia tidak menyukainya-.


Semoga bisa menghubunginya. Zivi berharap, juga mendoakan penerbangannya nanti malam agar aman dan tiba di Amerika dengan selamat.


“Sedang memikirkan apa?” Tanya Eibi mendapati Zivi banyak diam. Meski sedang makan, Eibi bisa membaca bahwa Zivi sedang berpikir.


“Tidak. Makanannya sangat enak, saya sangat menikmatinya.” Jawab Zivi sambil tersenyum paksa.


“Makanlah yang banyak. Jika masih mau, bisa pesan lagi.” Ucap Eibi tidak ingin menggali lebih dalam apa yang dipikirkan Zivi. Yang penting sekarang mengalihkan Zivi dari apa yang dipikirkan dan fokus padanya.


Dia ada disana. Suaminya, orang paling dekat dengannya! Bagaimana bisa Zivi bersikap seperti dirinya tak ada.


“Hmmm. Boleh saya tahu kenapa kamu tidak menyukai Anthony?” Tanya Zivi langsung mengungkapkan pertanyaan dalam batinnya. Dan Eibi tidak suka mendengarnya. Anthony lagi, Anthony lagi. Sudah cukup tidak menyenangkan bahwa ia tahu Anthony yang ia pikirkan.


“Disini ada kamu dan saya. Ini pertama kalinya kita makan bersama diluar setelah kita menikah. So, please don’t talk about others. Yeah, I just don’t like him.” Ucap Eibi menegaskan juga menunjukkan emosi tak Sukanya.


“Well, if that so. Ok!” Zivi ilang kata dan hanya berucap demikian dengan bahu di angkat.


“Lest’s go to the beach!” Ajak Eibi saat mereka dalam perjalanan.


“No. Sebaiknya antar saya pulang saja! Bukankah kamu harus kembali bekerja?” Jawab Zivi menolak ajakan Eibi. “Oh, yeah antar saya ke kantor saja untuk ambil motor!” Pintanya.


“Motormu biar Alden yang urus. Sekarang kita jalan-jalan ke pantai.” Ucap Eibi tidak menerima penolakan.


“Ok Tuan Akando. Ayo ke pantai!” Zivi mengiyakan Eibi dengan menarik nafas dan menekankan sebutan Tuan Akando. -Asal kamu senang. Menolak juga tidak ada gunanya!- batin Zivi. Andaikan ia bisa seperti orang lain bisa memiliki emosi yang menggebu-gebu untuk meluapkan amarah, ia pasti melakukannya saat itu!


Karena macet, mereka butuh sekitar 1 jam untuk tiba di pantai. Mereka tiba sudah jam 3 sore. Waktu yang sangat pas juga untuk jalan-jalan ke pantai, matahari tidak begitu terik, dan langit sore menambah keindahan pantai. Zivi menyukainya.


Suana pantai sangat ramai. Tempat wisata tersebut menjadi tempat kunjungan manusia yang teramai. Ada yang berenang, bermain selancar, bermain pasir, duduk, jalan-jalan dan berfoto-foto, ada jua sekelompok anak muda sedang bermain bola.


Zivi berjalan menuju pinggiran sambil menunduk setelah melepas sepatunya dan ditenteng. Ia tak membawa apa-apa, hanya ponsel yang ia kantongi untuk memotret langit sore nanti. Eibi mengikutinya dari belakang. Berjalan dalam diam. Zivi tenggelam dalam dunianya yang tenang menikmati pasir pantai yang basah, sesekali air tipis membasahi kakinya.


“Kakak, bisa tolong lemparkan bolanya?” suara itu membuat Zivi terhenyak dari dunianya yang tenang dan melihat bola di dekat kakinya. Ia mengambil bola itu dengan tangannya yang tidak memegang sepatu dan melihat kearah suara yang tadi berbicara dengannya.


“Terimakasih kakak cantik!” Ucap pemuda itu setelah menerima bolanya membuat Zivi tersenyum.


“Kalau tersenyum seperti itu, pasti lebih cantik!” Tambah pria itu lalu berbalik. Zivi hanya menggelengkan kepala dan kembali berjalan menyusuri pinggir pantai.


“Jika kita berjalan seperti ini akan lebih nyaman!” Ucapan Eibi menyeruak ke telinganya juga ia merasakan tangan Eibi menyeruak disela jari-jarinya. Eibi menggandengnya.


Dag dig dug


Perasaan Zivi tidak nyaman! Mereka seperti sepasang kekasih jika demikian. Dia suaminya, wajar seharusnya. Tapi…


Perasaannya tidak boleh tumbuh! Stop, harus di stop. Tapi ia juga tidak kuasa menolak tangan Eibi. Dan ia tetap melangkah beriringan menyusuri pantai. Sama seperti saat dirinya tidak bisa melawan Eibi atau menolak Eibi dan hanya bisa patuh. Kenapa jadi seperti ini? Tidak boleh!


Pikiran Zivi dan perasaannya berkecamuk. Ketengan tak lagi ia rasakan. Berbeda dengan Eibi. Ia menikmati moment itu. Tenang dan tidak merasa sendiri. Kesendirian yang selama ini ia rasakan tidak ada. Kehampaan dihatinya terisi.


Berjalan. Berjalan. Mengiringi Zivi hingga mereka benar-benar jauh dari keramaian. Sepi, teduh dengan deru ombak yang unik serta langit sore yang mulai menunjukkan warna senja diantara abu-abu.


Zivi terkesiap saat tiba-tiba ia masuk kedalam pelukan. Dan itu adalah Eibi. Detak jantungnya makin kencang. Eibi pasti bisa merasakannya. Mukanya terasa panas karena malu. Ia menyembunyikan mukanya dalam pelukan Eibi, jika tidak, akan ketahuan mukanya memerah karena malu. -Orang ini selalu saja membuatnya syok!-


Eibi tak tahu perasaan Zivi, namun ia merasakan detak jantung yang kuat. Hatinya berbunga-bunga. Detak jantung itu untuk dirinya. Zivi juga pasti merasakan perasaan yang sama dengannya. Zivi juga menyukainya. Horeeeee!


“You know, this is the first wonderful moment in my life!” sambil mengelus Punggung Zivi dengan lembut -The first moment ia merasakan hatinya terisi- “


Zivi mendongak dan bertemu dengan tatapan Eibi yang berbinar disertai dengan senyuman manisnya.


“Thank you!” Ucap Eibi dengan suara lembut seperti angin sepoi namun terdengar.


“Kamu senang jalan-jalan dipantai?” Tanya Zivi polos mengartikan ucapan Eibi. Sedemikian senangnya kah dia jalan-jalan dipantai?


“Bisa dikatakan seperti itu!” Jawab Eibi tak mau menerangkannya lagi, “Sudah sejauh ini, mau melanjutkan atau mau foto?” Tanyanya.


“Tidak. Kita kembali saja. Keburu gelap nanti.” Ucap Zivi sambil melepaskan diri dari pelukan Eibi.


“O ya, Anthony bilang…!” Ucap Zivi sambil menatap Eibi setelah dirinya lepas dari pelukan Eibi.


Anthony lagi, Anthony lagi. Eibi menarik nafas mendengar nama itu, jangan sampai moment dirusak.


“Kamu menuntut keadilan untuk saya dan sudah menghukum penculik-penculik itu. Terimakasih!” Hati Eibi lega mendengarnya. Meskipun ada nama Anthony, namun bukan hal yang buruk mendengar isinya.


“kamu tak perlu takut lagi untuk hal itu. Ok! Mereka tidak akan pernah muncul lagi atau mengganggumu!” Eibi meyakinkan Zivi dan rasa aman itu seakan meresap kedalam dirinya, “Ayo kita pulang!” Eibi kembali menggenggam tangan Zivi dan kembali menyusuri pantai yang sudah mereka susuri tadi.


“Apa motivasi mereka menculik? Siapa yang menyuruh mereka?” Zivi penasaran siapa yang menyuruh mereka. Seingatnya ia tidak pernah membuat masalah dengan orang lain.


“Hmmm, kamu tahu -human trafficking-?” Tanya Eibi diikuti dengan anggukan Zivi, “So, dijaman seperti sekarang ini, kamu harus tetap hati-hati.” Terang Eibi dengan menggenggam erat tangan Zivi. Ia menutupi dalang penculikannya. Eibi tidak mau membuat Zivi khawatir juga menjadi cela bagi Zivi untuk menjauhinya.


“Kenapa kita kesini?” Tanya Zivi saat Eibi memasuki area mall disana.


“Ikut saya!” Pinta Eibi sambil membuka pintu mobilnya. Zivi pun melakukan hal sama. Ia menuruti Eibi membawanya masuk mall dan menuju satu tempat yang menjual perhiasan.


“Buat apa kesini?” Zivi heran karena Eibi membawanya kesana. Eibi meraih tangan kanan Zivi dan memegang jari manisnya, memutar-mutar cincinnya yang memang longgar.


“Kita kecilkan cincinmu agar tidak sering dilepas.” Ucapnya sambil melepaskan cincinnya.


Drtt drtt drtt


“Saat jawab telpon dulu saya.” Ucap Zivi sambil menjawab telpon dan keluar dari sana bersandar tembok luar took itu menjawab ponselnya. Dibiarkan Eibi mengurus cincinnya.


“Apa? Bulan depan, Lit? Cepat sekali? Wah kita harus merayakannya nih. Iya, aku pasti datang. Soal dia, aku yakin dia tidak akan datang.” Zivi merespon ponsel dari menggebu-gebu bahagia untuk Lita, hingga pada titik mengenai Eibi suaranya tidak terlihat antusias.


“Siapa?” Tanya Eibi mengagetkannya setelah ia menutup telponnya. Eibi ternyata sudah didekatnya. Apa dia mendengar?


“Teman saya.” Jawab Zivi.


“Siapa yang tidak akan datang?” Tanya Eibi. Owh, dia mendengar percakapan mereka, entah sejak kapan ia disana.


“Owh, kamu mendengarkan. Teman saya yang tidak akan datang.” Jawab Zivi, “Ayo pulang. Sudah malam, dan saya lelah dan lapar.” Zivi menarik tangan Eibi.


Eibi mengikutinya dengan hati berbunga saat tangannya ditarik Zivi. Senyumannya tersungging dari kedua sudut bibirnya. It’s really his wonderful moment that day with this girl.