
“Saudara ketemu gede, apa itu artinya?” Tanya Eibi saat mereka duduk sambil menikmati makanan.
Eibi mengajaknya makan siang dulu sebelum pulang, dan mereka mampir ke restoran seafood yang searah menuju tempat tinggal mereka.
“Hmmm, menurut pengertianmu apa?” Zivi tidak menjawab, kembali bertanya.
“Saya bingung. Kamu bilang, suami, saudara. Saudara ketemu gede. Jadi saya suami atau saudaramu?” Eibi mengutarakan kebingungannya.
“Hahahaha, menurutmu kamu saudara atau suami saya?” Goda Zivi kembali bertanya sambil tertawa melihat raut bingung Eibi.
“Tentu saja saya suami kamu.” Eibi menjawab dengan mata menatap serius.
“Erhhh.” Zivi seakan membersihkan tenggorokannya untuk menghentikan rasa lucunya menyadari tatapan Eibi, “Benar. Dan kamu juga saudara ketemu gede saya. Itu istilah untuk pasangan yang kita temui saat besar. Seperti kamu dan saya. Kita bukan saudara kandung, tapi saudara ketemu gede.” Zivi membenarkan Eibi juga menjelaskan pada Eibi istilah itu.
“Owh. Saya mengerti sekarang.” Eibi akhirnya paham. “Siapa Ron?” Tanyanya lagi. Ia ingin tahu, sekalian membuatnya jelas tentang Ron.
“Dia teman masa kecil saya. Kami berpisah setelah lulus SMP. Malam itu saya makan bersamanya. Dan nomornyalah yang kamu hapus itu.” Zivi menjelaskan sambil menunduk menikmati makanannya.
“Sorry.” Eibi merasa tidak enak karena masalah itu Zivi marah padanya. Ya ia mengusik privasi Zivi. Namun isi chat hingga nama profilnya itu membuatnya sangat tidak suka dan lepas kendali. Tapi ia makin mengenali Zivi dari hal itu, agar kedepannya lebih bisa menjaga perasaannya.
“Hmmm, forgot it.” Zivi tersenyum mengibaskan tangannya pada Eibi.
“Apakah kamu menyukainya?” Tanya Eibi ingin tahu perasaan Zivi.
“Tentu saja.” Sembari membersihkan tangannya dengan tisu dan meneguk minumannya. Kenyang.
“Owh!” Eibi terkesiap dengan jawaban gamblang Zivi.
“Saya ke kamar mandi dulu.” Zivi permisi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya dibalas dengan anggukan Eibi.
Setelah tiba dirumah, Zivi mengerjakan pekerjaan rutinnya di hari pekan, lalu mengerjakan latihan soal online.
Eibi masih dalam ruang kerja. Hari itu Eibi dan Alden tidak keluar sama sekali.
“Kamu tidak ada kegiatan keluar?” Zivi bertanya saat Eibi masuk kamar dan merebahkan diri diranjang. Sudah jam 15:00.
“Tidak. Kenapa?” Eibi mengeryit bertanya melihat Zivi berkutat dengan ponselnya.
“Tidak kenapa-kenapa. kali saja ada kencan!” Zivi dengan alis terangkat melihat Eibi.
“Sama siapa? Kamu mau keluar berkencan dengan saya?” Eibi menatapnya sambil tersenyum.
“Tentu saja, kekasihmu. Saya mau tidur.” Jawab Zivi menarik selimut menutupi tubuhnya hingga leher. “O ya, apakah dia sudah kembali?” tanyanya pada Eibi, “saya kira dia akan kesini lagi.” Ungkapnya
Eibi mengeryit mendengarkan pernyataan Zivi, dan dia teringat kala ia melihat Kezia keluar dari gerbang rumahnya. -sepertinya ia mengatakan sesuatu pada Zivi saat itu- batinnya.
“Apa dia berkata sesuatu padamu waktu itu?” Tanya Eibi ingin tahu.
“Tidak. Tapi saya tahu dia kekasihmu. Sebelum dia kesini waktu ia, saya sudah melihat kalian ‘Zivi memberi tanda kutip dengan jarinya’ di restoran.”
Eibi mengerti ucapan Zivi, dia terdiam sebelum akhirnya berkata “dan sekarang kamu harus tahu, dia bukan pacar saya lagi.” Aku Eibi jujur dan menekan pada frasa terakhir.
“What? Kamu putus dengannya?” Zivi terkejut tak percaya. Eibi memutuskan Kezia yang begitu cantik, “atau kamu di putuskan?” Tanyanya lagi.
“Menurutmu siapa?” Tanya Eibi.
“Seharusnya kamu.” Zivi berkata jujur setelah berpikir. Cantik sih cantik, tapi jika tidak setia untuk apa.
“Seharusnya?” dalam benak Zivi dia tidak akan melepaskan Kezia kecuali Kezia memutuskannya. “Apa menurutmu saya harus mempertahankan orang telah mengkhianati saya?” Zivi benar-benar picik jika ia berpikir dirinya tidak bisa lepas dari Kezia.
“Owh, tentu saja tidak. Untuk apa dipertahankan jika ia tidak bisa setia” Zivi mengungkapkan pendapatnya setelah tahu jalan pikiran Eibi.
“Percayalah, ada yang lebih baik untukmu. Ya mungkin tidak secantik dia, yang penting hatinya cantik” Ucapan dorongan yang Zivi berikan.
“Yeah, pasti. Apa kamu mau jadi kekasihku?” Zivi terkesiap mendengar perkataan itu.
Eibi menatapnya dengan serius sambil menggeleng. Ia berkata serius, namun menjadi lelucon bagi Zivi. Dirinya belum terlalu memahami gadis itu.
“baiklah, sekarang saya harus tidur.” Zivi segera mengakhiri percakapan mereka yang ia rasakan mulai tidak nyaman. Ia menyelubungi seluruh tubuhnya.
***
“Bagaimana hubunganmu dengan Eibi?” Tanya Donna saat mereka menikmati minuman disebuah kedai dalam mall sambil menunggu Lita dan Epi bergabung.
“Biasa saja.” Jawab dengan kedua bahu terangkat sambil menyeruput minumannya.
“Yeah, apakah tidak ada tanda-tanda menuju serius?” ucapan Donna dengan penuh harap, “aku tahu awalnya memang tidak benar, tapi…” Donna tidak melanjutkan ucapannya saat menangkap dengusan Zivi.
“berakhir dengan benar?” Zivi melanjutkan dengan tanda tanya diikuti anggukan Donna.
“Aku rasa tidak. Hubungan kami hanya akan sebatas pernikahan diatas kertas tanpa riilnya. Lagipula kami sudah menyepakatinya bersama. So, tunggu saja waktu berakhirnya.” Jelas Zivi dengan menghela nafas.
Melepaskan Eibi bukan masalah baginya, hanya saja ia tidak pernah berpikir akan mengalami pernikahan yang seperti ini, dan tunggu saatnya menjadi janda.
Percakapan mereka masalah itu berakhir saat Epi dan Lita bergabung. Hal itu menjadi rahasia mereka berdua.
Mereka menuju butik khusus untuk pernikahan. Mereka memilih gaun untuk dikenakan Epi saat pernikahan Lita nanti. Dia akan menjadi wanita pembawa cincin pernikahan. Setelah mendapatkannya, mereka berburu untuk gaun Donna juga Zivi. sedangkan Lita hanya membantu memilihkan gaun yang sesuai dengan nuansa pernikahannya.
Urusan pernikahannya, masalah catering, tempat, undangan diurus oleh keluarga. Dirinya hanya terima bersih. Dan masalah prewed juga gaun pernikahan sudah mereka urus saat pertunangan beberapa waktu lalu.
“Nanti kalian tinggal memilihkan pakaian yang cocok untuk pasangan kalian masing-masing.” Ucap Lita dengan sangat kagum akan gaun yang sudah mereka pilih. Mereka di dalam ruang ganti yang kecil jadi tambah sempit karena berisikan mereka berempat.
“Iya, kecuali aku.” Sambung Epi sambil tertawa kecil.
“Yap.” Ucap Donna dengan sangat senang. Zivi hanya tersenyum tak merespon dengan kata.
“He, kenapa diam?” Tanya Epi menangkap diamnya Zivi.
“Tidak ada apa-apa.” Jawab Zivi sambil tersenyum.
“Kamu memikirkan Eibi tidak akan datang?” Tanya Lita to the point mengingat percakapan saat menelponnya malam itu.
“Tidak, aku tidak memikirkan apa-apa!” Jawab Zivi.
“Bagus. Tapi aku tidak peduli, kau harus mengajak suamimu nanti.” Tuntut Lita.
“Harus? Kalau dia datang, kau memberiku apa?” Tanya Zivi menuntut imbalan.
“Kau ya, pintar malak!” Protest Lita
“Suamiku orang sibuk, dia hanya hadir ditempat yang berbau duit untuknya. So, pasti butuh usaha untuk membuatnya datang.” Zivi memainkan logika.
“Kita taruhan. Jika kau berhasil membuatnya datang, kami bertiga gantian membawamu makan ke tempat-tempat termahal!” Donna ikut bersuara mendukung Lita.
“Yap. Kau boleh menentukan tempatnya!” Epi juga menyuarakan partisipasinya.
“Kalau aku tidak berhasil?” Tanya Zivi sudah tahu pasti dirinya nanti yang kalah.
“Kau yang akan membawa kami makan ditempat yang mahal lah.” Lita
“Yap. Karena kamu Cuma seorang,cukup sekali saja kamu membawa kami makan!” Donna
“Dan tempatnya kami yang tentukan!” Epi antusias dengan tatapan penuh makna.
“Setuju?” Lita meletakkan tangannya ke depan, tangan Donna, Epi juga diatas tangan Lita menumpuk. Zivi menyusul sebagai yang terakhir meletakkan tangannya. Tiga lawan satu.
“Yei! Setuju!” seru Lita, Epi, Donna juga dirinya dengan suara setengah, lalu diikuti tawa riang.
“saatnya bayar!” Zivi keluar dari ruangan ganti dengan pilihannya, demikian juga Donna.